
Klek!
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, akhirnya pintu putih yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya terbuka. Raeka, Prita, Bayu, dan Irgi segera berdiri mendekati arah pintu tersebut. Seorang dokter muncul dari balik pintu dengan pancaran wajah yang masam. Perasaan khawatir menyelimuti, terutama bagi Raeka. Dia yang paling berharap Shuwan dan bayinya bisa selamat.
"Bagaimana, dokter?" Raeka bertanya dengan bibir gemetar. Dia takut mendengar suatu berita buruk.
"Siapa yang bernama Raeka?" tanya dokter itu.
"Saya, dokter."
Dokter itu tampak menghela nafas panjang lalu menghembuskannya, "Nona Shuwan sudah berpesan kepada saya agar menyampaikan apapun yang terjadi kepadamu."
Dokter itu tampak mencari sesuatu dari saku bajunya, lalu ia menyodorkan selembar kertas kepada Raeka, "Ini surat yang dia berikan sebelum operasi. Katanya, saya sendiri yang harus memberikan kepada Nona Raeka."
Raeka menerima menerima surat itu dengan perasan yang semakin tidak enak.
"Seorang bayi wanita yang cantik berhasil dilahirkan dalam kondisi yang sehat."
"Tapi, maaf, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya." dokter itu mengatakannya dengan nada penuh penyesalan.
Perkataan sang dokter bagaikan petir yang menyambar hingga jantung Raeka serasa mau lepas. Ia tidak percaya kalau Shuwan meninggal. Badannya seketika terasa lemas, ia merasa begitu sedih. Air matanya meleleh serta suara tangisannya pecah.
Prita yang merasakan hal yang sama juga tak bisa membendung kesedihannya. Ia memeluk tubuh Raeka seraya menangis bersama-sama.
Irgi dan Bayu hanya bisa memandangi kedua istrinya dengan tatapan yang sendu. Mereka juga bisa merasakan apa yang sedang dirasakan ketika kehilangan seorang teman.
Tak berselang lama, beberapa perawat turut keluar dari ruangan itu sembari mendorong sebuah ranjang dengan seseorang terbaring di atasnya. Tubuhnya tertutupi selembar kain putih. Tangisan Raeka dan Prita semakin kencang. Sosok yang kini ada di hadapannya adalah Shuwan, teman yang belum begitu lama mereka kenal namun sudah seperti saudara sendiri.
Raeka menguatkan diri untuk membuka kain yang menutupi Shuwan. Ditatapnya wajah Shuwan yang tampak seperti wanita cantik sedang tertidur dengan kulit putih bersih namun pucat. Wanita yang dulu terlihat sangat angkuh itu kenapa kini hanya bisa terbaring diam dan membeku?
__ADS_1
"Shuwan.... Bangun.... Putrimu sudah lahir. Katanya kamu mau membesarkannya sendiri? Ayo bangun.... Huhuhu.... "
Raeka tak kuasa menahan tangisannya. Irgi sampai harus memegangi tubuhnya agar tidak jatuh terkulai. Saat ini Raeka sangat sedih.
"Shuwan.... Bangun.... Aku bilang aku mau membantumu, kan? Kamu tidak boleh seperti ini.... "
"Shuwan.... Katanya kamu sangat menyayangi bayimu.... Kenapa kamu meninggalkannya, bodoh! Kamu harus hidup bahagia dengan bayimu.... "
Raeka masih mengekspresikan kesedihannya dengan berbicara kepada Shuwan yang sudah tak lagi bisa mendengarkannya.
Prita tak kalah sedihnya menatap langsung wajah Shuwan di hadapannya. Ia memeluk suaminya sembari menangis. Kisah hidup Shuwan sangat berat, bahkan dia belum sempat melihat anak yang dilahirkannya sendiri.
Perawat kembali menutupkan kain ke wajah Shuwan. Mereka mendorong jenazah Shuwan meninggalkan ruangan operasi itu.
Tak berapa lama, seorang perawat juga keluar dari dalam ruang operasi, membawa seorang bayi yang telah dibalut dengan kain selimut. Bayi itu terlihat sangat lucu, tubuhnya yang mungil, kulitnya putih bersih serta hidungnya mancung. Mirip sekali dengan Shuwan.
"Pesan dari Nona Shuwan, dia ingin menyerahkan bayi ini kepada Nona Raeka."
"Silakan ikuti kami ke ruang perawatan yang sudah dipersiapkan untuk adik bayi ini."
Perawat itu meminta mereka untuk mengikutinya. Ia memandu mereka berempat menyusuri koridor rumah sakit yang sepi pada tengah malam itu. Hingga pada sebuah ruangan VIP, perawat itu membawa mereka masuk. Di sana sudah dipersiapkan segala kebutuhan pasien bayi seperti yang Shuwan minta sebelum dilakukan operasi.
Prita dan Raeka masih sibuk mengagumi sosok imut itu. Sepertinya bayi memang selalu bisa menghipnotis orang untuk mencintainya, terutama wanita.
"Apa kalian bisa meluangkan waktu untuk berbicara sebentar dengan saya?"
Dokter yang tadi menangani Shuwan tiba-tiba muncul dari balik pintu dan telah berganti pakaian. Ia meminta mereka berempat untuk duduk bersama di ruang tamu kamar VIP tersebut.
"Saat pertama kali datang ke rumah sakit ini, sebenarnya kondisi Nona Shuwan tidak terlalu parah." dokter mulai berbicara.
__ADS_1
"Hanya saja, akibat benturan yang dialaminya, ia mengalami pendarahan."
"Kami khawatir pendarahan itu akan membahayakan nyawa janin dalam kandungannya makanya harus segera dilakukan tindakan operasi. Namun, keselamatan ibu menurut kami itu yang lebih utama jikalau harus menyelamatkan salah satu nyawa."
"Tapi, Nona Shuwan meminta agar nyawa bayinya dipeioritaskan. Ia ingin bayi itu bisa terlahir ke dunia dengan selamat. Oleh karena itu, kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya."
"Pada akhirnya, kami hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Tuhan ternyata punya rencana lain. Kami bisa melahirkan si bayi dengan selamat, namun Nona Shuwan harus gagal bertahan hidup karena kehilangan banyak darah."
"Sebelum dilakukan tindakan operasi, kami sudah menanyakan tentang pihak keluarga untuk menandatangani surat persetujuan tindakan. Namun Nona Shuwan bilang dia sudah tidak memiliki keluarga dan akhirnya harus menandatangani sendiri surat persetujuan itu."
"Dia juga berpesan kepada saya, kalau terjadi apa-apa dengannya namun bayinya selamat, ia ingin menyerahkan bayi itu kepada Nona Raeka."
"Dia juga berpesan untuk merahasiakan tentang kelahiran bayinya dari keluarganya maupun dari ayah bayinya. Kalau bisa, seluruh dunia harus tahu kalau bayi yang dia lahirkan sudah mati."
"Saya tidak paham apa tujuan Nona Shuwan berpesan seperti itu, namun karena itu pesan terakhir darinya, saya rasa tetap harus saya laksanakan."
"Jadi, nanti kami juga akan menghubungi pihak keluarganya untuk mengabarkan tentang kematian Nona Shuwan dan bayinya. Jenazahnya akan dikremasi sesuai dengan kepercayaannya."
"Saya harap kalian bisa menyembunyikan berita tentang anak itu sesuai permintaan dari Nona Shuwan. Anggap bayi itu tidak pernah terlahir dan anggap kalian tidak pernah bertemu dengan kami malam ini."
"Kalau bisa, kalian harus segera membawa bayi ini segera pergi sebelum lebih banyak orang yang tahu."
"Nona Raeka, apa perkataan saya bisa diterima dengan baik?" tanya dokter itu memastikan lawan bicaranya bisa menangkap isi pesan penjelasannya yang panjang.
Raeka mengangguk, "Kalau itu permintaan dari Shuwan, saya mau melakukannya."
"Aku tidak bermaksud mengusir kalian. Tapi, aku sudah menyuruh orang untuk mematikan semua CCTV saat ini. Kalian bisa keluar dengan tenang tanpa ada yang mengetahui."
"Saya juga akan menghapus rekaman saat kalian masuk ke rumah sakit ini. Sekali lagi, anggap kita tidak pernah bertemu."
__ADS_1
"Saya permisi dulu." Dokter itu segera pamit dan keluar dari ruangan itu.