ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kecelakaan 2


__ADS_3

"Dean.... Dean.... Ayo lihat ikan. Aku dan Papa berhasil menangkap ikan." seru Daniel sambil berlari menghampiri Dean.


"Dean, ayo kita kembali. Kak Daniel punya ikan itu. Kamu tidak mau lihat?"


"Nanti dulu, Kak Leta. Aku juga mau menakap capung." Dean masih sibuk mengejar-ngejar capung yang sulit ia tangkap.


"Dean, ayo.... " sekali lagi Daniel menyeru.


"Bantu aku dulu, Kak. Aku belum berhasil menangkap capung ini." Dean menunjuk capung berwarna merah yang sangat ingin ia dapatkan.


"Baiklah, aku akan membantumu."


"Kalian jangan main jauh-jauh dari sini, ya. Kak Leta mau memetik bunga-bunga ini."


"Iya, Kak." seru Daniel dan Dean.


Kedua anak itu terus mengejar ke mana arah capung itu terbang. Sebenarnya ada banyak capung di sana. Tapi, capung berwarna merah seperti cabai itu yang membuat mereka tertarik. Saat capung sedang hinggap di rerumputan, pelan-pelan mereka berusaha menangkapnya dari belakang. Namun, gerakan capung lebih lincah dari mereka.


Capung itu kembali terbang. Mereka kembali mengikutinya. Dean yang paling depan berjalan.


"Dean, berhenti. Di depan jurang nanti jatuh." Daniel mengingatkan.


"Iya kak, aku akan hati-hati. Jangan berisik, sedikit lagi mau tertangkap."


Dean mengendap-endap mendekati capung yang hinggap pada ranting pohon. Daniel juga mengikuti pelan-pelan di belakang.


Tap!


"Ye.... capungnya kena!" Deab kegirangan melihat capung di tangannya.


Saat hendak melangkah maju, kakinya terpeleset hingga terperosok ke tepi jurang. Capung yang ada di tangannya terlepas dan kembali terbang.


"Dean!" jerit Daniel. Ia berlari mendekati adiknya yang hampir terjatuh.


"Kakak, tolong.... " rintih Dean ketakutan. Kakinya sudah melayang sedangkan kedua tangannya masih berpegangan pada akar pohon di tepi jurang.


"Ulurkan tanganmu!"

__ADS_1


Daniel berusaha menarik tangan Dean. Karena Daniel juga masih kecil, dia tidak terlalu kuat menarik tubuh adiknya ke atas.


"Kak Leta.... Tolong.... !" teriaknya sambil terus memegangi tangan Dean.


Lama kelamaan Daniel kelelahan. Bukan ia yang berbasil menarik Dean, tapi tubuhnya sendiri ikut tertarik ke arah jurang.


"Aaah.... "


Kedua anak itu akhirnya jatuh ke jurang dalam posisi saling berpelukan. Tubuh mereka berguling-guling menuruni bukit. Sebelum sampai bawah, pelukan mereka terlepas. Daniel menabrak batu yang membuatnya berhenti berguling. Sementara, Dean menabrak Daniel.


Daniel berada pada posisi tepat di depan batu dan kepalanya bagian depan terbentur hingga berdarah. Ia langsung tak sadarkan diri. Sementara, Dean berada di depannya hanya mengalami luka lecet-lecet hampir di seluruh tubuh.


Dean berusaha bangkit menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia goncangkan badan Daniel yang tidak bergerak. Ia ketakutan melihat kakaknya diam dan kepalanya mengeluarkan banyak darah.


"Huaaa.... Kak Daniel bangun.... tolong.... huhuhu.... "


"Daniel.... Dean.... "


Leta mulai khawatir karena tidak melihat kedua anak itu di dekatnya. Ia mencari-cari hingga ke tepian jurang. Ada suara tangisan dari bawah. Ia mencoba melihatnya.


Leta sangat ketakutan. Di bawah ada kedua anak itu, Dean sedang menangis, Daniel terluka dan pingsan. Pikirannya menjadi panik, ia merasa tidak becus menjaga amanah yang diberikan Ayash dan Prita. Padahal mereka sudah memberinya kesempatan kedua untuk kembali bekerja.


"Tuan.... Nyonya.... Tolong!" Serunya sekencang-kencangnya. Ia sudah seperti orang gila saking khawatirnya.


Beberapa saat kemudian, Prita dan Ayash yang mendengar suara teriakannya datang. Prita ikut menjerit melihat kondisi anaknya. Ayash menitipkan Livy padanya dan bergerak menuruni jurang. Leta menggendong Livy dan memeluk tubuh Prita. Kedua orang itu menangis bersama. Livy yang tak tahu apa-apa melihat mereka dengan tatapan kebingungan.


Sebenarnya Ayash juga sudah gemetaran melihat kondisi anaknya. Tapi, ia tetap berusaha tegar agar bisa menolong anak-anaknya.


"Papa.... Papa.... Huhuhu.... " Dean menangis tersedu-sedu melihat kedatangan ayahnya.


"Jangan takut Dean, papa sudah datang." Ayash langsung memeluk Dean untuk menenangkannya.


Air matanya mulai mengalir melihat kondisi Daniel. "Dean, naik ke punggung papa. Papa akan menggendongmu dan membawa Daniel. Pegang leher papa kuat-kuat."


Dean mengangguk dan menuruti kata-kata ayahnya. Sementara, Daniel Ayash papah di depan. Ia kembali naik ke atas secara perlahan membawa dua anak dalam gendongannya.


Sesampainya di atas, sudah banyak orang yang berkerumun untuk melihat mereka. Prita mengambil Dean dari gendongan belakang Ayash. Matanya tak berhenti menangis melihat Daniel yang matanya masih terpejam.

__ADS_1


"Ayo, Pak. Kita harus segera bawa Den Daniel ke rumah sakit." kata Pak Ahmad, sopir Ayash.


Ayash membawa Daniel setengah berlari menuju ke tempat parkir yang lumayan jauh. Prita yang menggendong Dean juga mengikutinya di belakang. Sementara, Leta menggendong Livy berusaha berjalan sekuat tenaganya.


*****


Sesampainya di rumah sakit, Daniel langsung dilarikan ke IGD, masuk ke ruang operasi yang ditangani oleh Dokter Hansen dan timnya. Dokter Hansen memutuskan untuk membawa Daniel ke ruang operasi karena kondisinya yang tidak sadarkan diri dan mengalami cidera di kepala bagian depan.


Ayash dan Prita menunggu dengan cemas di luar ruang operasi. Leta menggendong Livy yang sedang tidur. Sementara, Dean berada di ruang perawatan karena dikhawatirkan menderita cidera setelah jatuh ke jurang. Dean ditemani oleh Pak Ahmad.


"Leta, kalau kamu lelah, tidurkan dulu Livy di kamar Dean. Di sana ada tempat tidur tambahan."


"Baik, Tuan." Leta membawa Livy pergi.


Ayash menyandarkan kepala Prita di pundaknya. Matanya sembab, sejak tadi ia hanya bisa menangis. Apalagi mengingat darah yang mengalir dari kepala Dean, rasanya ia hampir pingsan. Belum lama Livy juga mengalami hal yang sama. Itu saja sudah membuatnya sangat khawatir. Sekarang, gantian Daniel yang terluka di kepalanya.


Beberapa saat kemudian, Dokter Hansen keluar dari ruang operasi. Prita dan Ayash langsung bangkit menemuinya.


"Bagaimana kondisi Daniel, Om?" tanya Ayash.


"Kalian tidak perlu terlalu khawatir. Daniel sudah melewati masa kritisnya. Dia memang belum sadar, tapi biarkan saja dia istirahat dulu. Kejadian yang baru dia alami bukan hanya menyebabkan trauma di kepalanya, tali juga bagi psikisnya. Daniel sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat biasa. Nanti kalian bisa menemuinya."


"Tolong tempatkan Daniel di sebelah kamar Dean. Soalnya Dean juga sedang dirawat karena ikut jatuh bersama kakaknya."


"Oh, jadi mereka berdua jatuh bersama?"


"Iya. Tapi kata dokter Dean tidak mengalami cedera yang serius meskipun masih harus dipantau."


"Baiklah, nanti aku katakan pada perawat untuk menempatkan Daniel di sebelah kamar Dean. Kalian jangan lupa istirahat. Tidak perlu terlalu cemas, aku juga akan ikut memantau kondisi mereka."


"Iya, Om. Terima kasih."


"Kalau begitu, Om pergi dulu." Hansen menepuk pundak Ayash sebelum pergi.


"Ayo kita ke ruangan Dean dulu sambil menunggu Daniel dipindahkan."


Belum sempat melangkahkan kaki, Prita sudah lebih dulu pingsan. Untunglah Ayash sigap menopang tubuh Prita. Istrinya pasti sangat kelelahan dan panik sampai pingsan.

__ADS_1


__ADS_2