ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Menginap Di Mansion Samuel


__ADS_3

"Bayu, lepaskan dulu."


Prita sedikit malu di hadapan orang banyak Bayu memeluknya sangat lama. Ada bau alkohol yang tercium, memang sepertinya dia habis mabuk.


"Apa lelaki tua itu melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak, kami hanya makan malam bersama dan ngobrol sebentar. Cepat lepaskan."


Akhirnya Bayu mau melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam ke arah Samuel. Lelaki tua itu hanya menyunggingkan senyum ke arah anaknya yang sudah lama tidak ia jumpai.


"Daniel, itu ayah kandungmu. Tapi jangan tumbuh besar menjadi seperti dia yang keras kepala dan pembangkang."


Daniel menatap orang yang biasa ia panggil 'daddy' itu. Ternyata dia adalah ayah kandungnya. Dia tidak membenci Bayu. Hanya saja, dia kecewa mengetahui jika Ayash bukan ayah kandungnya.


Bayu juga kaget mendengar ayahnya mengatakan hal yang sebenarnya pada Daniel. Dia sendiri ingin Daniel tahu, tapi tidak sekarang. Mungkin Daniel akan berpikir aneh tentangnya atau malah akan membencinya.


"Apa yang kamu katakan pada Daniel?"


"Aku hanya memberi tahu keluarga Daniel yang sebenarnya. Anak sepertimu sangat keterlaluan. Memiliki anak tapi tidak memberi tahukan pada ayahmu sendiri."


"Apa Anda lupa? Hubungan kekeluargaaan kita sudah berakhir sejak lima tahun yang lalu. Kamu sendiri yang menyuruhku meninggalkan Prita. Sekarang, kenapa mengungkit-ungkit tentang masalah cucu?"


"Hubungan darah, hubungan kekeluargaan tidak bisa diputuskan apapun alasannya. Kita masih keluarga."


"Hentikan omong kosongmu itu!"


Bayu muak dengan ucapan ayahnya. Seumur hidup dia tidak pernah merasa diperlakukan layaknya keluarga. Ayahnya hanya memanfaatkannya untuk meraih ambisinya sendiri.


"Prita, ayo kita pulang." Bayu menggenggam tangan Prita.


"Daniel, ikut daddy!"


Daniel hendak turun dari pangkuan Samuel, tapi kakeknya itu menahannya.


"Kalian tidak aku ijinkan pulang malam ini. Menginaplah dan besok kalian baru aku ijinkan pulang." ucap Samuel.


"Ada hak apa kamu melarangku?" tantang Bayu. Sepertinya dia siap untuk membuat keributan lagi.


"Belajarlah bersikap lebih baik kepada orang tua. Buang sifat keras kepalamu itu."


Samuel memberi kode agar anak buahnya berkumpul, memberi blokade untuk mengisyaratkan jika mereka tidak akan bisa keluar dari mansion tanpa ijinnya.


"Orang tua sialan!" umpat Bayu setelah melihat seberapa banyak penjaga yang ada di sana.


"Aku sudah mempersiapkan kamar untuk kalian. Naiklah ke atas dan besok kita akan bicara lagi."

__ADS_1


Samuel melepaskan Daniel dan membiarkannya berlari memeluk ibunya. Ia hendak pergi beristirahat ke kamarnya, namun matanya menangkap sosok Alex yang sedari tadi luput dari perhatiannya.


"Oh, Alex. Kamu sudah besar sekarang. Ternyata Bayu merawatmu dengan sangat baik." katanya sebelum pergi menuju kamarnya.


"Bos, mari saya antar ke kamar atas." ucap Ben.


Bayu hendak menggendong Daniel, namun anak itu menolak. Ia memilih digendong mamanya. Anak itu bahkan menyembunyikan kepalanya, tak mau melihatnya. Sepertinya anak itu sedang marah padanya.


Mereka menapaki anak tangga menuju lantai atas, termasuk Alex. Ben menunjukkan kamar yang bisa alex tempati. Lalu, kamar untuk Prita dan Daniel serta kamar tersendiri untuk Bayu. Setelah itu, Ben kembali pergi ke lantai bawah.


"Ta, kita perlu bicara."


"Aku akan menemani Daniel tidur teelebih dahulu, baru nanti kita bicara."


Prita masuk ke kamar bersama Daniel. Dia tutup pintu kamarnya, meninggalkan Bayu begitu saja di luar. Ia merebahkan Daniel di atas ranjang, dia sendiri tiduran di sampingnya.


"Ma.... "


"Iya, Sayang?"


"Kenapa Mama menikah dengan Papa tapi ayahku Daddy Bayu? Kenapa tidak sama dengan Dean dan Livy?"


Satu pertanyaan sulit sebelum tidur terlontar dari mulut Daniel. Dia bingung harus memberikan penjelasan apa yang bisa dimengerti anak semurannya.


"Em, bisa tidak pertanyaannya jadi PR untuk mama? Mama belum bisa menjawab pertanyaan Daniel."


"Tapi hal ini hanya bisa kamu pahami jika sudah dewasa nanti."


"Daniel tidak mau tidur sebelum Mama menjawabnya."


"Dulu, sebelum mama menikah dengan Papa Ayash.... Mama pernah.... tinggal bersama Daddy Bayu. Lalu.... Mama mengandungmu." Prita sangat berhati-hati mengeluarkan kata-katanya.


"Tapi kenapa Mama tidak menikah dengan Daddy?"


Prita memegang keningnya, memikirkan jawaban apa lagi yang bisa membuat Daniel berhenti bertanya. "Karena.... dulu Daddy belum sebaik sekarang."


"Dulu Daddy jahat?" Daniel bertanya sampai memiringkan kepalanya.


"Kira-kira seperti itu. Yang jelas Daddy yang sekarang sudah jauh lebih baik. Dia sayang Daniel dan juga sayang mama."


"Jadi Mama nanti mau menikah dengan Daddy karena sudah menjadi orang baik?"


Prita mengangguk, "Apa kamu keberatan?"


"Lalu, Papa bagaimana?"

__ADS_1


"Papa kan sudah ada Mama Andin."


"Oh, iya." Daniel menghela nafas kecewa. Sepertinya kedua orangtuanya memang tidak akan kembali bersama.


"Sekarang tidur, ya. Ini sudah sangat larut."


Daniel mengangguk. Dia mulai memejamkan matanya sembari memeluk guling. Prita membantunya tidur dengan memeluknya. Daniel paling suka tidur jika merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Apalagi itu adalah mamanya.


Beberapa saat kemudian, nafas Daniel terdengar teratur. Tandanya anak itu sudah tidur dengan lelap. Perlahan Prita bangkit dari ranjangnya meminimalkan gerakan dan suara. Ia tak mau sampai Daniel terbangun.


Prita beralih ke kamar yang Bayu tempati. Sepi. Ada Bayu yang sudah tergeletak di atas ranjangnya bahkan sampai tidak melepas sepatunya. Sepertinya dia sudah tidur. Ia bantu melepaskan sepatu itu dan diletakkan di bawah ranjang.


Ia pandangi wajah lelaki yang tengah terlelap itu. Ada bekas memar di pelipis kirinya. Sepertinya luka menjadi makanan sehari-harinya. Entah sudah berapa kali tubuhnya terkena tembakan atau senjata, tapi masih juga tetap hidup. Seakan dia memiliki seratus nyawa yang bisa membuatnya hidup lagi setelah mati. Tapi, dengan luka yang ia terima di tubuhnya itu juga yang telah banyak menyelamatkannya.


Semakin dipandang, wajah itu seperti menariknya untuk mendekat. Tidak bisa dipungkiri jika wajah blasteran Indonesia-Jerman yang dimilikinya sangat menawan. Wajah tampan itu yang diturunkan kepada Daniel.


"Ah!"


Tiba-tiba kedua tangan Bayu merengkuhnya lalu mengajaknya berguling hingga posisinya kini ada di bawah Bayu.


Prita tak bisa berkata-kata. Lelaki yang sejak tadi dia kira tidur ternyata masih terjaga.


"Lama banget. Sejak tadi aku pura-pura tidur menunggumu menciumku lebih dulu."


Prita terperangah mendengar kejujurannya. Apa katanya? Mencium duluan? Baru mau ia mengaguminya sekarang ia harus menarik kata-katanya lagi. Lelaki itu tetap menyebalkan.


"Aku datang karena kamu bilang mau membicarakan sesuatu."


"Tidak, siapa bilang? Aku hanya ingin berduaan saja denganmu."


"Ya sudah kalau tidak ada yang mau dibicarakan, aku mau kembali ke kamar Daniel." Prita mendorong dada Bayu agar bangkit dari atasnya. Namun tak ada pergerakan.


"Malam ini kamu akan tidur bersamaku di sini."


"Bayu.... Hmmmph!"


Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, mulutnya sudah ditutup dengan mulut Bayu. Seperti biasa, lelaki itu sangat lincah memanjakan bibirnya. ******* demi lumayan yang diberikan terasa memabukkan. Apalagi ada sedikit rasa wine yang masih tersisa di mulutnya.


Tak puas dengan memagut bibir, lidahnya ikut menjelajah, mengabsen setiap gigi di mulut Prita. Sesekali lidah mereka saling terpaut, menimbulkan sensasi yang menyenangkan.


Ciuman Bayu mulai menjelajah ke sisi pipi, bergeser sedikit ke area telinga. Ia menggigit kecil di sana hingga suara lengkuhan lolos dari mulut Prita. Bayu semakin bersemangat. Kecupannya turun ke area leher hingga semakin turun ke area dadanya.


"Bayu!" pekiknya kencang saat lelaki itu sudah mulai merem*s dadanya. Kesadarannya kembali. Dia yakin Bayu akan berbuat lebih jauh jika tidak dihentikan. Apalagi dia masih mabuk.


Lihat saja, wajahnya merah dan nafasnya menderu seperti orang yang sedang dihinggapi n*fsu.

__ADS_1


"Please, aku benar-benar tidak bisa menahannya." rajuknya.


__ADS_2