ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Awal Mula Perlawanan


__ADS_3

Prita masih betah menelusupkan kepalanya pada dada suaminya. Ibu tiga anak itu tiba-tiba menjadi manja saat berada di dekat suaminya.


Setelah menyelesaikan aktivitas suami istri yang menyenangkan, keduanya serasa enggan untuk bangkit dari tempat tidur. Tubuh mereka bahkan masih tela*njang hanya tertutup oleh selimut tebal. Di balik selimut itu, mereka masih berpelukan penuh kemesraan.


Dengan isengnya, Prita mengecupi area dada suaminya sembari sesekali memberi gigitan kecil di sana. Bayu yang baru saja tertidur lambat laun kembali terbangun.


"Hm, kenapa ini Sayang? Apa masih mau lagi?"


Bayu mendekatkan tubuh istrinya hingga menempel padanya. Dengan gemas, ia ciumi puncak kepala istrinya.


Bayu membulatkan mata, "Sayang.... Kamu nakal sekali." Ia kaget karena tangan Prita sudah bergerak memegangi miliknya di bawah sana. Otomatis rasa kantuknya langsung hilang seketika.


Sementara pelakunya hanya tertawa-tawa kecil memperhatikan reaksi sang suami dengan kelakuannya.


"Kenapa benda ini sepertinya tidak pernah tidur?"


"Itu karena ulahmu, Sayang. Kalau tidak kamu pegang dia tidak akan bangun."


"Ah!"


"Sayang.... Sepertinya kamu sedang memancingku lagi, ya."


Bayu mengubah posisi istrinya menjadi di bawah kungkungannya Prits masih tertawa seperti memang sedang memancing suaminya.


"Makin di lihat kamu makin menyenangkan, ya.... "


"Aku senang melihatmu bisa seceria ini. Maaf, kemarin sudah membuatmu menangis. Aku akan berusaha agar kamu bisa selalu tersenyum seperti ini."


Keduanya saling berpandangan, saling bertukar senyuman.


"Awal kita saling kenal, hobimu cemberut dan marah-marah. Apapun yang aku lakukan selalu salah."


"Sekarang, istriku jadi wanita yang sangat manis sampai-sampai takut kalau ditinggal pergi suaminya."


Prita memanyunkan bibirnya, "Apa kamu mau meninggalkanku lagi?"


"Kenapa? Kamu takut aku tergoda dengan wanita lain kalau aku pergi?"


Prita menggeleng, "Aku lebih takut kalau ada luka baru di tubuhmu."


Bayu melirik ke arah badannya sendiri yang memang banyak memiliki bekas luka, "Apa tubuhku sangat jelek?"


Prita menggeleng, "Rasanya ikut sakit melihat luka-lukamu."


Bayu tersenyum, ia membawa tangan tangan Prita untuk memegangi bekas luka pada pinggangnya.


"Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya mendapatkan luka-luka ini. Yang aku rasakan sekarang hanya bahagia, memiliki istri sepertimu."


"Seandainya waktu bisa terulang kembali, aku ingin mengenalmu lebih awal. Seharusnya aku mengenalmu sejak SMA atau bahkan SMP agar kamu tidak perlu mengenal mantan suamimu itu. Seharusnya kamu hanya mengenal aku saja."


Prita tertawa kecil mendengar perkataan Bayu.


"Kok malah tertawa?" Bayu menatapnya heran. Seharusnya itu momen romantis, istrinya malah tertawa.

__ADS_1


"Mas.... Kalau kamu mengenalku waktu SMA, berarti aku masih kelas satu SD. Apalagi kalau Mas mengenalku saat SMP, berarti aku masih balita, kan?"


Bayu baru sadar, perkataan Prita ada benarnya juga. Jarak usia mereka terpaut hampir sepuluh tahun.


"Ah, berarti aku yang terlalu cepat lahir." Bayu merasa lemas mengetahui fakta tentang dirinya sendiri. "Pantas saja waktu itu kamu mau memanggilku 'Om'. Memang dulu kamu tidak ada sopan santunya sama sekali ya, terhadapku."


Prita tertawa geli, "Tidak apa-apa, Mas. Lagipula kamu tidak terlihat setua itu. Masih terlihat gagah, kok.... "


Bayu mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling menempel, "Apa kita harus mengulangi ke tiga kali?" godanya.


"Kok bahasannya tiba-tiba berubah?" Prita langsung berhenti tertawa.


"Soalnya kamu menyebut-nyebut kata gagah.... Aku jadi ingin menunjukkannya sekali lagi."


Ting! Ting! Ting!


Aktivitas mereka terganggu oleh suara pesan masuk.


"Sepertinya ponsel milikmu, Mas."


Dengan perasaan kesal, Bayu menyibakkan selimut lalu turun dari atas ranjang.


"Ihhh.... Mas! Pakai baju dulu!" seru Prita melihat suaminya begitu percaya dirinya berjalan di kamar tanpa memakai apapun.


Bayu meraih ponselnya, ada pesan masuk dari ayahnya. Dia sudah punya firasat tidak enak melihat nama ayahnya muncul di layar ponsel. Ia buka pesan dari ayahnya, beberapa foto kiriman yang memunculkan potret Ben dengan luka-lukanya. Ayahnya sudah tahu tentang keberadaannya dan Ben menjadi sasaran kemarahan ayahnya. Dengan tangan gemetar, Bayu menelepon nomor ayahnya.


"Anakku, aku senang kamu masih hidup."


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Ben!?"


Bayu berkata dengan nada emosi. Suara kerasnya sampai membuat Prita terkaget saat mengenakan kimono tidurnya. Sepertinya suaminya itu sedang marah kepada seseorang.


"Aku belum melakukan apapun. Aku hanya memberinya hukuman karena telah membohongiku."


"Ben tidak tahu apa-apa. Urusanmu denganmu, Bangsat! Kenapa kamu membawa-bawa Ben!?"


Bayu menyebutkan nama Ben, berarti ada hubungan dengan ayahnya. Prita membawakan kimono tidur milik suaminya. Ia menghampiri suaminya yang sedang marah-marah lalu membantu mengenakan pakaiannya.


"Hahaha.... Apa kamu peduli dengan nasibnya? Apa yang akan aku lakukan pada Ben juga bukan urusanmu."


"Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu jika terjadi apa-apa kepada Ben." mata Bayu mulai berkaca-kaca.


"Oh, iya? Apa yang bisa kamu lakukan untuk menentangku? Bukankah keahlianmu hanya melarikan diri?"


"Tolong berhenti sekarang selagi aku masih menganggapmu sebagai seorang ayah."


"Aku memang ayahmu selamanya aku adalah ayahmu."


"Aku akan melawanmu."


"Kelemahanmu sangat banyak, melihat Ben mati saja kamu ketakutan. Bagaimana bisa kamu ingin mengalahkan ayahmu?"


"Ayah!" serunya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan berhenti sampai akhir."


"Kembali ke mansion jika kamu masih ingin melihat Ben hidup. Kamu lebih tahu seperti apa ayahmu."


Raut wajah Bayu tampak pucat setelah menerima telepon itu. Sepertinya dia sangat bimbang.


"Kenapa, Mas?"


Bayu menunjukkan foto-foto Ben kepada Prita tanpa berucap sedikitpun. Prita terkejut melihatnya. Luka yang diderita Ben sangat kejam.


"Aku harus kembali ke Kota J. Maafkan aku."


Saat ini Bayu rasanya ingin mengamuk sejadi-jadinya. Baru saja ia bertemu kembali dengan istrinya, sang ayah kembali memberikannya ancaman.


Prita menggenggam lembut tangan suaminya, dibalas dengan pelukan oleh Bayu.


"Sayang, aku ingin semua ini segera berakhir dan hidup normal denganmu."


"Apa aku harus membunuh semua orang di dunia ini agar bisa hidup tenang denganmu?"


Prita merasakan tubuh suaminya yang bergetar. Ia hanya bisa mengelus punggungnya untuk menenangkannya.


"Aku harus menghubungi seseorang."


Bayu melepaskan pelukannya lalu kembali fokus pada ponselnya. Ia menghubungi seseorang. Cukup lama ia harus menunggu teleponnya diangkat hingga membuatnya gelisah.


"Halo?"


"Bara.... Apa kamu masih ada di sana?"


"Ya, aku masih ada di desa ini. Kenapa? Apa kamu baik-baik saja di sana?"


"Bisa kamu pulang kesini?"


"Memangnya kenapa? Tugasku di sini belum selesai, aku belum bisa pulang."


"Orang-orang yang sedang kamu incar ada di Kota J semua, untuk apa kamu tetap di sana?"


"Aku tahu, tapi aku perlu bukti-bukti dari sini untuk menyeret mereka ke pengadilan."


"Mereka juga menyembunyikan bukti-bukti mereka di Kota J."


"Hah, apa sekarang kamu sedang menjadi seorang detektif, bagaimana kamu bisa tahu? Tolong jangan bercanda seperti ini, tugasku ini bukan main-main."


"Akan aku berikan dokumen-dokumen yang penting yang bisa kamu gunakan untuk menjebloskan mereka ke penjara. Pulanglah dulu, aku sungguh-sungguh."


"Ah.... Aku tidak tahu apa kamu benar-benar serius. Jika bukti-bukti itu memang valid, bawalah ke kantor polisi terdekat."


"Tidak ada polisi yang aku percaya selain patung polisi, polisi tidur dan dirimu."


"Hahaha.... Kalau kamu bercanda seperti itu, bagaimana aku bisa percaya?"


"Gudang perusahaan kayu Tuan Saddam di daerah XXX, dia menyembunyikan dua ton ganja. Lakukan sidak sendiri kesana, jangan memberikan pemberitahuan apapun. Buktikan kalau ucapanku ini benar."

__ADS_1


__ADS_2