
"Selamat siang, Tuan Zetian." sapa seorang resepsionis di sebuah rumah sakit jiwa.
"Selamat siang."
Zetian melangkahkan kaki menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sunyi. Rumah sakit jiwa itu berupa bangunan yang cukup tua dan letaknya berada di daerah pinggiran kota dekat dengan pegunungan. Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan rumah sakit ini meskipun sudah puluhan tahun berdiri.
Hawa udara di sana cukup sejuk meskipun saat siamg hari. Suasana sekitar asri, karena daerahnya dikelilingi perbukitan. Tempat itu memang cocok untuk menenangkan diri. Tidak ada kebisingan yang biasa di temui di pusat kota.
Rumah sakit itu bernama RSJ Cinta Bunda. Meskipun bangunannya tua, tapi sangat terawat. Tempat itu dijadikan sebagai tempat penampungan orang-orang yang mengalami depresi ataupun stres yang menyebabkan jiwanya terganggu. Pasien yang diterima di sana bukan sembarang pasien, melainkan pasien dari keluarga orang-orang berada. Ya, rata-rata yang tinggal di sana berasal dari keluarga kaya.
Tempat itu sangat menjaga privasi. Tidak sembarang orang bisa keluar masuk. Harus ada kartu keanggotaan untuk bisa datang ke sana. Tempat itu biasa dijadikan orang-orang kaya untuk menyembunyikan sanak keluarganya yang memiliki masalah kesehatan jiwa agar tidak mempermalukan keluarga.
Biaya penitipan pasien di sana cukup mahal. Setara dengan pelayanan yang diberikan. Setiap pasien akan memiliki satu perawat pribadi yang akan mengontrol kondisi mereka setiap hari. Para dokter yang berkompeten menyembuhkan penyakit kejiwaan juga lengkap di sana. Ada pula ruang terapi, ruang aktivitas, ruang makan, dan ruang lainnya yang diperuntukkan bagi pasien.
Keluarga tidak perlu khawatir jika anggota keluarganya akan terlantar di sana. Tidak akan. Karena mereka akan diperlakukan dengan sangat baik.
"Hari ini Anda berkunjung, Tuan Zetian?" tanya perawat yang baru saja keluar dari kamar bertuliskan nomor 36.
"Apa dia ada di dalam?"
"Iya. Ibu sedang merangkai bunga di dalam. Anda bisa masuk. Saya permisi dulu."
Zetian melangkahkan kaki memasuki ruang kamar yang bernuansa hangat. Cat tembok berwarna krem, pintu dan jendela yang bercat coklat tua. Lantai kamar berasal dari kayu yang menimbulkan kesan alami.
Tampak seorang wanita berumur sedang asyik dengan bunga-bunga aneka warna. Dengan telaten wanita itu menancapkan satu persatu kunum bunga pada gabus oasis. Zetian terkesima melihat wanita itu. Baginya, wanita itu masih sama cantiknya seperti dulu.
__ADS_1
Wanita itu menatap ke arah Zetian. Dia memandangi Zetian selama beberapa detik dengan ekspresi datar. Kemudian ia kembali beralih pada bunga yang ada di hadapannya. Seolah kedatangan Zetian bukan sesuatu yang berarti baginya.
Zetian duduk bersila di hadapan wanita yang tetap sibuk dengan rangkaian bunganya. Zetian hanya bisa memandangi dan mengagumi kecantikan wanita yang sejak dulu selalu ia cintai.
"Retno, hari ini apa kabar?" tanya Zetian.
Wanita itu tetap tidak menjawab.
Retno Mulyani, 55 tahun. Dia adalah ibu dari Mario. Sudah lima tahun Retno tinggal di sana. Retno menjadi depresi dan gila karena kematian Mario. Sebelumnya, Retno selalu dibuat stres oleh kelakuan anaknya. Terakhir kali, Mario terlibat kasus narkoba. Untung Retno masih bisa menyelamatkannya. Tapi, akhirnya, Mario harus mati dengan cara yang mengenaskan. Mario tewas tertembak di rumah villa keluarga yang terletak di dekat pantai.
Mario adalah anak Retno satu-satunya. Baginya Retno, Mario adalah harapannya untuk terus bertahan hidup setelah suaminya meninggal. Hanya Mario keluarga yang dimilikinya. Dan sekarang, Mario sudah meninggal sementara dirinya yang sudah tua harus terus hidup dalam kesendirian.
Zetian adalah suami pertama Retno Mulyani. Ya, merek sempat menikah sebelum akhirnya bercerai kemudian Retno menikah dengan lelaki lain dan melahirkan Mario.
Zetian berasal dari keliarga kaya dan etnis Tionghoa, sementara Retno berdarah pribumi asli. Dulu mereka saling mencintai, namun cinta mereka terhalang restu keluarga Zetian.
Akhirnya, Zetian tetap berhubungan dengan Retno meskipun statusnya sudah menikah. Zetian mengajak Retno untuk menikah secara diam-diam. Kala itu Retno setuju menjadi istri kedua karena memang Retno juga masih mencintai Zetian.
Keduanya menjalani pernikahan rahasia selama 2 tahun. Zetian merasakan kebahagiaan bersama Retno yang tidak bisa ia dapatkan di keluarga resminya. Antara Zetian dan Retno memiliki rasa cinta yang besar satu sama lain.
Namun, bangkai yang disembunyikan pada akhirnya akan ketahuan juga. Orang tua Zetian mengetahui pernikahan rahasianya dengan Retno. Orang tua Zetian sangat melaknat pernikahan itu. Mereka mengganggu kehidupan keluarga Retno. Orang tua Retno dicelakai hingga harus masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal.
Retno yang sakit hati dengan perbuatan keluarga Zetian, memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan Zetian. Dia menikah dengan pria lain dan berusaha melupakan masa lalunya. Ia hidup bahagia bersama suami dan dan anaknya Mario.
Namun, seumur hidup Zetian tak pernah bisa melupakan Retno. Dia selalu berusaha mencari keberadaan Retno hingga sekarang usianya sudah sama-sama tua.
__ADS_1
Zetian bertemu Retno saat kondisi Retno sudah sangat depresi karena kematian anaknya. Ia sengaja memindahkan Retno ke rumah sakit itu agar lebih leluasa mengunjunginya.
Retno masih mempesona di matanya. Walaupun belum bisa ia ajak berkomunikasi, bisa melihat Retno saja rasanya kebahagiaannya pada masa dulu kembali lagi.
Besarnya rasa cinta kepada Retno membangkitkan keinginan Zetian untuk menyelidiki kasus kematian Mario. Menurutnya, Retno depresi karena kematian anaknya. Jika dia berhasil menangkap orang yang membunuh anaknya, mungkin saja Retno akan sembuh kembali.
Mengandalkan informasi dari hasil penyelidikan polisi bukanlah suatu hal yang bisa diharapkan. Sudah lima tahun berlalu, kasus pembunuhan Mario juga belum ada titik temu. Bahkan, mungkin penyelidikannya sudah dihentikan tanpa hasil.
Kepolisian mengatakan bahwa pembunuhan itu memang murni kasus pencurian dengan tindak kekerasan. Tapi, berdasarkan penyelidikan orang-orang suruhan Zetian, sepertinya ada motif lain pembunuhan. Terlihat dari tidak adanya jejak sidik jari dan kondisi rumah yang masih terbilang rapi untuk disebut sebagai kasus perampokan.
Ada satu celah yang tidak diselidiki polisi, yaitu CCTV yang ada di jalanan menuju ke area villa itu. Dari hasil penyelidikan orang-orangnya, Zetian mendapat informasi jika pada malam itu sebuah mobil sport berwarna hitam sempat melintas ke arah villa. Mobil itu milik Bayu Bagaskara, putra dari Samuel Bagaskara.
Zetian tahu kalau Samuel seorang mafia, maka anaknya pasti juga sama dengannya. Mafia bisa membunuh orang tanpa sebab yang jelas. Kemungkinan yang membunuh juga Bayu. Apalagi ia juga mendengar laporan bahwa Mario pernah bermasalah dengan Bayu dan Tiger King. Itu yang menguatkan tuduhannya terhadap Bayu.
Karena itulah Zetian ingin Bayu mati. Gara-gara Bayu, wanita yang sangat dicintainya sampai depresi. Dia tidak akan membiarkan Bayu hidup tenang. Mungkin, dengan membunuhnya terlalu ringan untuknya. Zetian ingin membuat hidup Bayu jaub lebih menderita hingga menginginkan dirinya sendiri mati. Dia ingin Bayu merasakan penderitaan yang dirasakan olehnya dan Retno.
Zetian tahu Bayu seorang playboy. Karena itu dia menggunakan anaknya, Shuwan untuk merayu Bayu. Anaknya sangat cantik, tak mungkin seorang Bayu mampu menolak pesona anaknya. Benar saja, akhirnya Shuwan bisa berpacaran dengan Bayu. Namun, Shuwan gagal membunuh Bayu malam itu karena takut.
"Retno, aku sudah menemukan pembunuh Mario. Aku akan membuat hidupnya hancur dan menderita seperti yang kamu rasakan."
Tiba-tiba Retno berhenti memegang bunganya. Ia memandangi Zetian, "Mario?"
Ini pertama kalinya Retno mau bicara. Tatapannya sendu tapi sekaligus ada rasa ingin tahu terpancar.
"Ya, Mario, anakmu. Aku sudah menemukan pelakunya."
__ADS_1
"Siapa Mario? Aku tidak kenal. Hahaha.... "
Zetian menghela nafas. Ternyata Retno belum sembuh. Retno kembali merangkai bunganya sambil tertawa-tawa dan menyebut nama Mario.