ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Mati Rasa


__ADS_3

Siang ini Raeka mengunjungi Prita di rumah sakit setelah pulang dari salon. Di apartemennya juga ia sendirian, lebih enak kalau punya teman bicara seperti Prita.


Daniel sedang tidur siang. Anak itu sudah tampak sehat seperti anak pada umumnya. Tapi, kata dokter dia belum sepenuhnya sembuh dan harus terus mendapat perawatan serta pemantauan. Karena kondisi seperti Daniel bisa tiba-tiba drop kapan saja.


Prita dan Raeka duduk di ruang tengah menikmati potongan buah-buahan segar sambil menonton sinetron azab di TV. Sesekali mereka mengomentari adegan yang dianggap janggal atau tidak masuk akal kemudian berdebat. Hal menarik dalam menonton sinetron adalah bagian mengomentari daripada alur ceritanya itu sendiri. Ketika sudah bosan membahas sinetron, mereka akan membahas tengang hal random lainnya.


"Ra, biasanya kamu berapa kali latihan selama seminggu?" Prita memasukkan potongan nanas ke dalam mulutnya. Rasa asam dan manis buah itu merupakan favorit Prita.


"Maksudmu latihan panahan?" Raeka meminum jus stroberinya.


"Iya."


"Dulu bisa dua sampai tiga kali seminggu. Kalau sekarang paling seminggu sekali tergantung kondisi."


"Hem, Irgi bikin kamu sibuk ya sekarang?"


Prita bisa menebak kalau Irgi sibuk mengajak Raeka membuat anak. Itu sudah pastilah. Pasangan pengantin baru pasti hasratnya masih menggebu-gebu.


"Dia yang jarang libur. Kalau akhir pekan maunya menghabiskan waktu berdua. Jadi aku sering absen di klub."


Raeka menengok ke arah Prita, "Memangnya kenapa? Kamu tertarik juga?"


"Iya."


"Kalau kamu mau, aku bisa mendaftarkanmu di klub memanah yang aku ikuti. Nanti kita bisa latihan bareng."


Raeka suka Prita sudah mulai terbuka. Biasanya dia tidak mau melakukan hal-hal lain kecuali menemani Daniel di rumah sakit.


Kalau Prita terus menerus seperti itu, dia sendiri yang nantinya akan sakit. Ada banyak hal yang masih Prita bisa lakukan. Daniel juga banyak yang merawat. Seharusnya memang tidak apa-apa jika Prita memiliki beberapa aktivitas lain di luar. Setidaknya bisa membantu menjernihkan pikirannya daripada terus terkungkung di bangunan tinggi berwarna putih yang membosankan itu.


"Apa klubmu menerima anggota baru yang sama sekali tidak memiliki skill memanah?"


Raeka tertawa kecil, "Di sana bahkan ada anggota anak-anak seumuran dengan anakmu. Kamu tidak perlu khawatir, semua anggota awalnya juga tidak bisa memanah dengan benar."


"Baguslah, mungkin aku akan ikut seminggu sekali."


"Samakan dengan jadwalku, ya. Setiap hari kamis sore."

__ADS_1


Klek!


Raeka dan Prita menoleh ke arah pintu. Ada Ayash dan Andin yang datang.


"Hai, Ndin. Masuk. Sini duduk ikut kita nonton." ucap Prita.


Ayash merasakan tatapan dingin yang Prita layangkan padanya. Ia bisa menyambut Andin dengan biasa sementara dirinya seperti tidak diharapkan kehadirannya. Mungkin Prita benar-benar marah karena masalah kemarin. Telepon dan pesan yang ia kirimkan tidak Pernah Prita hiraukan.


"Hah, sinetron apa itu? Tukang tahu bulat mati tergoreng dadakan dikubur hangat-hangat?" gumam Andin.


"Sinetron azab, Ndin. Seru. Sini duduk." Prita menarik tangan Andin agar duduk di sebelahnya.


Raeka sedikit heran melihat Prita tetap bisa bersikap biasa kepada wanita yang kini menjadi istri baru mantan suaminya. Kunyahan semangka dalam mulutnya diperlambat. Matanya melirik ke arah Ayash yang memilih duduk di samping ranjang Daniel. Sepertinya ada ada perang dingin yang terjadi antara Ayash dan Prita.


"Sumpah, kalian suka model sinetron begini?"


"Bagus ini, bisa bikin emosi penonton sama bikin ngakak. Cocok ditonton kalau lagi stres atau marah sama orang." celetuk Raeka.


"Ada-ada aja.... Jalan ceritanya sudah tidak masuk akal."


"Namanya juga cerita fiktif, tapi kreatif juga penulisnya bisa buat cerita antimainstream."


"Hah? Panahan?"


"Iya. Prita katanya juga mau ikut gabung. Biar kita bertiga bisa bareng."


"Boleh juga. Nanti kalau coba atur waktu biar bisa ikut kalian. Soalnya aku masih sibuk pindahan butik."


"Oh, kamu jadi buka butik di sini?" sahut Prita.


"Ya, rencananya begitu."


"Boleh nggak Yash, kalau istrimu aku ajak main panahan?" tanya Raeka dengan suara yang agak tinggi.


Ayash sedikit kaget dirinya diajak bicara, "Terserah Andin, kalau dia mau ikut aku tidak akan melarang."


"Kalau Prita juga boleh?"

__ADS_1


Pertanyaan Raeka membuat Prita menghentikan kunyahan buah yang ada di mulutnya. Matanya melotot kepada Raeka seakan memberi isyarat kalau dia tidak suka namanya dibawa-bawa. Raeka tidak bisa membaca situasi, disitu ada Andin yang mungkin saja bisa tersinggung dengan pertanyaannya. Atau bisa jadi Raeka memang sengaja karena dia terkadang memang suka memancing keributan.


"Boleh. Asal tidak kamu bully saja." jawab Ayash.


"Oh, aman. Sekarang kami berteman."


Raeka menggaet lengan Prita kemudian menempelkan kepalanya di pundaknya. Senyumnya terpasang begitu manis seakan hubungan pertemanan dia dan Prita sangat harmonis.


Ayash memandangi Prita yang sejak tadi tidak mau melihat ke arahnya. Dia semakin yakin kalau Prita sedang marah.


"Ta, bisa keluar sebentar, aku mau bicara."


"Memangnya mau bicara apa? Nggak bisa bicara langsung saja di sini. Kami juga mau dengar."


Raeka sudah ketularan Irgi. Tukang kompor dan lidah lemes. Sepertinya dia senang membuat posisi Ayash serba salah. Disitu ada mantan istri dan istri barunya.


"Aku mau bicara berdua saja dengan Prita."


Prita menghela nafas. Dia sebenarnya selain malas bertemu dengan Ayash, dia juga tidak enak dengan Andin.


"Andin, aku mau bicara sebentar ya dengan Ayash di luar. Boleh, kan?"


"Iya, keluar saja." Andin tersenyum kaku. Seharusnya Prita tidak perlu meminta ijin padanya. Dia juga tidak keberatan. Malah sekarnag dia ikutan kikuk.


Prita berjalan lebih dulu keluar dari ruangan. Di belakang, Ayash menyusulnya. Prita menghentikan langkah di depan koridor yang sepi. Tempat itu memang hampir selalu sepi karena bukan jalur umum yang bisa dimasuki banyak orang. Kamar yang ada di lantai itu bertipe president suite dan tidak semua kamar terisi penuh. Suasana di sana sangat tenang. Ditambah lagi dengan pelayanan yang sangat baik 24 jam. Memudahkan pasien dan keluarga yang berjaga jika membutuhkan sesuatu.


"Mau bicara apa lagi?" Prita membuang muka seakan malas memandangi orang yang ada di hadapannya.


"Kenapa kamu mengabaikan teleponku?"


"Aku sibuk."


"Hampir satu minggu kamu menghindariku. Kamu sibuk apa?"


"Aku sibuk mengurus Daniel. Aku rasa perbincangan ini tidak penting ya. Aku mau masuk saja."


Prita melewati Ayash begitu saja. Masih tidak terima dengan perlakuan Prita, Ayash menarik tangan kecil mantan istrinya itu. Punggung Prita sampai menyentuk tembok karena sentakan yang kuat. Matanya melotot, ia sangat kesal dengan apa yang Ayash lakukan.

__ADS_1


Ayash juga melakukan hal yang sama. Ia juga kesal karena merasa diabaikan. Padahal semua yang dilakukan selama ini juga untuk kebaikan Prita.


__ADS_2