ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Permintaan Arsya


__ADS_3

"Bu Andin, kita kehabisan bahan ini. Saya juga sudah menghubungi supplier, katanya sudah tidak memproduksi motif yang seperti ini."


"Berarti untuk produksi model baju yang itu dihentikan saja. Kita pakai rancangan model terbaru yang kemarin sudah Valerie desain. Bahannya sudah datang, kan?"


"Sudah, Bu."


"Bu Andin.... Client kita yang dari luar pulau katanya mau memajukan sehari jadwal fitting baju pengantinnya. Alasannya sulit mencari waktu luang dengan calon suaminya."


"Tapi bajunya sudah selesai?"


"Progresnya 80%, menunggu proses pemasangan payet yang masih belum selesai."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Sekalian untuk koreksi nanti waktu fitting kalau ada yang kurang-kurang sekalian diperbaiki."


"Iya, Bu."


Seperti biasa, siang itu Andin masih sibuk di butiknya. Selain kesibukan mempersiapkan pergelaran busana koleksi terbaru milik butiknya, Andin juga sibuk melayani pesanan gaun prngantin, bukan hanya dari Kota J, tetapi juga dari luar kota bahkan luar pulau.


Setiap hari ia berkoordinasi dengan para karyawan serta mengecek sendiri hasil pekerjaan mereka sendiri. Mulai dari stok kain di gudang, peralatan jahit, proses penjahitan, hingga finishing pakaian tak luput dari pemantauannya. Meskipun ada bagian quality control, tapi dia tidak mau kecolongan jika ada produk gagal yang bisa lolos ke konsumen.


"Bu Andin, ada anak kecil yang mencari Anda di luar." salah seorang karyawan melongok dari balik pintu memberitahukan hal tersebut kepada Andin.


"Siapa, Nia?"


"Saya tidak tahu, Bu."


"Suruh dia duduk dulu di ruang tamu. Saya bereskan ini dulu sebentar."


"Baik, Bu."


Andin segera mempercepat pengecekan data yang tadi sedang ia lakukan. Jika ditinggalkan, ia takut nanti malah akan lupa. Jadi, ia memilih untuk segera menyelesaikannya.


Setelah selesai, baru ia keluar dari ruang kantornya untuk menemui tamunya.


Saat melihat anak manis yang sedang duduk di sofa ruang tamu kantor, Andin bertanya-tanya, kenapa Arsya bisa datang ke kantornya?


"Arsya.... " sapanya.


"Tante Andin."


Arsya segera berdiri ketika Andin menghampirinya. Ia masih memakai seragam sekolahnya untuk menemui Andin. Sepulang sekolah, ia menyuruh sopirnya untuk singgah sebentar ke butik itu.


"Kamu sama siapa ke sini?"


Andin mencium tangan Andin lalu memeluknya, "Diantar pak sopir, Tante."


"Duduk dulu, kamu mau minum yang mana?"


Andin menyuruh Arsya duduk di sebelahnya sembari menawarkan beberapa minuman instan yang ada di atas meja. Arsya memilih air mineral untuk membasahi tenggorokannya.


"Kedatangan Arsya mengganggu Tante Andin apa tidak?"

__ADS_1


"Tidak.... Memangnya Arsya ada perlu apa datang menemui Tante?"


"Kangen saja sih.... Kita kan jarang bertemu."


Andin mengusap kepala anak yang sudah duduk di kelas empat SD itu.


"Bagaimana sekolahnya?"


"Biasa saja sih, membosankan."


"Kok bosan? Kenapa?"


"Pelajarannya susah, Arsya jadi malas sekolah."


"Kan bisa tanya sama guru les. Kamu masih les, kan?"


Arsya menggeleng, "Aku capek, jadi aku suruh Papa berhentiin guru les."


"Kalau begitu, minta papamu untuk mengajari, dong. Papamu itu dulu pintar juga kok."


"Papa mana sempat, Tante. Pulangnya saja malam terus, bahkan kadang juga tidak pulang. Sibuk dengan bisnisnya."


"Kadang aku jadi merasa anak yang tidak diharapkan Papa, Tante."


Andin terkejut mendengar kelugasan kata yang diucapkan anak kecil itu. Kenapa dia sudah punya pikiran kalau orang tuanya menelantarkannya?


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Arsya. Mungkin papamu memang sedang sibuk dan dia bekerja juga untukmu. Kalau papamu sudah tidak sibuk, tante Andin yakin dia pasti akan ada waktu untuk menenanimu belajar."


Pertanyaan Arsya sudah berganti topik lagi. Sebenarnya itu permasalahan yang tabu untuk dibahas dengan seorang anak kecil. Tapi, Arsya pasti akan terus bertanya kalau dia tidakau menjawab.


"Belum, Tante Andin belum punya pacar. Kamu anak kecil kok tanyanya begitu.... "


"Kalau orang yang Tante suka ada?"


"Arsya.... "


"Pak polisi ganteng itu sepertinya suka sama Tante Andin, loh."


"Arsya, sudah ya.... Jangan bahas itu."


"Memangnya kenapa sih? Arsya di sekolah juga suka kok sama kakak kelas, soalnya ganteng. Masa suka sama orang tidak boleh."


"Aduh, kamu masih kecil kok sudah main suka-sukaan, Sya."


"Sekedar suka kok, Tante. Kata Papa juga nggak boleh pacar-pacaran sih."


"Ya iyalah, tunggu kamu besar dulu."


"Tante suka nggak sama pak polisi?"


"Tidak, tante tidak suka dia. Kita hanya berteman."

__ADS_1


Bara memang sering menemuinya. Dia juga pernah mengatakan kalau dia menyukai dirinya. Tapi, Andin tidak memiliki perasaan yang sama. Baginya, Bara tetap seperti seorang adik, seperti ia mengganggap Valerie sebagai adiknya. Dia juga tidak menyangka kalau akan ada lelaki yang lebih muda darinya bisa menyukai dirinya. Itu hal yang lucu kalau diingat-ingat.


"Kalau sama Papa?"


Andin membulatkan mata mendengar pertanyaan Arsya, "Arsya, aku dan papamu juga hanya berteman."


Setiqp kali mengingat Arga, dia selalu merasa sakit hati. Entah mengapa meskipun sudah memaafkan, namun tetap ia tak bisa melupakan kejadian yang dulu sangat menyakitinya. Bahkan ia ingin menghindari Arga agar tidak terulang lagi pada perasaan sakit itu.


"Apa Tante tidak sedikitpun menyukai Papa? Misalnya itu hanya setetes saja?"


"Arsya.... "


"Tante tidak bisa menyukai orang lain lagi, kan? Papa juga sama seperti Tante. Dan hidup kalian juga sama-sama menderita."


"Kenapa sih Tante dan Papa tidak menikah saja?"


"Aku membenci papamu, Arsya."


"Bagus itu, Tante. Setelah menikah, bisa balas dendam sepuasnya sama Papa."


"Hahaha.... Idemu itu aneh-aneh saja, Arsya.... "


"Tante.... Ayolah, menikah dengan Papaku."


"Aduh, kamu datang-datang ke sini kok melamar tante untuk papamu, sih.... "


"Siapa tahu kalau dua orang yang sama-sama menderita kalau bersama jadi bahagia."


"Aku selalu kasihan setiap hari melihat Papa seperti itu."


"Please, Tante.... Kalau Tante masih marah dengan Papa, pukuli saja Papa sampai puas. Tapi jangan menghindari Papaku terus."


"Aku yakin sebenarnya Tante juga masih menyukai Papaku. Meskipun Tante juga sangat membencinya."


"Arsya, sebaiknya kamu pulang, ya.... Takutnya nanti papamu bingung mencarimu."


"Tante.... " Arsya memasang wajah memelas.


"Aku akan memikirkan perkataanmu, Arsya. Biar aku dan papamu yang membahasnya, ya."


Arsya baru bisa tersenyum setelah Andin mau mempertimbangkan permintaannya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Tante.... Aku tunggu kabar baiknya."


"Kalau Tante masih belum mau menerima Papa, nanti Arsya balik lagi ke sini."


"Hahaha.... Dasar anak nakal!" Andin mencubit pelan pipi Arsya.


"Sampai jumpa, Tante.... " Arsya melambaikan tangan seraya berjingkrak menuju pintu keluar.


Andin menghela nafas lega. Arsya, setiap ada kesempatan bertemu dengannya, selalu memintanya untuk menikah dengan Arga.

__ADS_1


Mungkin benar kata Arsya. Sampai sekarang dia belum bisa membuka hati untuk lelaki manapun setelah gagal menikah dengan Arga. Sekalipun dia pernah menikah dengan Ayash, di umur pernikahannya yang cukup singkat, ia juga tidak bisa mencintai Ayash. Begitupun dengan Bara. Entah mengapa dia tidak bisa menyukai lelaki gagah itu. Bukan hanya sekedar tidak enak hati kepada Valerie, tapi juga karena ia tak bisa mrncintainya. Hanya Arga yang mampu membuatnya merasakan cinta sekaligus sakit di waktu yang bersamaan.


__ADS_2