ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Membawa Ben


__ADS_3

"Dimana Ben, aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa basi."


"Hem, anakku memang tak pernah berubah. selalu tidak sabaran."


Samuel meletakkan cerutunya. Ia memberikan isyarat kepada salah satu bodyguard-nya untuk mendekat. Ia membisikkan sesuatu. Anak buahnya mengangguk lalu pergi meninggalkannya.


"Besok, ada undangan makan malam dari Tuan Saddam. Kamu harus ikut bersamaku."


"Aku tidak mau."


"Kalau begitu, sepertinya kita harus berperang sekarang juga sampai semua mati."


"Ini hanya makan malam, kenapa kelihatannya kamu takut sekali?"


"Kalau ingin melawanku, sejak awal seharusnya abaikan perintahku. Untuk apa juga kamu peduli dengan nasib orang-orang di sekelilingmu? Memangnya apa pengaruhnya kalau mereka mati? Nyawa mereka memang selemah itu." Samuel berkata dengan sangat ringan, serasa hidupnya tak memiliki beban.


"Itu hanya kata-kata orang yang kesepian dalam hidupnya. Dan tidak pernah merasa memiliki keluarga."


Ucapan Bayu begitu menohok perasaan Samuel. Selama ini hidupnya memang seperti tak memiliki tujuan lagi. Hasrat ingin menjadi terhebat juga sebatas angan-angan semu yang selalu ingin dipertahankan. Sekelilingnya sudah tak ada artinya lagi semenjak istrinya meninggal puluhan tahun lalu. Bahkan, kehadiran Bayu, anaknya, tak sanggup mengisi kekosongan hatinya.


"Ben!" teriak Bayu ketika melihat Ben dipapah oleh seorang bodyguard.


Bayu lantas bangkit dari duduknya, menghampiri Ben dan berganti memapahnya menuju sofa.


Kondisi Ben tidak baik-baik saja. Wajahnya penuh luka lebam, tubuhnya tampak lemah. Ia yakin bagian tubuh yang tertutup kemeja lengan panjang itu lebih banyak menyembunyikan luka daripada yang terlihat.


"Caramu memperlakukan orang lain memang tidak manusiawi."


"Apa pengorbanan Ben selama ini kepadamu, kesetiaannya, tidak pernah kamu anggap?" Bayu sangat geram dengan perbuatan ayahnya terhadap Ben.


"Kalau ayah tidak bisa memperlakukan Ben dengan baik, biarkan Ben ikut denganku."


"Aku tidak pernah memaksa Ben untuk tetap berada di sampingku. Itu kemauannya sendiri. Kalau tidak percaya, tanyakan saja padanya." Samuel masih santai menyesap cerutunya.


"Bawa Ben pergi bersamamu. Sebagai gantinya, besok malam datanglah ke hotel XXX memenuhi undangan dari Tuan Saddam."


"Setelah itu, aku tidak akan mengganggu Ben lagi."


"Kalau kamu masih membangkang, aku memiliki anak buah yang 24 jam mengawasi anak dan istrimu di Kota S. Berani macam-macam, aku habisi mereka semua supaya kamu tidak lagi bimbang untuk mengambil keputusan."

__ADS_1


"Memiliki keluarga itu adalah beban."


Bayu sudah twk tahan berlama-lama di sana. Ia bangkit dari tempat duduk seraya membantu Ben agar ikut berdiri. Tujuannya memang menjemput Ben. Setelah ia bertemu Ben, maka ia akan membawanya pergi.


"Kalau menghadapiku saja kamu tidak berani, bagaimana caramu melawan banyak musuh di luaran sana."


"Ingat, Bayu. Kamu masih bertahan sampai sekarang juga karena ayahmu ini. Aku yang menahan musuh-musuhmu agar tidak mengganggumu."


Bayu hanya mendengarkan perkataan ayahnya, namun tetap tak menyurutkan langkahnya untuk pergi. Fredi membantu Bayu memapah Ben. Sementara, Prita dan Alex mengikuti dari belakang.


Sedari tadi Prita hanya diam. Tidak disangka mertuanya memang orang yang seperti itu. Orang yang tidak punya rasa sayang bahkan terhadap anaknya sendiri. Sekarang, dia dan anaknya akan dijadikan target oleh Samuel jika Bayu berani membangkang. Ia berharap anak-anaknya akan aman bersama Ayash. Sungguh mengerikan memiliki ayah mertua seperti itu.


Bayu membawa Ben pulang ke rumah basecamp-nya. Ia membawakan perlengkapan P3K untuk mengobati luka di tubuh Ben.


Saat pertama kali membuka kemeja yang Ben kenakan, Bayu menghela nafas panjang. Lukanya sangat parah, kulit punggungnya mengelupas bekas terkena sabetan. Lukanya sudah berwarna merah keunguan.


Prita yang ikut di dalam sana ikut terkejut sampai menutup mulutnya sendiri. Kenapa orang-orang seperti mereka bisa menahan luka seperti itu? Apakah mereka tidak bisa hidup normal, tanpa adanya kekerasan?


"Ben.... Kenapa harus sampai seperti ini?"


"Maafkan saya."


Bayu membersihkan area luka Ben menggunakan cairan antiseptik dengan berlahan. Ben tampak menahan erangannya setiap kali tangan Bayu mengenai lukanya.


Luka cambukan itu entah berapa kali diberikan ayahnya sampai kondisinya separah itu. Masih untung kalau tulang-tulangnya tidak sampai patah. Bahkan daging di punggungnya seakan hampir terlepas dari tempatnya.


"Sudah waktunya kamu berhenti. Untuk apa lagi kamu terus bertahan di dunia yang seperti ini?"


"Sejak dulu hidupmu sudah sebatang kara, sudah tidak punya keluarga. Seharusnya kamu berumah tangga saja dan lahirkan banyak anak untuk menemani masa tuamu."


"Uang banyak juga tidak ada gunanya."


"Anda dan Tiger King adalah keluarga saya. Bagaimana bisa saya meninggalkan keluarga saya sendiri."


Bayu tak bisa lagi berkata-kata terhadap kesetiaan Ben yang begitu besar kepadanya dan kepada Tiger King. Seharusnya ayahnya tidak memperlakukan Ben seperti itu.


"Setidaknya lawanlah ayahku, jangan diam saja. Kamu tidak bersalah. Ini urusanku dengannya. Kamu harus bisa membantahnya, kenapa malah melibatkan diri?"


Setelah selesai membersihkan luka dan mengoleskan obat, Bayu melilitkan perban melingkari area punggung dan dada Ben secara menyeluruh.

__ADS_1


"Hampir seperti mumi kamu, Ben." guman Bayu saat melihat hasil karyanya sendiri.


"Terima kasih, Bos." Ben memakai kembali kemejanya.


"Aku peringatkan kamu, Ben. Jangan lagi kembali kepada ayahku dan jangan mencampuri urusannya lagi."


Ben hanya diam mendengar permintaan Bayu. Dia tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tak bisa ia tepati. Semenjak ditolong oleh keluarga Bagaskara, Ben tak lagi merasa memiliki dirinya sendiri. Benar yang dikatakan Samuel, bahwa hidup dan mati Ben adalah miliknya.


"Bos, siapa dia?"


Ben menunjuk kepada Prita yang sejak tadi ikut bersama mereka di dalam kamar itu.


"Ah, dia Eki, istriku." Bayu masih sibuk membereskan perlengkapan pengobatan untuk dikembalikan pada tempatnya.


"Apa!?" Ben sangat kaget mendengar bosnya menyebutkan lelaki pendek itu sebagai istrinya.


"Oh, Ya Tuhan apa aku salah bicara?"


"Maksudku, dia Prita, istriku. Sekarang sedang menyamar sebagai Eki."


"Ooh.... " Ben masih tidak percaya kalau itu adalah Nona Prita.


"Hehehe.... Hai, Ben."


Setelah mendengar suara Prita, Ben baru percaya. Secara fisik tidak kelihatan kalau dia istrinya bos. Dia sangat mirip dengan laki-laki, hanya saja memang tampak imut.


"Jangan bilang pada yang lain, mereka belum tahu kalau dia istriku. Panggil dia Eki kalau di depan anak-anak."


"Baik, Bos."


"Ben, aku katakan sekali lagi. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Umurmu sudah tak lagi muda, tahun depan sudah memasuki kepala empat."


"Berhentilah dari dunia seperti ini, kamu bisa memilih hidup di luar negeri kalau masih takut dengan ayahku. Hidup untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain."


"Carilah kebahagiaanmu sendiri."


Ben tersenyum, "Terima kasih, Bos. Sudah mempedulikan saya."


Bayu memeluk Ben selayaknya pelukan seorang adik kepada kakaknya. Dia sungguh tidak tega melihat Ben selama hidupnya selalu berkorban, untuk dirinya maupun keluarganya. Dia ingin melihat Ben hidup bebas, menjalani kehidupannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2