
"Sayang.... Kenapa kamu jadi hobi marah-marah terus, ya? Coba hitung, berapa kali dalam sehari kamu memarahiku?"
"Kalau kamu tidak salah aku juga tidak akan marah-marah, Mas."
"Masa mereka yang menyapa aku yang dimarahi?" protes Bayu.
"Iya, iya.... Aku yang salah!"
Bayu memijit keningnya. Meskipun terkesan ia menang berdebat, nantinya pasti akan ada hal buruk yang menimpanya. Disuruh tidur di teras atau di atas genteng contohnya.
"Sayang, bisa tidak jangan marah-marah terus. Aku takut bayi kita jadi kaget dan tiba-tiba minta keluar."
"Ih.... Kok malah berdoa yang jelek, sih!"
"Maksudku bukan begitu.... "
"Suami kok egois!"
"Hah!" Bayu menghela nafas yang terasa berat. Menjadi seorang suami memang bukan hal yang mudah, apalagi kalau istrinya sedang sensitif seperti itu. Kebaikan sebanyak apapun tidak akan diingat hanya karena kesalahan kecil yang mungkin juga bukan dia yang melakukannya.
"Sayang.... Sepertinya kamu hanya bisa bersikap manis ya, kalau di atas rajang. Aku jadi sudah tidak sabar menantikan malam."
"Ini sekolahan, Mas. Jangan bahas hal seperti itu."
"Yang menyenangkan memang hanya membahas hal itu. Selain itu aku hanya mendengarmu marah-marah seharian."
"Mama.... Daddy.... "
Daniel sudah pulang. Ia berlari mendekati kedua orang tuanya. Daniel datang di waktu yang tepat. Bayu tidak perlu lagi mendengar kemarahan istrinya yang sejak tadi sudah membuatnya jengah. Ia ingin segera pulang saja. Kalau di hadapan anak-anak, setidaknya Prita jadi tidak terlalu galak.
Bayu selalu berpikir, bayi seperti apa yang nanti akan Prita lahirkan. Menjelang kelahirannya bayi itu bisa membuat ayahnya selalu jadi sasaran kemarahan ibunya. Apa nanti anaknya akan menjadi anak yang keras kepala seperti watak ibunya?
"Mama.... Tadi di sekolah nilai Matematika Daniel dapat seratus."
Daniel mulai bercerita ketika mobil telah berjalan. Bayu duduk di belakang kemudi dengan Prita yang ada di sebelahnya. Daniel duduk sendiri di bangku belakang dengan leluasa.
"Wah, anak mama hebat bisa dapat seratus. Apa sekolah menyenangkan."
__ADS_1
"Hem, sangat menyenangkan! Daniel suka sekolah dan punya teman baru." ucap Daniel sembari memandangi nilai matematika pertamanya yang mendapat nilai seratus. Sepertinya ia merasa bangga dengan hasil kerja kerasnya.
"Lebih menyenangkan mana, di TK atau di SD?"
"Ya di SD lah, Ma! Kalau di TK itu main terus kayak anak kecil."
Bayu ikut tersenyum-senyum mendengar perkataan anaknya. Daniel yang baru saja masuk SD seakan sudah merasa dewasa padahal baru dua bulanan.
"Mas.... Awas!"
Tiba-tiba Prita berteriak ketika melihat ada mobil berjalan ugal-ugalan dari arah yang berlawanan dengan mereka. Bayu berusaha menguasai kemudi untuk menghindari tabrakan dengan mobil tersebut. Kejadian yang begitu mendadak membuatnya terpaksa membanting setir ke tepi trotoar. Namun naas, mobil mereka tetap tak terhindar dari tabrakan itu.
*****
"Kenapa melamun terus, Yash?"
Irgi duduk di sebelah Ayash seraya menyodorkan segelas frappuccino green tea yang baru dibawakan oleh salah satu asistennya.
"Terima kasih."
"Selama rapat aku perhatikan kamu lebih banyak melamun. Aku yakin kamu tidak bisa fokus dengan pembahasan yang tadi. Apa ada yang kamu pikirkan?"
Ayash akui dirinya memang tidak mendengarkan rapat yang baru saja ia ikuti. Dalam pikirannya seakan ada sesuatu hal yang membuatnya tidak tenang meskipun ia sendiri tidak tahu hal apa yang menjadikannya sangat risau.
"Entahlah.... Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi aku sangat memikirkan anak-anak di tanah air."
Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan anak-anaknya, dia jadi khawatir. Padahal di sana juga ada Prita dan Bayu yang merawat anak-anaknya. Tapi, tetap saja rasanya ia ingin segera pulang.
Kehidupannya di Singapura terasa begitu hampa. Biasanya sepulang dari kantor ada kedua jagoannya yang suka membuat kegaduhan di apartemennya. Meskipun terkadang mereka suka mengganggu Ayash bekerja, tapi ia tetap terhibur dengan polah anak-anaknya. Hari-harinya tidak pernah terasa sepi semenjak Daniel dan Dean memilih untuk tinggal bersamanya.
Kini, kehidupan sunyinya kembali terulang. Meskipun Singapura bukanlah kota yang asing untuknya, namun keberadaannya di sana sudah berbeda. Dulu dia tingga bersama Prita dan anak-anak. Sekarang, ia hanya tinggal sendiri membantu memberesi bisnis Irgi yang masih bermasalah.
"Apa kamu sudah menghubungi mereka?"
"Sudah. Kemarin aku baru melakukan panggilan video dengan Daniel, Dean, dan Livy."
"Cari istri lah.... Sepertinya ini karena kamu sangat kesepian."
__ADS_1
"Ucapanmu itu enteng sekali. Memangnya semudah itu menemukan orang yang cocok lalu menikah?"
"Sebenarnya gampang.... Hanya saja seleramu saja yang langka. Aku yakin kalau menginginkan istri baru, tipemu pasti yang tidak jauh-jauh dari Prita."
Kalau boleh jujur, yang Ayash inginkan masih sama, yaitu Prita. Sekalipun wanita itu sudah menemukan cinta barunya, tapi Ayash masih tetap mencintainya secara rahasia.
Menemukan orang yang cocok dengannya seperti Prita itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dimulai dari pertemanan, bersahabat, lalu tumbuh rasa suka. Bagaimana bisa ia bisa melupakan sosok yang bertahun-tahun sudah menemaninya?
Ia menghormati Prita dengan kehidupannya yang sekarang. Namun, dia tidak bisa memaksakan dirinya untuk menerima kehadiran wanita lain sementara hatinya belum mau terbuka.
"Nanti malam jangan lupa datang ke acara perjamuan, ya. Siapa tau salah satu wanita di sana merupakan tipemu."
Ayash hanya tersenyum. Memang, Irgi sekarang lebih cocok disebut sebagai seorang mak comblang. Dia paling gencar menyuruhnya untuk mencari pasangan. Padahal dia merasa tak ada satupun wanita yang bisa membuatnya tertarik. Sekalipun nanti ia tertarik dengan seorang wanita, mungkinkah mamanya juga akan menghormati pilihannya? Ia masih merasa bersalah dengan perlakuan yang Prita terima dari mamanya.
"Jangan jual mahal.... Kalau ada yang mau kenalan, dicoba dulu. Sekedar tukar nomor telepon kan tidak apa-apa."
"Kalau sudah cocok, baru beri kunci akses apartemen. Siapa tahu bisa jadi guling kalau malam."
"Sialan!"
Ayash menjitak kepala Irgi. Ucapannya kadang suka kelewatan.
"Kita sudah sama-sama dewasa juga kali.... Banyak kok rekan-rekan kita yang seperti itu. Bahkan mereka sudah punya istri juga kadang masih punya simpanan atau sekedar partner one night stand."
"Termasuk kamu? Aku laporkan kepada Raeka, ya.... "
"Oh, tentu tidak. Kecuali Irgi. Irgi pria sejati yang setia kepada istri."
"Kamu kira aku tipe yang seperti itu? Amit-amit.... waktuku juga sudah habis untuk mengurusi bisnis sampai tidak terpikir hal seperti itu."
"Ayolah, kamu harus mencoba untuk jatuh cinta lagi. Usiamu masih sangat muda untuk jadi duda."
"Memangnya kenapa? Aku seperti ini juga kamu tidak rugi."
"Ya tidak rugi, tapi kan rasanya ada yang kurang kalau kita jalan bersama tapi kamu tidak ada gandengan. Masih lebih mending dulu kamu sama Andin."
"Anggap saja aku biksu."
__ADS_1