
Tugas reader kasih vote
Tugas author bikin cerita
Deal? 😁
--------‐---------------------------------------------‐-----------------------
"Kenapa aku harus peduli dengan nasibmu?" ucap Prita dengan nada tegas.
"Kamu yang sudah berani melakukan sek*s bebas sebelum menikah kenapa aku yang harus repot? Hamil di luar nikah itu konsekuensi, bertanggung jawablah untuk perbuatanmu sendiri!"
Shuwan terkekeh, "Ternyata kamu tidak sebaik kelihatannya, ya. Tidak ada empati sedikitpun terhadap sesama wanita."
"Baik atau tidak baik itu relatif, tergantung orang yang menilainya. Sebaik apapun yang aku lakukan, pasti akan kamu anggap buruk karena kamu membenciku."
"Dasar wanita kurang ajar!"
Kemarahan Shuwan memuncak. Ia hendak menampar keras Prita, namun tangannya bisa ditangkis bahkan dipegang dengan kuat oleh Prita.
"Kamu mau menamparku?"
"Lepas!" Shuwan menghempaskan tangan Prita. Ia pegangi pergelangan tangannya yang sakit karena sedikit terkilir oleh ulah Prita.
"Sepertinya kamu tipe orang yang suka menindas orang yang lebih lemah. Aku tidak suka orang sepertimu!"
"Kalau memang benar kamu mengandung anak Bayu, sampaikan sendiri padanya, kenapa aku harus tahu? Selesaikan urusan kalian sendiri, aku tidak mau ikut campur!"
Prita meninggalkan Shuwan dengan penuh kekesalan. Otaknya sudah sangat ruwet memikirkan apakah benar Bayu menghamili Shuwan? Apa jangan-jangan impotensi hanya alasanya saja untuk menutupi semuanya? Kalau benar Bayu menghamili Shuwan, dia benar-benar akan minta cerai.
Prita melanjutkan latihannya dengan mood yang sudah kacau. Kedua temannya sampai kebingungan melihat perubahan sikapnya. Tadi, dia masih tertawa-tawa. Sekarang, hanya diam dengan wajah serius. Sepertinya karena percakapan dengan Shuwan tadi. Prita ditanya apa yang baru saja mereka bicarakan, tapi Prita tak mau menjawab. Tapi, Raeka dan Andin menebak apa yanhmg dikatakan Shuwan adalah sesuatu yang bisa mengganggu pikiran.
Saat waktu pulang tiba, Prita menolak satu mobil dengan Andin dan Raeka. Dia lebih memilih Bayu yang masih dalam perjalanan untuk menjemputnya.
Beberapa menit kemudian, Bayu datang dengan mobilnya. Prita memasuki mobil itu dengan raut kesal. Saat Bayu menciumnya, dia hanya diam tak membalas seperti biasa.
"Sepertinya istriku ini marah karena aku telat menjemput."
"Sudah, jangan dibahas. Jalankan saja mobilnya!" ucap Prita dengan nada ketus.
"Oke."
Bayu menuruti perintah wanita yang sepertinya sedang marah di sebelahnya. Tapi, lama kelamaan dia merasa bosan sendiri. Prita sedikitpun tak mau bicara. Ia membuang muka ke arah jendela, memandangi lalu lalang kendaraan sore itu.
__ADS_1
Sampai di rumah, Prita masih bersikap dingin padanya. Bayu tidak tahu, kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat Prita semarah itu. Apa hanya gara-gara telat menjemputnya?
Prita memasuki kamar mandi dengan mengabaikan keberadaanya. Sepertinya dia ingin mandi setelah berolahraga. Bayu semakin frustasi karena Prita tak mau bicara dengannya.
"Huh!" pekiknya.
Dilepaskannya kaos hitam yang ia kenakan, kemudian celananya hingga ia sekarang tela*njang. Ia hendak menyusul Prita ke dalam. Kalau sudah sama-sama di dalam kamar mandi, istrinya itu pasti tidak akan berkutik lagi.
Bayu membuka pintu penghubung kamar dengan walk in closet. Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Suara itu terdengar semakin keras saat Bayu semakin mendekatinya. Prita sedang mandi di bawah guyuran air shower.
Waow! Pemandangan yang indah ada di hadapannya. Pan*tat berisi itu seakan menariknya untuk mendekat. Perlahan ia bergabung di bawah pancuran air yang sama, memeluk pinggang Prita dari belakang. Sontak membuat wanitanya kaget.
"Ah! Kenapa masuk! Aku tidak mau mandi bersama!" Protes Prita.
Namun, ia sudah tidak bisa apa-apa. Bayu sudah menguasainya. Dia mengecupi lehernya sembari tangannya berkelana menyusuri permukaan tubuhnya bagian depan.
Prita marah. Namun, apa yang dilakukan Bayu juga membuatnya berga*irah. Ia ingin merutuki tubuhnya sendiri yang memberikan respon berbeda dengan pikirannya.
Prita tak bisa mengelak saat kedua puncaknya dimainkan oleh kedua tangan Bayu. Sesekali ia menge*rang nikmat. Apalagi saat miliknya yang dibawah ikut disentuh oleh jari-jari nakalnya. Satu jari yang mengusik miliknya membuat Prita seketika tak berdaya. Rangsa*ngan yang ia terima terlalu nikmat hingga tak ada ruang lagi untuk memikirkan kemarahannya. Baik tubuh maupun pikirannya kini berfokus menginginkan kenik*matan.
Lambat laun permainan yang Bayu berikan semakin intens, membuat Prita sudah tidak tahan dan akhirnya ia mencapai org*asme. Tubuhnya langsung lemas tak berdaya, untung ada Bayu yang menahannya. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Prita dipindahkan ke dalam bathtube berisi air hangat. Perasaannya menjadi lebih tenang. Bayu melakukan cara curang untuk meredam kemarahannya. Benar-benar curang.
Bayu memeluk Prita yang duduk di pangkuannya. Wanita itu tampak pasrah setelah mendapatkan org*asme pertamanya. Ia menciumi sepanjang leher hingga pundak sembari mengeratkan pelukannya.
"Iya." jawab Prita dengan nada lemah.
"Apa yang membuatmu marah? Tolong katakan agar aku menyadari kesalahanku."
"Tadi aku bertemu Shuwan."
Bayu sudah punya firasat buruk mendengar nama wanita manipulatif itu. Pasti ada yg sudah Shuwan lakukan hingga membuat Prita marah padanya.
"Apa dia mengganggumu?"
"Tidak, dia hanya mengajakku ngobrol."
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya dia sedang hamil."
Bayu mengerutkan dahinya, "Lalu kenapa kamu marah?"
__ADS_1
"Shuwan bilang dia sedang hamil anakmu!"
"Hah, apa?" Bayu tertawa mendengarnya. Shuwan hamil karenanya? Itu sungguh konyol.
"Bukannya aku sudah mengatakan semuanya padamu, kami tidak pernah benar-benar pacaran. Dia hanya memanfaatkanku, dan aku juga hanya memanfaatkannya."
"Ya, siapa tahu selama itu kamu sudah coba celap celup. Katanya kan kalian masih sering bertemu."
"Dulu punyaku tidak bisa tegak seperti sekarang, Sayang." Bayu sengaja menempelkan miliknya pada Prita agar dia paham. "Aku bersumpah tidak pernah melakukan hal itu dengan Shuwan."
Tidak pernah, tapi hampir pernah. Sayangnya waktu itu miliknya tiba-tiba lemas.
"Kamu tahu, wanita terakhir yang aku ajak berhubungan itu hanya kamu. Dan wanita yang aku taburi benihnya hanya kamu."
"Dulu aku memang lelaki baji*ngan, tapi aku tidak pernah menanamkan benihku secara sembarangan. Aku selalu memakai pengaman saat melakukannya."
"Kecuali denganmu. Aku memang sengaja melakukannya tanpa pengaman, agar kamu hamil dan tidak pernah lari dariku."
"Tapi kenyataannya kamu tetap lari. Aku jadi sangat frustasi. Kamu tidak tahu seberapa besar rasa cintaku untukmu."
Prita termenung sejenak, "Aku juga memang merasa ada hal yang aneh dengan Shuwan. Menurutku dia orang yang sangat aneh."
"Sudahlah, jangan pernah mendengarkan kata-katanya, dia hobi mempermainkan orang."
"Tetap saja aku merasa kesal, dia menyuruhku menjauhimu karena dia mengaku hamil anakmu."
"Ya, biarkan saja."
"Bagaimana kalau orang-orang mempercayai ucapannya? Kalian kan memang pernah masuk di TV dan mengaku pacaran."
"Ya, biarkan saja. Untuk apa kita orang mau mempercayai ucapannya atau tidak? Asalkan kamu percaya padaku, itu sudah cukup."
"Masalahnya kalau orang-orang percaya, nanti aku yang dituduh sebagai pelakor."
"Aku yakin sekali nanti banyak muncul berita di internet dengan judul yang aneh-aneh: Seorang Janda Beranak Tiga Berhasil Merebut Pengusaha Tampan dari Shuwan Mei."
"Hahaha.... Imajinasimu sangat tinggi, ya."
"Sepertinya, aku harus menunjukkanmu sesuatu."
Bayu mengangkat tubuh Prita dari dalam bathtube. Dengan tubuh yang masih basah, ia membawanya masuk ke dalam kamar, kemudian membaringkannya di atas ranjang. Ia mengambil tablet dari dalam tas kerjanya lalu membawanya ke atas ranjang.
Ia membuka-buka file di dalamnya di depan Prita.
__ADS_1
"Astaga! Kamu mau mengajakku menonton film po*rno?" reflek Prita menutup mata dengan kedua telapak tangannya ketika melihat sekilas dua orang yang sedang melakukan adegan dewasa.
"Buka matamu, perhatikan baik-baik siapa pemainnya." ucap Bayu dengan santai.