ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Sebuah Keluarga Impian


__ADS_3

Siang ini Bayu mengumpulkan seluruh pelayannya di ruang tengah. Sementara, Prita menutupi wajahnya sendiri dengan tangan. Dia berharap suaminya tidak perlu bertindak berlebihan dengan kondisinya saat ini.


Katanya, dia ingin mengumumkan kabar kehamilannya kepada seisi rumah. Menurutnya, itu tidak perlu dilakukan karena nantinya juga mereka semua akan tahu. Kenapa harus diumumkan segala, Prita jadi malu.


"Pagi ini kalian aku kumpulkan karena ada berita penting yang ingin aku sampaikan."


Seluruh pelayan rumah mulai dari bodyguard, sopir, tukang masak, tukang kebun, pengasuh, hingga tukang cuci dan tukang bersih-bersih, mendengarkan secara saksama apa yang ingin disampaikan majikan mereka.


"Nyonya rumah kalian saat ini sedang hamil."


Mendengar berita kehamilan Prita, semua terlihat senang. Mereka memang sudah agak curiga dengan perlakuan Bayu terhadap istrinya selama dua minggu ini yang terkesan berlebihan. Di dalam rumah dia sering menggendong istrinya seakan tidak membiarkan istrinya berjalan sendiri.


"Aku harap kalian bisa memperlakukannya dengan sangat baik, ya. Jaga istriku dan calon anakku."


"Baik, Tuan."


"Hore.... Livy mau punya adik.... "


"Adik apa?" tanya Livy.


"Di perut mamanya Livy ada dede bayinya, kecil."


"Ini dede.... " Livy menunjukkan boneka mainan yang dipegangnya.


Leta mencubit gemas Livy yang ada di gendongannya. Anak itu belum terlalu paham dengan apa yang pengasuhnya katakan. Tapi, dia hanya senyum-senyum karena digoda oleh pengasuhnya.


"Livy, ayo ikut daddy. Kita jemput kakak-kakakmu dari sekolah."


Bayu mengambil Livy dari gendongan Leta. Anak itu sekarang sudah terbiasa dengan Bayu dan sesekali ikut-ikutan memanggilnya 'daddy' seperti kakak-kakaknya. Awal-awal, Livy memang tidak mau dengan Bayu yang masih asing dan tampak menyeramkan untuknya.


"Mas, biar aku saja yang menggendong Livy." pinta Prita sembari membuntuti Bayu menuju halaman luar.


"Jangan, kamu kan juga sedang membawa bayi kita."


"Bayi kita masih sebesar biji kacang, Mas.... Aku masih kuat kalau sekedar membawa Livy."


"Itu malah lebih bahaya. Bayi kita masih kecil sekali, kalau Livy membebani perutmu, nanti dia bisa lepas. Kamu harus menjaga baik-baik kehamilanmu."


Prita mendengus, menurutnya kelakuan suaminya itu sudah berlebihan menghadapi kehamilannya. Padahal, dia sendiri yang menjalani kehamilan itu tampak biasa saja. Bayi keempatnya ini tidak merepotkan seperti kehamilan sebelumnya. Biasanya di awal kehamilan ia merasakan mual-mual, kali ini tidak sama sekali. Makanya dia sendiri masih heran kalau sekarang dia sedang hamil.


Hal yang paling membuatnya ingin tertawa setiap malam kalau melihat suaminya mati-matian menahan keinginannya untuk berhubungan. Dia selalu tampak gelisah, tidurnya tidak tenang. Sering juga suaminya itu terpaksa mandi malam-malam.


Sampai Prita yang menawarkan diri untuk melayani suaminya, namun ditolak. Katanya dia takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayinya. Padahal, kata dokter juga tidak masalah asalkan berhati-hati.


Bayu benar-benar seperti ayah baru yang bahkan takut menghadapi kehamilan istrinya. Mungkin dia lupa kalau istrinya lebih berpengalaman soal kehamilan daripada dia.


Buku-buku yang Bayu baca juga berkaitan dengan kehamilan dan pengasuhan anak. Begitu juga video yang berjam-jam ditonton di ruang kerja, ternyata tak jauh-jauh dari cara mengasuh anak kecil. Meskipun bayi mereka masih cukup lama untuk dilahirkan.


"Mas, bayi kita tidak segampang itu lepas kok. Dia juga dilapisi dinding rahim yang kokoh. Aku kan juga pernah hamil sebelumnya. Berlebihan deh.... "


"Sini biar Livy aku pangku. Malah lebih bahaya kalau kamu menyetir sambil memangkunya. Kita semua bisa celaka."

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa kok."


"Kalau begitu, aku saja yang menyetir, ya.... "


"Tidak boleh!" tegas Bayu.


"Ya sudah kalau begitu biarkan Livy aku pangku. Tidak akan apa-apa."


"Baiklah.... " Bayu mengalah, "Livy, kamu hati-hati ya, di pangkuan mama. Di sana ada dede bayinya."


"Iya, Daddy."


"Anak pintar."


Bayu mengangkat tubuh Livy dan memindahkannya ke pangkuan Prita dengan hati-hati. Lalu, ia melajukan mobilnya menuju sekolahan Daniel dan Dean.


*****


Setelah menjemput Daniel dan Dean dari sekolah, Bayu mengajak keluarga kecilnya pergi ke pantai. Setelah semua masalah selesai, Bayu ingin menikmati sebagian besar waktunya bersama keluarga. Sementara semua urusan kantor sudah ia serahkan kepada anak buahnya.


Baru sekarang ia merasakan indahnya memiliki keluarga. Menjalani hari bersama seorang istri yang cantik dan lemah lembut serta anak-anak yang lucu membuatnya merasa sempurna. Seakan ia telah menemukan tujuan hidupnya yang selama ini tidak pernah ia temukan.


Ia berharap kehidupan keluarganya akan berlangsung harmonis dan bahagia selamanya. Cintanya tetap utuh bersama Prita sampai maut memisahkan. Melihat anak-anaknya tumbuh hingga mencapai kesuksesan dalam kehidupan mereka masing-masing. Bayu tak ingin melewatkan momen-momen itu sedetikpun.


Bayu meninggalkan dunia lamanya yang penuh dengan kegelapan demi sebuah dunia yang dipenuhi cinta dan harapan. Sampai matipun ia tak akan menyesali keputusan hidupnya. Meskipun harta tak seberlimpah seperti dulu, tapi saat setiap hari ia merasa bahagia ketika melihat keluarganya, tumpukan uang juga tak begitu berarti. Dia masih merasa cukup kaya dengan harta yang dimilikinya. Apalagi yang lebih berharga dari itu adalah keluarganya.


"Apa benar Mama sedang hamil?" tanya Daniel penasaran setelah ayahnya mengatakan kalau saat ini ada bayi di dalam perut mamanya.


"Tapi kok perut Mama masih kecil, ya?" Dean ikut-ikutan penasaran sembari mengelus perut mamanya yang masih rata.


"Bayi di dalam sini masih kecil, Dean. Nanti semakin hari juga perut mama jadi semakin besar."


"Aku mau adiknya cowok ya, Ma." pinta Dean dengan polosnya.


Prita hanya tersenyum mendengarnya, "Memangnya kenapa harus adik cowok?"


"Biar bisa diajak main seperti Kak Daniel, Ma. Kalau adik cewek kan mainannya boneka."


"Kak Daniel maunya adik cowok atau cewek?"


"Aku? Itu terserah Mama saja."


"Kata Kak Daniel bilang terserah Mama, memangnya Mama mau anak cewek apa cowok?"


Prita kembali tersenyum. Ia mengangkat Dean dan meletakkannya di atas pangkuannya lalu memeluknya. Dean juga tampaknya jadi manja ketika tahu mamanya akan memiliki bayi lagi. Mungkin terbersit sedikit rasa khawatir dalam pikirannya kalau kasih sayang yang akan ia dapatkan lebih sedikit.


Padahal, seharusnya Livy yang manja karena dia anak terkecil. Nyatanya, justru anak keduanya yang memiliki tingkah berbeda. Livy masih senang bermain pasir dengan Daniel dan Bayu tak jauh dari tempatnya duduk.


"Sayang, mama juga tidak bisa memilih mau memiliki anak laki-laki atau perempuan. Karena yang memberikan bayi ke perut mama itu kan Tuhan. Jadi, mama juga baru akan tahu kalau sudah dilahirkan."


"Nanti Dean bantu mama jaga adik bayi, ya.... "

__ADS_1


Dean melepaskan pelukan mamanya. Ia pandangi wajah wanita yang menjadi ibunya dengan tatapan mata merajuk, "Ma.... Kalau adik bayinya lahir, Mama masih mau peluk dan gendong Dean, kan?"


Sudah Prita tebak, anak paling jagoannya itu punya sisi melankolis dan manja. Dean biasanya bertingkah seperti anak pemberani dan mandiri kini justru menjadi aanak yang takut kehilangan kasih sayang mamanya.


"Tentu saja, Sayang. Dean kan juga anak kesayangan mama. Tentu saja akan mama gendong kalau Dean mau."


"Terus, adik bayinya nanti siapa yang gendong?"


"Kan ada daddy.... ada juga Kak Leta, Kak Rahma, dan banyak pelayan di rumah bisa menggendong adik bayi."


"Dean tidak mau ya kalau Mama hanya sayang adik bayi.... "


"Tidak, Sayang.... Mama sayang semua anak-anak mama. Kita semua kan saling menyayangi."


"Dean.... Daddy menangkap kepiting."


Dean menoleh ka arah kakaknya yang antusias dengan apa yang ia lihat.


"Sini lihat! Kepitingnya ada tiga!" Daniel menunjuk-nunjuk pada kubangan air yang dibuat ayahnya untuk meletakkan kepiting.


Tanpa pikir panjang, Dean langsung berlari ke arah Daniel ikut melihat kepiting yang ada di sana.


Bayu sengaja mengikat capit kepiting kecil yang ditangkapnya agar tidak melukai orang. Anak-anaknya berteriak kegirangan hanya dengan melihat binatang air kecil itu saja.


"Jangan lepas ikatannya, ya. Itu bahaya, bisa melukai tangan." pesan Bayu.


"Iya, Daddy." jawab ketiga anaknya kompak.


Bayu beralih pada Prita yang duduk sendirian jarak tiga meter darinya. Ia membiarkan anak-anaknya bermain, sementara ia menghampiri istrinya lalu memeluknya.


Prita kedatangan bayi besar yang tidak tahu tempat untuk bermesraan. Pantai tempat mereka berada cukup ramai dikunjungi orang. Namun, tidak menyurutkan Bayu untuk bergelayut pada istrinya.


"Mas, nanti dilihat banyak orang, loh." Prita berusaha mengingatkan.


"Memangnya kenapa? Kita ke sini membawa tiga anak, pasti mereka sudah tahu kalau kita suami istri."


"Ya, tetap saja kan malu, Mas."


Bayu melepaskan pelukannya, ia tersenyum menyeringai memandangi wajah istrinya, "Perasaan dulu kamu malah pernah mencium bibirku di sini, Sayang. Kamu lupa, ya?"


Bayu baru saja mengingatkan kenangan memalukan yang pernah Prita lakukan di tempat itu. Saat itu, Bayu mengancamnya tidak akan mengantarnya pulang kalau tidak mau berciuman dengannya di tempat itu. Kalau mengingat hal itu, sungguh, Prita jadi merasa seperti orang gila.


"Apa kita perlu mengulanginya lagi? Sepertinya istriku sudah amnesia." goda Bayu.


"Jangan macam-macam kalau tidak mau aku suruh tidur di luar nanti malam." ucap Prita dengan senyuman mengancam.


"Hahaha.... Ampun, Nyonya.... Kalau untuk yang satu itu aku lebih baik mengalah."


Bayu berhenti mengganggu Prita. Ia duduk di sebelah istrinya sembari memeluk posesif pinggangnya.


Mereka bersama-sama duduk sambil mengarahkan pandangan yang sama ke arah depan, ke arah ketiga anaknya bermain serta langit sore yang mulai menampakkan keindahannya pada cakrawala.

__ADS_1


__ADS_2