
Prita perlahan membuka matanya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah plafon berwarna putih. Kepalanya masih terasa sedikit pusing dan badannya lemas. Ia ingat tadi sempat hilang kesadaran saat bertemu Dokter Hansen.
"Kamu sudah sadar? Apa kamu masih merasa pusing?" tanya Ayash.
"Dimana anak-anak?" bukannya menjawab pertanyaan Ayash, Prita malah menanyakan tentang anak-anaknya.
"Livy sedang main. Dean juga."
Prita berusaha mendudukkan dirinya. Ayash membantunya. Prita bisa melihat Livy sedang bermain boneka dengan Leta di lantai yang dialasi karpet. Di sebelah ranjangnya, ada Dean yang sedang berbaring sambil memainkan robot-robotnya.
"Daniel?"
"Daniel ada di kamar sebelah. Ada Pak Ahmad yang menjaganya. Kamu tenang saja. Aku juga tadi baru dari sana."
"Apa dia sudah sadar?"
"Belum. Tapi kan kondisinya sudah stabil kita tidak perlu cemas. Percayakan juga pada dokter. Lebih baik sekarang kamu makan, supaya kuat merawat anak-anak. Kalau kamu ikut pingsan seperti tadi siap yang akan merawat anak-anak?"
"Mau aku suapi?"
"Tidak. Biar aku makan sendiri saja."
Ayash mengambilkan nampan berisi makanan ke hadapan Prita. "Makanlah."
Prita mulai menyuapkan makanannya. Ia tak terlalu berselera makan, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap makan. Benar apa yang dikatakan Ayash, dia harus sehat karena ada tiga anak kecil yang masih membutuhkannya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Mama Maya datang bersama Papa Reonal. Wajah mereka terlihat sangat cemas. Prita tidak terlalu suka melihat kedatangan Maya. Rasa sakit hatinya tentang masalah anak adopsi masih ada.
"Oh, Ya Tuhan. Aku sampai gemetar saat Ayash memberi kabar kalau Daniel dan Dean jatuh ke jurang. Dean, Sayang... apa kamu baik-baik saja?" Maya langsung menghambur memeluk Dean yang sedang duduk di ranjangnya.
"Badanmu sampai lecet-lecet begini dan banyak memar. Apa masih sakit?"
Dean menggeleng.
__ADS_1
"Kalian haris tetap cek Dean, siapa tahu ada luka dalam."
"Sudah, Ma. Dokter sudah mengecek semuanya." jawab Ayash.
"Daniel dimana?" tanya Reonal.
"Ada di kamar sebelah. Pak Ahmad yang menjaganya."
"Kalau begitu papa ke kamar sebelah dulu, mau melihat Daniel."
"Iya, Pa."
"Mama di sini dulu, Pa. Masih mau menemani Dean."
Reonal keluar menuju tempat Daniel.
"Ini ceritanya bagaimana kok dua anak kalian sampai bisa jatuh ke jurang? Main jauh-jauh ke tempat yang bahaya." Maya mulai mengomel. Ia tidak tahan kalau mendengar cucu-cucunya kenapa-napa.
"Namanya kecelakaan, Ma. Nggak ada yang mengharapkan kejadian seperti ini terjadi. Mereka juga masih anak-anak, belum tahu hal-hal yang bisa membahayakan mereka."
***** makan Prita rasanya menghilang. Sebagai menantu dia merasa terus dipojokkan dan dianggap tidak becus menjaga anak. Walaupun Mama Maya tidak secara langsung menyalahkannya, tapi karena perasaan Prita yang sedang sensitif ia jadi merasa yang sedang dimarahi.
"Ini kenapa lagi Leta bisa ada di sini. Jangan-jangan kejadian ini juga karena dia."
Leta yang awalnya masih ceria menemani Livy bermain wajahnya berubah murah. Rasa bersalah yang ia rasakan kembali muncul. Ia sadar, memang kejadian itu karena dirinya yang kurang waspada menjaga Daniel dan Dean. Saat kedua anak itu bermain, dia malah asyik mengumpulkan bunga-bunga liar untuk dirangkai menjadi mahkota. Leta merasa pantas untuk dipersalahkan.
"Mama memecat Leta karena memang dia tidak becus menjaga Livy. Kalian malah kembali mempekerjakannya. Terulang lagi kan sekarang? Bagaimana nanti kalau Daniel tidak sadar-sadar? Apa kalian tidak akan menyesal?"
"Mama.... ini rumah sakit."
Prita melirik ke arah Leta. Tampak punggungnya bergetar. Sepertinya wanita muda itu sedang menangis sambil menahan isakan. Ia hanya menatap ke tembok, tak berani menatap ke arahnya maupun Maya.
"Leta, tanggung jawab kamu! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Daniel, siap-siap kamu saya laporkan ke polisi!"
"Mama! Ini bukan salah Leta!" bentak Prita.
__ADS_1
Baru sekali ini dia bisa berbicara dengan nada setinggi itu di depan mertuanya. Semua tercengang ketika Prita bicara. Terlebih Maya, Prita selalu sopan dan lemah lembut di hadapannya. Walaupun terkadang Maya melontarkan kata-kata pedas, Prita tak pernah membantah. Kali ini, Prita berani berbicara dengan nada tinggi untuk membela seorang pengasuh?
"Kalau bukan salah Leta lalu salah siapa? Kamu sebagai ibu tapi sama sekali tidak mengkhawatirkan anakmu, ya? Mama seperti ini juga karena cemas dengan mereka, kamu malah membentak mama seperti itu."
Ayash langsung maju menarik mamanya untuk keluar dari ruangan itu.
"Sudah, Ma. Ini rumah sakit. Kenapa Mama malah mencari ribut di sini?"
"Siapa yang mencari ribut? Mama hanya cemas dengan anak-anak. Apalagi mereka berada di tangan orang yang tidak tepat seperti Leta. Apa kalian tidak peduli dengan anak-anak kalian?"
"Ayash kan sudah bilang, ini kecelakaan, bukan salah Leta. Kecuali kalau Leta sengaja mendorong mereka ke jurang, itu baru bisa disebut tindakan kriminal."
"Kelalaian juga suatu hal yang tidak bisa dimaafkan. Dan lagi, kenapa istrimu bisa jadi seperti itu? Dia tadi membentak mama, kan? Apa istrimu juga sedang tidak waras setelah berhasil mengajak kalian pergi dari mansion mama?"
Ayash mengusap kasar wajahnya. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan kesabaran terhadap mamanya sendiri. Tapi mengingat Maya adalah ibunya, Ayash tetap berusaha menjaga tutur katanya agar tidak menyakitinya.
"Ma, yang minta keluar dari mansion itu aku, bukan Prita. Please, biarkan kami mengatur rumah tangga kami sendiri. Kami sudah sangat dewasa untuk mengambil keputusan sendiri."
"Keputusan dewasa seperti apa? Seperti mempekerjakan Leta, orang yang sudah mama pecat? Itu keputusan fatal!"
"Ma.... "
"Sudah, sudah.... Mama mau melihat kondisi Daniel dulu."
Dengan perasaan kesal Maya meninggalkan Ayash dan masuk ke ruang perawatan Daniel. Di sana sudah ada Pak Agus dan Reonal yang sedang ngobrol.
"Bagaimana kondisinya, Pa?"
"Masih belum sadar."
Maya melihat Daniel yang terbaring di ranjang perawatan. Pada tangannya terpasang selang infus dan selang untuk transfusi darah. Kepala Daniel dibalut perban. Pada hidungnya juga masih terpasang selang oksigen.
Meskipun Maya selama ini kurang dekat dengan Daniel, tapi melihat kondisi anak sekecil itu harus dipasangi peralatan medis yang banyak membuatnya merasa empati. Tubuh kecil yang biasa terlihat lincah bermain kini tergolek tak berdaya di kamar rumah sakit.
Digenggamnya tangan kecil yang tak bertenaga itu. Air mata Maya luluh. Ia seperti merasa menyesal selama ini bersikap kurang baik terhadap Daniel. Bagaimanapun juga, Ayash telah mengatakan kalau Daniel adalah anaknya. Tapi dia tetap saja curiga hanya karena Daniel tak ada kemiripan sama sekali dengan ayahnya.
__ADS_1
"Bangun, Nak. Nanti oma belikan kamu mainan yang banyak."