ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Akhirnya Istri Nakal Ditemukan


__ADS_3

Terima kasih reader kesayangan yang sudah bantu vote. I love you 😘


Yang cuma baca nggak like, nggak kasih vote, apakah kalian tim Ayash yang author dzolimi? Please dong maafin author dan bantu vote 😁


---------------------------------------------------------‐--------------------


"Memangnya wanita kalau marah bisa memilih diam daripada meluapkan kemarahannya?"


Bayu dan Fredi masih melanjutkan pembahasannya mengenai Prita. Tampaknya Bayu sedang panik karena berpikir akan kehilangan Prita. Rasa di hatinya serasa campur aduk. Satu sisi ia benar-benar sangat marah karena Prita pergi bersama lelaki lain, satu sisi dia juga khawatir Prita pergi karena cemburu dengan wanita-wanita itu.


"Justru puncak kemarahan seorang wanita itu terjadi saat dia diam, Tuan. Kalau wanita memilih diam saat pasangannya membuat kesalahan, itu artinya dia sedang sangat marah."


"Padahal aku lebih memilih dia memukulku kalau ada hal yang tidak dia sukai dariku." gumam Bayu.


Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi, dari Alex.


"Bagaimana, Alex?"


"Mobil itu menuju ke arah alun-alun kota, Bos. Sepertinya mereka ada di sana, karena belum ada pergerakan lagi dari mobil tersebut."


"Kalau begitu kamu juga kesana, Alex. Kita bertemu di sana."


"Baik, Bos."


"Kita ke alun-alun, Fred."


"Baik, Tuan."


Fredi memutar arah mobilnya karena arah alun-alun karena sudah terlewat. Arah menuju alun-alun tampak cukup padat daripada arah sebaliknya. Fredi tidak bisa membawa mobilnya dengan cepat.


"Apa macet, Fred?"


"Saya juga kurang tahu."


Ada-ada saja hambatan untuk menemukan istrinya yang nakal itu. Dia memang sangat menyusahkan sekaligus membuat khawatir.


Bayu sudah menelepon ke rumah, kata pelayan di sana, memang Prita sudah meminta ijin untuk pergi keluar. Para pengasuh disuruh menjaga anak-anaknya tidur. Prita juga sempat meminta sopir untuk mengantarnya sampai gang depan, tapi kemudian sopir itu disuruh pulang lagi karena Prita lebih memilih naik taksi.


"Menurut info, ada konser di alun-alun, Tuan."


"Konser? Konser apa?"


"Konser musik. Musik dangdut."


"Oh.... " guman Bayu.


"Aku heran, kenapa mereka suka sekali nonton konser apalagi dangdut. Harus berdesak-desakan di lapangan, memangnya bisa melihat jelas artisnya? Bukankah lebih jelas menonton dari televisi?"

__ADS_1


"Atau kalau ingin bertemu langsung idola, booking penyanyinya langsung untuk menyanyi di rumah."


Fredi menyunggingkan senyum, "Tidak semua orang memiliki uang sebanyak Anda, Tuan."


"Bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah, hiburan semacam itu sangat menyenangkan. Selain murah, juga meriah."


"Bergabung dengan kerumunan orang bagi sebagian orang merupakan hal yang seru. Bukan masalah bisa melihat penyanyinya atau tidak, tapi lebih pada keseruan saat sama-sama bersorak-sorai atau berjoged bersama."


"Kamu sepertinya hafal sekali kehidupan mereka."


"Saya memang berasal dari dunia mereka, Tuan. Dulu, saya juga sangat suka kalau ada konser dangdut."


Setidaknya perbincangan random merela bisa mengalihkan kebosanan dalam menghadapi arus lalu lintas yang padat merayat.


"Gara-gara banyak yang nonton konser sampai jalan bisa macet begini. Kalau sampai mereka lolos lagi, akan lebih susah mencari." gerutu Bayu.


Dia sudah tidak sabar untuk menemukan Prita lalu membawanya pulang. Dia sudah tidak lagi bisa memikirkan bisnis-bisnisnya, isi kepalanya dipenuhi oleh Prita.


Hampir setengah jam yabmng menyebalkan harus mereka habiskan dalam kemacetan yang memuakkan. Akhirnya, mereka sampai di alun-alun. Mobil Porsche silver yang dibawa Rafa sudah berhasil mereka temukan, namun kosong. Artinya, penumpang mobil itu pasti telah masuk ke area alun-alun untuk ikut menonton konser.


Ada ratusan orang di sana. Ramai. Bayu jadi pusing sendiri, bagaimana caranya menemuka Prita dalam kerumunan sebanyak itu.


Tak lama kemudian, Alex beserta anak buahnya datang. Mereka kembali berpencar untuk mencari Prita. Bayu masih satu tim dengan Fredi untuk mencari Prita. Alex dan anak buahnya bertugas mencari Prita ke area tengah tempat konser yang sangat ramai. Sementara, Bayu dan Fredi menyisir area sekitar pinggiran alun-alun.


Bayu hampir tidak pernah berbaur dengan kerumunan seperti itu. Kehidupannya sebatas pada tempat kerja dan klab malam. Keramaian sepwrti itu justru membuatnya pusing.


"Mmm.... Tuan, boleh saya permisi ke toilet sebentar?" dalih Fredi. Sebenarnya ia hanya ingin makan.


"Ya, pergilah! Aku akan berjalan menuju tempat dudu di sudut sana." Bayu menunjukkan tempat yang ia maksudkan pada Fredi.


"Baik, Tuan."


Fredi langsung berbalik dan mengambil jalan yang berbeda dengan bosnya.


Bayu meneruskan jalannya menuju tempat yang akan ia tuju.


Sepanjang ia berjalan, sepertinya ia baru menyadari kalau sejak tadi banyak yang memandang ke arahnya. Ia tidak tahu mengapa, mungkin karena penampilannya yang aneh?


Malam itu ia masih mengenakan setelan kemeja putih dan celana panjang hitam. Seragam standar yang biasa ia gunakan ke kantor.


Bayu tidak tahu kalau orang-orang itu bukan memperhatikan pakaiannya, tapi karena ketampanannya. Di tempat seperti itu, penampilannya membuat orang terpesona.


Setibanya di area tribun, dia melihat sosok seorang wanita yang sedang duduk sendiri di pojokan tribun yang berseberangan dengannya. Kalau dilihat dari penampilannya, seperti Prita yang ia lihat di klab, dengan kuciran rambut ekor kuda. Untuk memastikan hal itu, ia berjalan perlahan ke arahnya.


Ternyata benar, wanita yang ada di hadapannya sekarang adalah Prita.


"Sayang, akhirnya aku menemukanmu." ucapnya.

__ADS_1


Prita terlonjak kaget. Jas Rafa yang menutupi tubuhnya sampai terlepas. Bayu sekarang ada di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari kabur dari Bayu. Sepatu hak tinggi yang dipakai ia buang agar langkahnya lebih cepat. Bayu ikut mengejarnya di belakang.


"Ish! Kenapa dia bisa menemukanku di tempat seramai ini, sih!" Prita menggerutu.


Namun sayang, langkahnya tak selebar langkah Bayu. Tidak perlu waktu lama, Bayu sudah bisa menangkapnya.


"Mau kemana lagi istri nakalku, kamu sudah tertangkap. Berhenti main petak umpet dariku."


Bayu membawa Prita ke tempat yang cukup sepi. Satu tangannya tetap mencekal yangan Prita, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menelepon Fredi.


"Fredi, aku sudah menemukan istriku. Beri tahu Alex dan yang lainnya juga. Setelah itu, kembali ke parkiran, kita bertemu di sana."


Setelah memberi tahu Fredi, ia kembali fokus pada Prita. Istri nakal yang membuatnya khawatir itu akhirnya bisa ia temukan.


Ia tatap dengan sungguh-sungguh mata istrinya, "Sayang, apa yang kamu lakukan malam-malam di klab?"


Prita terkekeh. Bukannya sadar diri atas kesalahannya, Bayu malah mencoba menyalahkan dirinya.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kamu ada di klab bersama banyak wanita-wanita seksi?" Prita menekankan kata-kata di akhir kalimatnya untuk menegaskan kalau kini ia sedang marah.


"Jawab dulu pertanyaanku, apa yang kamu lakukan dengan Rafael Wijaya di klab!?" seru Bayu penuh emosi. Matanya menyiratkan saat ini ia sedang marah sekaligus cemburu.


Prita membelalak, ternyata Bayu sudah tahu kalau yang bersamanya adalah Rafa. Kalau dia memberi penjelasan yang tidak bisa Bayu terima, sudah pasti dia dalam posisi sedang membahayakan kakak Raeka. Ia memikirkan sejenak, jawaban yang bisa masuk akal.


"Aku.... Tidak sengaja bertemu dengannya di klab. Dia hanya membantuku untuk memata-mataimu." Ucapan Prita sedikit terbata-bata.


Bayu mengernyitkan dahi, "Kalian memata-mataiku?"


"Aku ini sedang marah!" Seru Prita.


Ketegasannya berbicara membuat Bayu kaget. Dia sedang memarahi Prita, tapi kenapa dia balik memarahinya?


"Wanita mana yang tidak marah melihat suaminya dikelilingi wanita berbikini. Dasar suami pembohong!"


Benar apa yang dikatakan Fredi, Prita marah gara-gara melihat wanita-wanita itu.


"Kamu salah paham, aku tidak melakukan apapun dengan mereka. Aku tidak menyewa mereka, clientku yang membawanya."


"Itu karena aku keburu datang. Kalau aku tidak ada, siapa yang tahu apa yang akan kamu lakukan dengan mereka. Mana ada lelaki yang tidak tergoda dengan wanita seksi seperti mereka."


"Ada!" Bayu memotong perkataan Prita dengan tegas.


"Lelaki itu adalah aku."


"Enam tahun saja tidak ada wanita seksi manapun yang bisa membangkitkan gairahku. Kamu pikir aku akan tertarik hanya karena mereka berbikini? Mereka telan*jangpun aku tak tertarik."


"Karena hanya kamu yang bisa membuatku tertarik."

__ADS_1


Tatapan mata Bayu yang serius mulai membuat Prita takut. Nyalinya menciut.


__ADS_2