
"Rasanya sudah lama ya kita tidak bertemu, Pak Suryo."
"Benar, Pak Reonal. Terakhir kali bertemu mungkin saat Andin dan Ayash masih SMA. Soalnya kan saya harus pindah tempat usaha ke Kota J."
Siang ini keluarga Arga dan keluarga Andin sedang makan bersama di restoran milik keluarga Andin. Memang, Andin berasal dari pengusaha restoran. Dulu, Pak Suryo mengelola restorannya di Kota S. Tapi, karena prospeknya tidak terlalu bagus, ia pindah ke Kota J.
Yang hadir di sana ada Arga, Maya, Reonal, Andin, dan Suryo. Ibu Andin sudah meninggal sejak Andin SMP. Ayahnya membesarkan Andin sendiri, sampai sekarang dia masih betah melajang dan memutuskan untuk tidak menikah lagi.
Andin adalah anak satu-satunya. Suryo sangat menyayangi buah cinta antara dirinya dan istrinya. Keputusan terberat saat melepaskan Andin berkuliah ke luar negeri seperti impian Andin. Dan Andin sangat betah tinggal di luar negeri. Sampai akhirnya Andin mengatakan ingin kembali ke Indonesia dan menikahi lelaki Indonesia, Suryo merasa sangat senang. Ia bisa dekat lagi dengan anak semata wayangnya.
Ternyata, orang yang akan dipilih Andin sebagai suaminya tidak jauh-jauh adalah Arga, anak dari Reonal, teman bisnisnya saat di Kota S. Tentu saja Suryo menyetujuinya. Arga memang anak yang baik. Apalagi Arga memiliki usaha yang bagus. Ia tak perlu khawatir dengan masa depan Andin kedepannya.
"Andin bagaimana, apa tidak sayang meninggalkan pekerjaan di sana?"
"Tidak apa-apa, Tante. Saya bisa memulainya lagi di sini. Lagipula, ayah saya memang lebih senang kalau saya berkarir di Indonesia saja."
"Lebih senang lagi kalau kamu mau jadi ibu rumah tangga saja, Andin. Biar Arga yang bekerja."
"Ah, Ayah.... Aku kan bukan tipe yang suka duduk diam." Andin merajuk.
"Hahaha.... Andin memang dari dulu anak yang aktif dan enerjik, ya."
"Hm, benar. Dulu dia pernah naik-naik ke atas genteng rumah bersama Ayash dan Vino." kata Maya mengingat masa-masa dulu.
"Iya iya.... Papa juga ingat. Waktu itu dia jatuh terpeleset. Untung di bawah ada Arga yang menangkap. Jadi, Andin tidak terluka."
"Bukan menangkap, Pa. Dia yang jatuh tepat di atasku. Dia nggak apa-apa tapi tanganku yang mau patah." kilah Arga.
"Hahaha.... tinggal diiyakan saja, Ga. Bikin Andin jadi malu tuh."
Muka Andin memerah. Membicarakan tentang masa lalunya hanya membuat Andin malu. Dulu, dia memang sangat tomboy. Teman mainnya cowok seperti Vino dan Ayash. Sekarang, saat ia sudah merubah penampilan menjadi sangat feminim, masih saja orang ingat tentang dirinya di masa lalu.
"Andin ini walaupun dulu tomboy dan kelihatan mandiri, tapi sebenarnya ada juga sisi-sisi manjanya. Nanti kamu jangan kaget, Arga, kalau tiba-tiba dia tidak bisa membuka botol minuman. Padahal mengangkat galon saja kuat. Soalnya kalau sama ayahnya suka begitu."
"Iya, Om. Waktu saya ke Perancis menemui dia juga begitu. Nyuruh saya yang nyetir padahal dia sendiri bisa."
__ADS_1
"Iih.... Kan memang lebih pantas kalau laki-laki yang menyetir, Kak."
"Hahaha.... sudah sudah.... kasihan Andin malah jadi kita godain."
"Ngomong-ngomong, rencananya mau kapan acara lamaran dan pernikahannya?"
"Kalau saya terserah anak-anak saja."
"Kalau bulan depan aku lamar bagaimana?"
"Lah, kan Kak Arga sudah melamarku waktu di Perancis."
"Maksudnya lamaran keluarga. Waktu itu kan aku baru melamar kamu, belum di hadapan keluargamu."
"Em, kayaknya tidak usah lamaran lah, langsung resepsi pernikahan saja. Nggak apa-apa kan, Yah?"
"Terserah kamu saja, Andin. Kan kamu yang mau menjalani."
"Andin sudah nggak sabaran kayaknya ini.... " goda Maya.
"Untuk Andin, Om tidak masalah. Mendengar Arga mau menikah saja kami sudah bahagia sekali."
"Tidak apa-apa, Om. Kalau Andin ingin langsung acara pernikahan saja."
"Kalau begitu tiga bulan lagi ya, kita menikahnya. Tidak terlalu lama dan terlalu terburu-buru, kan?"
"Ya, aku rasa tidak masalah. Bagaimana, Yah?"
"Oke, Ayah setuju."
Suryo menatap anak gadisnya yang sekarang sudah beranjak dewasa. Dia tampak bahagia berada di samping Arga. Mungkin memang Arga lelaki yang bisa membuat Andin bahagia. Saat Andin menikah nanti, berarti tugasnya sebagai seorang ayah akan berakhir. Karena nantinya tanggung jawab terhadap Andin sudah beralih pada Arga.
*****
Di tempat lain, Raeka sedang berkumpul dengan teman-teman yang nanti akan menjadi brides maid di pernikahannya. Jangan ditanya lagi, semua teman-teman Raeka tentunya cantik-cantik meskipun tetap Raeka yang paling cantik.
__ADS_1
Raeka mengajak teman-temannya fitting baju di sebuah butik. Baju yang akan mereka kenakan nantinya berwarna pink nude yang selaras dengan wedding gown yang akan Raeka kenakan.
Teman-teman Raeka sebenarnya lebih banyak masih ada ikatan keluarga. Dia lebih nyaman berteman dengan sepupu-sepupunya daripada orang asing. Mengingat sifat Raeka yang seperti judes, sombong, angkuh, dan seenaknya sendiri, tentu tidak banyak yang bisa bertahan dengannya selain sepupunya. Ada pula yang memang teman sekolah, berarti mereka orang hebat yang mampu bertahan dengan wanita seperti Raeka.
Raeka hampir tidak pernah mengenalkan Irgi kepada teman-temannya. Jika Raeka berkumpul dengan temannya, Irgi tak pernah diajak. Alasannya sudah jelas. Irgi terlalu ganteng dan dia tidak mau salah satu temannya naksir dan menggoda Irginya. Satu Prita saja sudah membuatnya kewalahan apalagi jika teman atau sepupunya bersikap sok dekat dengan Irgi. Mungkin Raeka lebih memilih untuk mengurung Irgi di dalam kamar selamanya.
"Ra, bagus nggak bajuku?" tanya Mila, salah satu sepupunya.
Raeka mengangkat jempol ke arah Mila.
"Ra, kalau acara bridal shower nanti dibarengin nggak sama acara bachelor party?" tanya Niken, teman tergenit Raeka. Dia teman yang paling nggak bisa diam kalau lihat pria tampan.
"Irgi nggak ngadain bachelor party."
"Iyuh! Calon suami kamu ganteng tapi nggak ngikutin trend. Irgi payah ah!"
Justru Raeka lebih senang begitu. Kalau ada acara kumpul-kumpul nggak bisa membayangkan kalau Irgi akan dikelilingi wanita-wanita cantik selain dirinya.
"Dia punya banyak kerjaan, Ken. Mungkin juga cuti kerja hanya untuk hari H pernikahan saja."
"Sesibuk itu, ya? Sampai dia juga nggak ngantar kamu ke sini."
"Ya, begitulah."
"Raeka, kesini sebentar!" Intan, sepupunya memanggil. Raeka segera beranjak dari tempat duduk menghampiri Intan.
"Kenapa?"
"Kalau ditambah tiara ini gimana, bagus, nggak?" tanyanya sembari memasang tiara di atas kepalanya.
"Bagus, jadi kayak pemenang Miss Universe."
"Nggak apa-apakan aku pakai ini? Nggak dibilang nyaingi pengantin nanti?"
"Nggak apa-apa, tetap aku yang akan jadi yang paling cantik nanti." jawab Raeka dengan sombongnya.
__ADS_1