ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Shuwan dan Bayinya


__ADS_3

Raeka berdiri di depan pintu lorong ruang operasi yang tampak sunyi. Malam itu, ia ditemani oleh suaminya, Irgi. Shuwan, wanita yang dulu memusuhinya dan sangat ia benci, kini tengah berjuang di dalam sana untuk mempertaruhkan hidup dan matinya setelah mengalami kecelakaan di jalan raya.


Raeka begitu terkejut ketika pihak kepolisian mengabarinya jika Shuwan mengalami kecelakaan. Padahal, kondisi Shuwan saat ini tengah hamil besar dan tinggal beberapa minggu saja menantikan kelahiran anak itu.


Menurut pihak kepolisian, Shuwan tertabrak ketika sedang menyebrang jalan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, lalu menabraknya hingga terpental ke sisi jalan. Hingga saat ini pengendara mobil tersebut belum tertangkap, mengingat kondisi saat itu jalanan tidak terlalu ramai, saksi mata sedikit, ditambah dengan suasana malam hari.


Raeka bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan Shuwan, tetapi juga bayi yang tengah dikandungnya.


Mengapa Raeka menjadi orang yang diberi kabar pihak kepolisian? Itu permintaan Shuwan sendiri untuk memberitahu keadaannya. Shuwan kecelakaan, namun kondisinya masih sadar. Akibat dari kecelakaan itu menyebabkan kondisi kehamilannya terganggu dan harus segera dilakukan operasi caesar.


Saat tiba di rumah sakit, Shuwan sudah masuk di dalam ruang operasi. Kini Raeka hanya bisa berharap kondisi Shuwan dan bayinya akan baik-baik saja.


"Sayang, aku beli makanan dulu, ya? Tadi kita ke sini kab belum sempat makan malam." ucap Irgi.


Baru kali ini ia melihat istrinya terlihat sangat mengkhawatirkan orang lain, apalagi orang itu adalah Shuwan yang dulu pernah menyakiti hatinya. Setelah mendapatkan telepon dari kepolisian, Raeka memaksanya untuk segera datang ke rumah sakit. Padahal, posisi mereka hampir makan malam dan akhirnya semua makanan yang sudah disiapkan harus ditinggalkan karena buru-buru.


"Kamu mau makan apa?" tanya Irgi lagi.


"Terserah kamu saja. Cari yang dekat-dekat sini saja." ucap Raeka.


Sebenarnya saat ini dia sudah tak punya nafsu makan saking khawatirnya. Tapi, jika dia menolak, nanti Irgi yang akan mengkhawatirkan kondisinya.


"Oke, aku tidak akan lama." ucap Irgi sebelum meninggalkan Raeka sendiri.


Raeka menghela nafas panjang. Diusapkannya kedua telapak tangan pada wajah saking tegangnya. Tempat ia berada sangat sepi, tak ada satupun orang yang melintas. Namun, kesan horror tidak ada, mengingat ia hanya fokus memikirkan kondisi Shuwan dan bayinya daripada kondisinya sendiri. Ia juga sudah menghubungi Prita, namun dia belum juga datang.


Klek!


Seorang perawat dengan pakaian hijau, memakai penutup kepala, masker, serta sarung tangan keluar dari dalam ruang operasi itu. Raeka langsung berdiri ingin menanyakan kondisi Shuwan.


"Suster, bagaimana kondisi pasien di dalam?" tanyanya seraya menghentikan langkah perawat tersebut.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya belum bisa memberi tahu. Dan mohon maaf, jangan menghalangi pekerjaan saya." ucap perawat itu dengan nada seperti orang terburu-buru.


Terpaksa Raeka menyingkir, memberi perawat itu jalan. Ia kembali terduduk di bangkunya. Melihat perawat yang baru saja keluar dengan tergesa-gesa, Raeka jadi semakin khawatir akan terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Shuwan.


Shuwan, wanita malang yang belum lama ini menjadi temannya, tapi ternyata orangnya sangat asyik untuk diajak berteman. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan nonton film, jalan-jalan di mall dan makan-makan. Membuat hari-hari Raeka tidak merasa kesepian. Apalagi mereka berdua satu frekuensi, sama-sama suka belanja. Ya, tentu saja bagi orang-orang cantik, menjaga penampilan itu yang utama.


Dia jadi ingat perbincangan terakhirnya dengan Shuwan beberapa hari lalu di apartemen milik Shuwan.


Flashback on


"Kebutuhan bayimu sudah lengkap semua, ya?" tanya Raeka saat melihat-lihat sebuah kamar yang telah Shuwan persiapkan untuk bayinya.


"Sudah aku cicil beberapa bulan yang lalu supaya tidak terlalu repot nantinya."


Raeka kembali melayangkan pandangan ke setiap sudut kamar yang didominasi warna pink itu. Benda-benda yang ada di sana kelihatan lucu-lucu dan menggemaskan, membuat Raeka juga tidak sabar ingin memiliki bayi.


"Lalu bagaimana dengan Moreno?"


"Apa katanya?"


Shuwan terkekeh mengingat pembicaraannya dengan Moreno saat itu. "Awalnya aku berharap Moreno akan datang ke sini dengan segala kerendahan hati dan penuh tanggung jawab untukku dan anak ini. Tapi, apa kamu bisa menebak, apa yang terjadi?"


Shuwan menatap ke arah Raeka dengan tatapan yang menunjukkan kekecewaan.


"Dia tidak membahas tentang aku atau bayiku. Dia masih menjanjikan untuk menikahiku. Dengan syarat.... Aku mau merayumu agar mau membantunya bisa masuk lagi ke dalam timnas." Shuwan tertawa dengan perkataannya sendiri. Miris memang, Moreno, lelaki yang sangat ia cintai tidak mau bertanggung jawab.


"Terus, kamu mau?" Raeka sampai membulatkan mata saking emosinya. Tujuan Raeka membuat masalah untuk Moreno adalah agar Moreno bisa introspeksi diri, muncul rasa tanggung jawab untuk Shuwan dan bayinya. Kenyataannya, Moreno justru menjadi orang yang lebih busuk dari yang ia kira.


"Tidak, aku tidak menggubris kata-katanya. Aku juga berterima kasih padamu sudah membuatnya sengsara. Yang dia pikirkan hanya popularitasnya saja, dia tidak peduli apapun selain itu.


"Bagus itu. Kamu juga masih bisa hidup tanpa orang seperti dia."

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Aku akan membesarkan anak ini sendiri meskipun tanpa seorang ayah."


"Siapa bilang kamu sendiri? Aku juga mau membantumu untuk membesarkan anakmu."


"Hahaha.... Terima kasih ya, Ra."


Flash back off


"Raeka!" tampak Prita setengah berlari menghampirinya.


"Sayang, pelan-pelan!" dari arah belakang Prita juga ada Bayu yang membuntutinya.


Prita langsung memeluk erat tubuh Raeka. Sedangkan Bayu begitu khawatir dengan kelincahan istrinya yang dalam kondisi hamil tapi berjalan cepat seperti itu.


"Bagaimana kondisi Shuwan?"


Raeka menggeleng, "Sudah setengah jam aku menunggu di sini dan mereka belum selesai menangani Shuwan."


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Raeka menghubungi Prita lewat telepon mengenai kondisi Shuwan. Prita juga langsung pergi menyusul Raeka ke rumah sakit setelah diberi tahu. Dia juga khawatir dengan kondisi Shuwan. Mereka tahu, Shuwan tidak memiliki keluarga yang bisa diandalkan. Sepertinya semua keluarganya sudah menjauhinya semenjak ayahnya ditetapkan sebagai buronan polisi. Selama ini Shuwan bersusah payah hidup sendiri. Sampai orang yang diberi tahu tentang kondisi Shuwan bukan keluarganya, melainkan Raeka.


Bayu sebenarnya sudah melarang Prita untuk pergi. Selain karena sudah malam, Prita jug dalam kondisi hamil yang masih rentan. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan istri dan calon anaknya. Lagipula, Shuwan juga bukan keluarga mereka, Prita tak harus mempedulikannya.


"Ceritanya bagaimana?"


"Aku juga kurang paham. Kata polisi dia tertabrak mobil di jalan xxx."


"Siapa yang menabrak?"


"Polisi masih menyelidiki, aku juga belum dikabari kalau penabraknya sudah ketemu atau belum."


"Kalau sampai ketemu, mau aku pukuli dia. Bisa-bisanya orang hamil ditabrak."

__ADS_1


"Yah, itu tidak penting untuk sekarang. Yang terpenting Shuwan dan bayinya bisa selamat."


__ADS_2