ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kelahiran Baby Dylan 2


__ADS_3

Sepi Banget yang vote 😁


Ayo dong votenya untuk dukungan kepada author. ditunggu, ya 😁


--------------------------------xxx---------------------------------


"Berani-beraninya kalian mengusirku, ya!"


"Maaf, Pak. Bu dokter butuh ketenangan, Anda sangat mengganggu."


Ketiga perawat laki-laki itu terus mendorong Bayu hingga keluar dari ruangan itu. Lalu, mereka mengunci pintu itu sesuai permintaan dokter Yessica.


"Buka pintunya! Buka! Buka!"


Bayu berteriak penuh emosi karena dikeluarkan paksa dari dalam ruangan. Ia sangat ingin mendampingi istrinya yang sedang kesakitan, tapi Yessica malah mengusirnya. Ia berjanji akan membuat perhitungan dengan dokter itu nanti. Mungkin ia akan membuat klinik pribadi Yessica ditutup karena sudah kurang ajar mengusirnya.


"Kenapa, Bos?"


Alex yang sedari tadi berada di luar bersama Daniel merasa keheranan melihat Bayu marah-marah dan diusir perawat.


"Ah, ya, tidak apa-apa."


Bayu berhenti emosi mengingat ada anaknya di sana. Ada juga pasangan suami istri yang tadi mengantarnya ke rumah sakit ikut berada di sana.


"Daddy, apa adik bayinya sudah lahir?"


"Belum, Sayang. Mungkin sebentar lagi."


"Jadi, istri Anda baik-baik saja, kan?" tanya wanita yang berusia sekitar 40-50 tahunan yang tampak khawatir itu.


"Ah, iya. Istri saya baik-baik saja. Tapi, air ketubannya sudah pecah dan bayinya harus lahir lebih cepat dari prediksi."


"Memangnya prediksi kelahirannya kapan?"


"Masih dua minggu lagi kata dokter."


"Oh, itu tidak apa-apa. Hal yang sangat wajar kalau hari kelahiran sedikit maju."


"Tuan Bayu.... "


Leta berlari tergopoh-gopoh sembari menggendong Livy. Di belakangnya ada Pak Ahmad dan Ragil yang membawa barang-barang, serta Rahma yang ikut berjalan cepat sambil menuntun Dean.


Bayu menepuk dahi melihat kedatangan rombongan dari rumah yang tampak seperti orang akan mengungsi. Banyak sekali barang yang mereka bawa, padahal Bayu hanya menyuruh Leta untuk membawa tas perlengkapan bayi dan kebutuhan Prita.


"Kalian ini mau kemana? Kenapa seisi rumah dibawa semua?"


"Tuan Bayu sendiri yang memerintah saya membawa barang. Jadi saya bawa yang sekiranya diperlukan selama Nyonya di rumah sakit." jawab Leta dengan muka polosnya.


"Tapi tidak sebanyak ini juga, Leta.... "


"Saya bawakan juga baju ganti untuk Tuan Bayu dan anak-anak supaya tidak perlu repot bolak-balik lagi."


"Ya, ya.... Terserah saja."


"Tuan, apa bayinya sudah lahir?"


"Belum, Leta. Mereka mengusirku jadi aku tidak tahu."


"Itu.... Kepala Tuan Bayu kenapa?"


Bayu sampai lupa kalau kepalanya terluka dan belum diobati, "Ini hanya terbentur saja."

__ADS_1


"Anda obati saja dulu, saya yang akan menjaga Nyonya nanti."


"Tidak, tidak.... Ini sama sekali tidak sakit."


Bayu menggigit kukunya sembari mondar-mandir di depan pintu. Orang-orang bisa duduk santai tidak seperti dirinya yang sangat gelisah menantikan kelahiran putranya. Sesekali ia mengintip ke dalam lewat jendela kaca. Belum ada tanda-tanda kalau anaknya sudah terlahir. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Klek!


Terdengar suara pintu dibuka. Semua mata langsung tertuju ke sana. Tampak seorang suster menggendong bayi kecil yang dibalut selimut sedang menangis.



"Selamat, Pak. Bayinya sudah lahir."


"Ee.... Ee.... Eeaa.... Eeaa.... " tangisan bayi itu terdengar kencang.


Mendengar suara bayi yang tampak sehat itu, semua orang bernapas lega, tak terkecuali dengan Bayu. Mereka yang ada di sana terlihat bahagia menyambut kehadiran keluarga baru di dunia ini.


"Pak, silakan kalau mau menggendong bayinya."


Perawat itu menyerahkan bayi itu kepada Bayu. Tangan Bayu sedikit gemetar ketika pertama kali menggendong sosok bayi mungil yang sangat menakjubkan. Merasakan menjadi seorang ayah ternyata sangat istimewa. Ia sampai ingin menangis saking terharunya. Anak berkulit putih dan berhidung mancung itu adalah anaknya, Dylan Bagaskara.


"Selamat ya, akhirnya bayi ini bisa terlahir dengan selamat. Saya ikut lega."


"Terima kasih. Ini juga berkat pertolongan Anda berdua yang sudah mengantar kami ke sini."


"Karena bayinya sudah terlahir, kami mohon pamit. Sebenarnya kami dalam perjalanan menuju acara resepsi pernikahan saudara."


"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Maaf, saya tidak bisa mengantar ke depan."


"Tidak apa-apa. Salam untuk istrinya nanti."


"Iya, akan saya sampaikan."


"Wah.... Lihat Livy.... Adikmu tampan sekali.... " ucap Leta sembari mendekatkan Livy kepada adiknya yang baru lahir.


Livy terlihat takjub dengan bayi mungil itu. Menurutnya, bayi itu sangat lucu, seperti boneka yang sering ia mainkan.


"Dean juga mau lihat!"


Dean yang pendek melompat-lompat berusaha melihat adiknya. Bayu yang paham lalu merendahkan tubuhnya agar Dean bisa melihat adiknya. Daniel juga ikut-ikutan ke depan melihat adik bayinya yang memiliki rambut pirang seperti dirinya.


"Adiknya kayak bule.... " ucap Dean.


"Bule dari mana, Dean? Ini anak Indonesia. Kamu itu yang bule, lahirnya di Singapura."


"Maaf, Pak. Bayinya diajak masuk dulu, ya. Mau IMD." Seorang perawat kembali menghampiri Bayu.


"IMD? Apa itu?"


Perawat itu tersenyum, "Belajar menyusu, Pak."


"Ahhh.... " Bayu mangguk-mangguk karena baru tahu.


"Daddy bawa adik kecil ke dalam dulu, ya. Kalian juga boleh ikut masuk kalau mau bertemu mama."


"Kalian juga boleh ikut masuk. Bawa sekalian barang-barangnya."


Bayu memasuki ruangan istrinya dengan perasaan gembira. Menggendong bayi mungil yang terasa sangat ringan itu menambah kebahagiaannya. Kali ini ia baru pertama kali merasajmkan bahagianya menjadi seorang ayah.


Satu persatu perawat yang yang ada di ruangan itu keluar. Kondisi Prita sudah dibersihkan sampai sisa-sisa persalinan tidak ada lagi. Dokter Yessica masih ada di sana menemani Prita.

__ADS_1


"Syukurlah putramu bisa cepat terlahir setelah aku mengusirmu. Kalau kamu tadi masih ada di sini, mungkin bayinya belum juga mau keluar." ucap Yessica sembari melepaskan sarung tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Itu hanya alasanmu saja." Bayu berjalan melewati Yessica dengan cuek.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan tatapan mata penuh cinta.


Prita tersenyum. Ia menganggukan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan yang Bayu ajukan.


"Lepaskan selimutnya lalu letakkan bayinya di atas perut ibunya. Biarkan dia belajar menyusu. Kamu bisa apa tidak?"


"Ya tidak bisalah! Memangnya aku dokter?"


"Ck!" Yessica berdecak.


Ia mengambil bayi dari gendongan Bayu dan melepaskan selimut yang membungkusnya. Lalu, ia tengkurapkan bayi itu agar mencari pu*ting ibunya untuk menyusu.


Tidak butuh waktu yang lama untuk bayi itu menemukan apa yang ia cari. Mulut kecil itu langsung berfungsi ketika menemukan pu*ting ibunya.


Segala hal yang baru Bayu lihat terasa istimewa. Termasuk melihat bayi kecil itu menyusu. Anak itu istimewa, tapi lebih istimewa lagi wanita yang telah melahirkan anak itu.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjadi istri yang hebat." Bayu mencium kening istrinya dengan perasaan penuh cinta.


"Kepalamu masih berdarah, Mas. Kenapa tidak diobati dulu?" Prita mengelus bagian kening Bayu yang terluka. Bahkan darah yang mengalur sudah menggelap dan kering.


"Rasa sakit ini tidak bisa dibandingkan dengan perjuanganmu melahirkan anak ini."


"Tapi, tetap saja harus segera diobati supaya tidak infeksi."


"Iya, nanti pasti akan aku obati."


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa masih sakit?"


Prita menggeleng, "Rasa sakitnya langsung hilang ketika melihat Dylan. Bahkan aku merasa sangat bahagia."


"Aku sangat bersyukur kecelakaan yang kalian alami tidak berakibat fatal pada bayi kalian."


"Syukurlah dia baik-baik saja dan sepertinya dia menjadi bayi yang sangat sehat."


"Ini juga berkat bantuan dokter. Terima kasih, Dok."


"Kamu juga sudah berjuang keras, Prita. Selamat atas kelahirannya."


"Di ruang tamu juga ada orang-orang rumah, Sayang."


"Oh, ya? Mereka sudah datang?"


"Iya."


"Anak-anak juga?"


"Iya. Livy, Dean, Daniel juga ikut. Dan mereka banyak sekali membawa barang seperti orang mau mengungsi."


"Hahaha.... Keluarga kita memang seperti itu. Karena anggotanya banyak kalau kemana-mana harus rombongan. Apalagi sekarang sudah bertambah lagi Dylan. Rumah pasti akan semakin ramai."


"Nanti akan aku pesankan kamar lain supaya mereka juga bisa istirahat dan menginap di sini sampai kamu pulih."


"Kamu itu pesan kamar rumah sakit seperti pesan kamar hotel. Ini rumah sakit ya, untuk tepat orang sakit, bukan untuk menginap orang-orang sehat."


"Memangnya siapa lagi orang sehat yang mau membayar kamar president suit di rumah sakit kalau bukan aku?"


"Cih! Mentang-mentang punya uang, ya. Sombong!"

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Prita, bayimu sudah bisa dipindahkan ke box bayi, ya. Kalau tidak ada yang bisa, kamu bisa memanggil perawat."


"Iya, Dokter. Terima kasih."


__ADS_2