
Seperti biasa, Fazid standby di klub malamnya, King Crown. Dia menjadi pengamat setiap tamu yang berkunjung ke sana. Rata-rata pengunjung tetap yang sudah menjadi member. Jika ada wajah orang-orang yang asing atau baru pertama kali datang, biasanya ia akan mendekati dan mengakrabkan diri serta menawarkan keanggotaan klub. Sehingga, ia bisa mengenali setiap tamu yang datang ke tempatnya.
"Bos, di sana ada tamu yang menggoda Jihan." bisik salah seorang anak buahnya
Fazid menengok ke arah yang ditunjuk anak buahnya. Terlihat seorang lelaki yang masih tampak mudah sedang mengganggu pelayannya yang bernama Jihan. Segera Fazid mendekati sumber keributan itu.
"Yo, Bro.... " sapa Fazid.
"Heh! Apa kamu bos disini, hah?" lelaki itu tampak mabuk. Dia tidak suka Fazid mengganggunya.
Jihan menyingkir, berdiri di belakang Fazid mencari perlindungan. Dia takut sekali dengan lelaki itu. Setelah dua tahun bekerja di sana baru kali ini dia mendapatkan pelanggan yang menjengkelkan.
"Ya, nama saya Fazid."
"Aha... kalau begitu, ajari anak buahmu untuk lebih bersikap sopan pada tamu."
"Dia yang tidak sopan, Bos! Dia memegang-megang pan*t saya." Jihan berusaha membela diri.
"Hahaha... lucu sekali. Kalau tidak ingin pan*tmu dipegang lelaki, jangan bekerja di tempat seperti ini. Gunanya pelayan sepertimu kan memang untuk memuaskan tamu, jadi diam dan lakukan saja tugasmu. Nanti aku beri tip tambahan." Lelaki itu kembali menenggak alkoholnya.
"Siapa yang mengajak lelaki ini kesini?" tanya Fazid kepada beberapa orang yang berkerumun di sana.
"Ah, aku yang mengajaknya, Zid." jawab Hobin.
Hobin baru kembali dari toilet. Ia agak bingung karena mejanya jadi ramai. Hobin adalah member reguler di sana sehingga sudah mengenal Fazid.
"Apa dia membuat masalah?" Hobin melirik ke arah temannya yang mabuk sedang tertawa-tawa sendiri.
"Seharusnya kamu beri tahu temanmu kalau pelayan wanita di sini bukan pelacur, Bin. Tadi temanmu mengganggu anak buahku."
"Hey, Hobin. Kamu sudah kembali? Hehehe.... klub ini tidak semenarik yang kamu ceritakan. Wanita itu sok jual mahal. Baru aku pegang pan*tnya saja dia marah-marah. Hehehe.... "
"Zid, maafkan aku. Sepertinya temanku mabuk. Tolong maafkan juga kelakuannya. Aku akan mengajaknya pulang."
"Heh! Aku tidak mau pulang! Aku tak mau pulang sebelum wanita itu meminta maaf."
"Apa-apaan sih, dasar gila! Cepat ikut aku!" Hobin memapah tubuh temannya yang tak berdaya karena kebanyakan minum.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf ya, Zid." ucap Hobin sebelum berjalan meninggalkan klub.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fazid pada Jihan.
Wanita itu menggangguk, "Terima kasih, Bos."
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati kalau melayani tamu yang mabuk. Suruh pelayan cowok saja."
"Iya, Bos."
"Sekarang, kembalilah bekerja. Kalian semua juga kembali bekerja." Fazid membubarkan kerumunan anak buahnya.
Tring!
Setiap pintu klub terbuka, akan terdengar bunyi seperti itu. Artinya, ada tamu baru yang masuk.
Fazid mengarahkan pandangan ke arah tamu yang baru datang. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat sosok yang dikenalnya datang bertandang ke klub. Namanya Arya, pemilik klub seberang jalan yang kemarin sempat ditutup karena kasus jual beli narkoba. Fazid heran, kenapa orang itu tiba-tiba datang ke klubnya.
Arya dengan gagah dan angkuhnya menapakkan kaki memasuki King Crown. Di belakangnya mengikuti belasan anak buahnya yang membawa senjata alat pemukul kayu. Tanpa basa-basi, anak buahnya langsung menyebar, merusak barang-barang dan minuman yang ada di klub. Fazid mematung. Ia bingung harus berbuat apa. Para pelayannya juga ketakutan.
Fazid dan Arya berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat. Arya mengembangkan senyum sinis padanya.
"Kenapa kamu lakukan semua ini?" tanya Fazid.
Arya mencengkeram kerah kemeja Fazid, matanya tajam menyiratkan kebencian. "Pura-pura tidak tahu?"
"Aku memang tidak tahu."
Bugh!
Satu pukulan Arga layangkan mengenai pelipis kiri Fazid. Tak puas sampai di situ, dia kembali memberikan beberapa pukulan hingga sudut bibir Fazid mengeluarkan darah. Fazid tak tinggal diam. Ia turut membalas pukulan kepada Arya. Keduanya saling terlibat baku hantam.
Sementara, anggota Arya yang lain juga masih sibuk merusak barang-barang yang ada di klub. Termasuk memecahkan kaca-kaca jendela. Ada pula yang menghajar para pelayan laki-laki yang ada di sana. Pelayan perempuan hanya bisa menjerit-jerit melihat kekacauan yang mereka ciptakan.
Fazid sudah babak belur. Seluruh tubuhnya seakan mau remuk karena terus dihajar oleh Arya. Dia terkapar tak berdaya di lantai.
"Ternyata kamu lemah juga, ya. Cih!" Arya mengolok-olok Fazid.
__ADS_1
Fazid hanya bisa diam direndahkan seperti itu. Dia tidak menyangka kalau malam ini Arya dan anak buahnya akan menyerbu klub malam miliknya. Di saat yang penting seperti ini, dia juga menyayangkan Red Wine justru tidak sedang berjaga di klubnya. Entah dimana mereka sampai klubnya hancur begini.
"Kita memiliki bisnis yang sama. Kenapa kamu lakukan hal seperti ini?" dalam keadaan terluka Fazid masih sempat bertanya.
"Kalau kalian tidak berbuat licik padaku, aku tidak akan menyentuh tempat ini. Kesabaranku sudah habis dengan kelicikan kalian."
"Kelicikan apa? Aku tak pernah sekalipun mengusik klub milikmu."
Arya memegangi leher Fazid seolah ingin mencekiknya, "Mana ada orang licik mau mengaku."
"Cepat hubungi bosmu, suruh dia datang sekarang juga!" perintah Arya.
Arya mengambil ponsel Fazid dari dalam kantong jas. Dia buka ponsel itu, membuka kontak dan mencari nomor milik Bayu. Ia tekan tombol panggilan.
"Jangan! Aku tak ingin berbicara dengan bos!"
"Hah! Kita lihat saja. Kalau kamu tidak mau berbicara dengan bosmu, biar aku matikan seluruh orang yang ada di sini."
"Halo, ada apa, Fazid?" terdengar Bayu mengangkat teleponnya. Sebenarnya Fazid tak mau terlihat lemah di hadapan Bayu. Ia ingin menyelesaikan masalah klubnya sendiri. Namun, Arya mengancam dengan anak buahnya yang sudah mereka hajar juga.
"Bos.... tolong datang ke King Crown sekarang. Ada hal penting yang harus Anda tahu." ucap Fazid.
"Sepertinya malam ini aku tidak bisa, Zid. Aku sibuk. Besok malam aku akan menemuimu."
"Mau tidak mau kamu harus datang." ucap Arya.
"Siapa kamu?"
"Kalau ingin tahu, datang sekarang juga ke King Crown. Jika kamu tidak mau datang, seluruh anak buahmu di sini yang akan menanggung akibatnya."
"Bangsat! Berani-beraninya kamu mengancamku."
Klik
Arya memutuskan sambunga telepon secara sepihak.
"Mari kita lihat, apakah bosmu itu peduli dengan anak buahnya. Sombong sekali dia mentang-mentang bisnis klabnya paling maju di kota ini."
__ADS_1