
"Ayash, kamu tidak harus melakukan sejauh ini, kan?"
Maya memegangi tangan anaknya. Keputusan Ayash untuk membawa anak dan istrinya pindah ke apartemen sudah bulat. Satu sisi ia ingin menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua, di sisi lain dia punya tanggung jawab terhadap putri orang yang sudah ia ikat dengan janji suci pernikahan. Ia tak bisa mengabaikan perasaan istrinya jika ia merasa tidak bahagia tinggal bersama orang tuanya.
"Mama bisa mengunjungi kami kapanpun di apartemen. Kami tetap akan menghormati dan menyayangi Mama meskipun kita tinggal terpisah."
"Prita, kamu tidak bisa memaafkan mama, ya? Mama tahu kesalahan mama sangat besar. Tapi, kasihanilah mama.... "
Maya memasang wajah memelas. Tentu saja membuat Prita merasa tidak enak hati. Ia mengarahkan pandangan pada Ayash. Tampak Ayash menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, Ma. Sepertinya aku butuh waktu untuk menenangkan diri dulu." jawab Prita sambil menundukkan kepalanya. Ia tak akan tega jika menatap muka penuh harap Maya.
"Uh, cucu-cucuku.... Oma pasti akan kesepian di sini. Baru sebentar kalian membuat suasana mansion jadi ramai, sekarang sudah mau pergi."
Maya memeluk dan menciumi Daniel dan Dean bergantian.
"Kami pamit dulu, Ma."
Ayash mencium tangan ibunya kemudian beralih mencium pipi kanan dan kiri. Prita mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Dengan berat hati Maya melepaskan kepergian anak dan cucunya. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus kembali menikmati hari-hari yang sepi di dalam mansion. Rumah itu terlalu besar untuk orang tua seperti dirinya.
*****
Hari ini Bayu kembali mendatangi sekolah Daniel. Beberapa hari lalu, Daniel dan Dean tidak berangkat sekolah. Bayu jadi khawatir. Padahal dia juga ingin bertemu Prita menanyakan tentang perlakuan mertuanya terhadap anaknya. Jika memang Daniel tidak diperlakukan kurang baik, ia siap membawa Daniel bersamanya.
Bayu sengaja menunggu jam sekolah berakhir. Seperti biasa, halaman sekolah sudah dipenuhi oleh deretan mobil mewah yang akan menjemput anak-anak TK.
Bayu melihat Prita turun dari taksi menggendong anak terkecilnya. Dia suka heran dengan Prita. Kenapa kalau pergi-pergi lebih sering memakai taksi, padahal suaminya kaya raya. Apa memang kehidupan Prita tak sebahagia kelihatannya? Masa seorang Ayash tidak mampu membayar sopir untuk mengantar anak dan istrinya kemana-mana.
Beberapa saat kemudian, terlihat Daniel dan Dean keluar dari balik gerbang sekolah. Mereka berlari menghampiri Prita.
"Prita." sapa Bayu.
Prita terkejut tiba-tiba Bayu sudah ada di depannya.
"Prita, ayo kita bicara sebentar."
"Aku tidak bisa. Sopir taksi sudah menunggu." Prita mencari alasan untuk menolak.
Bayu menyunggingkan senyum. Bukan Bayu namanya kalau tidak punya rencana lain.
__ADS_1
"Uncle Yu." sapa Daniel.
"Hai, Daniel." Bayu mengusap kepala Daniel.
"Uncle, apa hari ini kamu membawa hadiah?" tanya Dean.
"Tentu saja, Dean. Uncle membawakan hadiah untukmu dan Daniel."
"Yeay.... mana-mana?" Dean tidak sabaran.
"Ada di mobil. Kalian mau lihat? Ayo temani uncle mengambilnya."
"Mau.... " jawab Daniel dan Dean kompak.
"Ayo!" Bayu menawarkan untuk menggendong kedua anak itu. Tentu saja kedua anak itu langsung mau.
Prita jadi kesal. "Daniel, Dean, turun! Kita harus pulang."
"Sebentar saja, Ma." kata Daniel memelas.
"No."
Bayu tak menggubris perkataan Prita. Tanpa pikir panjang, ia segera pergi membawa kedua anak Prita. Tak lupa ia berikan lima lembar uang pecahan seratus ribuan kepada sopir taksi dan menyuruhnya pergi. Setelah itu, ia berlari dengan tetap menggendong Daniel dan Dean menuju mobil karena Prita mengejarnya.
"Masuk mobil. Hadiah kalian ada di sana."
Bayu menurunkan Daniel dan Dean pada kursi belakang mobil. Kedua anak itu sangat senang di dalam mobil ada banyak mainan. Bayu sendiri bersiap duduk di balik kemudi kemudian mengunci pintu mobilnya. Prita menggedor-gedor kaca mobil. Melihat itu makin membuat Bayu merasa senang. Bayu menurunkan kaca mobilnya.
"Turunkan anak-anakku!"
"Masuklah, di luar panas. Kasihan Livy."
"Bayu!"
"Aku akan menurunkan mereka setelah kita bicara. Masuklah."
"Kalau kamu tidak mau, aku benar-benar akan membawa mereka pergi."
"Buka pintunya!" Prita yang tak punya pilihan reflek mengatakan hal itu.
__ADS_1
Bayu membukakan pintu sambil tertawa. Sementara Prita masuk mobilnya dengan raut kesal.
"Anak-anak, apa kalian mau mainan yang lebih banyak?"
"Mau...."
Prita hanya bisa memijit kepalanya. Kedua anaknya mudah sekali dipancing dengan kata-kata mainan.
Bayu mulai menjalankan mobilnya, menyusuri jalanan kota. Sebenarnya ada rasa yang berbunga-bunga di hatinya bisa satu mobil dengan Prita. Hal sederhana seperti itu entah mengapa bisa membuatnya merasa bahagia.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan."
"Sepertinya kita butuh berbicara di tempat yang tenang. Aku tak ingin anak-anak mendengarkan percakapan kita."
"Lalu, kenapa sejak tadi kamu belum juga menghentikan mobilmu? Kita mau kemana?"
"Nanti kamu akan tahu setelah kita sampai."
Prita mulai cemas. Ia khawatir nanti Ayash akan pulang sebelum dirinya pulang. Dia pasti akan salah paham jika melihat dia berada satu mobil dengan Bayu.
"Kamu pasti sedang mengkhawatirkan suamimu, kan?" tebak Bayu yang melihat Prita menggigiti kukunya sendiri.
"Sudahlah, jangan grogi begitu. Khawatir banget kalau kepergok selingkuh."
"Heh! Jangan asal bicara. Di sini ada anak-anak, mereka tidak boleh mendengarkan kata-kata yang buruk termasuk darimu." Prita mengingatkan dengan nada pelan. Ia takut kejadian kemarin terulang lagi.
"Ah, iya. Maaf."
"Hai, Livy.... kenapa sejak tadi memandangi uncle terus? Apa uncle ini ganteng?"
Livy yang imut memang sejak tadi tak melepas pandangan matanya dari Bayu. Ia masih merasa asing dengannya, makanya diperhatikan terus.
"Livy cantik. Sama seperti dirimu."
"Fokus saja menyetir. Tidak usah membahas hal lain."
Prita mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela, memandangi keramaian jalanan kota. Lama kelamaan entah mengapa matanya mengantuk. Sementara Bayu belum juga mengantarkan mereka sampai tujuan. Prita heran, mau mencari tempat bicara seperti apa sampai harus keliling kota.
Tanpa sadar, mata Prita semakin berat, rasa kantuk sudah tak tertahan. Apalagi ditambah dengan hawa dingin AC dingin mobil yang membuatnya nyaman. Akhirnya Prita tertidur. Livy yang ada di gendongan Prita ikut tertidur.
__ADS_1
Bayu melirik ke arah Prita dan Livy yang sudah tertidur. Ia melirik kaca spion melihat anak-anak di belakang. Ternyata Daniel dan Dean juga sudah tidur padahal tadi sangat asyik bermain.
Bayu mengurungkan niatnya menepikan mobil di salah satu kafe. Ia ingin Prita dan anak-anak lebih lama lagi tidurnya. Sehingga, mobil yang Bayu bawa diarahkan ke tempat lain yang lebih jauh.