
Setelah perdebatan yang panjang, Prita akhirnya mau kembali ke apartemen sesuai permintaan Alex. Dua bodyguard ditempatkan untuk menjaga Daniel di rumah sakit. Sementara Prita, Alex, Leta dan Livy beristirahat di apartemen.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Belum ada kabar apapun dari Bayu. Livy masih tertidur nyenyak di atas kasur sementara Prita mondar-mandir memegangi ponselnya.
Dia tidak bisa tidur. Dia masih menunggu kabar dari Bayu dan juga Dean. Sejak tadi tidak ada pesan maupun panggilan yang masuk ke ponselnya. Ia takut terjadi sesuatu.
Akhirnya ia menutuskan untuk menghubungi Bayu lebih dahulu. Tapi, beberapa kali ia menghubungi, tidak ada yang mengangkat teleponnya. Perasaannya jadi semakin cemas.
Ia putuskan untuk menelepon sekali lagi. Akhirnya ada yang mengangkatnya.
"Halo.... "
Prita mengernyitkan dahinya. Yang menjawab telepon bukan suara Bayu, tapi suara.... Ayash. Kenapa ponsel Bayu ada di tangan Ayash?
"Kamu belum tidur, Ta?"
"Bagaimana aku bisa tidur kalau aku belum tau kabar anakku?"
"Dean sudah ketemu, Ta. Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang tidur."
"Kamu nggak bohong?" tanya Prita memastikan.
"Sebentar."
Ayash mengalihkan panggilan suara ke mode panggilan video. Dia menyorotkan Dean yang sedang tertidur.
"Kenapa.... Dean ada di rumah sakit?"
"Polisi menyuruhku membawa Dean ke rumah sakit takut kenapa-napa. Sejauh ini tidak ada luka serius di tubuh Dean. Kamu jangan cemas."
"Syukurlah kalau begitu."
"Bagaimana dengan kondisi Daniel sendiri?"
"Operasinya berjalan lancar. Tapi Daniel masih belum sadar."
"Dokter bilang selama sebulan ke depan kondisi Daniel akan terus dipantau jika reaksi tubuh terhadap donor yang diterima ada penolakan atau tidak. Sementara dia ada di ruang isolasi, tidak bisa ditemui."
Ayash tampak terdiam. Ia merenungkan, kenapa bukan dirinya yang bisa menjadi jalan kesembuhan bagi Daniel. Tapi pikiran seperti itu langsung ia tepis. Baginya, yang terpenting adalah kesembuhan Daniel, bukan siapa yang menjadi perantara kesembuhannya.
"Ngomong-ngomong, kenapa ponsel Bayu ada padamu? Dimana dia?"
"Dia masih di ruang operasi, Ta."
Prita terkesiap kaget. Ruang operasi? Apa yang terjadi pada Bayu?
"Dia.... Kenapa?"
__ADS_1
"Tubuhnya terluka parah dan bahunya terkena tembakan."
"Sepertinya dia mendapatkan luka-luka itu waktu menyelamatkan Dean."
Prita terduduk lemas di kasur. Lelaki itu, padahal beberapa waktu yang lalu dia baru saja dia terkena luka tembakan. Dan kali ini terjadi lagi? Demi Dean anaknya?
"Kamu lagi khawatir ya, Ta?"
"Eh, hah!"
"Kata dokter pelurunya nggak sampai kena organ vital kok. Nggak usah khawatir, dia akan baik-baik saja."
"Iya, aku tau."
"Tidur Ta, sudah malam. Semuanya sudah baik-baik saja."
"Em, iya. Aku mau tidur. Terima kasih, ya."
Prita mematikan teleponnya. Ia merebahkan diri di samping Livy. Rasanya dia tidak akan bisa tidur malam ini. Pikirannya masih belum tenang sebelum melihat kondisi Dean dan Bayu dengan mata kepalanya sendiri.
*****
Dean memerhatikan secara saksama tubuh Bayu yang tergolek tak berdaya di atas ranjang. Fia adalah super hero yang sudah menyelamatkannya. Masih tergambar dengan jelas dalam ingatan anak itu, bagaimana beraninya sosok Bayu yang menghajar para penjahat dengan tangan kosong. Uncle Yu kelihatan sangat keren. Dean sampai ingin bisa menjadi pahlawan juga seperti itu. Kalau ada orang jahat, akan dia hajar dengan berani.
"Papa.... Uncle Yu bisa hidup lagi, ya?"
"Uncle Yu ditembak, Papa.... Apa tidak mati?"
"Tidak, nanti dia juga akan bangun."
Dean kembali memandangi Bayu. Rasa kagumnya semakin tinggi. Otaknya berpikir, betapa hebat orang yanhmg sudah ditembak tapi tidak mati? Apa dia hanya tidur sebentar? Padahal kalau di TV, orang yang kalah akan mati. Tapi, Uncle Yu akan bangun lagi. Itu sangat hebat.
"Papa.... Aku mau seperti Uncle Yu. Aku mau jadi super hero yang jago berkelahi."
Ayash mendengus kasar. Anaknya sejak kemarin membahas tentang Bayu terus. Dean tidak tau saja kalau dirinya saat SMA juga pernah memenangkan pertandingan karate tingkat kabupaten.
Bisa-bisanya anaknya itu kagum pada orang lain selain dirinya? Bayu itu bukan orang baik, apa hebatnya orang yang hobi berkelahi? Orang yang memakai kekuatannya untuk menindas orang lain yang lemah?
Yah, walaupun kali ini pengecualian. Tindakan Bayu yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan anaknya adalah sesuatu yang sangat ia syukuri. Dia harus berterima kasih saat Bayu terbangun nanti.
"Dean, itu namanya bukan berkelahi, tapi membela diri. Kita tidak boleh menyakiti orang lain dengan kekuatan yang kita miliki. Dean jangan berkelahi dengan teman ya, di sekolah."
"Tapi kalau Rooney itu suka nakal, Papa.... Dia suka pukul-pukul Dean. Makanya Dean harus balas pukul."
Ayash geleng-geleng kepala. Anaknya yang satu itu memang sepertinya bakatnya akan jadi anak yang sedikit susah diatur. Dia suka membantah dan punya pemikiran sendiri. Sangat berbeda dengan Daniel dan Livy yang penurut.
Amit-amit jika nanti anaknya itu jadi berandalan seperti Bayu. Orang yang suka memakai kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan. Dia sudah melihat tanda-tanda itu dalam diri Dean sejak kecil. Tingkahnya pecicilan, mau menang sendiri, agresif, dan tidak bisa diam.
__ADS_1
Kalau sampai anaknya jadi mirip seperti Bayu, dia tidak tau lagi harus berkata apa. Kedua anak lelakinya seperti anak yang tertukar. Daniel yang bukan anak kandungnya bisa punya sifat yang sama dengannya. Sementara, Dean, anak kandungnya malah mirip sifatnya dengan orang lain. Ia pusing memikirkannya.
"Uhhh.... "
Kesadaran Bayu mulai kembali. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan sulit digerakkan. Matanya perlahan terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah plafon berwarna putih. Sudah bisa dipastikan dia di rumah sakit. Daya ingatnya hanya sampai setelah melindungi Dean dari tembakan. Setelah itu, dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Uncle.... " sapa Dean.
Dia senang sekali pahlawannya sudah bangun. Bayu juga senang melihat anak itu dalam kondisi yang sangat baik.
"Halo, anak jagoan." ucapnya.
"Akhirnya Uncle hidup lagi. Dean kira Uncle akan mati."
Ucapan anak itu terdengar lucu walaupun seharusnya ia marah. Berani-beraninya anak itu bilang dia akan mati. Seorang Bayu Bagaskara tidak semudah itu mati.
"Apa perlu aku panggilkan dokter atau perawat?"
Mata Bayu beralih pada Ayash. Yah, ternyata dia ada di sana menemaninya. Dia bingung harus memberi respon apa. Selama ini hubungan mereka juga tidak pernah baik.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Apa tidak ada keluhan?"
"Tidak. Ini bukan pertama kalinya aku seperti ini. Aku sudah biasa, kamu jangan khawatir."
"Uncle.... Tadi malam Uncle hebat!" puji Dean.
Bayu harus tertawa kecil meskipun tubuhnya sakit saat ia tertawa. Dean lucu sekali. Anak itu memujinya padahal kondisinya sangat parah seperti itu.
"Uncle.... Aku mau bisa berkelahi dan melawan penjahat seperti Uncle. Aku akan hajar semua yang jahat pada Dean."
"Hahaha.... Iya, iya.... nanti akan Uncle ajari Dean."
Bayu melirik ke arah Ayash yang memandangnya dengan raut tidak suka. Tangannya dilipat di depan dada, sudut bibirnya agak terangkat sebelah. Sudah jelas, ayah yang satu itu pasti tidak akan terima jika anaknya ia ajari berkelahi.
"Bisa tolong kabari Prita kalau Dean baik-baik saja? Dia pasti khawatir semalam aku tak menghubunginya."
"Semalam aku sudah memberitahunya, kamu tidak usah memikirkan itu. Sekarang mungkin dia masih tidur karena semalam dia tidak tidur. Aku tak mau mengganggunya."
"Oh, baiklah. Kalau begitu jangan ganggu dia."
"Bagaimana dengan Daniel, apa katanya?"
"Operasinya sukses."
Senyuman mengembang di bibir Bayu. Berita itu memang yang ingin ia dengar. Dia bahagia akhirnya Daniel bisa sembuh.
__ADS_1