
"Apa semuanya sudah beres?"
Ayash menyesap rokoknya di balkon rumah Bayu malam itu. Selesai makan malam, Ayash, Bayu dan Irgi berpindah ke balkon lantai atas untuk merokok agar tidak mengganggu orang rumah dengan kepulan asap yang mereka ciptakan.
"Ya, Harlan melakukannya dengan sangat baik. Terima kasih atas bantuanmu." kali ini seperti pertama kali bagi Bayu untuk mengakui kebaikan orang lain dan bahkan bisa berterima kasih dengan benar.
"Aku tidak melakukannya untukmu, tapi untuk anak-anak. Tidak perlu berterima kasih."
"Lalu.... Bagaimana dengan orang yang katanya jendral itu?"
Bayu tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Irgi. Setiap kali mengingat sosok orang itu, ingin rasanya ia tertawa puas. Dia orang yang paling tidak ingin melepaskan Bayu demi ambisi pribadinya. Tanpa banyak orang tahu, ada banyak kejahatan yang disembunyikannya.
"Aku hanya memberi sedikit petunjuk kepada Harlan tentang kemungkinan pelecehan yang dilakukan oleh jedral itu. Dan Harlan bisa menguak beberapa kasus yang ditutupinya secara bersamaan. Dia pengacara paling sadis yang pernah aku temui sampai saat ini. Sepertinya dia tidak takut punya banyak musuh."
"Yang aku dengar, jendral itu terlibat kasus penyuapan dan korupsi dana pengadaan persenjataan nasional."
"Selain itu, kasus jendral itu memperkosa dan membunuh anak mantan sopirnya juga kembali diproses. Kabar selama ini kan dia mengelak berita itu. Dia berdalih anak sopirnya melakukan hubungan terlarang dengan pacarnya lalu bunuh diri."
"Sementara sopirnya sendiri ia jebloskan ke penjara dengan tuduhan pencurian."
"Sempat saat ia melakukan kunjungan ke dalam lapas, mamtan sopirnya mengamuk dan hampir membunuhnya dengan ujung sendok yang diasah hingga lancip menyerupai pisau. Membuatnya harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan jahitan."
"Seharusnya dia mati saja sekalian." gumam Ayash
"Jangan.... Orang seperti itu tidak pantas untuk langsung mati. Biarkan di dunia dia merasakan beban mental saat nama baiknya yang diperjuangkan sejak dulu tiba-tiba hancur dan dihujat banyak orang."
"Pemikiranmu seperti psikopat." Ayash menghisap sesapan terakhir rokoknya yang hampir habis. Lalu, sisanya ia buang ke dalam asbak. "Jadi, kamu tidak perlu lagi kan untuk kembali ke Kota J?"
"Ya, aku sudah tidak perlu lagi ke sana. Mereka sudah membersihkan namaku dan membebaskan semua tuntutan terhadapku."
"Tolong jangan kembali melakukan hal-hal semacam itu." Ayash mengatakannya dengan nada penuh kepedulian. Bukan peduli kepada orang yang ada di hadapannya, melainkan peduli kepada Daniel. Bagaimanapun tingkah Bayu, tetap Daniel juga akan mendapatkan imbasnya.
Bayu kembali menyunggingkan senyum. Ia seperti sedang dinasihati oleh orang yang lebih muda darinya, "Jangan khawatir, kalau bukan karena terpaksa, sejak awal aku tidak akan pernah mendekati hal-hal seperti itu."
"Oh, aku kira itu hobimu sejak dulu. Soalnya wajahmu mendukung untuk peran pria antagonis." celetuk Irgi.
Bayu berdecih mendengar ucapan Irgi.
"Sayang.... Ayo pulang.... "
Dari arah pintu kaca ada Raeka yang berdiri di sana. Menyadari kehadiran istrinya, Irgi buru-buru mematikan rokoknya.
"Aku pulang dulu, ya. Istriku sepertinya sudah tidak sabar untuk mengajakku olahraga malam."
Plak!
Ayash memukul kepala Irgi, "Aku juga akan ikut pulang kalau begitu."
Mereka berdua pamit kepada Bayu yang ada di sana.
Bayu berjalan membuntuti tamunya dari belakang. Di area ruang tengah sudah ada Prita dan anak-anaknya yang sepertinya juga hendak mengantar kepulangan tamu mereka.
"Ta, aku pulang dulu, ya." Raeka memeluk dan mencium pipi kanan kiri Prita dan juga Livy.
"Terima kasih ya, Ra. Kapan-kapan main lagi."
__ADS_1
"Oke, nanti aku kabari kalau ada waktu, kita hang out bareng."
"Daniel, Dean.... Mama Raeka pulang dulu.... "
"Hati-hati di jalan Mama Princess.... " ucap Dean.
Raeka tertawa setiap mendengar Dean menyebutnya Princess.
"Aku pulang, Ta. Raeka sudah tidak sabar untuk.... "
Plak!
"Aduh!" belum sempat Irgi menyelesaikan kata-katanya, Ayash kembali memukul kepalanya.
"Kami pulang dulu, Ta." ucap Ayash.
"Terima kasih untuk semuanya." Prita berkata dengan mata berbinar-binar.
Ayash mengusap puncak kepala Prita, "Jangan memikirkan hal-hal yang berat lagi. Nikmati saja hari-harimu dan jaga anak-anak."
Prita mengangguk.
"Livy, papa pulang dulu ya, Sayang." Ayash mencium anak perempuannya dengan penuh cinta. Livy membalasnya dengan pelukan.
"Daddy, malam ini Daniel dan Dean ikut Papa, ya.... Boleh, kan?" ucap Daniel dengan keras.
Bayu sedikit tertegun mendengar permintaan anaknya. Sebenarnya, ia masih kangen dengan putranya itu, tapi ternyata Daniel ingin pulang bersama Ayash.
"Daniel, ayahmu baru pulang. Apa kamu tidak ingin dengan ayahmu dulu? Katanya kamu kangen dengan ayahmu.... "
"Apa tidak apa-apa?" Ayash menoleh ke arah Bayu.
"Tidak apa-apa kalau itu kemauan Daniel." Bayu mempersilakan Ayash membawa Daniel dan Dean bersamanya.
"Kamu jangan marah dengan Daniel ya, Sayang.... " ucap Prita setelah semua tamunya pulang. Kini tersisa dirinya, Bayu, dan Livy yang sudah mulai terlelap dalam gendongannya.
"Aku tidak marah."
Mulut Bayu boleh berkata seperti itu. Tapi, dari raut wajah yang ditunjukkannya, jelas kalau Bayu tampak kecewa karena anaknya pergi saat ia baru saja pulang.
"Dalam minggu ini papa mereka akan ulang tahun. Makanya mereka berdua ingin menemani ayahnya. Tadi mereka sudah mengatakannya padaku."
"Sebenarnya Daniel juga kangen denganmu. Tapi katanya dia ingin mamanya kangen-kangenan dulu sama daddy-nya sampai puas. Kalau ada mereka takutnya mengganggu."
Bayu membulatkan matanya, "Dia bilang seperti itu?"
"Ya.... Makanya aku juga sangat kaget."
Tidak sabar Bayu ingin memeluk istrinya, namun Prita menghentikannya.
"Di rumah masih ada pelayan, jangan sembarangan peluk-peluk kalau tidak di kamar. Lagi pula, Livy baru saja tidur."
Bayu mengurungkan niatnya.
"Sini biar aku yang gendong Livy dan kita pindahkan ke kamarnya."
__ADS_1
Bayu mengambil Livy dari gendongan Prita. Ia membawa anak itu seperti tidak ada beban, terlihat sangat ringan.
"Ayo, Sayang.... Kita ke atas untuk kangen-kangenan."
Bayu mengerlingkan sebelah matanya dengan genit sembari melangkahkan kaki menapaki tangga menuju lantai atas. Prita hanya bisa menahan tawa dengan kelakuan suaminya yang seperti itu.
*****
"Shu.... Tolong aku."
Tiba-tiba saja malam ini Moreno datang ke apartemen Shuwan tanpa ia minta. Biasanya, sampai Shuwan memohon-mohon juga Moreno tidak akan mempedulikan permintaannya. Padahal, terkadang ia merasa kesepian ingin disayang dalam kondisinya yang sedang hamil atau ngidam menginginkan sesuatu. Moreno tak pernah sekalipun mengindahkannya.
"Apa.... yang bisa aku bantu." Shuwan berkata dengan raut wajah yang masih belum paham dengan kemauan Moreno.
"Kamu berteman baik dengan Raeka, kan?"
"Tidak, kami tidak berteman baik." kilah Shuwan.
"Tidak mungkin, kalian pasti berteman baik. Dia sampai menemuiku agar aku bertanggung jawab terhadap kondisimu. Raeka orang yang tidak seperti itu, tapi sampai ikut campur tangan dengan urusan kita. Itu artinya dia menganggapmu spesial."
Shuwan tertegun. Dia tak pernah meminta bantuan kepada Raeka untuk melakukan apapun. Rasanya tidak percaya dia bisa sejauh itu mempedulikan dirinya.
"Lalu, untuk apa kamu kemari?"
"Aku dikeluarkan dari timnas panahan."
Perkataan itu bukan sesuatu yang Shuwan harapkan. Dia berharap Moreno datang karena mengkhawatirkan dirinya. Ternyata dia masih tetap sama, hanya memikirkan tentang karirnya.
"Apa hubungannya denganku dan Raeka?"
"Aku yakin aku dikeluarkan karena Raeka. Dia membenciku karena belum mau menikah denganmu. Makanya dia merengek kepada ayahnya yang menjadi salah satu sponsor agar mengeluarkan aku."
Moreno memegang kedua tangan Shuwan dan binar matanya memancarkan harapan, "Shu, kamu masih percaya kan, kalau aku pasti akan menikahimu. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk pernikahan kita."
"Ah, berapa usia bayi kita?" Moreno mengelus-elus perut Shuwan yang sudah membesar.
Shuwan ingin tertawa dengan lelucon itu. Anak yang selama ini tidak Moreno pedulikan, bahkan ia ingin menggugurkannya, sekarang ia jadi kelihatan peduli dengan anak itu. Moreno bahkan tidak tahu berapa bulan usia kandungannya. Seharusnya dia bahagia mendapat kunjungan dari Moreno, namun ketika lelaki itu hanya membahas karirnya, ia sungguh sangat kecewa.
"Aku tidak bisa membantumu." tegas Shuwan.
"Coba dulu, Raeka pasti akan luluh kalau kamu yang memintanya."
"Katakan padanya kalau hubungan kita baik-baik saja dan aku akan segera menikahimu. Dia pasti akan luluh."
"Aku sudah tidak ingin mendapat pertanggungjawabanmu. Aku memutuskan untuk membesarkan sendiri anakku."
"Apa!? Kamu tega dia tumbuh tanpa ayah? Aku ayahnya?"
"Ayahnya? Kenapa baru sekarang kamu muncul? Kemana saja selama delapan bulan ini? Bukankah kamu malah menyuruhku untuk menggugurkannya? Aku anggap kamu bukan lagi ayahnya setelah mengatakan hal itu!"
Moreno mengacak rambutnya, "Maafkan aku, aku khilaf berkata seperti itu."
"Shu.... Bantu aku mengembalikan karirku. Aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak kita. Percayalah."
"Bantu aku, Shu.... "
__ADS_1