
Setelah acara makan malam selesai, antara yang tua dan yang muda berpisah tempat. Para orang tua memberi kesempatan kepada anak mereka untuk bicara berdua.
Bayu membawa Valerie ke taman. Alex dan Eki masih mengikuti, namun berada pada jarak yang cukup jauh dari mereka sehingga pembicaraan di antara keduanya tidak bisa didengar.
Otak Prita sudah hampir pecah memikirkan kedua orang yang sedang dijodohkan itu. Dia sedang mancari hadiah yang pantas untuk suaminya jika mereka kembali nanti. Mungkin dengan surat cerai satu-satunya hadiah yang pantas diberikan untuk suami tercinta.
Sementara, Bayu dan Valerie tampak nyaman berbicara berdua. Tidak ada kecanggungan lagi saat mereka ngobrol, membahas banyak hal. Salah satunya tentang perjodohan mereka.
"Jadi, kamu akan tetap menerima perjodohan ini?" tanya Bayu.
"Ya.... Memangnya aku punya pilihan lain?" jawaban Valerie terdengar seperti jawaban orang yang putus asa.
"Kamu bisa mencoba menolaknya, kan?"
Valerie tersenyum, "Di dalam keluargaku, tidak ada yang berani menentang ayahku."
"Aku pernah beberapa kali dekat dengan pria. Semuanya bernasib sama. Ayahku membuat kehidupan mereka menderita. Jadi, aku tidak mau lagi membuat hidup orang lain menderita hanya karena aku mencintainya."
Valerie tampak sedih saat kembali mengingat masa lalu. Dia tak berani mencintai lelaki, karena semua akan berakhir sama.
"Terus terang aku sudah menikah dan memiliki tiga anak."
Perkataan Bayu mampu membuat Valerie menatap tajam ke arahnya. Seakan dia tidak percaya, lelaki di hadapannya itu telah menikah. Lelaki yang akan dijodohkan dengannya itu sudah menikah?
"Itu lebih gawat lagi." ucap Valerie.
"Kenapa?"
"Kamu pikir ayahku akan membatalkan perjodohan ini karena kamu sudah menikah? Kamu salah.... "
"Ayahku akan memaksamu menceraikan istrimu. Lebih parah lagi dia bisa menghabisi mereka."
"Apa ayahmu bisa sejauh itu?"
"Ya.... Karen itulah ayah kita bisa berteman. Aku tahu merek berdua sama saja. Dan nasib kita juga sama. Tidak bisa menolak perjodohan ini."
"Lebih baik kamu sembunyikan kenyataan kalau kamu mrmiliki anak dan istri. Aku juga tidak akan buka mulut."
"Hahaha.... Tapi aku tak mau menikah denganmu."
"Itu masalahmu."
"Kamu tidak mau membantu berbicara dengan ayahmu?"
"Aku tak mau mencari masalah dengannya. Lagipula, dia tidak akan mau mendengarkan perkataanku."
Bayu rasanya putus asa mencari cara menolak perjodohan itu tanpa membuat masalah. Ayah Valerie ternyata sama gilanya dengan ayahnya.
"Lalu, apa yang tidak disukai ayahmu?"
"Hmm.... Mungkin dipermalukan. Ayahku sangat tidak suka jika ada orang yang menghina dan mempermalukannya."
"Ya, tentu saja. Itu sesuai dengan kepribadian ayahmu yang ingin terlihat sempurna di mata orang lain."
Bayu mengeluarkan sebotol wisky dari dalam kantong jasnya, "Mau minum?" dia menawarkan pada Valerie.
"Tidak, terima kasih."
__ADS_1
Bayu meneguk wisky itu sendiri hingga habis satu botol tanpa tersisa.
Valerie geleng-geleng, "Apa kamu sedang frustasi? Mau mabuk untuk lari dari kenyataan?"
"Tidak, ini hanya sebatas untuk menghangatkan tubuh saja."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita masuk sekarang?"
"Kamu yakin? Masuk artinya memberi jawaban kepada orang tua kita tentang rencana perjodohan ini."
"Ya, untuk apa berlama-lama berpikir? Toh kita harus tetap menerimanya, kan? Satu-satunya cara membatalkan perjodohan ini hanya di tangan mereka, bukan di tangan kita. Jadi, sebenarnya pendapat kita tidak terlalu penting."
Bayu bangkit dari duduknya, berjalan ke tempat Alex dan Prita berada. Valerie mengikutinya di belakang.
Prita sudah membuang pandangan saat menyadari Bayu berjalan ke arahnya. Begitupula dengan Alex, dia ikut-ikutan membenci bosnya itu (yang baca juga sepertimya ikut benci Bayu).
"Eki, apa ada yang ingin kamu katakan?"
Dalam situasi seperti itu, Bayu masih bisa bertanya seperti itu padanya? Ingin rasanya dia menonjok lelaki itu berkali-kali.
"Tidak, Tuan Muda." Prita menjawab dengan nada tegas layaknya seorang pengawal.
"Bagus, kamu sudah mengingat kata-kataku."
"Tetap diam dan bekerja sama yang baik denganku."
"Baik, Tuan Muda."
Bayu dan Valerie masuk kembali ke dalam area restoran. Alex dan Eki mengikuti dari belakang.
"Rasanya aku ingin menghajarnya, Eki."
"Kalau begitu, setelah ini, kita hajar dia bersama."
"Ah.... Aku tidak berani." nyali Alex menciut.
"Pengecut."
"Ye.... Memangnya kamu berani?"
"Berani."
"Kita buktikan nanti."
"Lihat saja."
Mereka berjalan memasuki area lounge hotel setelah sebelumnya menghabiskan waktu di area restorannya. Suasana di sana cukup banyak pengunjung.
Orangtua Bayu dan Valerie duduk di salah satu sudut area itu sembari menikmati minuman.
"Oh, kalian sudah kembali. Kemarilah." Nyonya Bela melambai-lambaikan tangan ke arah mereka.
Valerie berlari kecil mengambil duduk di sebelah ibunya. Sementara, Bayu duduk di samping ayahnya. Alex dan Prita berdiri di pojokan tak jauh dari Bayu.
"Bagaimana Valerie, apa kamu merasa cocok dengan Bayu?" tanya Nyonya Bela lagi.
"Itu terserah Mama Papa saja. Aku mau saja dengan Kak Bayu kalau kalian menyetujuinya."
__ADS_1
Nyonya Bela dan Tuan Saddam tampak tersenyum lebar mendengar jawaban putrinya.
"Bagaimana denganmu, Bayu?"
"Saya juga tidak masalah dengan Valerie. Tapi, apa Tuan Saddam dan Nyonya Bela tidak masalah dengan kekurangan pada diri saya?"
Tuan Saddam dan Nyonya Bela saling bertatapan.
"Kekurangan apa?" Tuan Saddam sangat ingin tahu.
Bayu melirik sekilas ke arah ayahnya, tampaknya dia sudah bisa membaca jika Bayu akan mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Anda pasti sudah tahu kalau usia saya sudah tidak muda lagi. Umur saya 37 tahun, usia yang sangat jauh dengan putri Anda."
"Usia tidak masalah bagiku."
"Anda tidak bertanya, kenapa di umur sematang ini saya belum memiliki pasangan?"
"Bisa jadi karena sibuk bekerja, itu wajar untuk laki-laki."
"Maaf, Tuan, apa Anda bisa menerima kekurangan saya yang seperti ini?"
Bayu berdiri, lalu berjalan ke arah Prita.
Alex dan Prita sudah was-was dengan apa yang akan dilakukan Bayu.
"Diam dan bekerjasama." ucap Bayu.
Lalu, dia menarik Prita ke hadapan orang tua Valerie.
"Saya tidak bisa menikah dengan putri Anda karena menyukai pengawalku sendiri."
Bayu langsung melu*mat bibir Prita di hadapan mereka. Otomatis mata Prita langsung membulat dengan perlakuan Bayu yang tiba-tiba.
Alex tercengang melihatnya, begitu pula dengan orang-orang yang ada di sana. Bahkan ada yang sempat memotret momen langka itu.
Tidak sebentar Bayu memberikan ciuman. Prita sampai mencengkeram jas Bayu karena lelaki itu menciumnya dengan sangat agresif. Lidahnya menyisir seisi mulutnya hingga ia kesusahan untuk bernafas.
Samuel masih tidak percaya dengan kelakuan nekad anaknya. Dia berciuman dengan laki-laki di hadapan semua orang. Ia tidak tahu lagi kemana harus menyembunyikan wajahnya.
Hal yang sama dipikirkan oleh Tuan Saddam dan Nyonya Bela. Bisa-bisanya dia akan menjodohkan putrinya dengan lelaki seperti itu. Itu sangat memalukan.
Sementara, Valerie tersenyum lebar melihat kelakuan Bayu. Dia kagum lelaki itu berani mencium lelaki lain demi pembatalan perjodohan. Dia sangat salut dengan keberanian Bayu. Akhirnya dia ikut terlepas dari perjodohan yang tidak ia inginkan.
Bayu baru melepaskan ciumannya saat Prita hampir kehabisan nafas. Ia menggemggam erat tangan Prita.
"Jika Anda masih ingin menjadikan saya menantu, silakan hubungi ayah saya."
Setelah mengatakan hal itu, Bayu berbalik dan membawa Prita pergi dari sana. Sepanjang jalan, mereka menjadi pusat perhatian tamu-tamu yang lain. Alex ikut berlari pergi mengejar bosnya.
"Tuan Samuel, saya tidak menyangka Anda memiliki putra yang sangat menjijikan. Anggap rencana perjodohan ini tidak pernah ada. Benar-benar memalukan."
"Ayo, kita Pergi!"
Tuan Saddam mengajak istri dan putrinya pergi meninggalkan Samuel.
Samuel hanya menghela nafas. Meskipun itu hanya pura-pura, Samuel tidak menyangka anaknya bisa melakukan hal itu. Perkataan Tuan Saddam benar, itu memang sangat menjijikan.
__ADS_1