ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kepanikan di Pagi Hari


__ADS_3

Akhirnya masa liburan datang juga. Semoga bisa cepat merampungkan novel ini. Maaf sudah membuat kalian menunggu 😁


Jangan lupa vote, like, komen dan hadiahnya ya 😁


...-------------------------------xxx--------------------------...


Bayu perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa sedikit berat. Badannya diregangkan agar tubuhnya tidak kaku. Ia memandang langit-langit kamar bernuansa putih tulang yang ia kenali. Pagi ini, ia terbangun di dalam kamarnya yang nyaman. Tak ada lagi ruang penjara yang sempit, pengap, dan bau. Kehidupannya sudah kembali seperti semula yang nyaman dan penuh kebahagiaan.


Bayu menoleh ke arah samping. Ada Prita yang masih terbaring menghadapnya dengan posisi terpejam dan tubuh tertutup selimut. Ia ikut memiringkan tubuhnya, memandangi wajah istri yang meyakinkannya bahwa saat ini ia sedang tidak bermimpi.


Bahkan, semalam mereka telah menghabiskan waktu yang panjang untuk bercinta. Kegiatan yang tidak mungkin dilewatkan oleh orang seperti Bayu.


Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan malam panjang dengan istri yang sangat dicintainya. Apalagi istrinya makin hari terlihat semakin cantik di matanya. Membuatnya tak ingin jauh-jauh darinya.


Ia merapatkan tubuhnya ke arah istrinya, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya. Rasanya nyaman. Sentuhan antara kulit mereka di balik selembar selimut membuat kupu-kupu serasa berterbangan dari perutnya.


"Ehng.... Sempit, Mas.... "


Tidur Prita mulai terusik karena merasa kesulitan bernapas. Bayu memeluknya dengan sangat erat dan membuat posisinya jadi tidak nyaman.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" Bayu tersenyum mendengar respon dari istrinya.


"Masih ngantuk..... Minggir, Mas.... " Prita berusaha mendorong tubuh suaminya dengan mata yang masih terpejam.


"Ini sudah pagi."


"Tapi masih ngantuk.... Memangnya siapa yang semalam membuat aku kurang tidur."


Bayu memandang lekat istrinya yang masih betah memejamkan mata sembari mendorong-dorong dadanya. Bukannya mengalah, ia justru semakin ingin menggoda istrinya.


"Kalau begitu biar aku buat kamu nggak ngantuk lagi ya, Sayang..... "


"Hmmm.... " Prita masih ingin menikmati tidurnya.


Bayu semakin gemas. Ia tarik tangan istrinya lalu diarahkan ke bagian bawah miliknya yang juga sudah ikut bangun di di pagi itu.


"Ihhh.... Mas!" Pekik Prita.


Wanita itu sampai terbangun dan terduduk hingga selimut yang menutupi tubuhnya terbuka. Sementara Bayu tertawa puas melihat respon menggemaskan yang istrinya tunjukkan. Wajah polosnya yang masih tampak mengantuk itu terlihat sangat manis dan imut.

__ADS_1


"Sudah bangun lagi, Sayang.... "


Prita mengerucutkan bibirnya. Ia benar-benar ingin tidur lagi tapi suaminya sangat jahil. Bahkan tangannya masih ditahan pada benda yang semalam tak bisa diam itu.


"Satu kali lagi, yuk!" ajak Bayu.


"Semalam sudah berapa kali coba? Kan bisa nanti malam lagi.... "


"Ini namanya rapelan. Masa kita sudah beberapa bulan menikah tapi kelonannya bisa dihitung pakai jari.... Lebih lama pisahnya, kan.... Mumpung kita sudah bersama, ayo kita lakukan sepuasnya."


Bayu mengerlingkan sebelah mata dengan cara yang menggoda.


"Mas, aku bisa mabuk sosis kalau begini caranya. Dicicil besok-besok lagi, kan masih ada hari."


"Maunya sekarang.... " Bayu mengeluarkan jurus memanjanya. Ia peluk tubuh istrinya sembari memelas agar keinginannya terpenuhi.


"Benar ya, satu kali.... " Prita memastikan agar suaminya tidak sampai menahannya sampai siang. Kalau menuruti keinginannya, tidak akan ada selesainya. Mungkin sehari semalam penuh Bayu juga kuat mengajaknya berkutat di atas ranjang.


"Iya, satu kali. Aku janji."


Bayu langsung menyambar bibir istrinya. Sesuatu yang sangat ia sukai untuk memagutnya dengan lembut bergantian antara bibir atas dan bawahnya. Apalagi ketika sang istri juga turut terhanyut dalam ciumannya yang kian lama semakin intens dan mendalam.


Tangannya tak bisa diam, terus bergerak menyusuri tengkuk leher, semakin menurun membelai pundak hinga lengan lalu berhenti pada kedua gundukan dada milik istrinya. Ada sedikit perubahan yang ia rasakan pada bagian itu. Entah karena terang*sang, sepertinya bagian itu terasa lebih besar dan padat dari biasanya. Padahal semalam bahkan ia tak menyadarinya.


Suara des*ahan demi des*ahan yang keluar dari mulut istrinya membuat seorang Bayu menjadi semakin bersemangat. Tak perlu waktu lama, setelah membuat istrinya cukup siap, ia memasukkan kembali miliknya ke tempat yang semalam juga sudah ia masuki beberapa kali. Rasanya masih sama nikmatnya, seakan membuatnya hilang akal.


Prita yang awalnya masih mengantuk kini sudah sepenuhnya sadar dan ikut terhanyut dalam kenikmatan yang suaminya ciptakan. Pergerakan demi pergerakan yang suaminya lakukan membuatnya mabuk kepayang. Tak terhitung sudah berapa kali suaminya memberinya sensasi kenikmatan yang membuatnya semakin candu.


Detik demi detik hingga menit berganti menit keduanya terus menikmati surga dari sebuah pernikahan. Keringat kembali membasahi tubuh, suara desa*han menyeruak di seisi ruangan yang kedap suara. Hanya mereka berdua yang bisa menikmati suara kenikmatan masing-masing. Hingga akhirnya, mereka berdua menumpahkan ****** ***** secara bersama-sama. Tubuh mereka melemas, nafas juga masih tersengal-sengal seakan baru saja melakukan suatu pekerjaan yang sangat menguras tenaga.


"Terima kasih, Sayang."


Bayu mencium singkat bibir istrinya yang masih terbaring lemas. Ia menyibakkan selimut yang menutupi, berniat bangkit dari atas tubuh istrinya. Dilepaskannya penyatuan yang baru saja ia lakukan sembari memandangi miliknya yang sudah berhasil ditidurkan.


"Ah!" Bayu berteriak kaget.


"Hm, kenapa, Mas?"


Bayu menatap ke arah ************ istrinya yang mengeluarkan darah. Seketika dia jadi panik sendiri.

__ADS_1


"Sayang, kamu berdarah! Bagaimana ini?"


Dia merasa bersalah sendiri, mungkin karena terlalu bersemangat hingga melukai istrinya sendiri.


Sementara, Prita hanya tertegun melihat kondisi dirinya saat ini. Dia sama sekali tidak merasakan sakit atau apapun sampai dirinya mengeluarkan darah.


"Kamu sedang datang bulan, Sayang?" Bayu masih tampak kebingungan.


Prita menggeleng.


Seingat Prita, saat ini masih jauh dari periode bulanannya. Mungkinkah jadwalnya maju? Seharusnya ia merasakan nyeri saat akan mendapatkan tamu bulanannya. Ia perhatikan kembali darah yang ada di bawahnya. Warna serta bentuknya agak berbeda dari darah haid.


"Sayang, ayo kita mandi lalu pergi ke dokter!"


Tanpa pikir panjang lagi, Bayu segera membawa Prita ke dalam kamar mandi lalu membantu memandikannya dengan air hangat dari shower secara hati-hati.


"Sayang, bagian mana yang sakit?" sembari memandikannya, Bayu masih menanyakan jika ada bagian tubuh Prita yang sakit.


Dia juga menyadari kalau sepertinya permintaannya sangat berlebihan setelah semalam mengulang beberapa kali, paginya juga masih mau lagi.


"Tidak, Mas. Aku tidak merasa sakit, kok. Lagipula yang keluar juga sedikit."


"Itu malah lebih mengkhawatirkan. Aku jadi tidak tahu kamu kenapa, Sayang."


"Pokoknya setelah ini kita pergi ke dokter!" tegas Bayu sembari menggosok punggung istrinya.


Setelah membantu memandikan istrinya, Bayu juga membantu Prita mengenakan pakaian. Ia tidak membiarkan Prita melakukan gerakan yang membuatnya kelelahan. Ia khawatir, istrinya kembali mengeluarkan darah lagi. Sampai proses mengeringkan rambut, Bayu pula yang melakukannya. Ibaratnya Prita kini sedang ia perlakukan seperti tuan putri yang tidak boleh melakukan apa-apa sendiri.


"Mas, masa harus menggendong aku seperti ini? Aku kan masih bisa jalan sendiri."


Prita protes saat Bayu masih ngotot menggendongnya keluar dari kamar. Dia malu kalau orang-orang rumah melihatnya dan berpikir macam-macam kepada mereka.


"Kamu tidak tahu kalau suamimu ini sedang panik?" Bayu tetap berhati-hati menuruni tangga sembari membawa istrinya.


"Aku kan malu dilihat para pelayan." Prita melirik sekilas ke arah dapur dimana ada beberapa pelayan yang sudah mulai bekerja. Di area ruang tengah dan ruang tamu juga ada pelayan yang sedang mengepel berhenti sejenak memandangi kedua majikannya dengan pandangan penuh tanya.


"Untuk apa malu? Mereka sudah tahu kalau kita suami istri."


Di depan halaman, Pak Ahmad sudah menunggu di samping mobilnya. Melihat kedatangan Bayu, ia segera membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Pak Ahmad, ke klinik dokter xxx, ya!" Bayu mendudukkan Prita pada kursi penumpang secara hati-hati, lalu ia ikut duduk di sebelahnya.


"Baik, Tuan."


__ADS_2