ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Aksi Tim Fredi


__ADS_3

Fredi telah sampai di kediaman Tuan Saddam. Pengamanan di sana super ketat. Selain banyak CCTV, penjaga yang ditempatkan untuk mengamankan rumah itu juga cukup banyak. Mulai dari pintu gerbang utama, ada pos penjaga yang masih dijaga oleh empat orang.


Darimana Fredi bisa tahu? Alex yang sudah meretas kamera CCTV di rumah itu. Ya, Alex memang payah kalau soal berkelahi. Tapi, dia sangat ahli untuk melakukan peretasan. Berkat Alex Fredi bisa mengetahui setiap sudut kondisi rumah yang akan mereka masuki. Kamera CCTV yang seharusnya berfungsi untuk memonitor keamanan rumah, justru berbalik menjadi mata bagi musuh.


Kata Alex, mereka hanya memiliki waktu sekitar 60 menit sebelum ada yang menyadari jika CCTV mereka diretas. Jadi Fredi dan kawan-kawannya harus bergerak secepat mungkin menemukan barang yang mereka perlukan di rumah itu.


Bayu memerintahkan Fredi mencari dokumen-dokumen kejahatan yang disimpan Tuan Saddam. Menurut Alex, dokumen yang dimaksud kemungkinan bisa ditemukan di beberapa ruangan rumah itu. Pertama di kamar utama, lalu ruang kerja, gudang dan terakhir di ruang perpustakaan.


Fredi membagi timnya menjadi empat kelompok, masing-masing beranggotakan 4 orang. Mereka akan mencari di ruangan yang telah ditentukan.


Dia memberitahu akses masuk yang aman, memininalisir bertemu dengan para penjaga.


"Kalian masuk lewat sini, kemudian belok ke arah ini. Letak ruangannya di sebelah sini. Lakukan dengan cepat tapi hati-hati.


"Kalau bisa, hindari bentrok fisik dan penggunaan senjata api. Gunakan saat terdesak saja."


Mereka mengangguk.


"Lakukan sekarang!"


Fredi membawa ketiga anak buahnya bersamanya. Sementara, yang lain berpencar memasuki kediaman Tuan Samuel lewat jalan yang berbeda. Mansion milik Tuan Saddam sangat luas, sehingga mereka harus menyisir area tersebut dengan cara berpencar.


Kelompok Fredi mauk lewat pintu belakang dekat paviliun tempat tinggal para pelayan. Mereka mengendap-endap agar tidak ketahuan para pelayan yang masih beraktifitas di area belakang. Tujuan mereka ruang kerja yang terletak di area tengah rumah.


Setelah menemukan ruangan yang dimaksud, dua anak buah Fredi berjaga di dekat pintu sementara Fredi dan anak buahnya yang lain mulai mencari-cari dokumen penting yang ada di sana.


"Apa kalian sudah menemukan sesuatu?"


Fredi menghubungi anak buahnya melalui alat yang terpasang di telinganya.


"Belum, Fred."


"Aku juga belum."


"Banyak sekali buku-buku di sini. Aku sampai tidak tahu harus mulai dari mana."


"Cari yang benar dan tetap hati-hati."


"Ya, aku juga sedang berusaha mencari. Sepertinya tidak ada apa-apa di kamar."


"Di gudang juga sepertinya tidak ada yang mencurigakan. Tapi aku menemukan bercak darah di sini. Sedikit bau anyir juga."


"Eh! Ternyata di perpustakaan ada ruang rahasianya. Mau coba aku cek dulu."


"Fred, kemari sebentar." panggil anak buah Fredi.


Fredi mendekat ke arah anak buahnya. Dia menunjukkan pada tempat di bawah meja kerja.


"Lantai di bawah sini sepertinya bisa dibuka."


"Tapi kita perlu kunci untuk membukanya."


"Kalau begitu, coba cari kuncinya. Siapa tahu ada di sekitar sini."


Fredi dan anak buahnya langsung membuka-buka laci meja kerja itu untuk mencari kuncinya.

__ADS_1


"Fred, aku sedang berada di ruang rahasia perpustakaan rumah ini. Gila.... Banyak banget senjatanya. Sepertinya dia seorang kolektor senjata api."


Fredi kembali fokus pada alat komunikasi ketika ada suara dari anak buahnya, "Jangan gagal fokus, bukan itu yang sedang kita cari. Kalau tidak ada yang penting, segera tinggalkan tempat itu dan jangan ambil apapun."


"Fred, di kamar aku menemukan koleksi perhiasan. Aku ambil sedikit, ya."


"Sumpah, Ya! Aku sudah memperingatkan kalian untuk fokus pada tugas. Kita di sini bukan untuk merampok, tapi mengambil dokumen penting."


"Sekalian lah Fred.... Yang kita lakukan ini juga sudah kriminal."


"Hitung-hitung bonus. Hahaha.... "


"Aduh! Astaga!"


"Kenapa, Tom?"


"Fred.... Ada mayat di sini. Dari pakaiannya sepertinya dia salah seorang pelayan wanita."


"Busuk sekali baunya sampai aku mau muntah! Aku menyerah, di sini sepertinya tidak ada yang kita cari."


"Oke, kalian keluar saja dari gudang, jangan tinggalkan jejak apapun."


"Hati-hati keluar dari sana. Masih banyak pelayan soalnya."


"Siap!"


"Siapa di sana!"


Brak! Duarg! Krek!


Terdengar suara berisik dari alat komunikasi yang ada di telinga Fredi. Dia merasa ada yang tidak beres dengan anak buahnya.


"Ical!" Fredi berteriak memanggil nama anak buahnya, namun terlambat dia sudah mematikan alat komunikasinya.


"Bagaimana ini, Fred?"


"Percepat pencariannya dan segera keluar dari sana walaupun tidak menemukan apapun."


"Baik, Fred."


Semua anak buahnya sudah mematikan alat komunikasinya. Fredi menjadi lebih gugup. Satu timnya sudah ketahuan, sebentar lagi para penjaga akan mencari mereka semua.


"Ayo cepat cari kuncinya. Penjaga sudah ada yang tahu!"


"Iya."


Fredi dan anak buahnya seperti orang kesetanan mengacak-acak isi kantor demi menemukan benda yang mereka cari. Niat awalnya mau bermain rapi, tapi karena terburu-buru mereka sudah tidak memikirkan apapun selain untuk bisa menemukan kunci itu.


"Ketemu, Fred!"


Anak buah Fredi berhasil menemukan kunci itu di dalam patung kucing kecil.


"Berikan padaku!"


Fredi meraih kunci itu lalu bergegas membuka gembok ruangan yang ada di bawah meja kerja. Ia mencoba satu per satu kunci dari rentengan kunci itu. Akhirnya, ia berhasil membukanya.

__ADS_1


"Apa itu, Fred?"


Di dalam lubang bawah lantai, Fredi menemukan kotak berukuran sedang berwarna hitam. Ia buka kotak itu, dan isinya sangat mencengangkan. Surat-surat perjanjian kerjasama politik dan bisnis. Fredi menyunggingkan senyum seolah telah menemukan apa yang ia cari.


Brak!


Pintu ruangan yang Fredi masuki didobrak dari luar.


"Mereka juga ada di sini!" teriak salah satu penjaga rumah.


Fredi bergegas mengamankan dokumen itu dengan memasukkan ke dalam bajunya. Dua anak buah Fredi yang tadi berjaga di depan pintu lebih dulu menghadapi empat penjaga yang memergoki mereka.


Fredi turut membantu sehingga terjadilah perkelahian yang cukup imbang.


"Kalau ada kesempatan, kabur!" teriak Fredi sembari terus berusaha melawan para penjaga.


Fredi dan anak buahnya menghadapi para penjaga sambil bergerak maju menuju arah jalan keluar. Lambat laun, orang yang harus mereka hadapi kian bertambah. Sepertinya seluruh penjaga sudah menyadari kalau ada penyusup yang masuk.


"Lari!" perintah Fredi.


Fredi sudah merasa tidak akan sanggup menghadapi mereka semua, jadi jalan terakhir adalah kabur. Para pengawal terus mengejar mereka di belakang.


Dor! Dor! Dor!


"Ah! Sial!" pekik Fredi.


Salah satu peluru mengenai tangan kiri Fredi.


"Berpencar!" Fredi berguling ke samping bersembunyi di balik tembok. Anak buahnya yang lain juga ikut bersembunyi memisahkan diri.


Fredi mengeluarkan pistol dari kantong hoodie miliknya dan mulai menembakkan ke arah para penjaga. Beberapa kali ia lepaskan tembakan dan tepat mengenai dua penjaga yang mengejarnya.


Setelah dirasa kondisi kembali aman, Fredi kembali berjalan menuju pintu keluar sembari terus mewaspadai para penjaga yang masih mengejar. Fredi mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan di lengan kirinya.


Sesampainya di luar pagar, sudah ada anak buahnya yang menunggunya di sana. Ia hitung jumlah mereka, masih kurang tiga orang.


"Dimana yang lain?" tanya Fredi.


"Mereka tertembak, Fred." jawab salah satu anggotanya yang bernama Jin.


"Oh, sh*it!"


Ical dan dua temannya telah mati tertembak.


"Kita pergi sekarang saja ya, Fred. Daripada mereka memburu kita."


"Ayo!" Tomi menyeret Fredi agar masuk ke dalam mobil.


Dua mobil yang membawa rombongan Fredi melaju kencang meninggalkan kediaman Tuan Saddam.


Fredi tampak melamun, pandangan matanya kosong. Setiap kali ada anak buahnya yang harus mati dalam menjalankan misi membuatnya sedih. Seharusnya mereka berangkat bersama dan pulang juga bersama-sama.


"Jangan merasa bersalah, Fred. Ini memang pekerjaan kita." Tomi menepuk pundak Fredi.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak buahku sendiri."

__ADS_1


"Ini bukan salahmu, Fred. Aku sudah memperingatkan mereka untuk kabur. Tapi, mereka nekad ingin membawa semua perhiasan dari kamar orang kaya itu." ucap Jin yang satu tim dengan Ical.


"Ical.... Sudah aku bilang untuk tidak mengambil apapun!" geram Fredi.


__ADS_2