
Prita mengerjapkan matanya. Niatnya ia hanya ingin menunggu sampai anaknya terlelap.Tapi, ternyata ia sendiri ikut tertidur. Matanya berkeliling mencari-cari letak jam dinding di ruangan itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Artinya dia sudah tertidur hampir selama dua jam bersama anak-anaknya.
Prita mulai bangkit dari ranjangnya. Ia benahi kembali posisi pakaiannya yang masih terbuka setelah menyusui Livy. Lalu ia berjalan ke arah kamar mandi mengecek wajahnya di cermin. Sedikit terlihat musut. Ia nyalakan kran lalu membasuh wajahnya agar terlihat segar.
Perlahan diusapkan handuk ke wajahnya. Setelah kering, ia aplikasikan kembali skincare yang membuat tampilan wajahnya terlihat bercahaya. Tidak lupa kali ini ia gunakan lipstik warna merah senada dengan lingerie yang dikenakannya. Ia terlihat semakin sensual.
Diciumnya aroma tubuhnya sendiri, sisa ritual mandinya ternyata masih meninggalkan aroma wangi. Rambutnya kembali ditata. Kini ia sudah siap untuk menemui Bayu lagi. Bagaimanapun Prita merasa bersalah sudah mengabaikan suaminya di hari pernikahannya.
Prita menuju connecting door yang terletak di sisi samping lemari. Ia buka pintu pintu itu. Ternyata, pintu di sisi lain juga sudah terbuka. Artinya Bayu menang ada di sana. Tapi, sebelum sempat masuk ke kamar sebelah, sayup-sayup ia dengar suara percakapan dua orang. Ia mengintip dari balik pintu. Ada Bayu dan Ben yang sedang bercakap-cakap.
"Tuan Ayash sempat datang ke sini."
"Oh, begitu?"
"Dia juga memaksa masuk, sampai membuat keributan di luar."
"Aku juga sudah mengira dia akan datang. Untunglah anak buahmu bisa menanganinya."
"Dia sudah mencelakai banyak anak buah saya."
"Obati mereka yang terluka."
"Sudah, Bos."
"Lalu, apa selanjutnya?"
"Tuan Samuel meminta Anda untuk melihat senjata yang ditawarkan temannya malam ini."
"Ah, Si Tua Bangka itu sudah mulai memerintahku rupanya."
"Sebenarnya saya juga tidak enak mengatakan ini krpada Bos, apalagi ini adalah hari pernikahan Anda."
"Sudahlah, Ben. Tidak apa-apa. Lagipula istriku sudah tidur bersama anak-anaknya."
__ADS_1
"Apa Bos yakin akan ikut saya malam ini? Kalau Anda tidak mau, saya bisa berangkat sendiri."
"Ya, aku akan berangkat. Aku akan bersiap-siap dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi."
"Ini pistol yang Anda minta."
Ben menyerahkan sepucuk pistol kepada Bayu.
"Ya, terima kasih."
"Saya permisi."
Prita menutup kembali pintu penghubung itu ketika Bayu telah menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Ia tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar. Sejak kapan Bayu kembali pada kebiasaan lamanya? Padahal selama mereka dekat, sepertinya Bayu sudah tidak lagi melakukan hal yang aneh-aneh. Dia serius bekerja mengurusi beberapa bisnis nyatanya. Prita kira Bayu sudah benar-benar keluar dari dunia hitam itu. Dan, malam ini dia akan pergi melakukan rencananya. Membawa pistol? Apa dia akan membunuh orang?
Bayu mengguyur tubuhnya di bawah shower yang mengalirkan butiran-butiran air dingin. Setidaknya dengan mandi ia bisa mengatasi libidonya yang sempat meninggi karena Prita.
Untunglah ada pekerjaan yang harus ia selesaikan, sehingga pikirannya bisa teralihkan dengan hal lain. Kalau dia tetap di kamar saja, ia yakin tidak akan bisa tidur semalaman. Agak kesal juga dengan tingkah anak-anak. Bisa-bisanya mereka memanggil mamanya saat ia hendak melakukan itu.
Setelah ritual mandi dirasa cukup, Bayu mematikan shower. Tubuhnya sudah terasa lebih segar sekarang. Ia gerakkan kepalanya agar air yang ada di rambutnya terhempas. Ia hendak mengambil handuk, namun ternyata ia lupa membawanya. Sepertinya ia letakkan di atas washtafel sebelum masuk ruang bilas.
"Ah!"
Gerakannya terhenti saat membuka sekat pintu kaca. Ada Prita berdiri di sana dengan lingerie merahnya. Ia mengucek-ucek kedua matanya, takut sedang berhalusinasi. Seharusnya wanita itu ada di kamar sebelah sedang tidur bersama anak-anak.
Sementara, Prita jadi salah tingkah melihat suaminya sendiri yang baru keluar dari dalam kamar mandi. Tubuhnya masih basah dan telan*jang berdiri persis di hadapannya.
"Kamu.... kenapa ada di sini?"
Prita mengalihkan pandangan ke arah lain karena terlalu malu jika harus menatap suaminya secara langsung. Padahal, penampilannya sendiri juga tak kalah seksinya. Tapi dia tidak merasa.
"Anak-anak sudah tidur. Jadi, aku pikir bisa menemanimu tidur malam ini." ucapan malu-malu wanita itu terdengar imut.
__ADS_1
"Tapi, kalau kamu tidak menginginkannya, aku akan kembali ke kamar anak-anak lagi."
Sebelum sempat Prita pergi, Bayu sudah lebih dulu menariknya kedalam pelukannya. Mana ada lelaki yang akan menyia-nyiakan wanita yang datang sendiri ke hadapannya memakai pakaian yang begitu mera*ngsang.
"Kamu yang datang sendiri ke kamar ini, ya. Jangan menangis kalau malam ini aku tidak akan membiarkanmu pergi." bisiknya.
Setelah mengucapkan itu, Bayu menggendong Prita menuju ke kamar. Ia rebahkan wanitanya di tengah ranjang. Beberapa detik ia perhatikan wajah merona wanita di bawahnya. Tampaknya ia sedikit malu-malu meskipun sok berani.
Tanpa pikir panjang, ia lepaskan lingerie merah yang Prita kenakan hingga tubuh mereka sudah sama-sama polos.
"Jangan ditutupi, biarkan aku melihatnya." Bayu menahan tangan Prita ke atas. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa melihat kembali tubuh indah itu. Tubuh yang terlihat masih sama seperti enam tahun yang lalu.
Dengan wajah pasrah, Prita merelakan tubuhnya dipandangi oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.
"Kenapa matamu tidak mau menatapku? Coba lihat aku."
"Aku tidak bisa."
Bayu menyeringai, "Kenapa? Kamu malu?"
Tangan kanan Prita diangkat dan diletakkan pada dada bidangnya. Membuat wanita itu terkejut dan mau tak mau mengarahkan pandangannya pada lelaki yang ada di atasnya.
"Kamu harus menatapku, agar ingat seperti apa suamimu. Aku, Bayu Bagaskara, suamimu yang sekarang. Tegasnya."
Prita menatap lelaki di atasnya dengan seksama. Lelaki yang terus menggerakkan tangannya menyusuri tubuh atletis yang kokoh itu. Gerakannya semakin turun dari dada menuju area perut hingga lebih ke bawah sampai pada miliknya yang sudah menegang.
Prita hendak melawan, namun Bayu tetap menahan tangannya. "Rileks, jangan takut. Semua yang ada padaku juga milikmu. Kamu harus mengenal setiap jengkal yang ada di tubuhku. Peganglah."
Kata-kata dan tatapan mata itu seperti menghipnotis Prita untuk mengikutinya. Iapun memegang benda itu. Benda yang sudah tak asing namun tetap membuatnya khawatir.
"Malam ini masih panjang, aku tidak akan terburu-buru. Kita nikmati saja dan anggap sebagai perkenalan pertama kita."
Bayu memberikan kecupan kecupan kecil di bibir Prita. Seperti yang dikatakannya, ia melakukannya dengan pelan. Prita membalas ciuman itu dengan tempo yang sama. Tangan mereka menjelajahi bagian tubuh masing-masing, sesekali memberi rangsangan lembut.
__ADS_1
Lelaki itu pandai menciptakan suasana. Prita bisa ikut menikmati aktivitas bercintanya dengan rileks dan nyaman. Bukan seperti Bayu yang pemaksa atau Bayu yang tidak sabaran. Lelaki itu bisa memperlakukannya dengan lembut tanpa menuntut. Seakan semua berjalan mengalir dengan apa adanya.