ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Calon Duda dan Janda


__ADS_3

Butuh yang adem dari kemarin panas terus 😅


------------------------------------------------------------------------------


Ayash menyesap rokoknya sambil memandangi suasana pagi dari balkon kamarnya. Pagi ini sangat cerah, matahari seperti bersinar lebih awal memberikan kehangatan untuk bumi.


Sejak semalam dia belum bisa tidur. Setelah menemui Prita di kamar hotel, otaknya serasa kosong. Dia habiskan malamnya di ruang kerja hanya untuk melamun.


"Pagi-pagi sudah merokok di sini pasti lagi stres, ya?"


Andin dengan santainya ikut mengambil rokok lalu menyalakannya. Hitung-hitung melakukan hobi sambil menemani lelaki galau melankolis yang ada di sebelahnya.


"Jam berapa pulang?"


"Lupa. Mungkin tengah malam." Ayash tetap menyesap rokoknya dengan pandangan lurus ke depan tak memerdulikan Andin.


"Dari kemarin aku sudah berusaha menghubungimu, kenapa pesan dan teleponku kamu abaikan?"


Andin sebenarnya tidak enak hati membahas tentang hal ini. Tapi, dia penasaran apa Ayash sudah tahu tentang pernikahan Prita atau belum. Atau mungkin juga dia punya masalah yang lain sehingga membuatnya tampak sangat frustasi.


"Teleponku ketinggalan di kantor. Sampai sekarang juga belum aku ambil."


"Kemarin aku datang ke pernikahan Prita."


Baru setelah mendengarkan kata-kata itu, Ayash mau menoleh ke arah Andin.


"Aku meneleponmu karena ingin memberitahumu. Apa Prita tidak mengabarimu?"


"Dia mengabariku, aku juga datang ke sana."


"Aku, Raeka, dan Irgi juga ke sana. Kenapa kami tidak melihatmu?"


Ayash tertawa kecil. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan sambil menghisap rokoknya.


"Aku ditahan di pintu luar. Anak buah Bayu terlalu banyak yang menghalangiku masuk. Aku sudah menghajar mereka satu per satu, tapi penjaga yang lain terus berdatangan. Jadi aku tidak bisa masuk."


Seandainya dia bisa masuk ke dalam, mungkin dia akan nekad membawa kabur Prita dari altar pernikahan. Ia juga menyesal, apa seharusnya malam itu langsung saja Prita dia bawa pergi di malam pengantinnya? Atau seharusnya dia meniduri Prita sesuka hatinya. Tak masalah jika Bayu melihat mereka. Tapi, Prita pasti akan membencinya seumur hidup. Apa yang terjadi pada Prita saat ini juga tidak luput dari hasil perbuatannya sendiri.


Apa dia terlalu baik menjadi seorang anak? Seandainya dia berani memusuhi ibunya sendiri, mungkin kehidupan rumah tangganya bersama Prita masih utuh. Dia terlalu baik untuk menjadi manusia. Dia ingin semua orang di dekatnya merasa bahagia, sampai tidak terasa pengorbanannya melukai dirinya sendiri. Melihat orang yang ia sayangi bahagia seharusnya dia ikut bahagia. Kenyataannya, dia merasa menderita.


"Tapi aku sudah menemui Prita semalam."


"Apa yang dia katakan?"


"Katanya aku akan tetap menjadi ayah yang terbaik untuk anak-anaknya."


Andin menghela nafas. Ia merasa ikut bersalah dengan kerumitan yang dihadapi oleh sahabatnya itu. "Aku juga sudah berusaha menjelaskan semuanya pada Prita. Aku bilang kamu menikahiku hanya untuk menyelamatkan harga diri keluargaku."


"Tapi dia tetap ingin menikah dengan Pak Bayu."


"Irgi juga sudah menyuruhnya berhenti, mengajaknya lari dari sana, tapi Prita juga menolak. Katanya, menikah dengan Bayu adalah keputusannya sendiri, tidak ada yang memaksanya."


Keduanya menghisap rokok bersamaan. Suasanya hening.


"Lalu, apa yang mau kamu lakukan?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu." jawaban Ayash seperti orang frustasi yang kehilangan masa depan.


"Sepertinya ini juga ada kaitannya dengan pernikahan kita. Dia terlihat marah saat membahas tentang pernikahan kita. Apalagi kita tidak memberitahunya sama sekali."


"Ya, tentu saja begitu. Dia sedang membalasku."


Ayash semakin kuat menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya dengan kasar.


"Maaf, aku sudah membuat urusan kalian semakin runyam. Seharusnya saat itu aku tolak saja ide gilamu untuk menikahiku."


"Sudahlah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Sejak awal semua ini terjadi gara-gara aku, bukan karena siapa-siapa."


"Aku mau urusan perceraian kita dipercepat. Rasanya aku akan terus merasa bersalah pada kalian jika kita masih bersama."


"Aku sudah mengurusnya ke pengadilan agama. Mungkin butuh sekitar beberapa minggu hingga satu bulan baru bisa selesai."


"Terima kasih."


"Jadi janda kembang nanti kamu, Ndin."


"Biarin lah, cuma status juga." Andin mematikan puntung rokoknya yang hampir habis.


"Kamu sendiri bakalan jadi duda dua kali di umur 28 tahun."


"Miris, kan.... Mantan istri diambil lelaki yang lebih tua pula."


"Memang Pak Bayu usianya berapa?"


"Hampir kepala empat. Kalau tidak salah 38 tahun."


Perkataan Andin merusak mood Ayash. Ia matikan kasar rokoknya di atas asbak. Ia rebahlan tubuhnya diatas sofa lalu menyambar sebotol minuman.


"Weh, jangan marah lah. Aku kan hanya bicara menurut pandanganku." Andin mengikuti duduk di sebelahnya.


"Aku tidak marah, Ndin."


"Aku dengar dari Raeka Pak Bayu itu sudah ngejar-ngejar Prita dari lama ya? Katanya sejak kalian pacaran?"


"Ya, pelakor dia." celetuk Ayash.


"Gila sih konsisten banget sampai nungguin kalian bercerai."


"Harus dikasih penghargaan?"


"Boleh tuh, predikat pelakor tersabar kali ya. Hahaha.... "


Andin langsung menutup mulutnya karena sepertinya candaannya tidak lucu tapi justru membuat Ayash semakin kesal.


"Kamu mau hadiah apa untuk perceraian kita nanti?"


Ayash menatap intens ke arah Andin. Sahabatnya itu sejak tadi omongannya random seperti orang tidak waras. Ia letakkan telapak tangannya di dahi Andin. Suhunya normal.


"Woy, apa-apaan sih!" Andin menepis keras tangan Ayash dari wajahnya.


"Aku kira kamu lagi kumat."

__ADS_1


"Kumat apaan? Aku bicara serius! Siapa tau ada sesuatu yang kamu inginkan dariku akan aku berikan sebagai tanda terima kasih."


"Mana ada sih orang yang mau bercerai bahas hadiah segala. Yang ada seharusnya kamu mulai sekarang pergi dari rumahku, biar dikira minggat makanya ada alasan untuk cerai."


"Lah, ini. Malah makin betah aja tinggal di sini."


"Hehehe.... Aku harus kemana kalau tidak tinggal di sini? Kamu kan yang membawaku hidup di tempat asing ini."


"Jadi, setelah kita bercerai kamu mau balik ke Kota J?"


"Ya iyalah, ngapain tetap di sini? Usahaku juga ada di sana."


"Butik yang baru kamu buka di sini bagaimana?"


"Nanti aku cari orang yang bisa mengurusnya."


"Nggak sayang ninggalin kota ini? Kamu kan sudah akrab dengan Raeka dan Prita. Kamu jadi lebih seperti wanita kalau bersama mereka. Nanti salah teman balik lagi jadi cewek macho."


"Hahaha.... Susah memang cari teman wanita yang sefrekuensi. Kebanyakan toxic. Aku memang suka di sini karena mereka. Tapi ya.... Sebentar lagi kan kita mau bercerai. Nggak ada alasan buatku untuk tetap tinggal di sini."


"Aku harap juga kehidupanmu jadi lebih baik kalau tidak ada aku. Soalnya masih ngerasa bersalah terus di dekat kamu."


"Cih! Aku saja tidak mempermasalahkan."


"Ya, itu kan kamu. Kalau aku beda."


"Jadi gimana, kamu mau hadiah apabsebagai perpisahan kita nanti?"


"Aku nggak mau hadiah apa-apa, Ndin. Cukup kamu menjalani hidup dengan baik, menemukan kebahagiaanmu sendiri, aku rasa itu imbalan yang impas untuk pengorbananku."


"Cih!"


Andin tertawa kecil mendengar perkataan Ayash yang terdengar gombal. Betapa beruntungnya dia bertemu dengan sahabat yang setulus itu. Sejak dulu, Ayash tidak pernah mengecewakannya sebagai teman. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Dia berharap, Ayash juga bisa menjalani kehidupannya dengan bahagia.


"Kamu... beneran nggak mau hadiah apa-apa nih?"


"Tidak, Nona Andin.... " geram Ayash.


"Kamu juga boleh loh kalau mau meminta kepera*wananku." ucap Andin dengan santai.


Sementara Ayash sudah semakin menganggapnya gila.


"Bolehlah kalau kamu mau, kita bisa melakukannya satu kali sebelum bercerai. Biar aku jadi janda biasa tanpa embel-embel kata kembang."


"Kita ke rumah sakit jiwa, yuk! Kayaknya kamu perlu diperiksa."


"Ih, dikasih yang enak-enak nggak mau? Aku beneran masih virgin. Coba dulu, kalau ketagihan bisa diulangi lagi."


"Mau?" Andin mengedip-ngedipkan matanya dengan manja.


"Amit-amit, Andin. Keep it for yourself!"


"Kenapa, sih? Nyoba aja belum." gumam Andin.


"Aku pergi! Bisa ikut gila kalau lama-lama dekat kamu."

__ADS_1


Ayash langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Sementara Andin tertawa terbahak-bahak. Sebegitu menakutkan dirinya sampai Ayash tidak mau diajak berhubungan dengannya. Mungkin Ayash memang lebih menganggapnya sebagai cowok daripada cewek.


__ADS_2