
Prita masuk ke dalam swalayan setelah lepas dari Bayu. Ia membeli susu untuk ketiga anaknya seperti rencananya semula. Tak lupa ia juga mengambil beberapa camilan kesukaan Dean dan Daniel.
Hari ini memang dia pergi sendiri untuk bertemu Raya. Biasanya, ada sopir yang mengantarnya kemana-mana. Tapi, karena sang sopir sedang disuruh Mama Maya menjemput Papa Reonal di bandara, jadi Prita memilih untuk naik taksi saja menemui Raya sekalian belanja. Tak disangka di jalan dia akan bertemu lagi dengan Bayu.
Meskipun ia tak suka bertemu Bayu, tapi hari ini yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan adalah dia. Kadang Prita merasa takdir mempermainkannya. Ia selalu dipertemukan dengan orang yang tak ingin ditemuinya.
Prita menenteng tas belanja di kedua tangannya setelah menyelesaikan pembayaran di kasir. Setelah ini dia akan mencari taksi dan langsung pulang. Dia kepikiran dengan ketiga anaknya di rumah. Memang, di rumah mereka bersama nenek dan para pelayan mansion. Tapi tetap saja hati seorang ibu akan selalu mengkhawatirkan anaknya.
Saat baru keluar dari swalayan, matanya melihat Bayu sudah berdiri di sana. Heran sekali, orang itu menunggui Prita sampai selesai belanja. Tidak ada cara lain yang bisa Prita lakukan selain menghindar. Dia memutuskan terus berjalan dan mengabaikan keberadaan Bayu.
Setelah melangkah beberapa jauh, Prita menyadari jika Bayu masih membuntutinya dari belakang. Ia semakin tidak nyaman. Prita menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan menatap sosok lelaki yang sedari tadi mengikutinya.
"Berhenti mengikutiku!" tegasnya.
"Aku hanya memastikan keselamatanmu."
"Apa urusannya denganmu? Urusi saja hidupmu sendiri karena aku tidak pernah meminta kamu mengurusi hidupku."
Mendengar jawaban ketus dari Prita, kemarahan Bayu bangkit. Dia merasa direndahkan, niat baiknya justru tidak dianggap orang yang ia pedulikan.
"Apa-apaan sih! Lepaskan!" Prita berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Bayu.
Bayu tak memperdulikan perkataan Prita. Dia seret wanita itu ke arah gang sepi yang terletak di sebelah bangunan kosong. Daerah itu cukup sepi meskipun siang hari. Jarang orang yang terlihat lewat di area itu.
Bayu mendorong Prita hingga punggung wanita itu membentur dinding. Tas belanja yang ada di tangannya terjatuh. Keduanya saling bertatapan, saling mengutarakan kemarahan lewat mata.
"Apa aku tidak ada satupun sisi baiknya di matamu? Kenapa kamu selalu menganggapku sebagai penjahat? Apa kamu tidak bisa melihat kalau aku sangat peduli padamu?"
"Aku tidak pernah meminta perhatianmu!"
Bugh!
Bayu melayangkan satu pukulan tepat ke tempok sebelah Prita. Hal itu membuat Prita syok. Dia kira Bayu akan memukulnya. Prita menelan ludahnya. Jantungnya berdebar kencang seperti sedang lomba lari estafet. Mata Bayu semakin membara, menunjukkan emosi yang meledak-ledak.
"Aku harus pulang."
__ADS_1
Bayu kembali menarik Prita saat ia ingin pergi. "Kenapa kamu selalu ingin melarikan diri dariku? Kamu pikir aku akan menyerah sebelum aku bisa berbicara denganmu sampai tuntas?"
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Kita tak ada urusan apapun untuk dibicarakan."
"Daniel."
"Sudah aku katakan Daniel bukan anakmu!"
"Mau sampai kapan kamu menyangkalnya? Dilihat dari fisiknya saja sudah jelas dia anakku."
"Daniel bukan anakmu." Prita tetap pada pendiriannya.
"Aku punya bukti hasil DNA yang menyatakan kalau Daniel adalah anakku. Kamu tidak akan bisa menyangkalnya lagi. Aku bisa mengambil Daniel darimu kapanpun."
"Kamu tidak berhak atas Daniel!"
Prita hendak melayangkan pukulan kepada Bayu, namun tangannya lebih dulu ditepis.
Bayu memegang erat tangan Prita, tak melepaskannya meskipun berusaha berkelit. Ia semakin mengintimidasi Prita, merapatkan tubuhnya seraya melayangkan tatapan yang tajam. Sudut bibirnya mengulaskan senyum licik bagaikan malaikat maut.
"Aku hanya mengingatmu sebagai orang yang telah melecehkanku!"
"Hahaha.... melecehkan? Coba diingat-ingat lagi, bukankah itu kemauanmu sendiri untuk dilecehkan oleh orang sepertiku? Kamu yang menawarkan dirimu sendiri padaku menggantikan pacarmu yang sekarang menjadi suamimu. Kamu sudah ingat?"
Prita menunduk. Ucapan Bayu memang ada benarnya tapi ia tetap tidak terima. Bayu pandai memutar balikkan kata, menjadikannya pihak yang harus merasa bersalah dan mengalah.
"Berdekatan denganmu seperti ini mengingatkanku pada momen-momen mesra yang pernah kita lalui. Itu adalah masa yang paling membahagiakan untukku. Rasanya, kehangatan tubuhmu masih bisa aku nikmati. Apa sekarang rasamu masih sama!"
Prita mendorong tubuh Bayu dengan sekuat tenaga. Bisa-bisanya Bayu berkata seperti itu padanya.
"Kamu gila! Aku sudah menikah dan punya tiga anak. Hanya orang sinting yang mengganggu istri orang!"
"Berarti kalau aku buat kalian bercerai aku bisa memilikimu, kan?"
"Jangan mimpi!"
__ADS_1
Bayu kembali menahan Prita yang ingin pergi.
"Daniel ada karena kita pernah suka sama suka melakukannya kan?"
"Itu karena paksaanmu!"
Bayu mengusap rambut Prita, "Hey, itu tak adil untuk Daniel. Apa kamu tega mengatakan pada anak kita kalau kehadirannya tidak kamu inginkan? Apa hanya aku yang melakukannya dengan penuh rasa cinta dan kamu terpaksa? Kamu bisa menghitung berapa kali kita pernah tidur bersama? Apa sekalipun kamu tidak pernah menikmatinya? Aku rasa kamu berbohong, kan?"
Prita semakin tidak nyaman dengan kata-kata Bayu yang provokatif.
"Aku harus pulang. Anak-anakku menungguku di rumah."
Bayu melabuhkan pelukan pada tubuh Prita. Dihirupnya aroma tubuh wanita yang yang selama ini ia rindukan. Ia sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk memeluk wanita itu. Biasanya ia selalu menepis keinginannya. Tapi, hari ini ada dorongan dalam dirinya yang memaksanya untuk melakukan hal itu.
Prita terus menggeliat, memukul-mukul lengan Bayu. Tentu saja usahanya hanya sia-sia karena Bayu lebih kuat darinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku masih saja mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu."
"Please, lepaskan aku! Ini perbuatan yang tidak benar."
"Biarkan aku seperti ini. Aku sudah tidak bisa menahannya. Aku sangat ingin memelukmu setiap kali melihatmu."
"Perlu kamu tahu selama lima tahun ini aku sangat tersiksa. Kamu menikah dengan orang lain meninggalkanku begitu saja hanya dengan selembar surat. Kamu hidup bahagia bersama lelaki lain dan juga anakku sementara aku harus hidup sendiri menahan rasa kesepian."
"Kamu masih menganggapku jahat, kan? Aku tidak sejahat itu. Selama lima tahu aku berusaha untuk tidak mengingatmu, aku tak mengganggu kehidupanmu, aku rasa aku bisa melupakanmu. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Apalagi setelah mengatahui keberadaan Daniel. Aku ingin memiliki kalian berdua."
"Kamu tidak bisa egois. Aku dan Daniel sudah bahagia dengan kehidupan kami sekarang. Kamu carilah kebahagiaanmu sendiri."
Bayu melepaskan pelukannya, mengarahkan tatapan mata elangnya, "Kebahagiaanku adalah kamu dan Daniel."
"Aku bukan amoeba ataupun paramecium yang bisa membelah diri untuk menyenangkan orang-orang yang menginginkanku. Diriku, hidupku, aku yang berhak menentukan dengan siapa aku ingin menghabiskan hidup. Dan aku tidak memilihmu."
Bayu membungkam bibir Prita dengan bibirnya. "Kamu bisa diam kan kalau aku cium."
Bukannya berhenti Bayu justru kembali mendaratkan ciumannya di bibir Prita. Ia melakukannya cukup lama hingga akhirnya ia tersadar dengan apa yang dilakukannya. Bayu berhenti.
__ADS_1
Prita yang nafasnya masih terengah-engah mendorong Bayu. Diambilnya tas belanja miliknya dan langsung berlari pergi.