ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Malam yang Berat


__ADS_3

Sama seperti yang dilakukan Fredi, Ben juga mendapat tugas bertandang ke mansion tuannya sendiri, Samuel Bagaskara. Ben merupakan orang yang sudah hafal dengan seluk beluk tempat itu. Jadi, dia tidak perlu bantuan Alex untuk memetakan tempat yang akan ia datangi.


Ben membawa sepuluh orang bersamanya, anggota dari Red Wine, anak buah Bayu yang diutus untuk mendampingi Ben. Awalnya Ben berniat menolak, karena dirinya saja sudah cukup untuk menjalankan tugas yang diberikan. Namun, Bayu memaksa agar ia tetap membawa anak buah. Apalagi kondisi Ben yang belum stabil.


Ben datang membawa dua rombongan mobil dengan santai. Penjaga gerbang yang mengenali Ben mengijinkannya masuk. Mereka masih anak buah Ben.


Setibanya di depan pintu masuk, ia dihadang oleh Lukas, anak buahnya yang sedikit tidak menyukainya. Dia menatap Ben dengan tatapan bermusuhan.


"Kenapa kamu datang ke sini, Kak?" tanyanya.


"Apa kamu keberatan? Bukankah biasanya aku juga selalu keluar masuk rumah ini?"


"Sepertinya Tuan Samuel sudah tidak menyukaimu lagi. Jadi, kehadiranmu tidak akan aku sambut dengan baik."


Lukas menodongkan pistolnya ke arah Ben.


Ben hanya tersenyum melihatnya, "Itu hanya pikiranmu saja yang ingin menyingkirkanku. Apa ada perintah langsung dari Tuan Samuel untuk mengusirku?"


"Dia bahkan sudah mencambukmu tanpa ampun. Aku yakin Tuan Samuel akan setuju dengan tindakanku ini." Lukas masih mengarahkan senjatanya pada Ben.


"Yang memiliki pistol di sini bukan hanya kamu." Ben mengeluarkan pistol dari dalam saku jasnya dan mengarahkan kepada Lukas.


"Berani-beraninya kamu menghalangi aku, tangan kanan Tuan Samuel. Jika aku menyebutkan namamu di depannya, kamu pikir bisa selamat?"


Ben memberikan tatapan intimidatif kepada Lukas. Seolah dia tidak main-main dengan ucapannya.


"Aku ditugaskan oleh Tuan Samuel dan Tuan Muda untuk mengambil bebera dokumen dan membawakannya untuk Tuan Saddam. Mereka sedang makan malam bersama saat ini. Apa kamu mau mengulur waktuku?"


"Apa kalian juga sama dengan Lukas?"


Ben menatap kepada anak buahnya yang lain, semuanya mundur teratur. Mereka takut kepada Ben apalagi kepada Tuan Samuel.


"Kalau kamu tidak mengijinkanku masuk, cari sendiri dokumennya dan antarkan sendiri kepada Tuan Samuel. Aku akan pulang."


Lukas menurunkan senjatanya, "Kak Ben, kenapa jadi orang terlalu kaku. Aku hanya bercanda. Hahaha.... "


"Silakan, Kak. Ambil saja apa yang kamu inginkan. Maafkan aku."


Ben kembali menyimpan senjatanya di dalam saku jas. Ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk mengikutinya. Ruangan yang Ben tuju tentu saja ruang kerja Tuan Samuel.


*****


"Selamat malam, Tuan Saddam."


Baru saja Tuan Saddam bersama istri dan putrinya keluar dari area lounge memasuki area lobi hotel, beberapa orang berpakaian preman menghentikan langkah mereka.


Bodyguard yang mengawal Tuan Saddam berusaha maju, namun mereka langsung mundur kembali setelah orang yang mencegah langkah mereka menunjukkan tanda pengenalnya. Mereka polisi.


"Kak Bara.... " Valerie kaget melihat Bara ada di sana, menjadi salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Lancang sekali kalian menghalangi jalanku!"


Baru saja Tuan Saddam dibuat emosi oleh keluarga Bagaskara, sekarang ada lagi polisi yang mau mencari perkara dengannya. Mereka kira dia tidak punya koneksi orang dalam kepolisian yang bisa melindunginya.


"Maaf, kami hanya menjalankan tugas. Silakan Anda ikut dengan kami ke kantor polisi."


"Kalau ada urusan denganku, hubungi pengacaraku saja."


Tuan Saddam hendak menerobos polisi itu, namun tangannya dicekal.


"Anda kami tangkap atas tuduhan penimbunan ganja. Silakan hubungi pengacara Anda setelah ini."


Tuan Saddam sangat syok dengan perkataan polisi itu. Kedua tangannya diborgol layaknya penjahat.


"Apa-apaan ini! Aku tidak tahu apa-apa, hey! Aku bisa melaporkan balik kalian semua!" Tuan Saddam berusaha memberontak.


"Lepaskan suami saya! Apa yang kalian lakukan!" Istri Tuan Saddam ikut histeris melihat suaminya akan digelandang ke kantor polisi.


Tiba-tiba situasi di depan hotel itu menjadi sangat ramai. Sebelumnya, di area lounge ada pertunjukan gila oleh Bayu Bagaskara. Sekarang, giliran Tuan Saddam yang menjadi pemeran utama.


"Lepaskan! Lelaskan! Jangan bawa suami saya!"


Valerie berusaha menenangkan ibunya yang berteriak histeris. Polisi terus menyeret Tuan Saddam agar masuk ke dalam mobil polisi. Bodyguard yang menjaga Tuan Saddam tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat tuannya dibawa oleh polisi.


"Valerie, Papa.... Huhuhu.... "


"Sudah, Ma. Tenang dulu. Nanti kita hubungi kakak-kakak dan juga pengacara Papa. Pasti semuanya akan baik-baik saja."


"Mama sebaiknya pulang ke rumah dulu, ya." ujar Valerie.


"Pak, tolong antar Mama pulang. Kalian semua juga ikut pulang, jaga Mama. Nanti aku akan menyusul."


Valerie memerintahkan pengawalnya untuk membawa mamanya pulang. Sementara, Valerie tetap di sana berhadapan dengan Bara. Dia ingin meminta penjelasan dari Bara mengapa ayahnya sampai harus dibawa ke kantor polisi.


Bara menatap Valerie dengan tatapan yang masih sama. Valerie adalah adik kelasnya semasa SMA. Saat kuliah, mereka juga sempat dekat namun tidak sampai pacaran. Bara menyukai wanita itu, namun Tuan Saddam tidak menyukai kedekatan mereka.


Tuan Saddam pernah membuat ayahnya dimutasi ke tempat terpencil yang jauh dari ibukota karena dia berani mendekati putrinya. Dia juga pernah diancam kalau karir ayahnya akan dihancurkan jika ia tidak mau menjauhi Valerie. Akhirnya, ia mengalah terhadap perasaannya.


Ayahnya bisa kembali lagi bertugas di ibukota berkat jasanya mengungkap kasus pembunuhan di tempat Beliau dimutasi. Ayahnya memang seorang polisi yang penuh dedikasi. Berkat kerjanya yang sungguh-sungguh, akhirnya Beliau bisa menduduki jabatannya saat ini sebagai Wakapolda.


Bara memang masih belum melupakan perlakuan Tuan Saddam terhadapnya. Namun, ia ada di sana malam ini bukan untuk membalaskan dendam, tapi murni untuk menjalankan tugasnya.


Di tempat lain, ayahnya telah menggerebek tempat penimbunan ganja yang ada di gudang kayu milik Tuan Saddam. Maka tugasnya di hotel itu untuk menjemput pemilik ganja tersebut, yaitu Tuan Saddam. Ia tidak menyangka akan bertemu Valerie di sana.


"Kak, bisa kita bicara sebentar?" ucap Valerie.


Bara mengangguk.


Valerie mengajak Bara ke area parkiran, lalu mdnyuruhnya ikut masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Apa kabar, Kak?"


"Baik. Kamu sendiri?"


"Aku juga baik."


Keduanya masih tampak canggung untuk saling menyapa. Sudah lima tahun mereka tidak bertemu. Selain karena kesibukan masing-masing, tentu saja juga karena Tuan Saddam.


"Aku dengar Kakak sedang tugas di luar pulau."


"Iya. Kemarin aku baru pulang."


"Apa tugasnya sudah selesai?"


"Belum. Masih ada tiga bulan lagi."


"Apa kamu pulang ada hubungannya dengan ayahku?"


"Iya."


"Kenapa ayahku harus ditangkap?"


Bara menatap ke arah Valerie. Dia tahu, wanita itu bahkan mungkin tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan ayahnya. Valerie anak yang baik, meskipun memiliki orang tua seperti itu.


"Aku takut kamu akan syok."


Valerie tertawa kecil, "Memangnya apa yang bisa ayahku lakukan sampai aku bisa syok? Merampok? Membunuh orang?"


Bara menggeleng, "Ayahmu menimbun dua ton ganja di gudang pabrik kayu miliknya."


Valerie langsung membulatkan mata. Ia menatap Bara tanpa berkedip. Rasanya apa yang baru saja ia dengar adalah hal yang tidak mungkin.


"Ayahku tidak mungkin seperti itu."


"Aku tahu ini sulit dipercaya."


"Kalau kamu mau membantu ayahmu, persiapkan saja pengacara. Kita akan bertemu kembali di pengadilan."


"Aku pergi dulu, ya. Aku harus kembali ke kantor polisi."


"Kak.... "


Suara Valerie mengurungkan niat Bara untuk membuka pintu mobil. Bara kembali duduk di tempatnya, memandang ke arah Valerie yang matanya mulai berkaca-kaca. Dia ingin menghibur wanita itu, tapi dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghiburnya. Ia tidak bisa membantu membebaskan ayahnya karena apa yang telah dilakukan termasuk kejahatan besar.


"Apa Kak Bara melakukan ini karena dendam kepada papaku? Kalau iya, tolong maafkan papaku, ya.... " Valerie mengatakan hal itu sambil menangis.


"Aku tahu papaku sudah sangat jahat kepada Kakak. Aku minta maaf." suara isakan Valerie terdengar semakin keras.


Bara tak kuasa menahan diri. Ia menarik Valerie ke dalam pelukannya. Valerie semakin keras menangis.

__ADS_1


"Aku tidak dendam kepada ayahmu. Aku seorang polisi, Valerie. Aku hanya menjalankan tugasku."


"Aku tidak akan menyentuh ayahmu jika dia tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum."


__ADS_2