
"Titip anak-anak ya, Ta." ucap Ayash.
Pagi ini Ayash akan berangkat ke Singapura bersama Irgi dan Raeka. Mereka perlu datang menangani perusahaan MyShoppa milik Irgi, karena ada masalah internal yang harus segera diselesaikan.
Kabarnya mereka akan tinggal di Singapura untuk jangka waktu satu atau dua bulan, mengingat masalah yang dihadapi perusahaan cukup serius dan perlu penanganan yang cepat jika tidak mau perusahaannya bangkrut.
"Sekalian mau cari calon istri nanti dia di sana, boleh kan, Ta.... " celetuk Irgi.
Prita hanya tertawa, "Ya bolehlah. Biar ada yang bantu jaga rumah kan kalau pergi."
"Kalian ini apa-apaan, orang aku mau pergi untuk kerja."
"Memangnya kenapa, Yash? Prita juga setuju kok."
"Kalau dapat calon istri jangan lupa dikenalkan dulu dengan mamamu, takutnya tidak setuju." Ucap Raeka dengan polosnya. Ia sibuk bermain dengan Cilla yang ada di gendongannya.
Ayash melirikkan mata ke arah Raeka. Dia sama saja dengan Irgi kalau masalah membuat panas suasana. Suasana jadi sedikit kaku karena candaan itu. Apalagi Prita yang merasa tidak enak hati. Dia sudah berusaha untuk melupakan masa lalu, tapi gara-gara Raeka dia jadi ingat lagi kejadian pahit di masa lalu.
"Sayang.... Jangan bahas Tante Maya di sini. Jadi horror kan kesannya."
Ayash menghela nafas, "Ya sudahlah, ayo masuk sekarang!"
"Daniel, Dean, Livy, papa pergi dulu, ya.... "
Ketiga anak itu mendekat dan memeluk papanya bersama-sama. Mereka pasti akan sangat merindukan papanya karena akan pergi untuk waktu yang lama.
"Papa.... Dean mau ikut.... " rengek Dean.
"Dean, Papa kan mau pergi kerja, bukan mau liburan."
"Iya, Sayang. Kakakmu benar. Nanti kalau kamu ikut, papa malah tidak bisa kerja."
Dean mencebikkan bibir, "Tapi pulang bawakan mainan robot iron man yang besar ya, Pa!"
"Iya, nanti papa bawakan. Asalkan Dean juga tidak nakal selama papa tinggal."
"Kalau Daniel dan Livy minta apa?"
"Livy minta boneka barbie, Pa."
"Daniel minta lego rumah sakit!"
"Oke, nanti papa pulang membawakan mainan yang kalian mau."
__ADS_1
"Papa berangkat dulu."
Ayash menciumi satu persatu anaknya sebelum masuk melewati ruang pemeriksaan bandara. Pengantar penumpang memang hanya bisa mengantar sampai depan, tidak bisa ikut masuk sampai ke dalam.
Dari kejauhan, mereka melambaikan tangan sebagai salam perpisahan sebelum masuk ke area dalam bandara.
"Ayo, Mas. Kita pulang." ajak Prita. Tapi, sepertinya suaminya itu masih tertegun di tempatnya. "Mas.... " panggilnya lagi.
"Ah, iya, Sayang. Kenapa?"
"Kamu melamun, ya?"
"Tidak, aku tidak melamun." kilah Bayu.
Sebenarnya ia hanya memikirkan tentang Ayash. Dia sampai sekarang belum mau menikah lagi. Sebelumnya pernikahannya dengan Andin juga tidak berlangsung lama. Ia merasa jika sebenarnya Ayash masih mencintai istrinya.
Bayu hanya bisa menghela nafas. Memang, saingan terberatnya adalah mantan suami Prita. Walaupun Prita sudah menjadi istrinya, tetap saja ia akan merasa cemburu, karena Ayash merupakan orang yang sudah pernah menghabiskan waktu bersama dengan Prita di masa lalu. Bahkan ia lebih lama mengenal Prita, dan masih lebih lama usia pernikahan mereka dulu. Ibaratnya dia baru melewati satu tahun pernikahan, itupun ada banyak masalah yang merintang dan membuatnya harus sering berpisah dari keluarganya.
"Daddy.... gendong!" pinta Livy.
"Oh, Princess-ku mau digendong, ya?"
Bayu menyambut Livy ke dalam gendongannya. Semenjak perut Prita membesar, dia lebih sering minta digendong olehnya. Mungkin anak itu sudah paham kalau mamanya pasti kepayahan kalau harus menggendongnya dalam kondisi hamil besar.
"Tidak mau, aku mau menuntun Mama supaya tidak jatuh." kata Daniel seraya meraih tangan kanan mamanya.
"Dean juga mau menuntun Mama." Dean ikut-ikutan meraih tangan kiri mamanya.
"Wah, mama jadi merasa dilindungi dua pangeran ini. Terima kasih ya, Sayang."
Prita terlihat bahagia digandeng kedua putranya. Mereka berjalan beriringan meninggalkan area bandara menuju tempat parkir dimana mobil mereka berada.
*****
Tuan Zetian duduk bersila menghadap bidak catur yang ada di atas meja. Di depannya, ada Ibu Retno yang menjadi lawan mainnya. Ya, Ibu Retno kini sudah mulai bisa diajak berkomunikasi. Meskipun dia tidak mengenali Zetian, tapi mereka bisa memulai perkenalan sebagai kawan. Keduanya kerap menghabiskan waktu bersama untuk bermain catur atau mengobrol tentang lingkungan sekitar.
Tak banyak yang bisa Zetian lakukan. Kehidupannya seakan terbatas di tempat itu setelah masuk ke dalam daftar pencarian orang di seluruh kantor polisi. Ia tidak bisa lagi ikut mengurusi perusahaan. Orang-orang mencurigainya sudah kabur ke luar negeri, padahal ia hanya bersembunyi di tempat terpencil itu, bersama wanita yang masih sangat dicintainya.
Bahkan, untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Shuwan, putrinya sendiri, ia harus datang secara diam-diam dengan pengawalan yang ketat. Beruntung ia memiliki banyak anak buah yang setia kepadanya.
Apalagi asisten pribadinya, yang mau mennggantikan posisinya mengelola perusahaan dan harta kekayaannya.
Untuk orang setua Zetian, harta sudah tidak terlalu penting lagi. Yang ia inginkan adalah ketenangan hidup hingga ia meninggal nanti. Bisa menghabiskan masa tuanya bersama wanita yang ia cintai, menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya.
__ADS_1
"Tuan.... "
Ada sebuah sapaan ketika Zetian sedang berkonsentrasi menentukan bidak yang ingin ia gerakkan. Retno cukup mahir bermain catur. Ia tidak boleh kalah agar tidak kehilangan harga dirinya sebagai seorang lelaki.
"Sepertinya ada yang memiliki kepentingan denganmu. Temui saja dulu dan aku akan menunggu melanjutkan permainan kita." ucap Retno yang terdengar bijak.
Zetian terpaksa bangkit dari tempatnya, menemui asistennya di luar. Ia tak ingin Retno mendengar percakapan mereka.
"Ada apa?"
"Polisi sudah menangkap orang yang telah mencelakai Nona Shuwan."
Zetiwn mengeratkan genggaman tangannya. "Siapa?"
"Seorang wanita."
Ada rasa heran ketika mendengar pelakunya adalah seorang wanita.
"Yana Shintia Dewi, mantan istri Moreno yang menjadi pelakunya, Tuan."
"Apa!?"
Zetian begitu terkejut. Lagi-lagi ia harus mendengar nama Moreno. Putrinya benar-benar sudah salah mencintai lelaki. Sejak dulu dia sudah mengingatkan agar menjauhi Moreno, tapi Shuwan tidak pernah mendengarkannya. Sekarang, semuanya sudah terbukti. Berhubungan dengan Moreno adalah hal yang berbahaya.
"Apa.... Dia melakukannya dengan sengaja?"
"Iya, Tuan."
Rasanya Zetian ingin melampiaskan kekesalannya sekarang juga. Otot-otot lehernya sudah tertarik kencang saking emosinya. Namun, ia harus tetap tenang karena ada Retno di dalam. Ia tak ingin menunjukkan sisi emosinya kepada wanita itu.
"Motif perbuatannya karena merasa cemburu dengan Nona Shuwan. Karena itu dia nekad menabrakkan mobilnya kepada Nona Shuwan kemudian kabur."
"Jadi, dia sudah ditahan polisi?"
"Iya, Tuan."
"Keluarkan dia bagaimanapun caranya. Buat kesan seolah-olah dia kabur dari penjara."
"Lalu.... Habisi dia dan bakar mayatnya. Kumpulkan abunya dan letakkan di dalam abu jenazah Shuwan."
"Aku ingin dia merasakan apa yang sudah putriku rasakan. Wanita itu juga harus mati. Dia harus bertemu sendiri dengan Shuwan di alam sana dan meminta maaf kepada putriku."
Tidak ada dendam yang lebih meyeramkan daripada dendam seorang ayah karena kehilangan putri kesayangannya.
__ADS_1