ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kecelakaan


__ADS_3

Irgi menyunggingkan senyum. Sepanjang rapat berlangsung, ia tak henti-hentinya tersenyum. Matanya memandang remeh pada orang yang duduk tepat di hadapannya sambil tersenyum mengejek. Tanpa dia berkata sepatah katapun, anggota rapat yang lain sudah memberikan pendapat sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Rapat kali ini membahas tentang kelanjutan kerjasama dengan Skylight Bar. Sebagian besar petinggi perusahaan mengusulkan untuk membatalkannya. Alasannya, karena permasalahan yang belum lama ini dialami oleh beberapa Klab milik Bayu. Memang, yang bermasalah bukan Skylight Bar. Namun, tetap saja membuat reputasi baik klab yang dibesarkan Bayu seketika turun drastis.


Irgi sejak awal sudah tidak setuju bekerjasama dengan Bayu. Memang salah satu alasannya karena ia membenci Bayu. Alasan lain, Greendland Paradise menurutnya tak terlalu membutuhkan keberadaan Skylight Bar untuk memjadi lebih terkenal. Greenland Paradise sudah sangat terkenal sejak pertama kali dibangun. Kalaupun harus membangun sebuah klab, Greenland Paradise bisa membangunnya sendiri daripada mengambil klab yang sudah terkenal. Toh lama kelamaan klab juga bisa terkenal.


Irgi geli sendiri. Kemarin, semua orang bersikukuh untuk meneruskan kerjasama yang disepakati dengan CEO sebelumnya. Dia bahkan jadi bahan perbincangan di kantor selama berminggu-minggu. Banyak yang menganggapnya tak pantas menjadi seorang CEO karena sikapnya yang terlalu santai dan tidak meyakinkan dalam membuat keputusan. Hari ini, hampir semua petinggi perusahaan menyetujui usulnya yang dulu.


Mendengar orang yang sedang menjilat ludahnya sendiri menjadi sesuatu yang menarik bagi Irgi. Tidakkah mereka malu kemarin telah mengejeknya dan sekarang mereka tiba-tiba membenarkan keputusannya?


'Hahaha... Kumpulan tua bangka plin plan.' umpatnya.


Irgi kembali menatap ke arah Bayu. Orang itu masih tampak santai. Raut mukanya datar, tak menunjukkan ekspresi kecewa maupun tertekan. Sejak tadi dia hanya diam mendengarkan kritikan dari peserta rapat lainnya.


Selesai rapat, Irgi dan Bayu menjadi orang terakhir yang belum beranjak dari tempat duduknya.


"Sudah puas kan dengan hasil rapatnya?" ucap Bayu dengan ekspresi dan nada datarnya.


Irgi tersenyum sinis, "Tentu. Ini memang keputusan yang aku inginkan sejak awal."


Rapat memutuskan untuk membatalkan kerjasama dengan Skylight Bar serta pihak Bayu harus mengganti kerugian akibat berita buruk yang sedikit ikut berpengaruh pada Greenland Paradise. Jadi, selain menghadapi kerjasama yang batal, Bayu masih harus membayar ganti rugi. Dia sangat rugi, sementara Irgi menjadi bahagia karena hal itu.


"Musuhmu sepertinya sangat banyak sampai bisnis-bisnismu dibuat kolaps satu per satu. Aku ingin melihat apakah kamu bisa jatuh miskin nantinya."


Bayu hanya tersenyum. Pemuda di depannya itu juga termasuk salah satu yang memusuhinya karena setiap bertemu pasti ucapannya selalu ketus.


"Kalau nanti butuh pekerjaan, jangan sungkan menghubungiku. Mungkin aku bisa memasukkanmu sebagai salah satu staff di hotel ini."


"Tawaran yang menarik. Tapi aku tidak tertarik. Kamu pikir hal seperti ini bisa mudah membuatku bangkrut?"


"Kita lihat saja." Irgi melipat kedua tangannya di dada dan menyilangkan kakinya.


"Sepertinya kamu salah satu orang yang akan sangat bahagia kalau aku sampai jatuh miskin."


"Oh, itu sudah jelas. Deritamu adalah kebahagiaanku. Sebaiknya kamu segera pergi. Pasti kamu sedang repot kan, mengurusi panggilan dari kepolisian. Hati-hati dengan bisnismu yang lain, jangan sampai polisi tahu. Nanti kamu akan lebih repot."


Bayu tersenyum, "Terima kasih sudah memberi saran."


Bayu segera bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan meninggalkan ruangan rapat. Pemuda itu tidak tahu kalau Bayu sudah lama tidak berurusan dengan narkoba dan penyelundupan senjata lagi. Semua itu sejak dulu memang bisnis ayahnya, bukan bisnisnya.

__ADS_1


*****


Di lain tempat, Prita, Ayash dan ketiga anaknya sedang menikmati piknik di daerah peternakan sapi yang memiliki area padang rumput luas. Mereka juga mengajak serta Leta untuk membantu mengurusi anak-anak. Leta yang sudah dipecat oleh Mama Maya Prita jadikan sebagai pengasuh anak di apartemennya.


Ayash memancing bersama Daniel. Mereka duduk di bebatuan tepi sungai sambil menunggu kail umpan disambar ikan. Leta menemani Dean yang asyik berlari-lari mengejar capung dan kupu-kupu. Sementara, Prita menemani Livy bermain boneka.


"Papa, kenapa belum ada ikannya?" protes Daniel.


"Sabar, Daniel. Kalau memancing memang harus sabar menunggu. Nanti juga ikannya memakan umpan."


Daniel melirik ke arah yang lain. Dilihatnya Dean masih berlarian kesana kemari sudah jauh dari posisinya.


"Dean mainnya jauh, Pa. Dia berlari sampai ke sana."


"Kamu mau main dengan Daniel?"


"Tidak. Nanti saja. Aku masih mau menemani Papa sampai dapat ikan."


Ayash mengusap kepala Daniel. Anak itu memang yang paling sefrekuensi dengannya.


"Papa Papa.... pancingnya gerak-gerak!" seru Daniel.


Ayash langsung menarik pancingnya. Daniel memperhatikan dengan sangat antusias. Ia tidak sabar untuk mendapatkan ikan.


"Papa Papa... bawa ikannya ke Mama aku mau menunjukkannya."


"Oke."


Ayash membawakan ember berisi ikan. Daniel sudah berlari lebih dulu ke tempat Prita.


"Mama... aku dan Papa dapat ikan."


"Oh, iya? Mana? Mama juga mau lihat.?"


"Papa, cepat!" seru Daniel.


"Ini." Ayash meletakkan ember berisi ikan di depan Daniel.


"Tuh kan Ma, dapat ikan."

__ADS_1


"Iya, anak Mama pintar sekali menangkap ikan." puji Prita.


Livy juga penasaran dengan ikan itu. Matanya tampak berbinar melihat ikan meliuk-liuk di dalam air. Tangannya reflek dimasukkan ke dalam ember ingin memegang ikan itu.


"Livy hati-hati. Nanti digigit."


Livy tentu saja tidak mengerti apa yang dikatakan kakaknya. Ia terus mengobok-obok air, berusaha mendapatkan ikannya. Namun karena licin, ikannya tidak tertangkap. Justru baju Livy yang basah terkena cipratan air.


"Mama, aku mau panggil Dean. Dia pasti suka melihat ikan."


"Iya, sayang, hati-hati, tidak usah lari."


"Iya, Mama." jawab Daniel.


Meskipun sudah mengatakan ia, Daniel tetap berlari menghampiri Dean yang berada cukup jauh darinya.


"Kamu tadi bawa baju ganti kan untuk Livy?"


"Tentu saja. Anak-anak sudah aku bawakan baju ganti semua. Aku tahu kalau mereka main pasti baju mereka tidak akan selamat."


Ayash duduk di sebelah Prita. Ia tarik tubuh Prita agar bersandar di dadanya. Keduanya memperhatikan Livy bermain air dan ikan.


"Terima kasih, ya. Sudah meluangkan waktu mengajak kami jalan-jalan."


Ayash sengaja mengambil libur di hari kerjanya. Daniel dan Dean juga disuruh libur sekolah agar bisa piknik. Karena jika piknik pada akhir pekan, tempat itu terlalu ramai dikunjungi orang. Lebih enak jika berkunjung pada hari kerja. Seperti hari ini, hanya terlihat beberapa rombongan saja yang piknik di peternakan itu.


"Aaargh.... ! Tolong.... "


Ayash dan Prita saling bertatapan. Sepertinya mereka sama-sama mendengar suara teriakan dan minta tolong.


"Tuan.... Nyonya.... Tolong.....!"


Sekali lagi mereka mendengar suara itu lebih jelas. Saat sadar kalau itu suara Leta, Ayash dan Prita langsung bangkit. Ayash segera menggendong Livy dan menarik tangan Prita untuk ikut berlari menghampiri arah suara Leta.


Leta berada di tepi jurang sambil berteriak dan menangis histeris. Ayash dan Prita mempercepat langkah. Nafas mereka terengah-engah setelah sampai tempat Leta.


"Daniel.... ! Dean.... !"


Prita ikut menjerit setelah melihat ke arah bawah jurang. Tubuhnya lemas dan gemetar melihat kedua anaknya ada di bawah. Ayash yang ikut melihat mereka juga tampak syok namun ia tetap menenangkan diri.

__ADS_1


"Leta, tolong jaga Livy."


Ayash menyerahkan Livy kepada Leta. Ia segera turun ke arah jurang lewat jalan setapak yang biasa dipakai orang desa untuk pergi ke hutan. Jurang itu tak terlalu dalam, namun Ayash tetap khawatir karena mereka berdua masih anak-anak.


__ADS_2