ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Titik Terang Penyebab Kematian Shuwan


__ADS_3

Moreno menangis tersedu-sedu di depan tempat penyimpanan abu jenazah Shuwan. Hampir setiap hari ia mengunjungi tempat peristirahatan terakhir dari kekasih yang belum sempat ia nikahi. Ia sangat menyesal dengan kematian Shuwan, seharusnya ia segera menikahinya saja meskipun harus merusak karir dan nama baiknya. Dia tak hanya kehilangan Shuwan, tetapi juga calon bayinya. Bayi yang dulu tidak diinginkannya kini benar-benar peegi bersama ibunya.


Saat Shuwan mengalami kecelakaan, Moreno sedang berada di luar negeri untuk mengikuti pendidikan sebagai seorang pelatih olahraga memanah. Karirnya sebagai atlet sepertinya akan redup, sehingga ia memutuskan untuk beralih profesi menjadi seorang pelatih profesional dengan cara mendapatkan sertifikat kepelatihan dari luar negeri.


Ia sangat terkejut sekaligus terpukul, ketika kembali pulang ke tanah air, mendengar kabar jika Shuwan telah meninggal sebulan setelah kepulangannya karena kecelakaan. Sikapnya yang plin plan dan pengecut membuatnya harus kehilangan dua orang yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya.


Untuk menebus rasa bersalahnya, setiap malam Moreno akan datang ke sana, menangis di depan abu Shuwan sembari mengucapkan kata maaf yang sudah tidak berarti. Dia manusia paling egois di dunia ini. Sudah seharusnya ia akan langsung bertanggung jawab ketika Shuwan mengandung anaknya. Tapi, yang dilakukannya justru kabur, lari dari kenyataan. Shuwan harus menanggung pahitnya kehidupan sendiri karena keegoisannya.


"Apa Anda yang bernama Moreno?"


Tangisan Moreno terhenti ketika ada seseorang yang menyebut namanya. Ia membalikkan badan. Tampak lima orang berpakaian seragam polisi berdiri di sana.


Moreno bertanya-tanya dalam hati, apa kesalahan yang telah dibuatnya sehingga ada polisi mencarinya? Ia merasa tidak pernah berbuat kriminal. Apa mungkin karena dia mengunjungi rumah abu pada malam hari? Tapi, tempat itu boleh dikunjungi selama 24 jam. Sepertinya tidak ada larangan apapun yang ia baca sebelum masuk ke sana.


"Benar, saya Moreno."


"Ada kepentingan apa Bapak mencari saya?" tanya Moreno.


"Silakan ikut kami ke kantor polisi."


Bapak polisi itu berusaha memegang lengan Moreno, namun ia menepisnya. "Maaf, Pak. Kalau tujuannya tidak jelas, saya tidak mau ikut dengan kalian."


"Kami sudah menangkap orang yang menabrak Nona Shuwan Mei empat bulan lalu."


Moreno terkejut. Penabrak Shuwan akhirnya bisa diketahui oleh polisi. " Siapa, Pak. Katakan siapa yang sudah menabrak Shuwan!?" Moreno bertanya dengan nada memaksa. Amarahnya tiba-tiba meninggi saat mendengar tentang penabrak Shuwan. Kalau bisa, ia ingin menghajarnya karena telah berani membuat kekasihnya meninggal.


"Anda akan tahu jika bersedia ikut dengan kami."


Mau tidak mau Moreno harus mengalah mengikuti polisi-polisi itu menaiki mobil yang digunakan untuk menjemputnya. Sementara, mobil yang ia gunakan dibawa oleh salah satu dari mereka.


Sesampainya di kantor polisi, Moreno diajak memasuki sebuah ruangan untuk mempertemukan dirinya dengan pelaku penabrak kekasihnya. Ia sudah tidak sabar melihat siapa sosok tersangkanya.


Ketika dua orang polisi wanita memasuki ruangan itu dengan membawa seseorang bersamanya, Moreno langsung terperanjat kaget hingga langsung bangkit dari kursinya.

__ADS_1


"Yana!" serunya.


Sosok wanita memakai baju berwarna orange serta kedua tangan yang diborgol itu adalah Yana, mantam istrinya. Ia tidak menyangka kecelakaan yang menimpa Shuwan ada hubungannya dengan mantan istrinya itu.


Yana masih tertunduk. Kedua polisi itu mendudukkannya tepat di hadapan Moreno.


Moreno merasa tubuhnya seketika lemas. "Yana.... Katakan kenapa kamu ada di sini?"


Yana terdiam sejenak. Sudah lama dia tidak bertemu mantan suaminya dan saat ini mereka dipertemukan kembali dalam kondisi Yana menjadi seorang tersangka.


"Aku yang sudah menabrak Shuwan." ucap Yana dengan nada lirih.


Moreno menghela nafas panjang, "Katakan kalau itu tidak benar."


"Maafkan aku." Yana tak mengelak apa yang sudah diperbuatnya.


"Yana....!"


Brak!


"Hah! Kamu sudah gila, Yana!"


Betapa Moreno sangat emosi, wanita yang sangat ia cintai dicelakai oleh mantan istrinya sendiri. Seandainya itu bukan kantor polisi, mungkin ia sudah menampar keras pipi Yana.


"Kenapa.... Kenapa.... !?" Moreno masih bertanya dengan nada emosinya. Matanya sudah berkaca-kaca, perasaannya campur aduk antara sedih dan marah.


Kemarahan Moreno membuat dada Yana bergetar. Namun, ia tetap menegarkan diri untuk menghadapinya.


"Aku hanya tidak menyukainya. Dia yang sudah membuat kita berpisah, dia juga yang sudah membuat anakku kehilangan sosok ayahnya."


Saat melakukan aksinya, sebenarnya Yana tidak benar-benar ingin sampai membunuh Shuwan. Amarah datang begitu saja ketika melihat Shuwan melintas di depannya saat ia mengemudikan mobil. Ia hanya berniat sedikit melukai Shuwan dengan cara menabraknya dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang.


Melihat kondisi Shuwan yang tengah hamil besar semakin meningkatkan rasa bencinya. Sebelum Shuwan hamil saja, Moreno jarang meluangkan waktu untuk anaknya. Apalagi saat Shuwan telah melahirkan anak, putranya pasti akan dicampakan oleh Moreno. Dia tidak menyukai bayangan itu, sehingga ia nekad menabrak Shuwan hingga terpental beberapa meter ke sisi jalan. Ia tidak menyangka jika apa yang dilakukannya bisa berakibat fatal sampai menyebabkan Shuwan meninggal.

__ADS_1


"Kamu bilang apa? Kita berpisah karena Shuwan?" Moreno butuh mengoreksi perkataan Yana. "Yana, kita berpisah karena sudah tidak ada kecocokan di antara kita. Kenapa kamu membawa-bawa nama Shuwan yang tidak tahu apa-apa?"


"Aku tahu kamu menceraikanku karena Shuwan."


Moreno mengacak rambutnya frustasi, "Aku sudah memberikan semua yang kamu minta sebelum bercerai, Yana. Aku memberikanmu rumah, apartemen, mobil, dan villa untukmu! Apalagi yang kurang sampai kamu tega mencelakai Shuwan, hah!?"


"Aku menginginkanmu!" Yana menjawab dengan nada tegas dan keras. "Aku ingin kita bisa menjadi keluarga utuh seperti dulu dan anak kita tidak perlu melihat orang tuanya berpisah."


"Utuh katamu? Memangnya seperti apa kehidupan kita dulu saat masih menikah? Kamu mau anak kita terus-terusan melihat ayah dan ibunya bertengkar setiap hari?"


"Gila, kamu!" Moreno menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kamu masih memaksakan sesuatu yang memang tidak bisa disatukan? Aku tahu, kamu juga tidak benar-benar mencintaiku."


"Aku mencintaimu."


"Tidak, tidak.... Kamu hanya terpaksa bertahan karena aku seorang atlet yang cukup terkenal. Kamu hanya mengharapkan kebanggaan sebagai istri dari seorang atlet panahan, bukan karena cinta."


"Apa sekarang kamu sudah puas membuat Shuwan meninggal? Apa itu membuatmu bahagia sekarang?" ada bara yang membara di kedua bola mata Moreno. Kekesalannya sudah mencapai batas.


Yana hanya terdiam. Ia tidak menyangka dirinya akan berakhir di penjara. Mungkin, ia memang terlalu serakah. Seharusnya ia menjalani kehidupan ini apa adanya tanpa harus memaksakan apapun.


"Pertanggungjawabkan perbuatanmu. Sungguh, aku tidak akan bisa memaafkanmu."


Yana menitihkan air mata mendengar perkataan Moreno yang tak akan memaafkannya. Ia tahu kesalahannya sangat besar, tapi ia berharap Moreno tidak sampai membencinya.


"Aku harap tidak akan pernah bertemu denganmu lagi saking aku sangat membencimu."


Moreno bangkit dari duduknya. Ia sudah tidak betah berada di sana dan ingin segera pergi.


"Aku tetap ingin meminta maaf meskipun kamu tidak mau memaafkanku."


Perkataan Yana menghentikan langkah Moreno.


"Tolong jaga anak kita selama aku di sini. Jika dia tidak bisa bersama ibunya, setidaknya dia bisa bersama dengan ayahnya."

__ADS_1


Moreno melanjutkan langkah setelah mendengar kata-kata terakhir Yana. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Entah serpihan hatinya bisa ia tata kembali dengan benar atau tidak ke depannya. Yang jelas, ia merasa kecewa.


__ADS_2