
Bayu tak kunjung kembali, sementara perusahaan perlu keputusan secepatnya. Prita terpaksa menggantikan sementara posisi Bayu dengan bantuan Ayash, Irgi, dan orang-orang kepercayaan Bayu.
Ayash dan Irgi sudah mengusulkan untuk melaporkan pegawai yang terlibat korupsi ke jalur hukum. Namun, Prita lebih memilih menyelesaikan persoalan itu dengan caranya.
Ia memanggil ketiga pegawai di kantor, yaitu manager keuangan, manager produksi, dan General Manager untuk menghadapnya di ruang rapat. Sudah ada setumpuk dokumen di depan mereka, yang menjadi bukti penyelewengan yang mereka lakukan.
Prita ditemani oleh Ayash, Irgi, Alex, Fredi, Edo, dan Ejaz. Dia seperti seorang putri yang dikawal sekelompok ksatria menghadapi tiga orang penjahat yang perlu diadili.
"Seharusnya Bapak bertiga sudah tahu, alasan saya memanggil Anda semua kemari."
"Ini adalah tumpukan berkas perusahaan yang menunjukkan penyelewengan beberapa pergawai selama tiga tahun terakhir."
Ketiganya hanya bisa saling melirik lalu menunduk. Mereka memang orang yang selama ini melakukan korupsi di perusahaan secara kerja sama. Posisi Bayu yang tidak pernah peduli pada keuangan perusahaan mereka manfaatkan untuk keuntungan pribadi. Mereka tidak akan menyangka jika hari ini akan tiba, dimana kesalahan-kesalahan mereka akan terungkap.
Sebenarnya mereka berniat melakukan hal itu sampai dua tahun kedepan dengan mengeruk uanh sebanyak-banyaknya dari perusahaan, kemudian mengundurkan diri dan membangun usaha sendiri. Mereka juga tahu kalau kondisi perusahaan sudah kritis karena ulah mereka.
"Saya bisa melimpahkan bukti-bukti ini ke pengadilan agar Anda bertiga mendapat hukuman yang setimpal."
"Tapi, saya ingin mencoba cara damai jika Anda bertiga mau mengembalikan uang perusahaan yang pernah kalian ambil."
"Jadi silakan Anda bertiga memilih, masuk ke penjara dan aset kekayaan kalian disita, atau mengembalikan uang perusahaan yang pernah kalian ambil."
"Anda bertiga seharusnya bersyukur, karena saya sendiri yang menangani kasus kalian. Jika suami saya yang ada di hadapan kalian sekarang, kalian pasti tahu, balasan yang akan dia berikan lebih mengerikan dan tidak akan pernah Anda bertiga lupakan."
"Masih ingat kan tentang tragedi kotoran sapi?"
"Saya harap hal seperti itu tidak akan terulang lagi."
"Kami.... Memilih cara damai saja, Bu. Tolong maafkan kamu."
"Tentu akan saya maafkan, kalau kalian sudah mengembalikan apa yang telah kalian ambil."
"Kami pasti akan mengembalikannya. Tapi, beri kami waktu."
"Waktu untuk mengembalikan uang perusahaan, kan? Bukan waktu untuk kabur?" sindir Prita.
"Tentu saja waktu untuk mengembalikan uang perusahaan, Bu. Kami berjanji tidak akan kabur."
__ADS_1
"Apa dua minggu cukup?"
"Cukup, Bu."
"Oke, akan saya tunggu. Selama itu, nama baik kalian akan tetap terjaga."
"Tapi, kalau kalian ingkar janji, mungkin data-data kalian akan tersebar di dunia maya hingga kalian tidak punya muka lagi untuk tampil di depan umum."
"Baik, Bu. Kami pasti akan menepati janji."
"Silakan kalian kembali ke ruangan masing-masing, kemasi barang-barang kalian, karena mulai besok sudah ada yang akan menggantikan kalian."
Ketiga orang itu keluar dengan wajah muram seperti sudah tidak punya kehidupan. Karir mereka hancur akibat perbuatan mereka sendiri.
Prita menghela nafas lega. Sejak tadi sebenarnya ia grogi, pertama kalinya duduk di kursi pimpinan tertinggi perusahaan. Untung saja ucapan kalimatnya terdengar lancar dan berwibawa. Ia sudah takut akan berbicara terbata-bata dan gemetar. Orang yang ia hadapi juga bukan orang sembarangan, mereka lebih tua dan banyak pengalaman di bidang bisnis.
"Weh, hebat juga temanku yang satu ini." Irgi mengajak Prita tos. "Sudah pantas nih Ibu Prita jadi Direktur Utama." pujinya. Irgi memang sangat bangga melihat Prita yang sekarang lebih percaya diri dan pemberani untuk tampil di depan. Tidak seperti dulu yang sukanya ngumpet di belakang.
"Ah, kamu tidak tahu saja rasanya kakiku mau copot saking groginya. Aku takut.... " Prita menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tapi akhirnya kamu bisa melakukannya dengan baik, aku bangga padamu, Pritaku."
"Makasih, Yash."
"Kalian semua juga ayo duduk di sini, kita diskusi bersama."
"Wey, kalian dengarkan ibu direktur kalian, ayo cepat kesini!" ucap Irgi.
Alex, Fredi, Edo, dan Ejaz langsung menempatkan diri duduk di kursi yang tersedia. Agenda hari ini, mengisi kekosongan jabatan dari orang-orang yang baru saja ia pecat. Sebelum pergi, Bayu sempat menyebut nama Edo dan Ejaz untuk ikut mengurus perusahaan. Karena itu, hari ini ia mengundang mereka lagi untuk datang.
"Terima kasih untuk bantuan kalian semua. Kedepannya perusahaan ini masih akan perlu berjuang memperbaiki kondisinya. Aku harap kalian bisa tetap mendukung kemajuan perusahaan ini."
"Maaf, kalian harus mendengarkan orang yang sama sekali tidak punya pengalaman tentang mengelola perusahaan."
"Aku di sini hanya mewakili suami sampai dia kembali. Aku juga tidak tahu apa keputusanku nanti akan ia sejutui atau tidak. Tapi, aku berusaha mengambil keputusan yang terbaik."
"Sebelum Bayu pergi, dia menyebutkan dua nama untuk masuk ke perusahaan, Edo dan Ejaz."
__ADS_1
"Oleh karena itu, hari ini kalian berdua aku panggil lagi. Apa kalian bersedia ikut membantu membangkitkan perusahaan ini?"
"Saya bersedia." ucap Edo.
"Saya juga bersedia." susul Ejaz.
Kedua mantan manager klab itu sangat bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Meskipun nanti tugasnya sedikit berbeda, mereka akan tetap berusaha menjalankan pekerjaan mereka sebaik mungkin, sebagai rasa terima kasih terhadap Bayu yang ternyata masih memikirkan nasib mereka berdua. Orang sekaku dan searogan Bayu itu meskipun sering memarahi mereka, tapi diam-diam punya rasa kepedulian yang tinggi tanpa harus diungkapkan. Oleh karena itu, mereka selalu respek kepada bosnya.
"Mulai besok kalian sudah mulai bekerja, ya. Edo akan mengisi bagian manager produksi dan Ejaz mengisi bagian manager keuangan."
"Untuk posisi General Manager sendiri, bagaimana kalau kamu, Fredi, yang mengisi?"
"Maaf, Nona Prita. Tapi pekerjaan lapangan saya banyak. Tuan Bayu sering menyuruh saya pergi, saya tidak bisa selamanya stay di kantor."
"Terus siapa? Aku tidak tahu yang cocok menduduki posisi itu siapa.... "
Pandangan Prita berhenti pada sosok Alex yang sedang fokus dengan ponselnya, "Bagaimana kalau Alex saja?"
"Hah! Apa?" Alex kelabakan kaget tiba-tiba namanya disebut.
"Alex.... Berhenti dulu main game-nya!" perintah Fredi.
Alex langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
"Alex, kamu yang mengisi jabatan GM, ya. Mau, kan?"
Alex menelan ludah, dia tidak suka bekerja di kantor. "Maaf, Nona Prita. Saya tidak bisa. Saya sudah jadi asisten Bos Bayu."
"Sementara.... Bayu juga belum kembali, kan?"
"Saya tetap tidak bisa. Kak Fredi saja."
"Tugas luarku banyak, Alex!" Fredi berkata sambil mengarahkan tatapan intimidasi kepada Alex.
"Tugasku juga banyak, Kak!" Alex tak mau kalah mencari alasan.
"Ya sudah, sampai menunggu Bayu kembali, untuk adilnya kalian berdua saja yang menajadi GM. Kalau Fredi sedang sibuk, Alex harus mau menggantikan."
__ADS_1
"Kata-kataku tidak boleh dibantah, ya! Kalau kalian membantah, akan aku laporkan kepada Bayu kalau kalian merepotkanku."
Ancaman Prita yang membawa-bawa nama Bayu langsung membuat keduanya terdiam. Mereka semua mematuhi apa yang Prita putuskan, karena keputusannya pasti juga merupakan keputusan Bayu.