
Bayu dan Shu sama-sama terdiam di atas ranjang. Keduanya dalam kondisi tanpa sehelai pakaian, tubuh mereka hanya tertutup selimut. Mereka saling membisu setelah apa yang sebelumnya mereka lakukan.
Bayu mengajak pulang Shu ke apartemennya karena Shu mengatakan ayahnya akan marah jika dia pulang dalam keadaan mabuk. Tapi, saat sampai di apartemen, Shu menjadi agresif. Entah karena pengaruh alkohol atau karena ucapan Karla di klub. Shu memaksa Bayu untuk tidur bersama. Tentu saja Bayu awalnya menolak, tapi Shu tak bisa dibantah. Dia sangat menginginkan Bayu.
Shu termakan omongan Karla. Dia tidak terima dicap sebagai wanita yang tidak menarik dan bukan tipe Bayu. Dia merasa dirinya lebih cantik daripada Karla. Bayu adalah pacarnya, dia berhak segala sesuatu yang ada pada Bayu. Dia tak mau kalah dengan Karla.
Tapi pada akhirnya, aktivitas mereka harus terhenti di tengah jalan. Semua karena ketidakmampuan Bayu. Ya, akhirnya Shu juga tahu sisi lemah Bayu.
Mungkin Bayu mendapat kutukannya sendiri karena selama ini banyak bermain dengan wanita. Sekarang, ia tak bisa bermain dengan siapapun termasuk pacarnya sendiri.
"Sudah aku bilang kan, jangan termakan ucapan Karla."
Karla yang masih syok belum bisa berkata apa-apa. Dia ikut merasa malu karena sudah menunjukkan sisi liarnya di depan lelaki yang dia cintai.
"Maafkan aku." lirihnya. "Tapi... apa kamu benar-benar memiliki penyakit seperti itu?" Shu memberanikan diri bertanya.
Bayu mengusap wajahnya. Ia harus kehilangan muka sebagai seorang lelaki. Namun ia tetap menyunggingkan senyumnya, "That's right, Shu. Sekarang terserah padamu mau tetap bertahan denganku atau tidak. Kondisiku memang seperti ini."
"Aku ke kamar mandi dulu." Bayu menyibakkan selimutnya menuju kamar mandi meninggalkan Shu.
Bayu membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower. Beberapa kali ia menghela nafas. Harga dirinya seakan hilang di depan para wanita. Semua gara-gara Karla. Wanita itu harus ia kirim jauh ke ujung dunia. Kalau Karla masih tetap ada di sekitarnya, semua urusannya akan kacau.
Kali ini juga sama. Urusannya dengan Shu belum selesai tapi sepertinya wanita itu akan pergi meninggalkannya gara-gara masalah satu itu. Bayu masih membutuhkan Shu untuk memuluskan rencananya.
Selesai mandi, Bayu segera memakai kimono mandi. Ia bergegas memasuki kembali kamarnya untuk menemui Shu. Ia akan membahas kelanjutan hubungan mereka.
Tapi, Shu sudah tak ada di kamarnya. Pakaiannya juga sudah tidak ada. Sudah pasti Shu kabur gara-gara dirinya.
"Ah! Sial!" umpatnya.
Bayu meraih ponselnya di atas nakas. Ada satu pesan masuk dari Shu.
Maaf aku pulang tanpa memberi tahu. Sepertinya kita butuh waktu untuk sendiri dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi.
__ADS_1
Bayu hanya terkekeh membaca pesan itu. Wanita memang selalu menginginkan sesuatu darinya. Jika tak mendapatkan apa yang ia mau, ia akan pergi begitu saja.
Bayu beralih membuka galeri, memandangi kembali foto-foto anaknya yang lucu. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengingat-ingat setiap momen yang ia lewati bersama Daniel. Mengingat sudah memiliki anak menumbuhkan bunga-bunga bahagia di hatinya. Segala masalah terlupakan setelah melihat foto Daniel. Bayu ingin kembali ke Singapura. Dia ingin bertemu lagi dengan Daniel.
Drrtt.... Drrtt....
Telepon dari Jimmy mengacaukan waktu santainya. Tengah malam lelaki beristri itu seperti orang kurang kerjaan meneleponnya.
"Halo.... " ucapnya malas.
"Belum tidur kan?"
"Kamu menelepon hanya untuk mengecek aku sudah tidur atau belum?"
"Sori sori.... sepertinya aku mengganggumu."
"Itu jangan ditanya lagi. Kenapa?"
"Aku baru ingat besok katanya kamu ada meeting dengan keluarga Wijaya, kan?"
"Ya, itu maksudku."
"Memangnya kenapa? Apa Tuan Rudi Wijaya ingin membatalkan pertemuannya?"
"Bukan.... Aku cuma mau bertanya, apa kamu tahu siapa CEO Greenland Paradise yang sekarang?"
Bayu mengerutkan keningnya, "Untuk apa juga aku harus tahu? Memangnya apa urusannya denganku? Mau siapapun CEO-nya, Presiden Direkturnya tetap Tuan Rudi Wijaya, kan? Kami sudah tanda tangan kontrak sejak enam bulan lalu."
Bayu berencana memindahkan salah satu klub malamnya, Skylight Bar ke lantai teratas di Greenland Paradise Hotel. Seperti keinginannya, Bayu ingin memiliki sebuah klub malam seperti Yushin Restaurant and Bar yang ada di Zero Tower Hotel Kota J. Tempat itu merupakan salah satu tempat yang bersejarah bersama Prita. Ia ingin membangun tempat serupa di Kota S. Oleh karena itu, dia bekerjasama dengan Greenland Paradise hotel untuk membangun Klub malamnya di sana.
Nantinya selain klub malam, ia juga berencana memindahkan Laziz Restaurant miliknya ke Greenland Paradise. Hotel itu sudah sangat terkenal di Kota S. Merupakan promosi gratis jika dia membuka restoran yang tidak terlalu terkenal di sana.
Skylight Bar sendiri sudah cukup terkenal di Kota S. Apalagi jika tempatnya di atas sebuah hotel ternama, pasti popularitasnya semakin meningkat baik klub Bayu maupun hotel itu sendiri. Otomatis kerjasama itu adalah kerjasama yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.
__ADS_1
"Aku akan memberitahu daripada besok kamu kaget. CEO Greenland Paradise sekarang Irgi Mahesha, calon menantu Tuan Rudi Wijaya. Kamu masih ingat dia?"
"Siapa dia?"
"Sahabat baik Prita dan Ayash. Orang yang dulu pernah mengacaukan kantor ayahmu saat Prita kamu sembunyikan."
Bayu mulai mengingat-ingat kejadian yang sudah sangat lama. Muncul di ingatannya sosok lelaki muda yang tampan yang pernah meninju wajahnya. Dia juga sempat mengatainya lelaki berumur dan tua. Itu kata-kata yang tidak bisa dimaafkan jika diingat-ingat. Bayu jadi penasaran seperti apa pemuda songong yang dulu sempat menantangnya karena Prita. Dilihat dari emosi dan rasa melindungi, tidak mungkin jika orang yang bernama Irgi itu hanya teman Prita. Pasti dia juga salah satu orang yang juga menyukai Prita.
"Ya, aku sudah ingat. Anak songong itu sekarang CEO Greenland Paradise? Bisa apa dia sampai mau menjadi menantu di keluarga Wijaya."
"Mungkin kamu akan kesulitan bernegosiasi dengannya. Secara kalian pernah bermusuhan. Aku juga dulu pernah didatangi olehnya gara-gara kelakuanmu."
"Untuk apa takut dengan anak kecil seperti dia? Dari segi pengalaman juga paling masih kosong."
"Tapi dia owner start up salah satu situs belanja online yang dijalankan dari Singapura, loh. Walaupun masih muda dan tampangnya tidak meyakinkan, tapi dia termasuk pebisnis muda terbaik saat ini."
Bayu yang kurang mengikuti perkembangan dunia bisnis biasa tidak terlalu tahu tentang hal itu. Fokus Bayu memang hanya di bisnis dunia malam saja.
"Bagaimana bisa dia menjalankan bisnisnya di Singapura dari Indonesia?"
"Bisnisnya di Singapura di urusi oleh Ayash, sedangkan dia sendiri di Indonesia mengurusi bisnis milik Ayash. Kamu tahu PT Prayoga Jaya, kan? Itu perusahaan Ayash yang dikelola Irgi Mahesha. Sepertinya mereka memiliki ikatan pertemanan yang sangat baik. Sampai usaha saja mereka kelola bersama."
Bayu mengepalkan tangannya. Mendengar kata-kata Ayash, Prita, Singapura mengingatkannya pada Daniel. Bayu membenci orang-orang itu. Gara-gara mereka dia tak bisa bersama dengan anaknya.
"Aku tidak yakin rencanamu kali ini akan tetap bisa terealisasi atau tidak. Tapi aku harap, kamu harus menjaga sikap sebenci apapun nanti kamu terhadapnya. Semua juga demi kelancaran rencanamu."
"Ya, aku paham. Akan aku usahakan."
"Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Silakan lanjutkan kembali istirahatmu."
"Oke. Thanks."
Klik.
__ADS_1
Bayu menghela nafas. Sepertinya dia harus menyiapkan strategi lain untuk menghadapi meeting besok. Dia tidak terlalu mengenal pribadi seorang Irgi Mahesha. Mungkin besok dia perlu meminta Alex untuk memberikannya data-data tentang orang itu. Jika Bayu sudah mengenal lawannya, dia akan lebih mudah untuk meluluhkannya.