ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Sudut Pandang Daniel


__ADS_3

Andin menyusuri lorong rumah sakit yang sepi sendiri. Air mata yang mengalir di pipinya tak kunjung berhenti. Hari ini dia merasa sangat sedih sekaligus bahagia.


Ya, masih ada kebahagiaan yang dia rasakan. Dia merasa lega, ternyata Arga baik-baik saja. Dia kira lelaki itu meninggalkannya karena sesuatu hal seperti dia memiliki penyakit parah yang menyebabkan terpaksa dia meninggalkannya.


Namun, dia juga merasa sedih. Dia sedih karena selama ini dia tak mengenal lelaki yang dicintainya itu. Arga di matanya lelaki yang baik, bukan lelaki brengsek yang sering tidur dengan wanita lain, bahkan sampai menghamili seorang wanita.


"Kamu kenapa, Ndin?" tanya Ayash yang baru keluar dari ruangan Daniel.


Dia kaget melihat Andin yang berjalan seperti mayat hidup dengan pandangan kosong dan mata yang berderai air mata. Bahkan keberadaannya hampir tidak disadari olehnya.


"Andin.... " Ayash menggoyangkan tangan wanita itu agar sadar.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Andin langsung melingkarkan tangannya memeluknya. Wajahnya ia benamkan pada dada Ayash dan suara tangisannya kembali meninggi. Andin tak bisa berkata-kata. Semua kalimatnya terwakilkan lewat air mata.


Tak ada yang bisa Ayash lakukan selain membalas pelukan yang Andin berikan. Temannya itu memang akhir-akhir ini sering terlihat murung. pasti ada sesuatu yang telah terjadi hingga Andin sampai menangis. Tidak mungkin hanya sekedar alasan sepele. Ia akan menunggu sampai Andin mau mengatakannya.


Dari balik kaca jendela, ada Daniel yang sedang memerhatikan keduanya. Mungkin, bagi orang-orang Daniel terlihat seperti anak kecil pada umumnya yang tidak akan paham tentang masalah orang dewasa. Tapi, Daniel berbeda. Dia seorang anak yang sangat peka terhadap sekelilingnya.


Tanpa diberitahu, Daniel sudah tahu kalau mama dan papanya kini sudah bercerai. Mama dan papanya tidak bisa bersama lagi. Mereka sudah bersama dengan orang lain. Papanya menikah lagi dengan Tante Andin. Mamanya berpacaran dengan Daddy Bayu. Daniel diam, tapi dia tahu.


Daniel pernah melihat mamanya berciuman dengan Daddy Bayu. Awalnya itu merupakan hal aneh baginya. Seharusnya mama berciuman dengan papanya, bukan orang lain. Ada rasa kecewa di hati melihat kenyataan itu.


Kali ini juga sama. Entah mengapa dia merasa sedih dan kecewa melihat papanya berpelukan dengan Tante Andin. Dia hanya ingin melihat papanya memeluk mamanya saja.


Tapi, mana mungkin orang dewasa akan paham dengan perasaan anak kecil. Dia ingin mama papanya tetap bersama seperti dulu. Tinggal bersama dalam satu rumah, liburan dan jalan-jalan bersama, diantar ke sekolah, dan main bersama.


Kini semua hanya kenangan saja. Daniel tidak akan lagi merasakan kehangatan seperti dulu. Pada akhirnya, nanti dia harus memilih. tinggal bersama mamanya atau tinggal bersama papanya. Dan mereka akan tinggal bersama dengan pasangan barunya masing-masing.


Kalaupun mau, Daniel bisa menangis memohon-mohon kepada mama dan papanya agar baikan lagi. Tapi, dia tau itu egois. Mamanya tampak lebih bahagia setelah berpisah dari papa. Mama jadi sering tersenyum dan tertawa apalagi kalau ada Daddy Bayu bersamanya. Berbeda dengan dulu, mamanya sering menangis karena Oma suka marah-marah. Sekarang Oma sudah tidak pernah mengganggu mamanya lagi.

__ADS_1


Kalau mamanya kembali pada papanya, mungkin dia akan sering menangis lagi seperti dulu. Daniel tidak mau mamanya sedih. Dia mama yang hebat, selalu menjaga Daniel dengan sabar. Dia tidak pernah marah-marah. Apalagi selama Daniel sakit, mamanya selalu menemaninya.


Jadi, Daniel hanya akan memendam keinginannya. Dia hanya berharap mama papanya sama-sama bahagia dengan jalan yang mereka tempuh.


*****


Ayash mengajak Andin ke rooftop yang terdapat di bagian paling atas gedung rumah sakit. Tujuannya agar Andin bisa lebih menenangkan diri di sana.


Keduanya menghisap rokok bersama sambil bersandar pada pagar besi di tepi bangunan. Suasana di sana tentu saja sepi, tak ada orang lain selain mereka. Dari atas, bisa dilihat seluruh area rumah sakit meliputi lapangan, taman, dan area parkir.


Hembusan angin cukup kencang. Membuat rambut yang telah tertata rapi menjadi berantakan. Namun tak menyurutkan mereka untuk tetap berdiri tegak di sana.


Sesapan demi sesapan rokok mereka nikmati. Entah mengapa kandungan nikotin yang terkandung di dalamnya mampu membuat pikiran sedikit menjadi lebih rileks.


Andin ingin menertawakan dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia menangis sesenggukan di hadapan Ayash lagi. Itu sungguh memalukan. Citra dirinya sebagai wanita yang tangguh seakan hilang ditelan bumi.


"Jadi apa yang tadi terjadi?" Ayash menghisap rokoknya secara perlahan, menikmati asap yang keluar dari batangnya. Kemudian ia keluarkan asap itu lewat mulutnya.


"Oh.... "


Respon Ayash sepertinya menunjukkan jika dia tidak merasa terkejut. Bukan karen dia sudah tau, tapi memang dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan kakaknya.


"Dia sudah punya anak."


Kali ini perkataan Andin mampu memancing perhatiannya.


"Anaknya perempuan, usianya sekitar delapan tahun." Andin semakin cepat menyesap rokoknya. Seakan ingin menjadikan rokok itu sebagai pelampiasan kemarahannya. Dia tak ingin menangis lagi, lebih baik ia alihkan kesedihannya untuk menikmati setiap sesapan rokok.


"Aku baru saja diajak menemui wanita yang merupakan ibu dari anaknya. Dia mantan sekertaris pribadinya. Katanya dia terkena tumor otak dan sudah koma selama dua bulan ini."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana denganmu sekarang?"


Andin menghela nafas, "Hah! Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Semuanya juga sudah terjadi."


"Maksudku, apa kamu mau kembali padanya?"


Andin kembali menyesap rokoknya, "Mana mungkin aku bisa begitu. Wanita itu lebih berhak mendapatkan perhatian kakakmu. Apalagi dia sudah memiliki seorang anak.


"Kamu masih mencintai kakakku?"


"Hahaha.... Kenapa kamu menanyakan pertanyaan bodoh itu."


"Tentu saja aku masih mencintai bajingan itu. Aku kan memang bodoh." gumam Andin.


"Tapi kamu jangan khawatir, aku kita akan tetap bercerai sesuai perjanjian."


Andin memang pernah bilang akan mengakhiri pernikahan pura-pura mereka setelah menemukan Arga. Sekarang, Arga sudah ditemukan. Ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri bersama Arga. Dia tidak ingin lebih membebani kehidupan Ayash. Dia juga punya masalah sendiri yang harus dihadapi, bukan hanya untuk mengurusinya.


"Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini." ucap Andin.


"Kamu tidak perlu berkata seperti itu. Aku sudah bilang, kamu bisa memakaiku selama yang kamu mau."


"Ya, aku sudah puas memakaimu. Sudah waktunya kamu juga mengurusi masalahmu sendiri. Aku tak ingin lagi menjadi orang ketiga di antara kalian."


"Kamu kira hubunganku dengan Prita masih bisa diperbaiki?"


"Setidaknya coba dulu. Masalah hasil itu belakangan."


Ayash terdiam. Sepertinya dia sudah tidak mungkin lagi kembali kepada Prita.

__ADS_1


"Lelaki yang bernama Bayu itu saingan yang berat. Dia sudah banyak membuat Prita merasa berhutang budi padanya. Tapi setidaknya kamu merupakan cinta pertamanya. Aku yakin Prita juga akan sulit untuk mengabaikanmu."


"Sebagai teman, aku cuma bisa menyemangatimu."


__ADS_2