ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pesan dari Prita


__ADS_3

'Gi, sore ini aku akan menikah dengan Bayu. Maaf tidak memberi undangan khusus atau memberitahumu sebelumnya. Hotel Catra.'


Irgi yang saat itu sedang mengikuti rapat langsung tidak bisa berkonsentrasi ketika membaca pesan yang masuk dari Prita. Dia baca berulang-ulang pesan itu, kata demi kata ia cermati. Sungguh, dia masih tidak percaya dengan pesan itu.


Apa Prita sudah gila? Hari-hari sebelumnya dia tidak pernah membahas apapun tentang pernikahan. Dia tahu, Prita sedang dekat dengan Bayu. Tapi, untuk tiba-tiba memutuskan menikah, tanpa meminta pendapatnya atau mengabarinya jauh-jauh hari.... Ada apa dengan dia? Memberi tahu tentang pernikahan saat hari H? Apa dia sedang bercanda?


Beberapa hari yang lalu, mereka juga masih bertemu. Prita hanya bercerita seputar kesehatan Daniel dan pengalamannya selama menemani Daniel operasi di Kota J. Tidak ada yang tampak aneh darinya. Atau jangan-jangan Prita sedang berada di bawah ancaman?


Brak!


Tanpa sadar Irgi menggebrak meja hingga menarik perhatian peserta rapat yang lain. Ada pula ayah mertuanya yang menjadi pimpinan rapat siang itu dan tentunya kakak iparnya, Regi. Dia malu sekali sudah mengganggu jalannya rapat.


"Maafkan saya, sepertinya saya harus pergi." ucap Irgi seraya bangkit meninggalkan ruang rapat.


Ia tidak memikirkan lagi kalau nantinya ayah mertuanya akan memanggilnya karena mangkir dari rapat. Pikirannya tidak tenang sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia akan temui Prita secara langsung dan meminta penjelasan darinya.


Drrtt.... Drrtt....


Ponselnya berbunyi, telepon dari Raeka. Ia mengangkat telepon itu sambil masuk ke dalam lift.


"Halo?"


"Apa Prita mengirimimu pesan?" tanya Raeka di seberang telepon. Sepertinya Irgi tahu arah pembicaraan itu sama dengan yang saat ini ia juga pikirkan.


"Ya, aku baru saja membuka pesannya."


"Apa kamu sudah tahu sejak lama? Kenapa tidak cerita padaku juga?"


"Tidak, aku juga baru tahu. Prita tidak pernah bilang apa-apa sebelumnya."


"Kenapa dengan Prita? Biasanya dia selalu cerita apapun padamu?"


"Aku juga tidak tahu."


"Sekarang kamu dimana?"


"Masih di hotel. Ini aku akan langsung ke tempat Prita. Aku mau menanyakannya langsung."

__ADS_1


"Aku juga mau ke sana. Kita bertemu di sana saja."


"Oke."


Irgi kembali menutup teleponnya. Ia mengarahkan pandangan pada pintu lift yang masih tertutup. Bayangannya terpantul di cermin yang tertempel di pintu lift. Penampilannya masih rapi, tapi kalau dipikir-pikir, apa masih cocok outfitnya untuk menghadiri acara pernikahan?


Seketika ia hempas pikiran itu. Kenapa juga dia memikirkan tentang penampilannya. Belum tentu juga Prita benar-benar akan menikah. Siapa tahu dia hanya bercanda, meskipun bukan sifatnya yang suka bercanda seperti dirinya.


Ting.


Pintu lift terbuka. Ia bergegas berjalan menuju tempat parkir depan dimana tadi pagi ia memarkirkan mobil Porsche Cayman warna merah miliknya.


Ditekannya tombol unlock pada kunci mobil lalu ia masuk ke bagian kursi kemudi. Tak lupa sabuk pengaman dipasang lebih dulu. Baru setelah itu ia melajukan mobil menuju Hotel Catra.


Sesampainya di Hotel Catra, tak terlihat ada tanda-tanda adanya event besar seperti pernikahan. Jika memang Bayu ingin mengadakan pernikahannya bersama Prita, dia pasti sudah mem-booking hotel itu. Dia rasa tamu hotel yang berpapasan dengannya juga penampilannya normal, tidak tampak seperti orang-orang yang hendak menghadiri resepsi.


Jika kali ini Prita mengerjainya, dia akan memberikannya piala Ratu Prank terbaik tahun ini. Prita tidak pernah ada tampang suka mengerjai orang, apalagi candaannya kali ini menurutnya tidak main-main. Ini tentang pernikahan. Dia ingin menikah dengan Bayu? Itu hal gila!


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang resepsionis wanita ketika Irgi mendekat ke arahnya.


"Apa di sini.... ada yang akan menggelar acara pernikahan?" Irgi bertanya dengan ragu-ragu. Kalau ini tidak benar, dia yang akan malu. Sudah buru-buru datang dari kantor, ternyata Prita bohong.


"Prita Asmara dan Bayu Bagaskara."


"Oh, iya benar, Pak. Hari ini mereka akan menikah."


Deg!


Seperti ada yang menghantam jantungnya tiba-tiba. Prita tidak bercanda dengan pesan yang dikirimkannya.


"Kalau boleh tahu, dimana tempat pernikahannya."


"Di area taman belakang, Pak. Sepertinya private party, hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk. Kalau Bapak merasa termasuk dalam tamu undangan, boleh saya cek kartu identitas Bapak?"


Irgi mengeluarkan kartu identitasnya dan memberikan kepada resepsionis tersebut.


"Terima kasih, Pak." resepsionis itu mengembalikan kartu identitas kepada Irgi.

__ADS_1


"Teman saya akan mengantar Anda ke tempat acara."


Resepsionis itu menunjuk ke arah teman yang ada di sebelahnya.


"Mari, saya antarkan."


Irgi mengikuti pelayan wanita yang akan mengantarkannya ke tempat Prita. Sepanjang jalan yang dilewati ia terus mengamati setiap sudut hotel tersebut. Rasanya masih belum percaya akan ada pesta di hotel itu. Tidak ada satupun karangan bunga maupun banner yang terpasang untuk menunjukkan bahwa Prita dan Bayu akan melangsungkan pernikahan. Kalau ini sungguhan, Prita benar-benar teman yang keterlaluan. Persahabatan mereka sejak SMP sama sekali tidak dianggap. Padahal biasanya mereka selalu terbuka satu sama lain. Kenapa Prita menjadi orang yang tertutup setelah mengenal Bayu?


Mendekati area taman yang akan dijadikan tempat acara, ada jajaran bodyguar memakai jas hitam yang berjaga. Pada telinga mereka terpasang alat komunikasi. Sepertinya tempat itu dijaga ketat.


Area taman yang akan dijadikan tempat pernikahan sudah tertata, ada jajaran kursi dan altar pernikahan yang sangat sederhana. Belum ada tamu yang tampak hadir. Hanya orang-orang berpakaian hitam yang terlihat di berbagai sudut.


Pemandangan itu semakin meyakinkan Irgi jika Prita tidak baik-baik saja. Sepertinya dia ada di bawah ancaman, mau tidak mau Prita harus menikah dengan mafia bangsat itu. Kalau memang mereka menikah secara baik-baik, pasti dia dan orang-orang terdekat Prita akan diberi tahu jauh-jauh hari, bukan acara mendadak seperti ini.


"Mba, tolong antar saya ke ruangan mempelai wanita, ya." ucap Irgi.


"Baik, Pak."


Karena Irgi ingin diantar menemui mempelai wanita pelayan itu mengajak Irgi mengambil jalan belok ke kanan. Jika tetap lurus ke depan, mereka akan memasuki tempat acara yaitu di taman.


Mendekati kamar yang digunakan Prita, di sana juga tampak beberapa orang yang berjaga. Irgi memandangi satu persatu wajah mereka. Mereka juga membalas pandangan yang dilemparkan Irgi. Pandangan itu menyiratkan rasa sama-sama terganggu dan tidak suka. Seperti anak SMA yang bertemu dengan anak SMA lain. Kalau ada salah satu yang memulai, sudah pasti langsung akan terjadi tawuran.


"Ini ruangannya, Pak." kata pelayan itu ketika sampai di sebuah pintu berwarna coklat yang di depannya terdapat hiasan karangan bunga berbentuk lingkaran.


"Terima kasih."


"Kalau begitu, saya pamit kembali." pelayan itu menganggukkan kepalanya seraya pergi meninggalkan Irgi.


Irgi masih berdiri di depan pintu. Ia melirik ke arah dua orang bodyguard yang membuatnya kesal. Keberadaan mereka tidak membuatnya nyaman. Kalau bisa ia usir, akan dia usir.


"Apa lihat-lihat?" tantang Irgi.


Dibukanya pintu menuju ruangan Prita sambil pandangannya terus mengawasi penjaga yang juga ikut mengawasinya.


"Irgi!" seru Prita dari arah dalam.


Irgi mengalihkan perhatiannya ke arah datangnya suara. Tampak Prita di sana memakai pakaian pengantin berwarna putih sembari tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Rasanya seperti mimpi. Ini kedua kalinya ia melihat Prita dalam balutan baju pengantin. Dia kelihatan cantik.


__ADS_2