ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Terlena


__ADS_3

Vote atulah.... Dukung Tim A 😳


--------------------‐----‐----------‐----‐--‐---------------------------------


"Buka pahamu. Aku akan mulai memasukkannya. Rileks."


Prita tetap patuh berada di bawahnya. Bayu seperti seorang guru yang sedang mengajarinya untuk memperoleh kenikmatan bercinta. Ini memang bukan yang pertama, tapi tetap terasa berbeda dengan yang pernah ia rasakan sebelumnya.


Akhirnya momen ini akan tiba. Prita tetap merasa resah meskipun Bayu sudah sangat lembut memperlakukannya.


"Uuhhh.... "


Prita meng*erang ketika milik Bayu mulai memasuki intinya. Ada sensasi rasa perih yang ia rasakan. Seakan benda itu memaksa untuk memasukinya. Ia jadi sedikit panik. Ketakutan yang dulu pernah ia alami muncul kembali.


Air matanya mulai menetes. Ia ingin Bayu menghentikannya, tapi tak kuasa mengucapkannya. Sementara, Bayu masih terus berusaha memasukkan miliknya.


Ketika melihat lelehan air mata yang jatuh di pipi Prita, Bayu baru menyadari kalau istrinya seperti kurang menikmati aktivitasnya.


"Apa sakit?" tanyanya. Ia tidak mau egois merasakan kesenangan sendiri.


Prita mengangguk dengan wajah yang terlihat memelas.


Sungguh wanita itu tampak semakin imut dan menggairahkan. Responnya justru membuat Bayu semakin menyayanginya. Seorang istri yang manja dengan tatapan puppy eye di bawahnya itu membuat rasa cintanya berlipat-lipat.


"Kamu harus rileks, jangan fokus ke bawah sana. Fokus saja dengan ciuman kita."


Bayu kembali memagut bibir Prita dengan lembut. Wanita itu berusaha mengikutinya, menikmati setiap cecapan yang dirasakan di bibirnya. Usapan-usapan mesra yang Bayu berikan di sekujur tubuhnya membuatnya merasa dilindungi. Kini perasaannya menjadi semakin tenang.


Ketika Bayu kembali mendorong miliknya masuk, tubuhnya sedikit demi sedikit mulai menerimanya. Rasanya tidak sesakit saat di awal. Bahkan semakin dalam, semakin terasa nikmat dan membuatnya terlena.


Bayu menghentikan sebentar aktivitasnya ketika miliknya telah masuk sempurna. Ia memberi kesempatan pada tubuh Prita untuk beradaptasi.


"Masih sakit?"


Prita menggeleng dan wajahnya memerah. Mengakui bahwa itu rasanya sangat enak adalah sesuatu yang memalukan.


"Sepertinya aku tak akan melepaskannya sampai pagi."


Sebenarnya Bayu sudah sangat tidak sabar untuk menggapai kenikmatannya sendiri. Setelah bertahun-tahun ia tidak bisa melakukannya, akhirnya ia bisa bersyukur menikmati momen seperti ini. Apalagi bersama wanita yang sangat ia cintai. Rasanya seperti mendapatkan kehidupan kedua.


Tapi, ia akan tetap bersabar. Prita juga harus merasakan kenikmatan seperti yang ia rasakan. Bagaimanapun, wanita itu pernah memiliki trauma kepadanya. Karena itu tubuhnya sempat memberinya penolakan. Ketika dia sudah mau membuka hati dan menerimanya, aktivitas yang mereka lakukan akan menjadi menyenangkan.


"Aku akan mulai menggerakkannya. Rileks. Ini tidak akan sakit."

__ADS_1


Bayu kembali mencium bibir Prita sembari menggerakan miliknya keluar masuk dengan tempo lambat yang teratur.


Prita tampak menikmati apa yang dilakukannya. Des*ahan demi des*ahan terdengar di sela-sela ciuman. Ekspresi yang ditunjukkan sangat seksi setiap kali ia menggerakkan miliknya. Seakan wanita itu sudah pasrah dengan kenikmatan yang diterimanya. Membuat Bayu semakin bersemangat meningkatkan tempo gerakannya.


"Uuhh.... Uuhh.... Uuhh.... " Prita merancau.


Leng*kuhannya semakin meninggi seiring dengan tempo gerakan Bayu yang meningkat. Kenikmatan yang dia rasakan terasa bertubi-tubi. Sungguh, sangat nikmat. Hingga air matanya kembali mengalir saking tidak kuatnya menahan kenikmatan demi kenikmatan yang di terima. Rasanya ia ingin meledak.


"Hngg.... Hngg.... "


Melihat tanda-tanda wanitanya akan mencapai *******, Bayu mempercepat gerakannya. Prita semakin merancau, erang*annya terdengar memenuhi ruangan seirama dengan gerakan yang Bayu ciptakan. Beberapa saat kemudian, tubuhnya serasa menegang, pantatnya terangkat dan akhirnya ia mencapai pelepasan pertamanya.


Tubuhnya melemah, nafasnya terengah-engah. Bayu telah membuat wanitanya tak berdaya. Dia sendiri belum mencapai klimaksnya. Ia memberi waktu untuk Prita mengatur nafas dan menikmati sisa-sisa pelepasannya.


"Apa enak, Sayang?"


"Huhu.... Huhu.... Hiks."


"Eh, kok malah nangis? Cup cup cup..... " Bayu menciumi sudut mata Prita yang mengeluarkan air mata.


Prita juga tidak mengerti mengapa dirinya menangis. Mungkin dia kembali mengingat pengalaman sek*s pertamanya yang menyakitkan. Kali ini rasanya sangat berbeda, sangat nikmat hingga rasanya ia terbang melayang ke angkasa. Namun, entah mengapa ia tetap menangis.


"Kamu pasti ingat yang dulu lagi, ya?" Bayu memberi tatapan hangat kepadanya, seakan meyakinkan semua akan baik-baik saja.


Bayu kembali menciumi wanitanya. Setelah emosinya dirasa semakin tenang, ia menyuruh Prita untuk membalikkan badan memunggunginya. Dia masukkan kembali miliknya ke tempat semula sembari memeluk hangat tubuh Prita dari belakang.


Keduanya kembali menikmati keintiman bersama, dengan suara leng*kuhan yang bersahut-sahutan memenuhi ruangan. Rasanya malam masih terlalu panjang untuk dilewatkan.


Akhirnya, Bayu bisa mencapai pelepasannya bersamaan dengan ******* kedua yang dirasakan oleh Prita. Keduanya terlentang di atas ranjang sembari menetralkan nafasnya.


Bayu senyum-senyum sendiri setelah berhasil menyemburkan benihnya ke dalam rahim istrinya. Dia ingin mengulangnya lagi. Baru sepuluh menit berakhir, miliknya sudah kembali tegang. Namun, sepertinya Prita masih terlalu kelelahan dengan aktivitas yang baru saja mereka selesaikan.


Drrt.... Drrt....


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ingin rasanya ia mengumpat ada yang berani mengganggunya di malam pengantin.


"Angkatlah, siapa tahu penting." pinta Prita yang terbaring di sampingnya.


Bayu bangkit dari ranjang mendekat ke arah meja tempat ponselnya berada. Telepon dari Ben.


"Halo, Ben? Ada apa?" tanyanya.


"Apa Bos sudah selesai bersiap? Saya sudah cukup lama menunggu Anda di luar."

__ADS_1


Bayu baru ingat. Rencananya tadi memang ia akan pergi dengan Ben menjalankan tugas yang ayahnya berikan. Apa yang dia lakukan malah menikmati malam pertamanya sebagai pengantin baru. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Artinya, ia sudah bercum*bu mesra dengan istrinya hampir satu jam lamanya.


"Ah, iya. Tunggu sebentar. Aku akan keluar." ucapnya seraya mengakhiri panggilan.


"Sayang, malam ini aku ada urusan. Aku harus pergi dengan Ben."


"Kamu mau meninggalkanku sendiri?" Prita yang belum memakai kembali pakaiannya menatapnya dengan tatapan memelas, seakan tak ingin ditinggal. Pose yang Prita buat terlihat sangat menggoda. Miliknya sudah tegak sempurna.


"Tidurlah bersama anak-anak, aku ada urusan penting. Besok pagi aku sudah kembali."


"Aku tidak mau.... Aku mau tidur bersamamu di sini sampai pagi." binar matanya yang terlihat polos itu semakin membuatnya berat untuk pergi.


Ben sudah menunggunya, dan ayahnya pasti akan marah kalau urusannya tidak beres.


"Maaf, Sayang. Aku benar-benar harus pergi."


Prita beringsut turun dari atas ranjang. Ia berlari kecil dan langsung memeluk Bayu. Tubuh polos mereka saling menempel, menciptakan sensasi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Jangan pergi.... Aku ingin mengulang yang tadi berkali-kali sampai pagi." rengek Prita sembari mengeratkan pelukannya.


Bayu mematung. Wanitanya begitu manja kepadanya. Padahal tadi sepertinya dia sudah menangis-nangis karena tidak tahan dengan rang*sangan yang ia berikan. Sekarang, wanita itu sendiri yang memintanya. Apa dia sudah tidak takut padanya?


"Apa kamu yakin? Nanti kalau nangis lagi bagaimana?"


Dengan nakalnya Prita memegang milik Bayu. Membuat lelaki itu semakin gila.


"Lakukan pelan-pelan.... Aku akan berusaha untuk tidak menangis." rayunya dengan nada yang sangat manja.


Lelaki manapun tidak ada yang akan tahan jika sudah dirayu seperti itu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu Ben kalau aku tidak bisa pergi malam ini."


Bayu menyerah, dia mengambil kembali ponselnya dari atas meja lalu menghubungi Ben.


"Halo, Ben."


"Iya, Bos."


"Sepertinya malam ini aku tidak bisa pergi denganmu. Kamu urusi dulu sendiri, ya. Kalau butuh bantuan, hubungi Fredi."


"Baik, Bos."


"See? Aku meninggalkan urusanku karena rayuanmu. Jadi, kamu harus bertanggung jawab. Malam ini kita akan sangat sibuk. Aku tidak akan berhenti meskipun kamu menangis."

__ADS_1


__ADS_2