ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Mau Menengok Bayi?


__ADS_3

"Sayang.... Kamu sedang apa?"


Bayu terpana melihat penampilan istrinya. Ia sampai menelan ludahnya sendiri melihat sosok se*ksi yang ada di hadapannya.


Sementara, Prita yang sangat polos tersenyum-senyum seperti orang yang tidak bersalah. Apa dia tidak sadar kalau sudah membangkitkan sesuatu yang selama ini mati-matian Bayu tahan demi calon bayinya.


"Mas, ternyata bajunya masih muat. Apa masih terlihat bagus?" tanya Prita tanpa rasa bersalah.


Tentu saja masih muat. Tubuh Prita saja seperti tidak berubah meskipun sedang hamil tiga bulan. Bahkan bentuk tubuhnya justru terlihat lebih indah daripada biasanya. Apalagi bagian dada yang menjadi semakin padat berisi.


Bayu menepuk dahinya. Prita justru memamerkan pakaiannya dengan berputar di depannya. Bagaimana dia bisa tahan kalau godaannya seperti itu.


"Sayang, cepat ganti bajunya."


Prita mengerutkan dahi, dia sengaja berdandan dan berpakaian seperti itu untuk mendapatkan pujian dari suaminya. Tapi, respon yang ia harapkan ternyata tidak ia dapatkan.


"Udara malam ini sedang dingin, ganti dengan baju tidur yang lebih hangat dan panjang."


"Jadi ini jelek, ya?" tanya Prita sembari memasang wajah cemberut.


Bayu menghela nafas. Prita tak paham dengan apa yang dimaksudnya.


"Sayang, kamu berpakaian seperti itu terlihat sangat cantik.... Sangat sangat cantik.... Tapi, itu tidak akan baik untuk akal sehatku. Aku tidak akan kuat kalau harus tidur semalaman di sebelah wanita se*ksi seperti ini."


"Aku baru keluar dari kamar mandi, Sayang. Jangan sampai aku masuk lagi ke dalam hanya untuk menidurkan ini lagi."


Bayu menunjuk ke arah bagian tubuhnya yang tampak menonjol di balik jubah mandinya. Prita yang awalnya kesal berubah jadi tersipu malu dengan kejujuran suaminya.


"Ganti bajumu, Sayang.... "


Bukannya menurut, Prita justru berlari ke arah suaminya lalu memeluknya. Tentu saja apa yang dilakukan Prita semakin meruntuhkan benteng pertahanan Bayu yang sudah berhasil menahan hasratnya selama beberapa minggu.


"Sayang, aku bisa khilaf kalau kamu seperti ini."


"Khilaf apa sih, Mas? Aku kan hanya memelukmu."


Prita semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh kokoh nan hangat itu selalu berhasil menjadi tempat ternyaman baginya.

__ADS_1


"Aku serius, Sayang.... Bayi kita masih kecil dan aku bisa saja menerkammu sekarang."


Prita mendongakkan wajahnya ke atas, memandangi wajah suaminya. Ternyata Bayu masih khawatir dengan kondisi kehamilannya.


"Mas.... Kamu tidak mau menjenguk bayi kita?"


Tatapan yang Prita berikan terkesan seperti sedang menggodanya. Kenapa istrinya menjadi lebih agresif seperti sedang mabuk.


"Tentu saja aku sangat mau, Sayang. Tapi, dengan kejadian terakhir waktu itu aku jadi khawatir dengan bayi kita. Aku tidak mau terjadi hal buruk padanya."


"Kalau dilakukan dengan lembut dan hati-hati kata dokter tidak apa-apa."


Bayu masih berpikir jernih. Meskipun dia sendiri sangat menginginkannya, tapi keselamatan Prita dan calon anaknya tetap yang utama.


"Tunggu sampai bayi kita lahir dulu."


Prita memasang wajah yang memelas, "Itu kan masih lama.... " tutur katanya terkesan seperti sedang memanja, "Aku sudah kangen.... Sepertinya bayi kita juga mau dijenguk ayahnya."


Tentu saja itu hanya alasan yang Prita buat. Sebenarnya memang dia sendiri yang menginginkannya. Beberapa kali ditolak oleh Bayu, membuatnya merasa kesepian. Jamahan yang suaminya berikan serasa hambar, jauh dari apa yang ia inginkan.


Bujuk rayu istrinya membuat pertahanan Bayu hancur. "Sayang, kamu serius tidak akan apa-apa pada kehamilanmu?" Bayu berusaha memastikan.


Prita mengangguk, "Ibu hamil juga tetap butuh itu, Mas.... Sekalian jengukin bayi kita." ia mengatakannya dengan raut wajah memerah karena malu.


Tidak menunggu berlama-lama lagi, Bayu langsung mengangkat tubuh istrinya, menggendongnya lalu membaringkannya secara perlahan di atas ranjang empuk mereka.


Bayu sudah tak bisa menahan lagi apa yang sangat ingin ia lakukan bersama istrinya. Ia mulai mengecupi lembut bibir istrinya. Tangannya bergerak mengusap setiap inci permukaan kulit halus Prita sembari menyingkirkan pakaian yang dirasa mengganggu aktivitas mereka. Tentu saja Bayu lebih menyukai memandang tubuh istrinya tanpa sehelai benangpun yang menutupi seperti malam ini. Tubuh indah bagaikan candu yang selalu membuatnya mabuk dan menginginkannya.


Ia sendiri ikut melepaskan jubah mandinya, tubuh polosnya langsung terekspose.


Pandangan Prita langsung tertuju pada bagian tubuh Bayu yang telah siap beraksi. Dia jadi malu sendiri.


"Sayang, benar kan, aku boleh melakukannya malam ini? Jangan membohongi aku soalnya aku tidak bisa mundur sekarang."


"Iya, Mas. Boleh kok.... Aku juga mau.... " Prita kembali berkata sambil tersipu.


Bayu kembali memagut bibir istrinya. Keduanya saling ******* dan menyesap bibir pasangannya. Suara decapan terdengar jelas di telinga mereka.

__ADS_1


Malam ini, kembali menjadi malam yang romantis bagi pasangan suami istri yang masih sibuk saling berbagi kehangatan di balik selimut.


*****


Malam ini Tuan Zetian berdiri di depan abu jenazah Shuwan. Setelah sekian lama berdiam diri di tempat persembunyiannya, akhirnya dia berani keluar untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir putrinya.


Saat asisten pribadinya memberitahukan kabar yang begitu mengejutkan untuknya, ia merasa sangat terpukul. Shuwan memang anak yang selalu membuatnya kesal, namun Shuwan tetap anaknya. Itu sesutu yang tak bisa ia rubah. Zetian sangat sedih mendengar kematian putrinya. Meskipun sering berbeda pendapat, Zetian tetap menginginkan anaknya bisa hidup bahagia dengan pilihannya.


Zetian sangat geram ketika mendengar kabar kalau putrinya tengah hamil anak Moreno, atlet nasional itu. Tapi, ternyata berita kematian Shuwan lebih mengagetkan. Ia masih belum percaya kalau sekarang ia sudah kehilangan putrinya.


"Kenapa kamu tidak bisa hidup sesuai dengan apa yang ayah katakan? Seorang ayah pasti mengharapkan sesuatu yang lebih baik untuk anaknya. Kenapa kamu jadi anak pembangkak, Shuwan.... " Zetian mulai berbicara sendiri di depan abu Shuwan.


"Aku sudah memperingatkan padamu agar tidak berhubungan dengan lelaki yang bernama Moreno itu. Dan kamu tetap nekad masih berhubungan dengannya."


"Pak Kim.... " panggilnya.


"Iya, Tuan."


Orang yang dipanggil Zetian maju ke depan. Pak Kim adalah sekertaris pribadi Zetian.


"Bagaimana dengan bayi yang Shuwan kandung?"


"Bayinya ikut meninggal bersama Nona Shuwan."


Zetian terdiam sejenak.


"Lalu, apa kata kepolisian tentang kemajuan proses penyelidikan kecelakaan itu?"


"Orang yang menabrak Nona Shuwan masih belum ditemukan, Tuan."


Zetian mendengus kasar, "Sewa detektif terbaik untuk menyelidiki siapa yang sudah mencelakai anakku. Cari sampai ketemu dan siksa dia sampai mati." ia mengepalkan tangannya geram.


"Baik, Tuan."


Sekeras-kerasnya Zetian sebagai seorang ayah, dia masih mencintai putrinya. Namun ia telat ketika ingin menunjukkan rasa cintanya sekarang. Shuwan sudah pergi dan tak mungkin hidup kembali.


"Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum ada yang mengetahui kehadiran Anda di sini."

__ADS_1


__ADS_2