
"Maafkan aku. Aku tidak becus menjaga anak."
Prita menangis sesenggukan dalam pelukan Ayash. Ia menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa Livy hari ini.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Prita terus menangis. Ia tak tega melihat kondisi anaknya. Padahal, Livy bisa tertidur di gendongan Prita meskipun kepalanya sempat berdarah. Livy kelelahan menangis.
Ayash yang mendapat telepon dari Prita langsung buru-buru pergi meninggalkan kantornya menuju rumah sakit. Baru kali ini ia mendengar Prita menangis tersedu-sedu karena Livy terjatuh. Ayash berkesimpulan, luka Livy mungkin cukup parah.
Tapi, setelah sampai di rumah sakit, ia bisa lega. Livy hanya mengalami luka kecil yang tidak sampai mengganggu sistem syarafnya. Dokter telah membersihkan luka Livy dengan sangat hati-hati dan menutupnya dengan kain kasa dan plester.
Livy tertidur nyenyak di ranjang pemeriksaan. Sementara, Prita masih menangis tersedu-sedu.
"Sudah, sudah.... tidak ada yang menyalahkanmu. Namanya juga anak kecil, sesekali jatuh itu wajar. Kamu sudah berusaha menjadi ibu yang baik. Kalau mereka terluka, itu artinya mereka sedang belajar untuk lebih hati-hati kedepannya."
"Kalian tidak usah khawatir, Livy tidak apa-apa. Dia sudah boleh kalian bawa pulang."
"Terima kasih, Om Hans."
"Sama-sama, Yash."
Hansen adalah dokter keluarga Ayash. Sejak dulu beliau yang selalu menangani jika ada anggota keluarga Ayash yang sakit.
Prita kembali menggendong Livy dengan sangat perlahan. Ia berharap Livy tidak terbangun karena gerakannya.
"Aku antar pulang?"
"Tidak perlu. Pak Totok kan menungguku di parkiran. Kamu selesaikan dulu pekerjaan di kantor dan cepatlah pulang."
"Oke."
Ayash mengantar Prita sampai ke parkiran. Di sana ada Pak Totok yang sudah siap di belakang kemudinya.
Ayash memandangi wajah Livy yang tampak imut ketika tertidur. Anak itu walaupun terluka dan membuat semua orang panik tapi masih bisa tertidur dengan tenang. Ia kecupkan ciuman pada pipi bidadari kesayangannya. Tak lupa ia juga mencium istrinya sebelum membukakan pintu belakang mobil agar anak dan istrinya segera masuk.
"Pak Totok, tolong hati-hati membawa mobilnya, ya." pesan Ayash.
"Baik, Tuan."
Prita melambaikan tangan. Mobil perlahan mulai berjalan meninggalkan Ayash. Pandangannya teralih pada Livy. Ini pengalaman pertama Livy terluka. Saat Daniel dan Dean kecil, mereka juga pernah terluka. Tapi Prita tak terlalu khawatir seperti sekarang. Mungkin karena Livy anak perempuan.
"Eum.... Mama.... "
Livy terbangun karena silau dengan pancaran sinar matahari yang masuk ke mobil. Ia memeluk tubuh ibunya, orang yang paling membuatnya nyaman. Setelah tadi menangis, bangun tidur Livy seperti lupa kalau kepalanya terluka.
"Wah, kita sudah sampai. Yuk, turun.... kakak-kakakmu juga pasti sudah pulang."
Prita keluar mobil sambil menggendong Livy. Baru sampai halaman rumah, dua jagoannya sudah berlarian menghampirinya.
"Mama, kenapa bukan Mama yang tadi jemput? Kenapa Oma yang jemput?" Protes Dean. Anak itu langsung memegangi kaki Prita hingga Prita tak bisa bergerak.
"Eh, kok kalian malah menghalangi mama kalian masuk? Tuh lihat, adik kalian kepalanya sakit. Tadi jatuh."
__ADS_1
Dean melepaskan tangannya. Ia memandangi plester yang terpasang di dahi Livy.
"Apa kata dokter?"
"Kata dokter tidak apa-apa, Ma. Luka sobeknya kecil, tidak perlu sampai dijahit karena seperti lecet."
"Sekalian di scan nggak? Siapa tahu ada gegar otak atau pendarahan di dalam atau ada syaraf yang luka."
Prita tersenyum, Maya sepertinya sangat khawatir dengan kondisi Livy.
"Nggak, Ma. Kata dokter aman. Paling hanya perlu memberi obat penurun panas kalau nanti demam karena trauma jatuhnya."
"Syukurlah kalau begitu. Livy.... ayo ikut Oma.... "
Livy geleng-geleng tidak mau diajak neneknya.
"Mungkin Livy masih lelah, Ma. Tadi baru saja bangun."
"Ya sudah, bawa Livy isirahat di kamar."
"Iya, Ma. Ayo, anak-anak."
Prita berjalan menggendong Livy. Di samping kanak kirinya Daniel dan Dean mengikuti.
"Ma, aku pengin pakai seperti Livy juga." kata Dean. Dia merasa plester yang terpasang di dahi adiknya itu lucu.
"Dean, itu kan untuk menutup luka, bukan untuk mainan." jawab Daniel.
"Jangan, Dean. Nanti adikmu kesakitan."
"Huh!" Dean memanyunkan bibirnya. Ia kemudian pergi menjauh, memilih masuk ke dalam ruang permainan.
"Dean ngambek, Ma."
"Biarkan saja, kasihan Livy kalau nanti lukanya dipencet Dean."
"Livy.... apa kamu sudah sudah sembuh?"
Livy mangguk-mangguk menjawab pertanyaan kakaknya.
"Nyil.... " Livy memberikan biskuit kepada Daniel.
"Terima kasih."
"Tadi di sekolah kamu belajar apa?"
"Jadi koki, Ma. Bu guru mengajari kami menghias cupcake."
"Wah, pasti seru ya. Kenapa Mama tidak dibagi cupcake-nya? Mama kan mau mencicipi buatan Daniel."
"Hehehe.... sudah aku makan di sekolah. Nanti kalau buat cupcake lagi, aku mau simpan satu untuk aku berikan Mama."
__ADS_1
"Makasih, Sayang." Prita mencubit gemas pipi Daniel.
"Mama.... "
"Iya?"
"Anak adopsi itu apa?"
Prita mengernyitkan dahinya. Ia heran, darimana Daniel bisa tahu istilah seperti itu? Padahal akses menonton youtube juga sangat ia batasi, menontonpun tetap ia dampingi. Dia memang memahami, Daniel ada di dalam tahap selalu ingin tahu. Tapi kenapa dia menanyakan tentang anak adopsi? Kemana relasinya?
"Em, Sayang.... darimana kamu dengar kata-kata seperti itu?"
"Dari Oma." jawab Daniel tegas.
Saat di sekolah, Daniel memang menyimak percakapan antara neneknya dengan temannya. Ia sedikit memahami isi percakapan mereka, namun ada istilah 'anak adopsi' yang baru ia dengar. Ia penasaran, kenapa neneknya menyebut dia anak adopsi? Apa itu artinya anak yang keren?
"Oma?" Prita penasaran, apa yang dikatakan Maya kepada Daniel sampai Daniel ingin tahu sekali tentang arti anak adopsi?
"Tadi kan yang jemput Daniel dan Dean Oma. Di sekolah Oma bertemu temannya, neneknya Gwen. Nenek Gwen bilang, Daniel seperti bule? Daniel juga tidak tahu apa itu bule?"
Prita sudah mulai tidak enak mendengar cerita Daniel. Apalagi sudah membawa-bawa masalah fisik.
"Bule itu biasanya sebutan untuk anak-anak yang berasal dari Amerika atau Eropa, Sayang."
"Kalau Daniel dari Singapura, berarti neneknya Gwen salah, ya, Ma. Daniel bukan Bule."
"Iya, Daniel bukan Bule. Daniel anak Indonesia."
"Ya, kata nenek Gwen Daniel ganteng. Hidungnya mancung, rambutnya pirang. Kalau kata Oma, Daniel anak adopsi. Katanya Daniel diadopsi Papa dari Singapura."
Prita mematung. Ia tidak percaya mertuanya sampai mengatakan anaknya sebagai anak adopsi? Daniel anak kandungnya, sembilan bulan ia mengandungnya dan saat melahirkan ia harus menahan rasa sakit yang sangat luar biasa hingga rasanya mau mati. Tega-teganya ibu mertua berkata seperti itu.
"Mama.... anak adopsi itu apa?"
Prita menegarkan dirinya. Dia harus tetap terlihat tenang di hadapan Daniel.
"Sayang, mungkin kamu salah dengar. Yang dimaksud oma itu, anak adaptasi, bukan anak adopsi."
"Hm, gitu ya, ma?"
"Iya, Sayang."
"Terus, anak adaptasi itu apa?"
"Anak adaptasi itu, anak yang bisa tinggal dimanapun dan tetap jadi anak baik. Seperti Daniel, dulu kan Daniel tinggal di Singapura, sekarang Daniel tinggal di Indonesia. Berarti, Daniel anak yang bisa adaptasi."
Daniel mangguk-mangguk.
"Mama, aku main dulu." Setelah rasa penasarannya terpuaskan, Daniel jadi semangat untuk bermain.
"Iya, Sayang."
__ADS_1
Prita mengusap wajahnya. Berkali-kali ia harus menarik dan menghembuskan nafas dengan teratur agar bisa rileks.