ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Penyerbuan 3


__ADS_3

Bayu sudah terkapar di lantai. Mulutnya memuntahkan darah. Dari kening sebelah kanan mengalir darah segar. Ia berkali-kali mengutuk Alex dan Red Wine yang belum juga datang. Sepandai-pandainya Bayu menguasai berbagai macam bela diri, tetap kalah kalau dikeroyok belasan orang apalagi memakai senjata. Seharusnya tadi memang ia membawa senjata, setidaknya satu buah pistol.


"Pertanggung jawabkan perbuatanmu! Klabku sampai harua tutup gara-gara ulahmu. Berikan klab ini sebagai gantinya kalau kamu tidak ingin mati."


"Hah! Kenapa aku harus tanggung jawab pada hal yang tidak pernah aku lakukan? Lagipula itu kebodohanmu sendiri membiarkan orang sepertinya bekerja di tempatmu. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri."


"Mau mengambil klab ini? Mimpi saja jangan pernah bangun." di saat terluka Bayu masih tetap bisa membuat orang kesal.


"Hajar lagi dia!" perintah Arya pada anak buahnya.


Brak!


Pintu masuk langsung terlepas dari tempatnya karena didorong masuk. Tampak belasan lelaki memakai hoody hitam dan masker masuk. Mereka adalah Red Wine. Bayu menyunggingkan senyum. Antara senang dan ingin marah karena anak buahnya itu sangat telat datang sampai ia babak belur.


Arya dan anak buahnya tercengang karena tidak mengetahui siapa mereka. Mereka kira menguasai King Crown cukup dengan melemahkan Bayu. Tanpa mereka tahu, King Crown memiliki pasukan penjaganya.


Red Wine yang melihat kondisi pimpinannya terluka parah, langsung meringsek masuk dan memberikan serangan balasan. Klab kembali menjadi ajang perkelahian antara dua kelompok yang serba hitam.


Bayu beranjak dari tempatnya semula, sedikit menjauh dari arena perkelahian. Dia merasakan sekujur tubuhnya sakit. Ia serahkan sisanya pada Red Wine untuk membereskan.


"Bos." Fazid memberikan sehelai sapu tangan kepada Bayu.


"Terima kasih." Bayu mengelap sisa-sisa darah yang masih menempel di wajahnya.


"Maafkan aku."


"Kenapa minta maaf segala? Memangnya apa salahmu?"


"Aku tidak becus mengurusi klub dengan benar. Aku sudah merepotkanmu, Bos. Tapi aku bersumpah, aku tidak tahu menahu dengan pelayan itu. Dia memang pelayan di sini, tapi aku tidak tahu kalau dia juga bekerja di tempat Arya."


Adu kekuatan antara dua kelompok masih berlanjut. Anak buah Bayu unggul dalam segi bela diri karena tipe bertarung anak buah Arya seperti anak SMK yang sedang tawuran. Tapi, anak buah Arya tetap tidak bisa diremehkan karena mereka membawa tongkat pemukul.


"Bos.... "


Tiba-tiba sudah ada Alex di hadapan Fazid dan Bayu. Anak itu disuruh jangan ikut malah masuk menyusul Bayu ke dalam.


"Ngapain kesini, Lex? Tempat ini tidak cocok untukmu. Nanti kena pukul, loh." kata Fazid. Dia tahu betul, Alex memang jago masalah IT, tapi nol besar untuk urusan adu fisik.


"Kan ada Red Wine, aku aman. Hehehe.... "

__ADS_1


Plak!


Bayu memukul kepala Alex, "Sialan! Kamu bilang mereka sudah mau datang. Aku hampir mati baru mereka datang, mau aku hajar, hah!" Bayu rasanya marah sekali kepada Alex.


"Maaf, Bos. Salahkan mereka saja, aku kan hanya menyampaikan pesan dari mereka. Katanya sepuluh menit akan sampai. Aku juga tidak tahu mereka bakal lama sampai tiga puluh menit."


"Lebih baik cari asisten baru, Bos. Anak ini tidak berguna apalagi untjk hal-hal seperti ini."


"Jangan jahat, Kak. Aku nati jadi pengangguran."


"Sudahlah, ini kita bahas lain kali saja. Alex, kamu pasti akan mendapatkan hukumannya nanti."


Badan Alex jadi lemas.


"Zid.... "


"Ya, Bos?"


"Apa menurutmu pelayan itu juga seorang suruhan? Maksudku, ada orang yang menyuruhnya untuk menjebakku atau membuat permusuhan antara aku dengan Arya?"


"Bos berpikir sampai kesana, ya.... "


"Nah, iya. Aku juga sudah menyuruhmu kan, Lex, untuk menyelidiki dalang di balik peristiwa itu? Mana hasilnya? Kenapa sampai sekarang belum kamu laporkan padaku?"


Alex merasa seperti menggali kuburnya sendiri. Baru saja dia akan mendapat hukuman, sekarang tugasnya yang belum bisa terselesaikan juga diungkit. Seharusnya memang Alex tak perlu ikut masuk ke dalam.


"Bos, Anda sendiri kan yang membunuh saksi sekaligus pelaku itu? Bagaimana aku bisa menyelidiki kalau satu-satunya orang yang bisa aku tanyai sudah mati? Masa aku harus bertanya pada arwahnya?"


"Halah! Bilang saja tidak becus.... kebanyakan main game!" Fazid menambah panas situasi.


"Pokoknya kamu harus segera menyelesaikan masalah ini, Lex. Kalau tidak bisa, aku sita semua fasilitas yang aku berikan padamu termasuk ponsel."


"Yah, Bos.... "


"Aku yakin ada orang yang ingin menyingkirkanku. Kira-kira siapa orang yang punya dendam paling besar padaku dan sangat mungkin melakukan semua ini?"


"Aku rasa banyak." celetuk Alex. Fazid langsung memberi lirikan. Alex menutup mulutnya.


"Ini juga jadi tugasmu, Lex. Cari semua orang yang punya dendam padaku. Kalau kamu tidak bisa, kamu yang akan aku gantung."

__ADS_1


Penyesalan Aalex berlipat ganda. Kini tugasnya banyak menumpuk. Segala fasilitas yang selama ini ia nikmati terancam disita. Rasanya dia ingin menonjok diri sendiri, kenapa juga dia harus ikut-ikutan masuk kalau hanya menambah tugasnya saja.


"Tuan.... " salah seorang anak buah Bayu menghampirinya.


Bayu melirik ke arah orang-orang yang sejak tadi berkelahi. Sudah berhenti. Anak buahnya bisa mengatasi Arya dengan baik.


Bayu bangkit dari duduknya. Ia melangkahkan kaki mendekati Arya yang sudah tidak berkutik oleh anak buahnya.


"Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak pernah mengusik tempat usahamu. Aku tidak pernah menyuruh orang itu melakukan hal yang kamu tuduhkan. Mungkin saat ini kamu tidak akan percaya. Tapi, nanti aku akan cari tahu dalang di balik semua ini yang membuat kita sampai bermusuhan. Jadi, tahan dirimu sampai aku bisa membuktikannya."


"Pengecut! Hanya orang pengecut yang tidak mengakui perbuatannya sendiri."


"Hah! Terserah saja padamu. Sebagai bukti aku tidak ingin menghancurkan hubungan baik kita, aku akan membantu agar klabmu bisa segera buka kembali. Dan aku tidak akan menuntut kerusakan yang sudah kalian perbuat. Pokoknya, tunggu sampai aku menangkap orang di balik semua ini."


"Baik, kali ini aku akan bersabar. Tapi kalau kamu tidak bisa membuktikannya, aku akan kembali lagi ke sini dengan orang yang lebih banyak."


"Ya, silakan saja."


"Ayo pergi!" Arya memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk keluar dari klab.


Kondisi semua orang baik dari pihak Arya maupun Bayu semuanya luka-luka selain Alex.


"Tuan.... "


"Sebenarnya kalian ada di mana? Kenapa datang di saat aku hampir mati?" Bayu mengoceh pada Red Wine.


"Kami ada di Bubu Baba. Jadwal kami malam ini memang di sana."


"Hah! Setidaknya ada satu dua orang lah kalian jaga tempat ini."


"Maafkan kami."


"Sudahlah! Bawa orang ini ke mansion. Jangan di bunuh, kita butuh dia untuk membuka mulut. Beri makanan yang enak-enak dan layani dengan baik." Yang Bayu maksud adalah pelayan yang tadi menuduhnya telah menyuruh mensabotase klub Arya.


"Baik, Tuan."


Dua orang Red Wine langsung memapah orang yang dudah tidak berdaya itu. Seluruh anggota Red Wine pergi meninggalkan klab. Tersisa Bayu, Alex, Fazid, dan para pelayan yang masih ketakutan.


"Maaf atas kejadian malam ini. Kalian boleh pulang lebih awal. Jangan lupa pergi berobat ke dokter. Nanti Fazid akan mentransfer biaya pengobatan kalian."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak."


__ADS_2