
"Aku tidak tau. Tapi, sepertinya aku mulai menyukaimu."
"Katakan itu langsung di depanku."
"Hah, apa?"
"Balik badan!"
Prita tidak paham apa yang Bayu minta. Menyuruhnya balik badan? memangnya ada apa?
Saat Prita berbalik, sudah ada Bayu dalam jarak lima meter di depannya. Dia langsung mematung, Bayu ada di sana. Kondisinya juga sepertinya tidak seburuk yang diceritakan di telepon.
Dia kira Bayu masih dirawat di Kota S. Tapi, dia ada di sini sekarang. Membuat bibirnya kelu, tak dapat berkata-kata. Apa yang tadi sempat ia ucapkan seketika membuatnya malu. Sepertinya memang Bayu sedang menggodanya.
"Ayo sini bilang, aku sudah ada di depanmu, kan?" ucap Bayu sambil tersenyum senang. Dia mematikan sambungan teleponnya karena sekarang mereka telah berhadapan secara langsung.
Bayu memang datang bersama dengan Ayash, hanya saja dia pergi ke toilet lebih dulu. Ternyata, Prita meneleponnya karena khawatir. Dia merasa sangat senang mendapat perhatian itu. Apalagi baru saja dia mendapat pengakuan cinta dari seorang wanita yang selama ini ia cintai.
Prita geram. Dia jadi malu sekali dengan ucapannya sendiri. Dia berjalan dengan langkah cepat ke arah Bayu. Bukan pelukan hangat yang ia berikan, tapi pukulan bertubi-tubi untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kamu bohong, ya? Katanya tidak bisa apa-apa. Lalu sekarang kenapa ada di sini!" ucap Prita dengan nada kesal. Dia terus memukul dan mendorong dada Bayu hingga Bayu harus terus berjalan mundur dibuatnya.
"Hahaha.... Menyenangkan mendengar responmu ketika aku bilang sedang sakit. Kamu jadi perhatian, kan?"
"Aku sumpahi sakit betulan baru tau rasa. Hah!"
"Ah!" pekik Bayu ketika punggungnya membentur dinding dengan keras akibat dorongan Prita.
Prita berhenti. Ia tidak sengaja memberi dorongan yang sedikit bertenaga. Lupa jika bagian punggung atau bahu belakang Bayu ada yang terluka.
Dilihatnya Bayu meringis menahan sakit di bagian belakang tubuhnya. Kondisinya memang belum terlalu pulih. Apalagi sebelum berangkat ke Kota J, dia belum sempat melihat lukanya karena pergi tanpa pamit kepada pihak rumah sakit.
"Maaf, ya. Aku nggak sengaja."
Prita menarik lengan Bayu. Dilihatnya bagian belakang badan, ada noda darah yang tercetak pada kaos putih yang dikenakannya.
"Ah, Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan. Ada darah!" Prita jadi panik sendiri. "Aku panggilkan perawat, ya!?"
Bayu menahan tangan Prita, "Tidak perlu, aku tidak apa-apa."
"Tapi lukamu sepertinya terbuka."
"Tidak apa-apa, ini sudah tidak sakit."
__ADS_1
"Ah! Pokoknya ikut aku biar aku lihat lukanya."
Prita menyeret tangan Bayu dan membawanya pergi ke suatu tempat.
"Pelan-pelan, Ta. Tanganku bisa putus."
Baru setelah mendengarkan itu, Prita memperlambat jalannya. Ia berjalan mensejajari Bayu di sebelahnya. Kalau dia sedang panik memang suka lupa dengan apa yang dilakukan.
Sesampainya di kamar rawat Daniel, Prita menyuruh Bayu duduk di sofa ruang tengah. Dia sendiri sibuk mencari kotak P3K.
"Buka bajumu!" perintahnya.
"Memang kita mau ngapain? Ini di rumah sakit, loh."
Dalam kondisi seperti itu Bayu masih sempat-sempatnya menggoda.
"Aku mau melihat lukamu."
"Tapi tanganku susah digerakkan gara-gara benturan tadi. Bisa bantu aku melepaskan bajuku?"
Nada bicara Bayu benar-benar tidak normal, dibuat-buat sengaja untuk menggodanya.
"Lepas celanaku sekalian juga boleh." tambahnya.
Bayu mendekatkan wajahnya, menatap tajam karena merasa diejek, "Coba ulangi lagi, cacing? Tidur?"
Prita meletakkan benda-benda yang dibutuhkannya di atas meja, "Punyamu tidak berfungsi, kan? Gayamu masih bisa memakainya saja!"
Bayu mengernyitkan dahinya. Apa wanita di depannya itu sedang mengejeknya impotensi?
"Dari mana kamu mendengar hal seperti itu? Kata-katamu membuatku semakin ingin menerkammu lho."
"Shuwan yang bilang padaku. Kaget kan, aku bisa tau."
"Pffft.... " Bayu berusaha menahan tawanya.
Shuwan, wanita sialan itu berani-beraninya berkata seperti itu pada Prita. Harga dirinya jadi jatuh karena hal itu.
"Kenapa ketawa? Hubungan kalian tidak langgeng karena kamu impotensi, kan?" seringai Prita.
Mendengar kata-kata seperti itu, Bayu langasung menarik tengkuk Prita kemudian menyatukan bibir mereka. Bibir cerewet yang suka bicara itu harus dibuat diam dengan ciuman.
Prita tak bisa mengelak ciuman mendadak yang agresif itu. Bibir atas dan bawahnya dilumat dengan gemas hingga tak memberinya kesempatan untuk menghindar. Yang ada ia ikut menikmatinya. Entah mengapa sensasi ciuman itu begitu terasa nikmat. Seperti ada getaran-getaran yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia terlena hingga tanpa sadar mulutnya terbuka dan memberi akses bagi lidah Bayu menyelinap ke dalamnya.
__ADS_1
Rasanya semakin nikmat manakala lidah mereka saling bertautan. Cairan saliva yang bercampur menimbulkan bunyi decapan. Keduanya sama-sama terhanyut menikmati setiap sengatan yang tercipta ketika lidah mereka bertemu. Nafas mereka bersautan, diselingi suara-suara penuh kenikmatan.
Tiba-tiba Bayu memegangi tangannya dengan mesra. Menggesernya perlahan menuju tempat yang diinginkan. Ketika sampai pada suatu gundukan yang mengeras, Bayu menahan tangan Prita di sana.
Prita langsung membelalakkan mata. Ia menghentikan ciumannya. Sadar tangannya menyentuh sesuatu yang tidak pada tempatnya, iapun memekik.
"Ah! Lepaskan tanganku dasar mesum!" Prita berusaha melepaskan tangannya yang Bayu tahan.
"Coba lihat siapa yang mesum sekarang? Kamu yang menyentuhku tapi aku yang dibilang mesum?" Bayu tertawa puas. Wanita yang tadi sibuk mengejeknya tidak bisa berkata-kata lagi.
"Jangan bergerak-gerak begitu, nanti tambah bangun."
Prita berhenti menggerakkan tangannya. Posisinya sangat memalukan dan Bayu memang orang yang tidak tau malu. Sementara, Bayu sangat puas mengerjai Prita.
"Siapa tadi yang bilang aku impotensi? Mau aku buktikan sekarang? Kamu bilang punyaku seperti cacing, kan? Coba ejek aku lagi."
"Aku hanya menyampaikan apa yang pernah Shuwan bilang padaku."
"Kamu tau kan, aku ini orangnya agresif. Jadi jangan memancingku kalau kamu tidak mau bertanggung jawab."
"Aku bantu buka ya biar kamu lihat sendiri."
Prita membelalakkan mata. Bayu sudah gila rupanya mau memberikan pemandangan yang tidak-tidak padanya.
Plak!
"Ah!"
Bayu menjerit kesakitan saat Prita dengan sengaja memukul pundak kirinya. Rasa sakit itu kembali muncul.
"Kamu mau membunuhku ya!?" seru Bayu.
"Salah siapa berbuat seperti itu?" Prita balik memarahinya.
"Kamu yang lebih dulu mengejekku. Aku hanya mau membuktikan kalau ucapanmu salah."
"Sekarang diam! Aku mau mengobatimu, jadi jangan macam-macam atau akan aku pukul lagi lukamu." Ancam Prita.
Dia mengambil gunting dari dalam kotak P3K. Untuk melepaskan baju Bayu, kelihatannya akan sulit. Jadi, dia memutuskan untuk menggunting baju itu saja agar mudah dilepaskan.
"Hah! Coba lihat ini, cara membantu melepas baju saja sudah tidak wajar. Rasanya aku seperti akan diperkosa oleh seorang wanita." gumam Bayu ketika Prita mulai menggunting baju bagian depannya.
"Diam! Jangan sampai aku marah dan salah menggunting yang lain."
__ADS_1
Prita lajut menggunting bagian lengan kanan dan kiri. Setelah bagian-bagian tersebut digunting, dia bisa dengan mudah melepaskan pakaian itu.