
10 tahun kemudian.....
Bertubuh atletis, tinggi, tampan, serta jago dalam permainan basket. Selalu menjadi yang paling bersinar di tengah lapangan. Diidolakan oleh banyak teman perempuannya di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Dean Hartadi, ketua tim basket SMA Cikal Bangsa.
Remaja yang memiliki sifat yang cuek, easy going, gokil, seperti orang yang tidak pernah susah hidupnya, supel, dan suka berpikir belakangan sebelum bertindak itu terkadang bisa membuat guru-guru naik darah dengan tingkah nakalnya.
Dia pernah merusak kebun sayuran yang akan diikutkan lomba Kebun Sekolah Tingkat Nasional, mengajak teman-temannya memetik rambutan tetangga yang buahnya condong ke tembok sekolah, juga bolos ramai-ramai dengan melompati pagar sekolah. Masih ada kenakalannya yang tak kalah membuat kesal guru kepadanya. Untunglah dia merupakan anak dari Ayash Hartadi, sehingga kesalahannya bisa dimaafkan.
Sekolah sengaja menjadikannya kapten basket supaya keisengannya berkurang. Dean juga ikut di klab Kick Boxing sekolah dan pernah beberapa kali memenangkan pertandingan tingkat provinsi.
Anak seperti Dean, dari segi akademis tidak terlalu pintar. Dia lebih unggul dalam bidang non akademis seperti olahraga. Sesuai dengan bentuk tubuhnya yang sangat atletis meskipun baru duduk di kelas dua SMA.
"Dean.... Semangat.... "
"I love you, Dean.... "
"Dean, ayo pacaran.... "
Suara siswi-siswi yang berada di lapangan basket in door sekolah menggema ke seluruh ruangan. Mereka sengaja datang hanya untuk melihat idolanya bermain. Siapa lagi kalau bukan Dean. Mereka sampai membuat spanduk dan poster sebagai bentuk dukungan. Padahal pertandingan basket itu hanya latihan antara tim Dean dengan tim senior. Tapi, semangat supporter Dean sungguh luar biasa.
Dean yang sudah mencetak banyak poin untuk timnya merasa bangga. Dengan tubuh bermandikan keringat, ia sempatkan melambaikan tangan dan kiss jarak jauh kepada penonton. Membuat mereka semakin berteriak kegirangan.
Perolehan poin antara tim senior dan junior hampir imbang. Masing-masing tim sangat serius bermain meskipun hanya latihan. Tim senior tetap ambisius bermain semaksimal mungkin, untuk memberi contoh kepada junior mereka kalau apapun jenis pertandingannya, entah turnamen maupun latihan, mereka harus tetap benar-benar serius bermain. Kalah menang hal yang biasa, yang terpenting adalah usaha uang maksimal.
"Dean, permainan tim kalian semakin membaik." puji Rendra.
Ketua tim basket seniornya setelah babak ketiga selesai dengan keunggulan masih dipegang oleh tim junior. Masih ada satu babak lagi untuk penentuan, tapi para pemain diberi waktu istirahat sepuluh menit sebelum pertandingan kembali dimulai.
"Terima kasih, Kak. Permainan Kakak dan teman-teman juga masih oke walaupun kalian sudah tua."
"Sialan!" Rendra memukul kepala Dean. "Dipuji sedikit songongnya langsung keluar, ya...."
"Hahaha.... Maaf, Kak. Hanya bercanda."
"Hati-hati ya di babak ke dua, kami tidak akan gampang menyerah."
"Siap.... Kami juga tidak akan mengalah hanya karena kalian senior."
Rendra hanya bisa geleng-geleng kepala. Juniornya itu memang sangat menjengkelkan. "Sudah, sudah.... Istirahat dulu sana!"
__ADS_1
"Oke.... "
Dean berjalan mendekat ke arah tribun. Di sana sudah ada beberapa siswi yang telah menunggunya. Mereka adalah fans garis keras Dean, namun Dean sendiri tidak terlalu peduli dengan mereka.
"Dean.... Permainanmu sangat bagus."
"Benar, hebat sekali teman kita bisa mengalahkan kakak senior."
"Aku rasa senior akan malu kalau sampai kalah oleh Dean."
Mereka terus berbicara memberikan pujian kepada Dean. Sementara, Dean mengambil handuknya, menyeka keringat yang membasahi tubuhnya. Ia juga meminum air mineral yang dibelinya dari kantin sekolah.
"Dean, aku bawa bento. Coba cicipi dulu, ya.... " salah satu dari mereka menyodorkan bekal makanannya. "Aku buat ini sendiri, loh."
"Sayang.... "
Dari jarak sepuluh meter, ada seorang siswi cantik berpakaian seragam SMP dengan hoodie abu-abu berlari kecil mendekat ke arah Dean.
Dean juga terlihat senang melihat remaja perempuan itu. Membuat para penggemar Dean hanya bisa melongo, apalagi ketika remaja perempuan itu melompat ke pelukan Dean seperti anak kecil. Dengan entengnya Dean memutar tubuh seakan perempuan itu begitu ringan. Seketika gerombolan fans Dean membubarkan diri. Ternyata idola mereka sudah ada pawangnya yang bahkan masih SMP. Tapi memang perempuan itu terlihat cantik dan imut, membuat fans Dean sadar diri dan mundur.
"Kamu sudah pulang sekolah?"
"Kenapa tadi memanggilku seperti itu?"
"Memangnya tidak boleh? Livy kan memang sayang sama Dean...." ucapnya sambil memanyunkan bibir.
Ternyata anak SMP yang bersama Dean saat ini adalah Ayesha Livy Hartadi, adik kandung Dean. Kehadirannya mampu membubarkan penggemar kakaknya. Memang, kelakuan Livy juga tidak beda jauh dengan Dean, sama-sama suka iseng.
"Sayang.... Sayang.... Kepalamu peyang!" Dean mendorong dahi Livy dengan telunjuknya. "Biasanya juga panggil Dean, Dean, Dean.... Dasar adik paling tidak sopan di muka bumi!" omelnya.
"Ye.... Salah siapa dari kecil suka ganggu aku? Masa seorang kakak kerjaannya bikin aku nangis setiap hari. Kalau mau aku panggil kakak, bersikap dulu seperti Kak Daniel."
"Ya, ya, ya.... Kakak kesayanganmu itu kan, ya.... " Dean kembali meneguk minumannya.
"Ini titipan makan siang dari Mama. Tadi Mama datang ke sekolahku, katanya disuruh kasih kamu sama Kak Daniel."
"Sini yang buat aku!" Dean merebut paksa kotak bekal untuknya. "Kalau untuk Kak Daniel, kasihkan sendiri." lanjutnya.
"Lah, kok aku.... Kamu sajalah.... Aku mau jalan bareng teman ke mall."
__ADS_1
"Itu kan kakak kesayanganmu.... Kenapa aku yang harus berikan."
"Please, Kak Dean.... Titip untuk Kak Daniel, ya.... Kak Dean baik, deh.... " rayu Livy.
"Halah! Panggil kakak kalau ada maunya." Dean menyentil dahi Livy.
"Aduh! Kak.... Sakit.... " Livy memegangi dahinya.
"Aku mau main lagi. Kamu temui saja Kak Daniel sendiri. Paling dia ada di perpustakaan."
"Dean.... Cepat!" salah seorang temannya sudah memanggil, pertanda pertandingan akan segera dimulai.
"Kak.... " Livy mencoba merengek, namun Dean tetap meninggalkannya dan berlari ke tengah lapangan.
"Siapa anak manis itu? Pacarmu, ya?" tanya salah seorang temannya.
"Memangnya kenapa kamu ingin tahu dia pacarku atau bukan?" Dean sudah memberikan lirikan maut ke arah temannya.
"Ya santai saja.... Kalau dia pacarmu, aku tidak akan mengganggunya. Tapi, kalau dia bukan pacarmu boleh kan, aku berusaha mendekatinya.... Cantik banget anak itu, imut dan manis seperti tipeku."
"Jangan berani-berani mendekati dia, ya! Aku akan menghajarmu kalau sampai mendekatinya."
"Weh, galaknya.... Jadi dia memang pacarmu, ya?"
"Dia adikku." tegasnya. "Tapi jangan harap aku mengijinkanmu mendekatinya. Awas saja!"
"Lah, baru tahu kamu punya adik yang cantik. Pasti sengaja kamu sembunyikan.... Dasar sister complex."
"Amit-amit kalau sampai adikku dekat dengan playboy sepertimu."
"Hey, aku bisa taubat kalau bertemu pacar yang cocok. Seperti adikmu misalnya.... "
"Mimpi saja!"
"Ayo, serius, main! Jangan sampai kalah dengan senior!" omel Dean.
Meskipun antara Dean dan Livy sering bertengkar di rumah, namun Dean tetap menyayangi adiknya. Ia memang suka membuat Livy menangis, namun ia tidak rela kalau ada orang lain yang membuat Livy menangis. Menurutnya, hanya dia yang boleh membuat adiknya itu menangis. Kalau ada yang mengganggunya, apalagi playboy seperti temannya, ia pasti siap pasang badan.
Dean punya cara sendiri untuk mengekspresikan rasa kasih sayangnya kepada Livy. Sebenarnya dia perhatian, namun sering kali bentuk perhatiannya disalahartikan oleh adiknya sebagai bentuk kejahilan. Berbeda dengan Daniel, ia menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang lebih lembut, termasuk sering menuruti kemauan Livy. Makanya adiknya yang paling cantik itu lebih menyukai Daniel daripada dirinya.
__ADS_1