
"Ceraikan Prita."
"Aku tidak mau."
"Kamu sudah tahu semuanya dan masih menolak untuk menceraikannya?"
"Ya."
Ayash mendatangi mansion untuk berbicara dengan Maya. Ia ingin Maya bersikap baik terhadap Prita dan tidak lagi terlalu ikut campur terhadap rumah tangganya. Ia ingin Maya tidak mengkritik apapun yang Prita lakukan terhadap anak-anaknya. Prita juga seorang ibu, dia memiliki caranya sendiri untuk mengurusi anak-anaknya. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa stres yang Prita rasakan apalagi saat ini Daniel masih sakit.
Namun, Maya tak bisa sepaham dengan Ayash. Setelah apa yang ia dengar di rumah sakit, Maya sudah tidak menganggap Prita sebagai wanita baik-baik. Ia menyesal dulu sangat ingin menjadikannya menantu. Andai dia tahu saat itu Prita dalam kondisi hamil, apalagi oleh lelaki lain, sudah pasti dia tidak akan merestui pernikahan itu.
Anaknya terlalu bodoh menerima Prita. Bisa-bisanya dia tetap menikahi wanita yang sedang mengandung anak lelaki lain yang bahkan tidak jelas siapa. Maya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ayash.
"Bukannya Mama dulu juga sama saja dengan Prita? Mama juga sedang mengandungku saat menikah dengan Papa Reonal. Mama juga tidak pernah memberitahuku siapa papa kandungku sebenarnya. Lalu kenapa sekarang Mama mempermasalahkan Prita? Lagipula aku bisa menerima kondisi Prita seperti itu seperti Papa Reonal yang bisa menerima kondisi Mama."
"Siapa ayah kandung Daniel? Apa Prita sebelumnya sudah pernah menikah dengan ayah Daniel? Kamu pasti tidak bisa menjawabnya, kan?"
"Mama dan Prita punya kondisi yang berbeda. Jadi jangan menyamakan kami."
"Mama kecewa dengan Prita. Mama kira dia anak yang baik."
"Prita memang anak yang baik, Ma. Jangan karena hal itu Mama jadi membencinya."
"Hamil di luar nikah baik dari mana, Ayash? Itu hasil pergaulan bebasnya. Kalian itu lama tidak bersama. Kamu tidak tahu bagaimana pergaulan Prita selama kamu kuliah. Tidak mungkin seumur lelaki yang ia kenal hanya kamu."
Orang memang terkadang hanya melihat hal dari apa yang bisa terlihat. Merek tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena yang tahu pasti hanya Tuhan dan orang itu sendiri yang mengalami.
"Besok mama dan papa akan ke Kota J. Kakakmu Arga punya niat ingin menikah."
"Kak Arga mau menikah?" Ayash baru tahu kabar itu.
"Ya, dengan Andin, anak Pak Suryo, temanmu."
Ayash teecengang, karen calon kakak iparnya adalah si tomboy teman SMP-nya. Dia tidak menyangka jika Arga bisa tertarik pada Andin. Memang, waktu acara pernikahannya, teman-temanya sempat menyoraki Arga yang memberikan buket bunga pada Andin. Ia tidak menyangka kakaknya punya niatan sampai menikahi Andin.
"Kalau kamu masih mau membahas tentang Prita, mama sudah tidak mau mendengarnya lagi. Semua terserah padamu, Ayash. Tapi mama sudah tidak bisa menerima Prita lagi."
*****
__ADS_1
Bruk!
Alex melemparkan dua orang lelaki di hadapan Bayu. Dua orang itu yang membuat Alex akhir-akhir ini harus kehilangan waktu bersantai dan bermain game. Alex menendang-nendang mereka sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
Setelah Klab milik Bayu menghadapi masalah secara bertubi-tubi, Alex hampir tak punya waktu tidur. Dia terus menyelidiki para pelaku yang terlibat dalam pengrusakan klab. Tidak mudah untuk mendapatkan mereka yang bekerja secara rapi dan terencana. Tapi, setiap kejahatan pasyi ada celah. Dengan bantuan dari Red Wine, Alex berhasil meringkus pelakunya. Alex lebih bisa diandalkan daripada polisi.
"Bangsat!" pekiknya sembari terus melayangkan tendangan ke dua orang itu secara bergantian.
"Semangat sekali kamu, Alex."
"Aku mau main game, Bos! Dua orang ini yang melemparkan bom molotov ke Meredian Bar dan membuat kebakaran di Shy Shy Cat. Terserah mau Bos apakan, aku mau main game dulu!"
Alex langsung berlari ke arah sofa ruang tengah mansion. Ia merebahkan tubuhnya dengan santai dan mulai memainkan ponselnya. Alex terkadang memunculkan sisi kekanak-kanakannya. Dia sudah tidak sungkan bersikap seperti itu di hadapan bosnya.
Bayu mendekati kedua orang itu. Sekilas penampilan keduanya tampak seperti orang biasa, tidak tampak seperti kriminal atau preman. Ketika Bayu mendekati dan mengamati mereka, keduanya juga seperti ketakutan.
"Apa pekerjaan kalian?" tanya Bayu.
"Kuli bangunan." jawab mereka bersamaan.
Kuli bangunan alih profesi sebagai *******? Tidak mungkin mereka beraksi kalau tidak ada yang menyuruh.
Keduanya saling berpandangan, memberi isyarat agar salah satu di antara mereka bicara.
"Kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
"Kami tidak tahu."
"Waktu itu kami sedang duduk bersantai di tepi jalan sambil menikmati makanan saat istirahat kerja. Kemudian, ada seseorang dari dalam mobil menawarkan pekerjaan mudah tapi hasilnya besar."
"Kami ditawati uang lima puluh juta jika mau ikut dengannya."
"Orang itu sepertinya sudah tua, tapi memakai topeng harimau putih sehingga kami tidak bisa mengenalinya."
"Ada ciri khas yang tidak bisa kami lupa saat dia memberikan cek, di punggung tangannya ada bekas luka yang sangat jelas."
Mendengar penjelasan itu, Bayu sudah bisa menyimpulkan kalau memang orang yang ingin menghancurkan klabnya adalah orang yang sama.
__ADS_1
"Sebelum beraksi kami diperlihatkan denah klab yang ingin diserang. Mereka tahu setiap detail klab dan kami hanya harus mengikuti apa yang mereka instruksikan."
"Kira-kira siapa orang-orang itu?"
Keduanya kembali saling bertatapan, kemudian menggeleng ke arah Bayu.
"Apa kalian juga pernah bertemu wanita ini?"
Bayu memperlihatkan foto Shuwan pada layar ponselnya. Keduanya menggeleng. Itu artinya bukan Shuwan yang menyuruh mereka.
"Bos, Anda juga mencurigai Nona Shu, ya? Jangan percaya dengan anak-anak Red Wine, mereka tidak becus menyelidiki kasus. Aku juga tidak menemukan tanda-tanda kalau Nona Shu terlibat. Dia terlalu baik untuk dicurigai sebagai penjahat." ucap Alex dengan santainya.
Anggota Red Wine yang ada di sana sebenarnya geram dan ingin memukul Alex. Kalau saja Alex bukan kesayangan Bayu, sudah pasti dia habis di tangan Red Wine. Apalagi Alex sama sekali tidak bisa bela diri. Hanya otaknya saja yang bagus, fisiknya payah.
"Pak.... "
"Iya?"
"Kami sudah mengatakan semuanya dengan jujur. Tolong lepaskan kami." ucap salah seorang dari mereka.
Bayu tersenyum. Ia menjongkokkan tubuhnya agar sejajar dengan mereka. Tiba-tiba ia menjambak rambut dan mendongakkan kepala orang yang minta ia bebaskan.
Tidak semudah itu Bayu mau melepaskan orang yang sudah mengusik hidupnya. Mereka harus mempertanggungjawabkan kekacauan yang mereka perbuat.
"Aku tidak akan melepaskan kalian sebelum kalian membayar perbuatan kalian."
"Kami benar-benar minta maaf, Pak."
"Kalau minta maaf berguna, seharusnya kalian menyerahkan diri saja ke polisi. Bukan menunggu orang-orangku menangkap kalian. Aku bukan orang yang pemaaf."
Bug!
Bayu membenturkan keras kepala orang itu ke lantai. Kemudian ia kembali berdiri.
"Kerugianku sangat besar gara-gara ulah orang bodoh seperti kalian. Bahkan jika organ tubuh kalian aku jual mungkin masih belum bisa menutupi kerugianku."
"Sebagai gantinya kalian harus bekerja untukku sampai aku mau melepaskan kalian. Kalau tidak setuju, aku bisa menembak mati kalian supaya cepat selesai."
"Bawa mereka berdua ke ruang bawah tanah."
__ADS_1