ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Hari Pernikahan Irgi dan Raeka


__ADS_3

"Wah, lihat ini. Adikku sangat cantik sekali." puji Rafa ketika memasuki ruang make up Raeka.


Prita memakai gaun berwarna putih dengan hiasan payet swaroski yang sangat indah. Tatanan rambut dan make up-nya sangat simpel, namun tetap memperlihatkan kecantikan Raeka. Dia memang sudah cantik dari lahir, tak perlu banyak dipoles juga sudah cantik.


"Kakak tidak berencana untuk merusak hari pernikahanku, kan?" Raeka melirikkan matanya tajam ke arah kakaknya.


"Tidak, tidak.... mana berani aku melakukannya. Bisa mati dicekik ayah nanti."


"Aku lebih suka ayah membuat Kakak dimiskinkan dan dicoret dari kartu keluarga."


"Oh tidak.... aku tidak bisa hidup jauh dari uang. Kamu jangan menjadi adik yang kejam."


"Tergantung dengan sikap Kakak nanti. Pokoknya, jangan berbuat onar karena banyak tamu penting ayah yang datang."


"Iya, iya, Nona cantik. Ngomong-ngomong setelah acara ini kalian mau menginap di hotel mana?"


"Kenapa tanya-tanya? Apa aku perlu memberi tahu Kakak? Apa Kakak ingin memata-matai kami?"


"Wuh, pikiranmu liar ya. Siapa juga yang tertarik melihat acara unboxing."


"Aku kan hanya memastikan kalian mendapatkan hotel yang paling nyaman. Kalau kalian belum dapat tempatnya, bisa aku rekomendasikan hotel terbaik di kota ini. Jangan meremehkan kakakmu."


"Ngapain di sini, Kak?" tampak Irgi melongok di pintu.


"Hais, kenapa tanya begitu? Memangnya tidak boleh melihat adikku sendiri?"


Setelah mengucapkan kalimat itu Rafa langsung pergi. Sementara, Irgi masuk ke ruangan memandangi calon pengantinnya yang sangat cantik.


"Kenapa memandangiku seperti itu?"


"Karena kamu sangat cantik."


Raeka terkekeh karena jarang-jarang Irgi menyebutnya cantik.


"Aku ingin sekali cepat-cepat membawamu ke kamar hotel setelah ini. Apa kita kabur saja sekarang ya? Rasanya aku sudah tidak sabar."


"Kamu tidak memikirkan orang tua kita yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara ini? Banyak rekan bisnis penting juga yang datang masa mau kita tinggal."


"Baiklah, aku akan berusaha menahannya."

__ADS_1


Irgi memberikan sebuah kotak berbentuk hati kepada Raeka.


"Apa ini?"


"Hadiah dari Prita."


"Apa dia tidak bisa datang?"


Irgi menggeleng. Prita dan Ayash memang masih sibuk mengurusi Daniel yang sedang menjalani proses kemoterapi. Mereka tidak bisa datang ke acara bahagia Irgi dan Raeka.


Acara pernikahan Irgi dan Raeka berlangsung meriah. Sebagai anak dari seorang pengusaha kaya raya Rudi Wijaya, pernikahan Raeka mendapat sorotan dari media lokal. Ketampanan dan kecantikan kedua pengantin membuat undangan yang hadir berdecak kagum. Keduanya bukan berasal dari kalangan selebriti, tapi wajah mereka memiliki standar yang melebihi publik figure.


Pernikahan Irgi dan Raeka diselenggarakan di Greenland Paradise Hotel. Tamu undangan yang datang kebanyakan dari kalangan pengusaha.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Irgi dan Raeka bisa bernafas lega di dalam satu kamar hotel. Seluruh tubuh rasanya mau patah karena seharian harus berdiri menghormati satu per satu tamu yang hadir.


Kini mereka hanya berdua di salah satu kamar hotel Greenland Paradise yang memang khusus dipersiapkan untuk mereka berdua.


Irgi merebahkan tubuhnya di ranjang. Kedua bola matanya terus memandangi ke arah Raeka yang masih sibuk melepaskan satu per satu aksesoris yang melekat di kepalanya. Rambut coklat miliknya itu dibiarkan terurai ke belakang dengan ujung bergelombang.


"Ra.... " panggil Irgi.


"Kenapa, Sayang?"


Panggilan 'sayang' dari mulut Raeka terdengar sangat manis di telinganya.


"Buka bajunya dong.... Aku mau lihat."


Momen romantis yang terbayang di otak Raeka tiba-tiba menguap karena permintaan konyol Irgi. Raeka langsung menangkupkan kedua tangannya di dada. Irgi terlalu mesum.


"Kok malah ditutupi? Kamu mau aku yang bantu lepas baju?" Irgi sudah bangkit dari rebahannya. Dia bersiap ingin menghampiri Raeka tapi wanita itu memberi kode dengan tangannya agar dia tetap diam di tempatnya.


"Irgi, kamu nggak bisa bertindak normal. Mesum banget sih!"


"Mesum apanya? Kita kan sudah suami istri. Kamu lupa? Masa mau melihat istri melepas baju tidak boleh?"


Wajah Raeka memerah. Irgi memang tidak pernah berubah. Dia suka mengatakan apa yang ada di otaknya secara vulgar. "Ya kan aku malu. Masa hal seperti itu mau dilihat."


"Oh, kamu malu. Kalau begitu aku dulu deh yang kasih contoh biar kamu nggak malu."

__ADS_1


"Ah!" Raeka menjerit dan langsung menangkupkan kedua telapak tangan menutupi wajah ketika Irgi mulai melepaskan satu persatu kancing bajunya sendiri.


Irgi terkekeh melihat reaksi Raeka. Bukan Irgi namanya kalau dia hanya berhenti sampai di situ. Dia turun dari ranjang, berjalan mendekati arah Raeka dengan bertelanjang dada. Tentu saja membuat Raeka langsung berbalik badan.


Irgi terus tertawa. Ia melepas sendiri celana yang dikenakannya hingga sekarang tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Dipandanginya punggung Raeka. Ia tarik resleting gaun putih itu dengan satu kali tarikan. Raeka terkejut dengan apa yang dilakukan Irgi.


"Irgi" Raeka berbalik badan sambil memegangi baju di bagian dadanya yang hampir melorot.


"Ah! Irgi!" Dia kembali berbalik lagi ketika menyadari Irgi sudah tidak memakai pakaian.


Irgi semakin puas tertawa. Ia bisa melihat punggung Raeka yang telah terekspose. Sengaja ia peluk Raeka dari belakang sembari menciumi punggung itu.


"Irgi, hentikan. Malam ini kita harus tidur dan beristirahat."


"No, malam ini kita tidak akan tidur."


"Aku belum siap melakukannya malam ini." Raeka semakin merinding dengan apa yang dilakukan Irgi. Ciuman yang Irgi berikan membuat sekujur tubuhnya terasa seperti mendapat sengatan listrik.


"Kalau begitu aku yang akan membuatmu siap."


Kedua tangan Irgi berusaha melepaskan gaun yang Raeka kenakan. Raeka mati-matian mempertahankan agar gaun tidak terlepas dari tubuhnya. Namun, tenaga Irgi lebih kuat darinya. Akhirnya gaun putih itu lolos dari tubuhnya. Hanya tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuh Raeka.


Raeka berusaha berlari ke arah kamar mandi. Irgi lebih dulu mendapatkan tangannya. Ia memojokkan Raeka pada dinding kamar. Diberikannya ciuman dan ******n kecil pada bibir Raeka. Sesekali ia mengecupnya dengan kuat hingga terdengar lengkuhan dari bibir Raeka. Tangannya tidak tinggal diam. Pakaian dalam yang Raeka kenakan sudah berhasil Irgi singkirkan tanpa Raeka sadari.


Irgi puas melihat Raeka yang nafasnya masih tersengal-sengal karena perbuatannya. Menurutnya, dia terlihat sangat seksi.


"Darimana kita harus memulai? Apa di kamar mandi atau di kasur dulu?" bisik Irgi dengan nada sensual.


Wajah putih Raeka bersemu merah. Perbuatan Irgi membuatnya merasa sangat malu namun juga tidak berdaya.


Selama berpacaran, mereka tak pernah melakukan sejauh itu. Hanya satu kali saat Irgi marah, dia pernah menelanj*nginya dan mengajaknya mandi bersama. Tapi Irgi tak melakukan apapun lebih dari itu. Perasaan Raeka saat itu takut. Kelakuan Irgi yang seperti itu sangat menakutkan.


Kali ini, perlakuan Irgi berbeda. Bukan rasa takut yang ia rasakan, tapi lebih kepada rasa malu. Ini adalah malam pertamanya sebagai seorang istri. Malam pertamanya akan mendapatkan sentuhan dari Irgi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia hanya merasa gugup untuk menghadapinya. Apalagi sifat Irgi yang blak-blakan membuatnya semakin gugup.


Irgi mengangkat tubuh Raeka. Reflek Raeka mengalungkan tangannya ke leher Irgi. Keduanya saling berciuman, memagut bibir bergantian. Sesekali lidah mereka beradu. Irgi membawa Raeka ke atas ranjang. Dia rebahkan wanita itu dengan perlahan tanpa melepaskan ciuman mereka.


"Malam ini kamu sudah siap menerimaku, kan?"


Raeka hanya mengangguk pelan. Mukanya sudah sangat memerah karena hasrat dan rasa malu yang sudah bercampur jadi satu.

__ADS_1


Irgi kembali menyatukan bibir mereka. Tangannya menjelajah setiap lekukan indah tubuh Raeka tanpa melewatkan satu inchi. Malam ini akan menjadi malam yang indah dan panjang bagi kedua pengantin baru itu.


__ADS_2