
Nafas Shuwan dan Moreno masih terengah-engah setelah menyelesaikan pergulatan erotis mereka. Mungkin mereka pasangan yang paling tidak tahu diri karena memutuskan tetap lanjut meskipun ada orang lain yang memergoki perbuatan mereka. Jika itu ayah Shuwan, sudah pasti Moreno yang akan ditembak di tempat oleh ayahnya.
"Shu, siapa lelaki tadi?" tanya Moreno.
Sebenarnya Shuwan masih ada rasa kesal pada Moreno. Dia kekeh meneruskan meskipun Shuwan telah memintanya untuk berhenti.
"Dia lelaki yang mau ayah jodohkan denganku." jawab Shuwan datar.
"Baguslah kalau begitu. Dia sudah melihat kita sedang melakukan hal yang tidak-tidak. Semoga saja dia akan langsung kabur darimu."
"Sebaiknya kamu mandi dulu. Biar aku menyelesaikan urusanku dengannya."
"Baiklah."
Moreno mencium kening Shuwan sebelum ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Shuwan menghela nafas. Posisinya saat ini sangat rumit. Jika putus dengan Bayu, ayahnya tidak akan menyetujui hubungannya dengan Moreno. Jika tidak putus dengan Bayu, Moreno sendiri yang akan meminta putus darinya.
Akhirnya Shuwan memutuskan untuk turun dari ranjangnya. Diambilnya bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya. Ia berjalan keluar kamar kemudian mengunci pintu kamar dari luar. Membiarkan Moreno tetap berada di dalam.
"Kamu tidak boleh merokok di sini." ucap Shuwan ketika melihat Bayu sedang duduk di sofa ruang tamunya.
"Oh, oke." Bayu langsung mematikan cerutunya.
Bayu memandangi Shuwan yang berjalan ke arahnya dengan langkah yang cukup tenang. Ya, terlalu tenang untuk seorang pacar yang baru saja ketahuan selingkuh. Wanita itu bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Hal itu membuat Bayu semakin merasa tertarik.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah melihat perbuatan kami barusan?"
Shuwan duduk di sebelah Bayu. Dia merasa respon Bayu juga terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat pacarnya berhubungan dengan lelaki lain. Tapi sikap lelaki yang seperti itu terlihat lebih menyeramkan. Ia lebih memilih Bayu memarahinya serta mengeluarkan kata-kata umpatan.
"Normalnya aku akan marah, kan? Seharusnya aku sudah menamparmu dan memukuli lelaki itu sampai babak belur. Tapi aku ingin mendengar penjelasanmu dulu."
Shuwan menghela nafas, "Apa kamu terangs*ng saat melihat kami?"
Pertanyaan yang menarik bagi Bayu. "Tidak. Milikku sama sekali tidak bereaksi. Dia masih tidur."
"Kamu tahu kan, aku wanita normal?"
__ADS_1
"Ya, tentu."
"Aku juga mendambakan hubungan yang tidak bisa kamu penuhi. Aku harap kamu mengerti kenap aku bisa melakukannya dengan lelaki lain."
Bayu terperangah dengan jawaban frontal Shuwan. Dia seperti sedang minta ijin padanya untuk terus melanjutkan hubungan itu dengan lelaki tadi karena dirinya tidak mampu memuaskannya.
"Kamu kejam sekali, Shu. Masa lelaki setampan dia hanya kamu anggap sebagai dild* hidup? Aku lihat permainannya tadi juga cukup lincah juga."
Rasa malu Shuwan sudah sampai di ubun-ubun. Tapi demi menjaga imej diri dia tetap berusaha tenang merespon kata-kata Bayu.
"Kalau kamu sanggup melakukannya, aku juga tidak mungkin mencari lelaki lain."
Bayu merasa dipersalahkan karena kondisinya. Seandainya dia masih seperkasa dulu, sudah pasti Shuwan akan dia buat tidak bisa berjalan selama berhari-hari karena perkataannya. Bayu hanya bisa memperbesar kesabarannya.
"Jadi, apa maumu sekarang dengan lelaki yang memiliki disfungsi ereksi sepertiku? Apa kamu mau kita putus?"
"Aku tidak mau kita putus."
Bayu kembali ternganga mendengar jawaban Shuwan. Dia wanita yang unik. Meskipun sudah tertangkap basah berbuat salah, dia tetap bersikap innocent.
"Hahaha.... apa kamu kira itu adil untukku? Aku sudah berbaik hati memberikan setiap uang yang kamu minta, tapi kamu malah berselingkuh dengan lelaki lain karena aku tidak bisa melakukannya denganmu? Setidaknya kebaikanku harus kamu balas dengan kesetiaan."
"Aku akan melakukan hal apapu yang bisa membuatmu merasa diperlakukan adil."
Ucapan kali ini makin menarik, "Oh, ya? Contohnya apa?" tanya Bayu.
"Sebutkan saja hal yang kamu inginkan. Kalau aku bisa memenuhinya pasti akan aku lakukan."
"Baiklah, kita lihat."
"Aku sudah memberikanmu jumlah uang yang besar beberapa kali. Berikan bagian saham hotelmu untukku sebagai gantinya."
Bayu ingin mengetes Shuwan apa wanita itu benar-benar mau mempertahankannya atau tidak. Shuwan langsung menatap ke arahnya. Meminta bagian saham bukanlah sesuatu yang kecil. Shuwan masih memikirkannya.
"Kenapa kamu sepertinya sangat menyukai hotelku?"
"Ini adalah masalah bisnis. Aku seorang investor. Melihat prospek hotelmu yang sangat bagus, tentunya aku sangat tertarik untuk memiliki bagian saham di sana."
__ADS_1
"Akan aku berikan 5% sahamku untukmu."
Penawaran itu cukup menarik bagi Bayu, tapi masih kurang. "Itu terlalu sedikit dibandingkan dengan uang yang sudah aku keluarkan dan pengorbanan perasaan yang kedepannya akan aku lakukan."
Shuwan kembali menghela nafas, "Baiklah, bagaimana kalau 8%? Kalau kamu masih mau meminta lebih, artinya kamu sangat keterlaluan."
Bayu menyunggingkan senyum, "Baiklah, deal."
"Jika kamu sewaktu-waktu membutuhkan uang untuk memajukan hotel, jangan sungkan untuk memintanya padaku. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk pacarku." Bayu menepuk-nepuk kepala Shuwan.
"Bisa kamu sebutkan kenapa kamu tidak mau putus denganku?"
"Karena aku menyukaimu." lirih Shuwan.
"Itu alasan konyol. Kalau kamu menyukaiku, tidak mungkin kamu tidur dengan lelaki lain."
"Terserah kamu percaya atau tidak. Aku memang menyukaimu sejak pertama bertemu denganmu. Siapa yang tidak jatuh cinta melihat ketampananmu di samping itu kamu juga kaya. Aku juga terpesona dengan semua itu."
"Meskipun kamu memiliki sisi lemah, aku masih menyukaimu. Walaupun memang kebrengsekanku aku memilih tidur dengan lelaki lain untuk memenuhi hasratku semata."
"Tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu. Aku sangat menyukaimu."
Shuwan menggenggam tangan Bayu, "Jika kamu sudah sembuh, aku akan berhenti melakukan ini dengan lelaki lain. Aku akan menjadi milikmu seutuhnya." sorot mata Shuwan sangat meyakinkan.
Bayu menyunggingkan senyum. Ia mencium sekilas pipi kakan Shuwan. "Aku percaya padamu."
"Kalau begitu, aku akan pulang dulu."
"Ah! Sebentar. Aku ingin bertanya. Bagaimana caramu bisa tahu dimana aku tinggal dan.... bagaimana caramu bisa masuk ke apartemen ini?"
Bayu tertawa, "Hahaha.... Rasa ingin tahuku sangat tinggi. Terutama pada wanita yang sangat aku cintai. Menemukan alamatmu bahkan mengetahui kode apartemenmu adalah keahlianku. Itu perkara yang sangat mudah untukku."
"Sudah, ya. Aku pulang dulu. Lebih baik kamu mengecek lelaki yang ada di dalam kamarmu. Sejak tadi dia sepertinya menggedor-gedor pintu. Aku khawatir dia akan lompat dari jendela karena frustasi."
Bayu melayangkan sebuah senyuman sebelum meninggalkan apartemen itu. Ia kelihatan bahagia. Sejak tadi senyum tak lepas dari bibirnya. Entah apa hal lucu yang sedang membuatnya bahagia.
Apakah itu adegan yang dilihatnya secara langsung atau karena dia berhasil mendapatkan saham tambahan di Holly Hotel. Atau bisa juga karena hal sialan miliknya yang tidak sedikitpun bergerak ketika menonton secara live. Kalau mengingat itu Bayu berubah kesal dan ingin berteriak.
__ADS_1