
Andin keluar dari ruangan dibuntuti oleh Valerie. Saat sampai di depan butiknya, ada pemandangan yang membuatnya tercengang. Arga membawa seikat balon serta sebuah buket bunga mawar besar dengan tulisan 'Will you Marry me?'
Sungguh, ia merasa tingkah Arga sangat kekanak-kanakan di usianya yang sudah tidak muda lagi. Perbuatannya sudah menimbulkan kerumunan, bahkan seluruh karyawannya juga ikut-ikutan berkerumun karena ingin tahu. Bagi Andin, itu sangat memalukan. Ia sudah memperingatkan Arga agar tidak datang ke kantornya dan dia tidak ingin membahas apapun tentang hal yang bersifat pribadi. Dan lelaki itu nekad melamarnya di depan umum.
"Cie Bu Andin dilamar.... Terima dong, Bu." seru salah satu karyawannya.
"Terima.... Terima.... Terima.... " spontan orang-orang di sana bersorak agar Andin mau menerima lamaran dari lelaki tampan yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Andin.... Terima bunga ini kalau kamu mau menerima lamaranku. Tapi, kalau kamu menolak, ambil saja balon ini."
"Ayo Bu Andin maju.... Ambil bunganya!"
Andin heran dengan suara karyawannya yang sangat semangat itu. Valerie ikut-ikutan mendorong Andin agar maju ke depan.
"Terima.... Terima.... Terima.... " kembali, para penonton memberi semangat untuk kedua tokoh yang ada di trngah mereka.
Andin berjalan selangkah demi selangkah mendekat ke arah Arga. Arga tampak bahagia dari raut wajahnya yang dipenuhi senyum. Setelah pendekatan yang selama ini ia lakukan lagi, akhirnya hari ini ia mantap untuk melamar Andin kembali.
"Andin, kali ini aku sungguh-sungguh ingin menikah denganmu. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu."
Andin ragu dengan keputusannya. Dia bahkan tak pernah memikirkan kembali arah hubungannya dengan Arga. Baginya, semua sudah selesai ketika Arga memutuskan untuk meninggalkannya.
Suara riuh dari orang-orang yang menonton mereka saat ini masih terdengar. Andin mulai mengulurkan tangannya, berniat memilih dua benda yang Arga tawaran sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Pada akhirnya, Andin memutuskan untuk memilih buket mawar besar itu di hadapan semua orang. Arga sangat bahagia, begitu pula dengan orang-orang yang menjadi saksi di sana. Reflek, Arga memeluk Andin erat saking bahagianya.
Sementara, tak jauh dari kerumunan orang-orang itu, ada Bara dengan seragam polisi yang masih melekat, ia membawa sebuah pot kecil berisi bunga anggrek pink. Langkahnya terhenti saat melihat keramaian yang ada di depan kantor Andin. Ia tidak akan menyangka jika saat itu, ada seseorang yang sedang melamar Andin dan dia menerimanya.
Sebenarnya pot bunga itu ingin ia berikan kepada Andin. Bara saat ini memang sedang tertarik dengan wanita yang lebih tua satu tahun darinya itu. Dia menyadari bahwa perasaannya sudah berubah, ketika ia menemukan kenyamanan setiap kali berbicara dengan Andin dibandingkan Valerie.
Di masa lalu, ia cukup akrab dengan Andin. Keakraban yang terjalin hanya karena Bara ingin mengetahui kondisi Valerie tapi tidak mau bertemu langsung dengannya. Andin jadi tempatnya bertanya. Saat Andin kembali ke tanah air dan membuka usaha di Kita J, Bara juga masih berhubungan baik dengannya, masih menanyakan kabar tentang Valerie. Hingga baru-baru ini ia menyadari jika dirinya mulai tertarik kepada Andin, meskipun Andin hanya menganggapnya sebagai adik. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya, harapannya langsung pupus.
Bara berbalik badan membawa pot bunga yang dibawanya. Sepertinya dia akan meletakkannya di belakang kantor Andin saja bersama tanaman-tanaman yang lain. Meskipun lebih indah jika pot bunga itu bisa menghiasi meja kerja Andin.
__ADS_1
Bara berjalan santai menuju area belakang kantor melewati sisi kiri bangunan. Di belakang kantor, ada taman kecil dipenuhi pot-pot tanaman bunga dan sayuran.
Ketika hampir sampai di area belakang, sayup-sayup ia mendengar suara perbincangan orang. Semakin ia mendekat, semakin jelas terdengar suaranya. Ia bertemu lagi dengan Andin dan Arga di belakang sana. Sepertinya keduanya sedang berdebat.
"Aku kembalikan bunga ini dan lupakan kalau hari ini pernah terjadi."
Andin mendorong kasar buket bunga itu kepada Arga. Membuat Arga tampak terkejut melihat perubahan sikap Andin padanya. Tadi, Andin sudah jelas-jelas menerima lamarannya. Kali ini, Andin tampak sangat marah dihadapannya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini? Tadi.... Kamu sudah menerima lamaranku."
"Aku hanya menjaga harga diri Kak Arga di depan karyawanku!" tegas Andin. "Aku hanya ingin Kakak tidak merasa malu jika aku menolakmu di depan banyak orang." nada Andin meninggi.
Arga terperangah tidak percaya mendengar kejujuran Andin. Dia tidak menyangka wanita itu sejak tadi hanya berakting di depannya.
"Jelas-jelas aku sudah memperingatkan untuk tidak datang ke kantorku. Dan aku juga tidak suka membahas masalah tentang kelanjutan hubungan kita."
"Hubungan kita sudah berakhir dan aku tidak mau memulai lagi sesuatu yang sudah diakhiri!"
Arga menjatuhkan buket bunganya serta melepaskan balon yang sedari tadi ia genggam hingga melayang ke udara.
Mata Andin mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat marah sekaligus sedih. Berhadapan dengan Arga membuatnya kembali harus mengingat kenangan lama yang sangat menyenangkan.
"Aku sudah memaafkan, tapi tidak untuk melupakan." Andin berusaha tetap menegarkan diri agar air matanya tidak jatuh.
Raut wajah Arga berubah sedih. Ia letakkan kedua tangannya pada pundak Andin dan menatapnya penuh harap, "Beri aku kesempatan. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Tolong, percayalah padaku."
Andin menyingkirkan tangan Arga darinya. Air matanya mulai luluh, seakan kepedihan hari itu kembali terputar lagi dalam ingatannya.
"Kak.... Sebelum akhirnya aku terbiasa tanpamu.... Aku pernah hampir gila melewati rinduku." Andin mulai berkata dengan bibir yang bergetar. Sorot mata beningnya menatap serius kepada Arga.
"Aku pernah sakit karena menahan diri untuk tidak mencarimu."
__ADS_1
"Aku pernah begitu terluka melewati hari-hari tanpa dirimu."
"Sampai pada titik dimana aku terbiasa dengan ketidakhadiran dirimu lagi."
Andin menghela nafas panjang di sela-sela tangisannya, "Jadi, aku mohon.... Jangan kembali sebagai apapun dalam hidupku."
Andin mengusap air matanya seraya berbalik untuk meninggalkan Arga. Sebelum ia bisa pergi, Arga lebih dulu menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukan yang erat. Andin berusaha melawan sembari menahan tangisannya yang sudah pecah.
"Tolong, lakukan apapun.... Kamu bisa memukulku untuk melampiaskan kemarahanmu."
"Tapi, jangan memintaku untuk berhenti mengharapkanmu bisa menerimaku lagi. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan hidupku jika kamu menolakku."
Arga ikut menitihkan air mata. Andin, mendorong begitu saja tubuh Arga. Kali ini ia melepaskannya. Tanpa berkata sepatah katapun, Andin pergi menggalkannya.
"Andin.... "
"Andin....!"
Bahkan suara seruan dari Arga tidak dihiraukan. Andin semakin mempercepat langkahnya menuju bagian depan kantor, meninggalkan Arga sendiri di belakang.
Sementara, Bara sejak tadi hanya bisa mematung menjadi saksi pertengkaran antara dua orang itu. Niatnya untuk meletakkan pot yang ada di tangannya sepertinya akan kembali tertunda menunggu Arga meninggalkan tempat itu.
*****
Jari-jari Prita mulai bergerak. Sepertinya ia sudah bisa merasakan kembali kehidupan nyata. Rasanya ia baru saja bermimpi lama, terbang melayang-layang di udara. Matanya mulai mengerjap. Hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih rumah sakit. Ia kini berada di sebuah kamar rumah sakit.
"Prita.... "
Hal pertama yang ia dengar adalah suara Ayash. Dia berdiri tepat di samping ranjangnya. Wajahnya terlihat sangat antusias menatapnya hingga seperti orang yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Prita sudah kembali sadar.
"Prita....!"
__ADS_1
"Prita.... "
Sejurus kemudian, tampak Irgi dan Raeka turut berlari menghampiri ke arahnya. Mereka langsung memeluk Prita dengan penuh perasaan gembira.