
Mengsedih nggak pada mau vote 🥲
---‐--------------------------------‐--‐---------‐-----------‐-----------‐----
"Mas.... "
Prita kembali berlari menuju kamarnya memanggil-manggil suaminya. Rencananya mau ikut memasak di dapur mempersiapkan sarapan, tapi melihat berita tentang Moreno dan Shuwan membuatnya mengurungkan niatnya. Prita harus mendengar penjelasan dari Bayu kenapa dia melakukan semua itu.
"Mas.... Mas.... " Prita menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih tertidur.
"Hmm.... "
Bukannya terbangun, Bayu justru menarik tubuh istrinya hingga jatuh ke pelukannya. Ia memeluk erat tubuh istrinya dan kembali melanjutkan tidur.
"Mas, bangun.... "
"Masih ngantuk, tidur lagi sebentar."
Posisi Prita sudah seperti guling yang diapit oleh kedua kaki suaminya.
"Mas.... "
"Hmmm.... " Bayu masih belum mau memejamkan matanya. Semalam dia kurang tidur dan masih sangat mengantuk.
"Ada berita tentang Shuwan dan Moreno di televisi."
Bayu tak bersuara ataupun berkomentar dengan ucapan Prita. Dia tetap diam memejamkan mata sambil memeluknya.
"Semua ini ulahmu, kan?"
Bayu masih diam.
"Mas.... " Prita mencubit keras pipi suaminya.
"Apa, sih? Masih ngantuk!"
"Itu loh di TV ada berita Shuwan dan Moreno."
"Bukan aku." jawab Bayu singkat.
Prita kurang begitu percaya dengan ucapan suaminya sendiri. Di perusahaan, dia juga yang menyebar video Shuwan. Berarti yang di internet juga sama.
"Jujur, Mas.... "
"Seharian kemarin aku bersamamu dan semalaman juga tidur bersamamu, apa aku ada waktu untuk mengurusi hal itu?"
"Lebih baik tidur seperti ini memelukmu daripada memikirkan wanita itu. Kenapa juga kamu peduli? Biarkan dia mengurusi masalahnya sendiri dan tugasku mengurusi aku saja. Hm.... "
Bayu menelusupkan kepalanya pada dada Prita dengan manja. Suaminya itu kembali tertidur dan tidak ada yang bisa dilakukan selain diam menjadi guling.
Bayu tidak sepenuhnya berbohong, dia memang bukan yang menyebarkannya. Kalau bertanya tentang siapa pelakunya, tentu saja itu Alex.
*****
__ADS_1
Shuwan menggeliatkan tubuhnya setelah tidur panjang yang melelapkan. Badannya terasa lebih segar setelah beristirahat. Entah mengapa selama hamil dia jadi mudah mengantuk.
Pagi ini, seperti biasa ia akan bangun dan bersiap-siap pergi ke kantor.
Tiba-tiba Shuwan tersenyum mengingat kejadian kemarin. Melihat Prita diganggu oleh karyawan Bayu membuatnya merasa sangat bahagia. Wanita itu memang pantas mendapat perlakuan seperti itu. Siapa suruh dia mendekali lelaki yang sudah menjadi miliknya. Cantinya juga standar, biasa saja, lebih jauh kecantikan yang dimilikinya.
Shuwan berdiri di depan cermin, mengagumi kecantikan yang dimilikinya. Bahkan saat bangun tidur, ia tampak begitu cantik. Ditambah perut yang sedikit membuncit membuatnya terlihat seperti wanita hamil yang menggoda.
Ting Tong....
Sepagi ini sudah ada yang membunyikan bel apartemennya. Sungguh sangat mengganggu.
Dengan malas Shuwan berjalan kenarah pintu dan membukanya. Tampak seorang lelaki memakai masker dan topi berwarna hitam berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Lelaki itu langsung mendorongnya masuk, kemudian mengunci pintu.
Shuwan ditarik dan didudukkan di atas ranjang. Lelaki itu membukan topi dan maskernya. Ternyata itu Moreno.
"Sayang, kamu membuatku takut. Aku kira siapa." wajah kaget Shuwan berubah menjadi senang melihat Moreno datang.
Sementara, wajah Moreno tampak kebingungan dan frustasi.
"Kenapa kamu tidak menjawab teleponmu?"
"Telepon?" Shuwan memasang mode silent ponselnya saat tidur sehingga tidak tahu ada telepon masuk. "Aku belum mengecek ponsel pagi ini, aku baru bangun."
"Kamu juga belum menonton TV?"
Shuwan menggeleng.
"Ada berita tentang kita di TV, Shuwan. Bahkan di internet lebih parah!"
Moreno meraih remot tv di atas meja lalu menyalakannya. Berita gosip di TV masih membahas tentang dirinya. Moreno memang bukan artis, tapi dia termasuk public figure yang sedang naik daun di dunia olahraga khususnya panahan.
Shuwan terkejut, nafasnya seakan terhenti. Namanya ikut disebut-sebut dalan berita. Cepat-cepat ia mencari ponselnya, dengan tangan gemetar, ia cari berita di internet tentang dirinya.
Langsung muncul banyak situs-situs yang membahas dirinya dan Moreno. Bukan hanya tulisan karangan yang bersifat menjelek-jelekkan, tetapi juga foto-foto dan video mereka yang sangat vulgar. Tangannya sampai gemetar melihat dirinya sendiri.
Shuwan mendudukkan dirinya di atas ranjang. Ia sudah tidak kuat melihat beritanya di internet. Baik dirinya dan Moreno sama-sama syok berat.
"Hancur sudah karirku!"
Shuwan tidak menyangka ada yang memiliki video seperti itu. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Sepertinya dia juga tidak bisa pergi ke kantor setelah hal memalukan seperti ini.
"Kamu hanya memikirkan tentang karirmu, lalu bagaimana dengan aku?"
Shuwan lebih menderita. Dia menanggung sendiri kehamilannya, sementara Moreno seperti tidak mau peduli. Dia lebih mementingkan karir, sampai-sampai tidak mau menikahinya atau mengakui anak yang sedang dikandungnya.
Moreno mendekat ke arah Shuwan, memeluk wanita yang tampak lemah itu.
"Maksudku bukan seperti itu, Shu."
"Aku juga memikirkanmu, memikirkan anak ini, juga masa depan kita." ucapnya sembari mengelus perut Shuwan.
"Lalu kenapa katamu tidak mau menikahiku?"
__ADS_1
"Aku tidak pernah bilang begitu."
"Aku bilang, belum saatnya kita menikah, tunggu waktu yang tepat dan aku akan menikahimu."
"Tapi semuanya berantakan sekarang! Sudah tidak ada harapan lagi. Karirku juga sudah hancur."
"Kamu pikir hanya kamu yang karirnya hancur? Aku juga sama! Aku sudah tidak punya muka untuk datang ke hotel."
"Oh, Tuhan.... Kenapa semuanya jadi seperti ini." Shuwan mengusapkan kedua telapak tangan.
Tidak ada yang bisa dilakukan keduanya selain berpelukan untuk saling menguatkan. Otak mereka tidak bisa digunakan untuk berpikir jernih mencari solusi yang seharusnya diambil.
"Shu.... Bagaimana kalau kamu menggugurkan bayi itu?"
Shuwan menatap Moreno dengan mata berkaca-kaca. Perkataan itu sangat menyakitinya melebihi berita tentang mereka. Begitu mudahnya dia berkata tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.
"Apa kamu sadar mengatakan itu? Ini anakmu!" ucap Shuwan dengan nada penuh emosi. Bisa-bisanya dia menyuruh untuk menggugurkan bayi mereka.
"Aku tahu, Shu.... " Moreno mencoba menenangkan Shuwan.
"Kalau kamu tidak menginginkan anak ini, kenapa kamu memberikan benihmu di rahimku? Apa kamu hanya ingin main-main denganku?"
"Tidak, aku sungguh-sungguh mencintaimu."
"Lalu kenapa kamu mau menggugurkannya? Bukankah kita membuatnya dengan cinta?"
"Iya.... Aku juga sebenarnya tidak tega mengatakannya. Tapi, dia datang di saat yang kurang tepat. Seandainya dia datang satu tahun lagi setelah kita menikah, mungkin aku akan sangat mencintainya."
"Berita ini pasti tetap akan dikaitkan dengan perceraianku yang lalu. Jika publik benar-benar tahu kamu sedang hamil, itu akan semakin membuat posisi kita sulit."
Shuwan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Ia sudah tidak tahu lagi dengan jalan pikiran Moreno.
"Aku tidak mau menggugurkannya." tegas Shuwan.
"Aku akan tetap mempertahankan anak ini hingga lahir lalu membesarkannya, dengan atau tanpa persetujuanmu."
"Anak ini tidak bersalah, aku dan kamu yang salah."
"Kita melakukannya dengan penuh kesadaran. Ini konsekuensinya."
"Jangan pernah mengatakan kalau kamu tidak menginginkannya, kamu sendiri keenakan saat melakukannya."
"Terserah kalau kamu akan meninggalkanku aku tidak peduli."
"Hey, siapa yang berniat meninggalkanmu?"
"Aku kan hanya berpendapat. Kalau kamu tidak setuju, kita akan cari jalan lain untuk masalah ini."
"Kalau kamu ingin tetap mempertahankannya, itu juga tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu, Shuwan."
"Maafkan aku."
Moreno kembali memeluk Shuwan. Saat ini ia memang sedang tidak bisa berpikir. Jadi, apa yang keluar dari mulutnya adalah ucapan spontan. Moreno hanya sedang bingung.
__ADS_1