ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Mansion Tengah Hutan


__ADS_3

Prita duduk di dalam kelasnya. Anak-anak lain masih ribut membahas acara class meeting yang diselenggarakan sekolah. Prita tipe yang pasrah. Dia siap saja dimasukkan ke tim olahraga mana saja, baginya sama saja karena tidak ada satupun olahraga yang ia bisa.


"Dor!"


Prita sampai terlonjak kaget ketika Irgi datang mengagetkannya.


"Ngapain datang ke kelasku?"


Irgi membalikan bangku yang ada di depan Prita kemudian duduk tepat di hadapannya.


"Kenapa? Memangnya ada larangannya?"


"Kalau Raeka marah aku yang repot."


"Punya teman ganteng bisa bikin repot ya ternyata bukannya bangga." Dicubitnya pipi Prita dengan gemas hingga Prita kesakitan dan menepis tangannya.


"Kamu ikut lomba apa nanti?"


"Yah! Masih ditanya. Ya jelas disuruh ikut semuanya lah, biasa. Pusing aku. Makanya kabur aja ke kelasmu."


"Salah sendiri kan jago olahraga. Kalau ada acara begini disuruh ikut semua lomba. Remuk badanmu nanti."


"Bagianmu nanti yang mijitin aku, ya. Hehehe.... "


"Heh! Tak sudi."


"Kalau kamu sendiri ikut yang mana?"


"Nggak tahu.... Aku kan tidak bisa olahraga apapun. Jadi sama sajalah mau ditempatkan dimana. Katanya sih disuruh ikut tarik tambang."


"Hahaha.... orang kecil sepertimu disuruh ikut tarik tambang yang ada kamu yang ditarik sama tambang."


"Biarin lah, suka-suka ketua kelas yang atur. Paling juga cepet kalah. Lagian yang langganan juara kan kelasmu dan kelas Ayash."


"Prita!" seru Gio, ketua kelasnya.


"Ya?"


"Susulin Alinda ke gudang gih, bantu bawain matras."


Prita sempat berpikir, aneh banget disuruh bawa matras? Buat Apa? Masa mau senam lantai di dalam kelas? Memangnya ada lomba senam lantai juga?


"Iya, iya."


"Aku pergi dulu, Ir."

__ADS_1


Prita segera beranjak dari tempat duduknya. Betapapun permintaan itu aneh dan tak masuk akal, karena yang menyuruh adalah ketua kelas, dia tetap pergi ke gudang yang terletak di area belakang sekolah.


Sesampainya di sana, ternyata tidak ada Alinda. Yang ada malah Ilham, teman sekelasnya. Prita sudah menduga pasti dia ditipu Gio.


"Ta, aku mau bicara penting sama kamu."


"Bicara apa, Ham?"


Ilham berjalan mendekat. Prita mengambil langkah mundur. Tapi, Ilham terus saja bergerak mendekatinya. Prita ikut mundur hingga punggungnya membentur tembok. Posisi seperti ini yang selalu Prita takutkan. Mau nembak tapi maksa pakai acara mojokin orang.


"Mau nggak kamu jadi pacarku?"


Bugh!


Seseorang memukul Ilham hingga jatuh. Tangan Prita ditarik orang itu dan ia diajak berlari meninggalkan arah gudang.


"Irgi berhenti! Aku capek!"


Orang itu langsung menghentikan langkahnya. Prita masih tampak ngos-ngosan karena kelelahan berlari.


"Ilham pingsan nggak tuh, tadi?"


Prita melihat ke arah orang yang tadi menariknya. Dia kira Irgi, ternyata Bayu.


"Kenapa, kamu kecewa karena yang menyelamatkanmu aku?"


Bayu menarik Prita hingga tubuh mereka menempel.


'Selisih usia kita kan sepuluh tahun, kok dia jadi anak SMA?' Prita masih heran kenapa Bayu ada di sekolahnya dan memakai seragam sekolah yang sama dengannya.


"Kamu kok cantik, sih.... Mau nggak kalau jadi pacarku aja?"


"Apa-apaan sih? Kok kamu bisa di sini? Ini kan sekolahan."


"Memangnya kenapa? Aku kan suka kamu. Jadi kemanapun kamu pergi, aku akan mengikutimu."


Pikiran prita masih tidak bisa menerimanya secara logis. Aneh dan aneh.


"Aku cium, ya.... "


Bayu mendekatkan bibirnya pada bibir Prita. Reflek Prita ingin menghindar. Namun, Bayu sudah lebih dulu memegangi leher dan mengunci pinggangnya hingga ia tak bisa bergerak.


"Hah apa? Hua..... !"


Cup!

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di bibirnya.


"Ah!"


Prita terhenyak. Matanya terbuka. Nafasnya terengah-engah. Ternyata itu hanya mimpi. Dan ia menyadari kalau dirinya masih ada di dalam mobil. Dia menengok ke samping. Ada Bayu di sebelahnya.


"Ah!" teriaknya lagi. Dia kaget karena Bayu ada di sampingnya setelah ia memimpikannya bahkan dalam mimpinya Bayu menciumnya.


"Ah! Livy mana? Daniel Dean!"


Prita jadi panik sendiri karena anak-anaknya menghilang, tak ada di mobil. Hanya ada dirinya dan Bayu saja di dalam mobil.


"Mereka ada di dalam, kenapa teriak-teriak terus dari tadi."


Bayu mengelus-elus belakang kepalanya. Saat ia mencium bibir Prita, tiba-tiba Prita terbangun dan mendorongnya keras hingga kepalanya membentur mobil. Bayu tidak menyangka Prita akan terbangun gara-gara ciumannya.


'baru cuma nempel, sialan!' umpatnya.


Saat melihat Prita dan anak-anak tertidur, Bayu langsung memutuskan membawa mereka ke mansion yang memang jaraknya cukup jauh. Tujuannya agar mereka tetap bisa istirahat dengan nyaman. Setelah sampai mansion, Daniel dan Dean terbangun lebih dulu. Bayu menyuruh anak buahnya mengantarkan kedua anak itu ke kamar yang belum lama Bayu bangun untuk Daniel. Sementara, Livy masih tertidur di pangkuan Prita. Bayu menyuruh seorang pelayan untuk memindahkan Livy agar tidur di dalam.


Prita yang masih tertidur Bayu biarkan tetap di dalam mobil. Dia terlihat sangat kelelahan. Entah apa yang seharian dikerjakan Prita, hingga tidurnya terlihat sangat nyenyak.


Memandangi Prita yang tertidur di sampingnya, membuat Bayu tidak tahan untuk mendekatinya. Segala yang ada pada tubuh Prita membuatnya tertarik. Terutama bibirnya. Bibir tipis dan kecil itu seperti menariknya untuk disatukan dengan bibirnya. Ketika baru sedikit mendaratkan ciuman, Prita terbangun dan mendorong kuat dirinya.


"Ini di mana?" tanya Prita.


"Turun dulu, nanti kamu akan tahu."


Bayu lebih dulu turun dari mobil. Prita menyusul kemudian.


Prita mematung memandangi rumah besar di hadapannya. Tempat itu sangat familiar baginya. Tempat yang sangat tidak ingin ia kunjungi lagi seumur hidupnya. Dan kini, ia kembali berada di sana. Mansion tengah hutan. Tempat Bayu pernah menyekapnya dulu.


"Jangan tegang begitu ah! Hari ini aku mengundang kalian sebagai tamu, bukan untuk menculik kalian."


Bayu menarik tangan Prita, memaksanya masuk ke dalam mansion. Prita sendiri merasa belum siap masuk tempat itu lagi. Ingatan-ingatan buruk di masa lalu muncul kembali dalam pikirannya. Memasuki area aula utama, di sana dulu berjajar puluhan anak buah Bayu yang mengelilinginya dan Ayash. Prita melihat sendiri Ayash dipukuli beramai-ramai hingga terkapar tak sadarkan diri.


"Berat banget sih langkahnya. Aku sampai merasa sedang menarik sapi. Mau aku gendong saja apa?" keluh Bayu karena sedari tadi Prita seperti berusaha melawan tarikan tangannya.


Prita menepis tangan Bayu, "Aku bisa jalan sendiri. Tunjukkan dimana anak-anak berada."


Bayu mengarahkan telunjuk tangannya pada kamar lantai dua yang terletak di sebelah kamar utama. Prita langsung berlari menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar yang tadi Bayu tunjuk.


Perasaannya lega setelah melihat anak-anaknya sedang bermain. Ternyata Livy juga sudah bangun. Beberapa pelayan sedang menemani anak-anaknya bermain.


Seingat Prita, dulu kamar itu adalah kamar cadangan. Sekarang sudah diubah menjadi kamar anak lengkap dengan mainannya. Mengapa Bayu sampai membuatkan kamar anak di mansionnya? Apa dia benar-benar ingin mengajak Daniel tinggal bersamanya?

__ADS_1


__ADS_2