
"Senang bertemu lagi denganmu, Bayu."
"Saya juga. Terima kasih atas undangannya." Bayu tetap berusaha tersenyum meskipun terpaksa. Ia melirik sekilas ke arah Prita, istrinya memilih melihat ke arah lain daripada memandang ke arahnya.
"Saya tidak menyangka kalau Anda memiliki putra setampan ini."
"Hahaha.... Anda bisa saja, Nyonya."
"Mama seharusnya sudah bisa menilai, ayahnya saja setampan ini, apalagi anaknya."
"Hahaha.... Putri Anda juga sangat cantik, Tuan Saddam. Pasti juga menurun dari Anda."
"Kalau kecantikan putriku menurun dariku, bukan dari suamiku. Kalau anakku mirip ayahnya, anakku akan jelek nanti."
"Hahaha.... "
Valerie hanya diam mendengarkan percakapan orang tuanya. Matanya terus fokus pada sosok lelaki yang sempat menolongnya saat itu. Ia sedang berpikir, apakah lelaki itu masih mengingatnya? Ia ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongannya waktu itu.
"Oh, iya. Kenapa jadi kita yang banyak bicara? Bukankah kita mengadakan makan malam ini untuk memperkenalkan anak-anak kita?"
"Anda benar, Tuan Saddam. Seharusnya kita yang mendengarkan anak-anak muda ini yang bicara."
"Putriku ini sedikit pemalu, apalagi jika bertemu dengan orang baru. Makanya dia jadi pendiam." ucap Nyonya Bela.
"Valerie, ayo perkenalkan dirimu."
Dengan malu-malu, Valerie bangkit dari tempad duduknya. Ia mengulurkan tangan ke arah Bayu.
"Perkenalkan, nama saya Valerie."
Bayu ikut berdiri dari tempat duduknya seraya menyambut tangan Valerie.
"Bayu." ucapnya singkat.
Keduanya kembali ke tempat duduk masing-masing dan melanjutkan makan hidangan yang sudah tersedia.
"Valerie, Bayu ini pengusaha muda yang sukses. Bisnisnya ada banyak di Kota S. Bahkan dia merintis bisnisnya sendiri tanpa campur tangan ayahnya. Benar-benar luar biasa."
"Anda terlalu memuji, Tuan Saddam."
"Bayu, putriku ini belum lama menyelesaikan kuliahnya. Baru merintis bisnis di dunia fashion sebagai designer. Dia sudah mulai belajar mengelola butiknya sendiri."
"Papa, biarkan mereka bicara sendiri. Kenapa jadi Papa yang jadi juru bicara Valerie."
__ADS_1
"Mereka kan baru pertama kali bertemu, Ma. Pasti masih canggung."
"Mmm.... Sebenarnya kami sebelumnya juga pernah bertemu." Valerie tiba-tiba buka suara.
"Oh, ya?"
"Oh.... Jadi kalian sudah saling kenal?"
"Wah, Papa malah tidak tahu. Itu lebih bagus kalau kalian sudah saling kenal sebelumnya."
"Bukan begitu, Pa. Tapi Kak Bayu orang yang menyelamatkanku waktu di pesta perjamuan kelulusannya Atala."
Bayu terdiam sesaat. Ternyata wanita itu masih mengingat kalau dia yang menyelamatkannya waktu itu. Ia kembali melirik ke arah Prita. Masih sama, Prita sama sekali tak memerhatikan ke arahnya.
"Oh, jadi kamu yang sudah menyelamatkan Valerie waktu itu. Ya, ya, ya.... Kenapa kamu langsung pergi, seharusnya menyapa kami dulu."
"Waktu itu saya buru-buru, jadi tidak bisa menyapa Anda."
"Aku tidak tahu kalau kamu juga hadir di acara yang sama saat itu."
"Saya diajak teman datang ke sana. Itu juga hanya sebentar karena ada urusan."
Samuel meminum wine dari gelasnya sembari mendengarkan perkataan Bayu. Ternyata benar dugaannya, waktu itu Bayu memang ada di sana. Anak itu semakin tidak bisa ia tebak. Samuel jadi mengira-ngira apa yang akan selanjutkan Bayu perbuat untuk mengatasi masalah ini.
"Iya, Mama juga setuju. Valerie memang cocok dengan Bayu."
"Bayu ini sudah sangat dewasa, pasti bisa mengayomi Valerie yang masih muda dengan baik."
"Sebenarnya kami memang berniat menjodohkan kalian berdua."
Bayu memperlambat kunyahan makanan di dalam mulutnya. Pembahasan itu akhirnya keluar juga. Ia meneguk wine hingga tak tersisa untuk melegakan tenggorokannya. Bayu melirik ke arah Prita, tak ada respon apapun. Apa Prita sama sekali tidak peduli dengan apa yang baru saja ia dengar?
Valerie hanya diam mendengar ucapan ayahnya. Dia memang sudah tahu jika nasibnya akan dijodohkan oleh ayahnya, seperti kakak-kakaknya. Menjadi anak dari Tuan Saddam harus sadar, bahwa jodohnya sudah ditentukan oleh keluarga. Mereka tidak diberi keleluasaan untuk memilih jodoh mereka sendiri. Karena, orang tua yang lebih bisa menilai bobot dari calon pasangan anaknya.
Sementara, Prita mengikuti perintah Bayu. Katanya, apapun yang terjadi dia tidak boleh melakukan apapun, dia harus tetap diam. Perannya saat ini sebagai pengawal Bayu, bukan sebagai istrinya. Dia tidak boleh terbawa perasaan meskipun mendengarkan kata-kata seperti itu sangat menyakitkan baginya.
Sejak tadi ia terus berdiri tegap, memasang pandangan lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bayu.
Sungguh perbincangan yang ia dengar ingin membuatnya tertawa terbahak-bahak. Samuel sudah tahu kalau anaknya sudah menikah dan memiliki anak. Bisa-bisanya dia masih menjodohkan anaknya dengan anak temannya. Apa dia ingin anaknya melakukan poligami? Kalaupun begitu, apa tidak perlu meminta ijinnya dulu?
Apa ini yang dimaksud kalau Bayu harus menurutinya? Kalau Bayu tidak mau dijodohkan dengan wanita itu, maka dia dan anak-anaknya akan terancam? Prita harus membatukan hati agar tidak menangis saat ini. Mertuanya memang sangat kurang ajar.
"Acara malam ini sangat aneh. Apa kamu juga merasa seperti itu?" bisik Alex.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Prita berusaha mengeluarkan suara versi lelakinya.
"Bos sudah menikah dan memiliki anak, Tuan Samuel sepertinya sudah gila ingin menjodohkan anaknya lagi."
"Apa kira-kita Tuan Saddam tahu kalau Bos sudah menikah?"
"Aku rasa belum."
"Nah, kan.... Kalau mereka tahu pasti akan langsung membatalkan rencana perjodohan mereka. Aku kasihan dengan Nona Prita dan anak-anaknya."
Prita jadi tahu kalau Alex juga menģkhawatirkannya.
"Kasihan Nona Prita, dia di rumah tidak tahu kalau suaminya pergi ternyata untuk dijodohkan."
"Menurutmu apa yang harus istrinya lakukan kalau Tuan Bayu benar-benar akan menikah lagi?"
"Kalau dia mau bertahan, aku rasa akan menyakitkan. Lebih baik tinggalkan suami seperti itu. Ya, meskipun dia bosku sendiri, tapi aku tidak mendukungnya menyakiti Nona Prita."
"Aku tahu kalau Bos itu cinta mati dengan istrinya yang sekarang. Kalau dia terpaksa menikah lagi juga untuk melindungi istri dan anaknya, juga kami anak buahnya. Dia orang baik."
"Tapi, saking baik dan ingin melindungi semua orang, terkadang pilihan yang diambil justru menyakitkan bagi orang yang ingin dilindunginya."
"Aku tetap tim istri pertama."
"Kalau Bos menikah lagi, lebih baik Nona Prita kembali kepada mantan suaminya. Aku yakin mantan suaminya juga masih sangat mencintainya."
"Ah, tapi ibunya galak, ya. Kasihan Nona Prita nanti menderita lagi."
"Kalau temannya Nona Prita yang bernama Irgi itu juga sangat perhatian, sayangnya dia sudah menikah."
"Ah, ada satu itu pemilik Greenland Paradise Apartement yang tampan seperti artis. Kalau tidak salah namanya Rafa.... Rafael atau siapa. Itu juga cocok untuk Nona Prita. Apalagi dia masih single dan belum pernah menikah."
Prita heran Alex sangat lancar bercerita. Dia pasti sangat tekun memasang telinga saat menjaganya dulu, sehingga tahu orang-orang yang ada di dekatnya.
"Memangnya yang seperti itu mau dengan janda?"
"Uhh.... Bos Bayu saja setia menunggu jandanya Nona Prita ya, jangan salah. Aku rasa masih banyak yang mengharapkannya juga."
"Kalau Nona Prita mau dengan lelaki yang jauh lebih muda darinya, aku juga mau daftar." ucap Alex dengan polosnya. Dia tidak tahu kalau saat ini orang yang sedang dia ajak bicara adalah Prita.
Prita hampir tertawa mendengar pengakuan Alex. Buru-buru ia menutup mulutnya sendiri agar suara tawanya tidak keluar. Sangat menggelikan mendengar perkataan Alex yang katanya juga menginginkannya. Usianya masih sangat muda, selisih delapan tahun darinya. Di mata Prita, Alex masih terlihat seperti anak SMP seperti saat keduanya pertama kali bertemu.
Saking lucunya mendengar celotehan Alex, Prita sampai lupa kalau seharunya ia marah kepada Bayu saat ini.
__ADS_1
Pengawal yang berjajar di samping mereka ikut heran, kenapa mereka berdua ribut terus. Benar-benar tidak meyakinkan sebagai seorang pengawal.