
Shuwan turun dari mobilnya memakai setelan pakaian yang rapi namun tetap memperlihatkan keseksiannya. Dandanan Shu sederhana, soft make up yang memberikan kesan wanita santun dan innocent. Tubuh Shu cukup terbilang tinggi seukuran model, badannya proporsional. Jika berakting dia pantas menjadi pemeran utama. Siapa saja akan mudah jatuh cinta pada penampilannya.
Shu melangkahkan kaki menuju pintu masuk perusahaan bertuliskan PT Minata Food. Ya, itu adalah perusahaan milik Bayu. Setelah beberapa hari merenung, Shu ingin kembali menemui Bayu. Ia menyesalkan sikapnya malam itu yang pergi begitu saja tanpa pamit.
Kedatangan Shu di lobi sudah mulai menarik perhatian para karyawan. Hampir tidak pernah ada wanita yang bertandang ke perusahaan, sampai rumor jika Bayu seorang gay juga sempat santer beredar di antara para karyawan. Mereka kira Alex adalah pacar Bayu.
Kali ini, Shuwan menjadi pusat perhatian di sana. Wanita yang sangat sempurna secara fisik, pasti memiliki hubungan spesial dengan bos di sana. Shu memberikan senyuman hangat kepada setiap orang yang berpapasan dengannya. Tentu membuat orang-orang merasa senang disapa wanita secantik dia.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa salah seorang resepsionis.
"Tolong sampaikan kepada Pak Bayu jika Shuwan Mey dari Holly Hotel ingin bertemu." Shu berbicara dengan nada ramah seperti biasanya.
"Baik, silakan tunggu sebentar di lobi. Kami akan menyambungkan kepada Pak Bayu."
"Terima kasih."
Shu lantas menuju salah satu sudut lobi untuk duduk menunggu kedatangan Bayu. Shu masih melemparkan senyum pada orang-orang yang melintas dan melihat ke arahnya. Dia suka dengan respon orang-orang yang balik tersenyum saat ia memberikan senyum.
Pandangan mata Shu menjelajahi setiap sudut area lobi kantor. Ini pertama kalinya Shu datang ke sana. Menurut Shu, perusahaan itu memang perusahaan kecil. Dia juga baru tahu keberadaan Minata Food. Jika dibandingkan dengan klub malam milik Bayu terutama King Crown dan Skylight Bar, perusahaan itu tidak ada apa-apanya.
Shu juga sudah mempelajari tentang seluk beluk perusahaan. Sebagai seorang pengusaha, tentunya ia tak melewatkan untuk mencari tahu usaha yang digeluti oleh pacarnya. Ya, Shu mencari tahu banyak hal tentang Bayu.
Bayu termasuk pengusaha muda kaya yang sumber kekayaan utama terutama dari klub malam yang ia kelola. Tapi, melihat Bayu mengelola perusahaan kecil itu, rasanya timpang dengan hasil klub malamnya. Pantas saja Bayu mengatakan jika mengelola perusahaan hanya iseng saja. Tanpa perusahaan itu Shu rasa Bayu tetap kaya.
Tak jauh dari tempat Shu, rombongan karyawan dari divisi pemasaran yang baru kembali dari kantin tampak mengintip-intip kehadiran wanita cantik di kantor mereka.
"Siapa ya, dia? Cantik banget?" guman Reni.
"Paling rekan bisnis Pak Bayu. Mau rapat kali." jawab Winda.
"Wah, kalau penampilannya seperti itu sih sudah jelas... pasti pacar Pak Bayu." ujar Jonan.
"Sok tahu kamu, Jo!" Winda memukul lengan Jonan. Ia sedikit tak suka idolanya dibilang sudah punya pacar.
__ADS_1
"Heh! Ngapain kalian berhenti di sini? Ada apa?" Hari yang datang belakangan bersama Alex penasaran dengan ketiga rekan kerjanya yang mengintip-intip dari balik tembok. Mereka memang dari kantin karena harus mentraktir Alex. Kesepakatan mereka jika tidak jadi dipecat, mereka akan mentraktir Alex selama satu minggu.
"Itu tuh, ada wanita cantik menunggu di lobi. Sepertinya itu pacar Pak Bayu."
Mendengar perkataan Jonan, Hari ikut-ikutan melongok. "Wah, iya. Cantik ya pacar Pak Bayu."
Alex jadi ingin ikut melihat. Setelah melihat wanita yang sedang duduk di lobi, Alex langsung bengong dan berhenti mengemut lolipopnya. Seorang wanita cantik yang merupakan tipe idealnya. Wanita itu adalah Shuwan Mey, dia sampai datang ke kantor Bos Bayu. Ada rasa senang bercampur rasa kecewa melihat kehadiran Shu di sana. Dia senang bisa bertemu lagi dengan Shu, tapi dia juga merasa kecewa karena Shu pasti datang untuk menemui Bos Bayu, bukan dirinya.
"Woy, Alex! Kok bengong!" Jonan menggoyangkan tubuh Alex karena sejak tadi anak itu bengong tidak menjawab saat ditanya.
"Kamu kenal dia nggak, Lex?" tanya Reni.
"Kenal, Kak. Namanya Shuwan Mey. Dia GM dari Holly Hotel, pacar Bos Bayu." terang Alex dengan nada yang terdengar kurang semangat.
"Nah kan, apa aku bilang. Wanita secantik dia pasti pacar Pak Bayu." Jonan jumawa karena tebakannya benar.
"Hah! Aku lebih suka mendengar gosip Pak Bayu pacaran dengan Alex daripada melihat kenyataan Pak Bayu ternyata berpacaran dengan wanita secantik itu. Jadi merasa sulit digapai nggak, sih...." keluh Winda.
"Memangnya kalau Pak Bayu tidak berpacaran dengan wanita itu kamu masih punya kesempatan untuk dekat dengan Pak Bayu?"
"Aduh!"
Winda kembali meninju lengan Jonan yang meremehkannya dengan keras, "Begini-begini aku tetap wanita ya, Jo! Bisa saja Pak Bayu menyukaiku jika dia sedang khilaf."
"Hahaha.... ada-ada saja kamu, Win!" Hari terkekeh dengan jawaban Winda.
Alex membuka ponselnya setelah mendengar nada ada notifikasi yang masuk. Sebuah pesan dari Bos Bayu. Isi pesannya menyuruh Alex untuk menemui wanita yanga menunggu di lobi dan mengajaknya masuk ke ruang kerja Bayu.
"Kakak-kakak, aku duluan ya. Baru saja ada pesan masuk dari Bos Bayu untuk mengantar Nona Shuwan ke ruangannya. Terima kasih traktirannya hari ini." pamit Alex.
"Ah, iya, Alex. Besok kita makan siang bersama lagi, ya." ucap Reni.
Alex mengacungkan jempolnya seraya berlari menghampiri wanita yang bernama Shuwan Mey itu.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya ada wanita cantik yang datang menemui Pak Bayu di kantornya, ya. Kira-kira mereka mau ngapain di kantor?"
"Ya kalau penasaran, datang saja ke ruangan Pak Bayu, Win!"
"Hi.... amit-amit kalau sampai harus masuk ke ruangan Pak Bayu. Sepertinya suasananya akan horror."
"Hah, kalian semua takut kan masuk ke ruangan Pak Bayu makanya selalu menyuruhku untuk masuk memberikan laporan bulanan." keluh Reni.
"Ya kan kamu ketua kami, Bu Reni. Kami hanyalah anak buah yang tidak pantas bertemu langsung dengan atasan." Jonan menepuk-nepuk pundak Reni.
"Alasan saja kamu, Jo. Sebenarnya kamu juga takut kan, berhadapan langsung dengan Pak Bayu." ejek Winda.
"Sudah-sudah, kok jadi ngobrol di sini. Lebih baik kita kembali ke ruangan untuk bekerja." Hari mendorong teman-temannya agar menyudahi cerita.
"Ngomong-ngomong, besok giliran siapa yang mentraktir Alex?
"Winda!"
"Loh, kok aku lagi? Kemarin kan aku yang sudah mentraktir."
"Ya kan kita sudah empat hari mentraktir Alex. Jadi urutannya kembali lagi. Masing-masing kita jatah dua kali mentraktir Alex, ya."
"Seharusnya giliran Jonan."
"Ah, nggak mau! Perjanjiannya kan mentraktir Alex satu minggu, berarti tujuh hari. Kan sisa 3 hari lagi, berarti kalian bertiga saja yang lanjut mentraktir Alex."
"Wah, nggak bisa gitu dong... Aku juga mau kalau begitu."
"Ih, kok jadi ribut! Adilnya kita traktir Alex 8 hari. Masa kita pelit-pelit dengan adik kesayangan kita. Dia banyak membantu kita loh. Tambah satu kali traktiran nggak apa-apalah, daripada kita ribut."
"Ya ya ya... Terserah bu ketua saja."
Setelah membahas perdebatan mengenai traktiran, akhirnya mereka berempat bisa masuk ke lift dengan tenang.
__ADS_1