
"Tuan, saya mendapatkan informasi baru."
Salah seorang anak buah Bayu malam itu mendatanginya di mansion. Dia memberikan beberapa lembar foto yang diambil dari rekaman CCTV di sekitar area klab. Foto itu berisi gambar kendaraan yang terlihat di sekitar tempat kejadian.
"Mobil itu milik Tuan Zetian Yan."
Bayu terkejut. Untuk apa ayah Shuwan ada di sekitar klab miliknya.
"Beberapa kali mobil itu tertangkap CCTV mendatangi klab Anda. Setelah plat nomor saya cek, ternyata mobil itu milik Tuan Zetian. Padahal beliau tidak pernah tercatat sebagai tamu klab namun mobilnya ada di area itu."
"Apa menurutmu dia juga terlibat?"
"Karena saya juga mencurigai Nona Shuwan, maka saya juga mencurigai Tuan Zetian."
"Bagaimana kalau dia hanya lewat untuk mengecek anaknya saja?"
Anak buahnya terdiam.
"Aku tidak pernah kenal dengan Tuan Zetian sebelumnya. Bahkan, meskipun sedang berpacaran dengan anaknya, aku belum pernah bertemu dengannya. Apa dia sudah tahu kalau aku berniat ingin merebut hotelnya? Atau dia punya suatu dendam padaku?"
"Saya belum bisa memastikannya."
"Cari tahu semua informasi tentang Tuan Zetian dan Shuwan. Selidiki juga apa mereka punya masalah di masa lalu denganku yang belum terselesaikan.
"Baik, Tuan."
*****
Ini adalah hari pertama Daniel akan menjalani kemoterapi. Prita masih repot mengurusi Livy dan Dean sehingga Ayash yang ikut mengantarkan Daniel ke ruang tindakan kemoterapi.
Ayash memberikan sebuah boneka beruang dan puzzle di pangkuan Daniel. Seorang perawat wanita bersiap mendorong kursi roda yang Daniel naiki. Ayash mengikutinya dari belakang.
"Suster, apa nanti akan sakit?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Kamu tidak akan merasa sakit. Di sana juga ada teman-temanmu yang lain. Nanti kamu tetap bisa sambil bermain atau ngobrol dengan mereka."
"Apa mereka juga sakit seperti Daniel?"
"Iya. Mereka sama seperti Daniel. Mereka juga sedang berjuang melawat penyakit supaya bisa menang. Daniel juga harus semangat."
"Papa.... Daniel takut."
"Papa akan menemanimu. Papa tidak akan pergi. Kamu jangan takut. Papa tahu Daniel anak yang kuat."
Meskipun merasa tidak tega. Ayash tetap memasang muka cerianya di hadapan Daniel. Ia tahu jika anak itu pasti sudah trauma dengan segala rasa sakit yang setiap hari ia alami akibat pengobatan. Ia hanya berharap penderitaan Daniel segera berakhir dan dia menjadi sehat kembali seperti biasa.
Saat sampai di ruangan kemoterapi, Ayash melihat di sana sudah ada empat anak yang terbaring di ranjang pasien dengan peralatan medis yang terpasang di tubuh. Mereka lebih besar daripada Daniel. Jadi, Daniel akan menjadi pasien terkecil di ruangan itu.
Ayash tersenyum melepas Daniel memasuki ruang kemoterapi. Dari sorot matanya terlihat sekali jika sebenarnya Daniel tak ingin masuk. Ayash hanya bisa memandangi anaknya dari balik kaca jendela. Melihat Daniel yang mulai dipasangkan alat kemoterapi oleh perawat.
Rata-rata kondisi anak lainnya sudah terlihat lemas dan pucat. Rambut mereka botak. Mungkin karena Daniel masih baru, dia lebih terlihat segar daripada yang lain. Ayash tidak bisa membayangkan kalau kondisi Daniel nantinya akan seperti anak-anak yang lain.
Daniel tampak tenang ketika perawat memasangkan selang infus ke pembuluh darahnya. Sesekali anak itu memandang ke arahnya, mungkin untuk memastikan apakah ayahnya masih ada di sana atau sudah pergi. Ayash mengeluarkan selembar kertas yang sebelumnya telah ia persiapkan. Daniel teesenyum melihat gambar yang ada di kertas itu. Foto Ayash dan Daniel yang ditambahi dengan gambar hati. Artinya, ia sangat mencintai anaknya.
Tanya seorang lelaki yang tiba-tiba datang mensejajari Ayash. Dia melambaikan tangan ke arah kaca, ada seorang anak perempuan yang membalas lambaian tangannya.
"Dia anak saya, namanya Isabela. Usianya sekarang sembilan tahun. Sudah tiga tahun lamanya dia menjalani pengobatan leukemia di rumah sakit ini."
"Perkenalkan, nama saya Wisnu."
Orang itu mengulurkan tangannya. Ayash membalas jabatan tangan itu.
"Ayash." balasnya.
"Apa ini pertama kalinya menemani anak kemoterapi?"
"Iya. Namanya Daniel, usianya lima tahun. Dia sudah dirawat hampir satu bulan di sini dan ini pertama kalinya saya membawanya kemoterapi."
__ADS_1
"Melihat anak yang mengidap leukemia itu rasanya sangat menyakitkan. Setiap mendengarnya menangis kesakitan, hati juga rasanya ikut sakit."
"Dulu ruangan ini lebih banyak pasien anak yang menjalani terapi bersama. Namun, satu per satu dari mereka meninggal."
"Kadang itu juga membuat perasaan menjadi khawatir. Apakah besok giliran anak saya yang meninggal atau tidak. Saya selalu merasa cemas karena dia adalah anak satu-satunya yang istri saya titipkan sebelum ia meninggal. Sebagai ayah rasanya saya gagal membahagiakan anak. Hampir setiap hari melihatnya mengeluhkan rasa sakit."
"Jangan menyerah seperti itu. Kita harus percaya kalau mereka anak-anak yang kuat dan bisa melewati semua ini dengan baik."
"Iya. Anda benar. Jika orangtua saja menyerah bagaimana mereka bisa memiliki kekuatan untuk berjuang."
Ayash kembali memandangi Daniel. Anak itu tampak biasa saja dalam menjalani terapinya. Dia memainkan puzzle yang sebelumnya ia berikan. Benar kata Dokter Hansen. Proses kemoterapi tak semenyeramkan yang ia bayangkan. Ia lega Daniel tenang di dalan sana.
Setelah proses kemoterapi selesai, Daniel dibawa kembali ke ruangannya. Ayash masih mendampingi. Prita ia suruh tetap di apartemen bersama anak-anaknya. Karena setelah proses kemoterapi, lebih baik pasien tidak melakukan kontak dengan orang lain, terutama anak-anak.
Kata Dokter Hansen, pasien yang baru saja kemoterapi akan mengeluarkan gas yang mengandung bahan kimia dari kemoterapi melalui saluran pernapasannya, baik lewat mulut ataupun hidung. Gas ini dapat mengganggu darah tepi penjenguknya yang masih balita dan punya kekebalan tubuh rendah. Efeknya, orang yang terkena hantaran tersebut sel-sel darah putih dan trombosit dalam tubuh akan rusak dalam jangka waktu yang lama sekitar 10 tahun kemudian dan dapat menyebabkan leukemia.
Malam hari setelah melewati kemoterapi, Daniel sempat mual dan muntah yang cukup parah. Seluruh isi perutnya seakan terkuras untuk dikeluarkan semua. Ayash yang seorang lelaki dan hampir tidak pernah mengurusi anak, rasanya hampir frustasi dengan kondisi Daniel yang seperti itu. Dia tak berani memberi kabar Prita. Ayash benar-benar hanya sendiri mengurus Daniel.
Saat Daniel menangis, ia akan menggendongnya sambil membisikkan kata-kata penyemangat bahwa Daniel anak yang kuat dan bisa menang melawan penyakitnya.
"Papa.... Apa aku akan mati?" tanya Daniel yang berada dalam gendongannya. Tubuhnya sangat lemah setelah mual dan muntah selama beberapa jam.
Mendengar pertanyaan seperti itu, air mata luruh mengalir ke pipinya. Ketegaran Ayash sudah hancur menghadapi anaknya.
"Tidak, kamu akan tetap hidup sampai kamu dewasa. Sampai kamu bisa menjadi pengusaha seperti papa. Daniel kan sudah janji mau membangun banyak gedung perusahaan yang tinggi bersama papa."
"Papa.... Daniel tidak mau disuntik lagi. Rasanya sakit."
"Sakitnya kan sedikit, seperti digigit semut."
"Tapi digigit semutnya banyak. Jadi sakit, Papa."
Ayash terus menggendong Daniel, sesekali mengayun-ayunya sembari berjalan mengitari ruangan. Akhirnya Daniel tertidur setelah mengantuk dan kelelahan. Ayash membaringkannya kembali di ranjang.
__ADS_1
Ia pandangi wajah lugu Daniel yang tampak tenang. Dadanya seakan bergemuruh, air matanya semakin deras keluar. Dipegangnya tangan kecil Daniel sembari menangis sesenggukan. Ayash tidak siap untuk kehilangan Daniel.