ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Sisi Lain Shu


__ADS_3

Raeka memfokuskan pandangannya pada anak panah yang ada di tangannya. Matanya mengunci target di depan. Kondisinya sangat tenang. Setelah merasa mantap, ia bersiap melepaskan anak panahnya.


Bruk!


"Ah!" Raeka memekik karena anak panahnya melesat ke arah yang salah. Disaat ia akan melepaskan anak panah pada sasaran seseorang menabraknya entah sengaja atau tidak.


"Sori!" begitu kata yang diucapkan oleh wanita itu dengan sangat santai dan tanpa rasa bersalah. Ia melewati Raeka begitu saja setelah mengucapkan satu kata itu.


Raeka terperangah dengan tingkah congkak teman satu klub memanahnya itu. Namanya Shuwan Mey, dia baru bergabung beberapa bulan lalu. Raeka yang sudah bertahun-tahun bergabung dengan FAST Archery Club baru kali ini merasa terganggu oleh anggota lain.


Wanita itu tidak ada sopan santunnya sama sekali. Dia seperti berusaha menjadi spot perhatian di lapangan. Penampilannya memang sangat modis dan cantik. Tapi keangkuhannya pada sesama anggota klub panahan sudah bukan rahasia umum.


Raeka rasa tadi Shuwan juga sengaja menabraknya. Entah salah makan apa dia sampai berani mencari gara-gara dengan Raeka. Apa dia merasa tersaingi dengan kecantikan dan talenta Raeka yang luar biasa?


Raeka terkekeh melihat tingkah manis Shuwan pada pelatihnya sekarang. Mungkin wanita cantik itu hanya angkuh pada sesama wanita. Berbeda dengan lelaki, apalagi yang good looking, Shuwan tingkahnya sangat manis.


Mood Raeka bermain jadi terganggu karena ulah Shuwan tadi. Orang seperti Raeka tidak akan puas jika belum membalas. Ingin rasanya ia melesakkan anak panahnya tepat di kepala Shuwan.


"Dasar wanita centil!" umpat Raeka.


Raeka terus mengamati Shuwan yang terlihat bahagia berlatih didampingi oleh pelatih mereka yang tampan. Dia rasa Shuwan ikut klub panahan hanya untuk mendekati pelatih, bukan karena benar-benar tertarik pada panahan.


Saat pelatih sudah meninggalkan Shuwan, Raeka perlahan mendekati wanita itu. Saat Shuwan sedang berusaha menarik busur dan anaka panahnya, Raeka sengaja mendorong Shuwan hingga keduanya jatuh tersungkur ke tanah dengan posisi Raeka berada di atas punggung Shuwan.


"Aduh!" pekik Shuwan saat terjatuh dan badannya tertimpa badan Raeka.


Raeka beringsut bangkit perlahan, memasang wajah memelas seperti orang yang tidak bersalah.


"Ah, maaf ya, aku tidak sengaja." ucap Raeka.


Shuwan ikut bangkit berdiri. Pakaiannya kotor semua terkena tanah. Amarahnya sudah memuncak di ubun-ubun. Jelas sekali Raeka sengaja mendorongnya.


Raeka adalah orang yang paling Shuwan benci di klub. Bagi Shuwan, Raeka adalah saingan terberatnya. Raeka cantik, pandai bermain panahan. Shuwan tak ingin ada yang lebih menarik dan berbakat di klub. Dia ingin semua lelaki kagum dan menyukainya, bukan terpana pada pesona Raeka.


"Maksudnya apa main dorong?" Shuwan menggenggam kerah pakaian Raeka dan melayangkan tatapan kemarahan.

__ADS_1


Raeka langsung menghempaskan tangan itu dari lehernya. " Aku tidak sengaja!"


"Hah! Sok merasa benar. Bilang saja kamu iri karena pelatih lebih perhatian padaku."


"Amit-amit aku iri dengan orang sepertimu. Wajahmu memang cantik tapi hatimu busuk."


Mendapat perkataan buruk tentang dirinya, Shuwan bertambah emosi. Dia tak boleh direndahkan oleh wanita lain. Tak ada wanita lain yang boleh berada di atasnya apalagi merendahkannya.


Shuwan menarik paksa quiver yang tergantung di punggung Raeka. Ia lempar quiver itu beserta anak panahnya ke tanah memudian menginjak-injaknya dengan kasar.


"Posisimu persis seperti ini." Shuwan tersenyum sinis sambil terus menginjak-injak quiver Raeka.


Raeka menjadi murka. Anak panah adalah salah satu barang berharga baginya. Dia sangat mencintai panahan sebagaimana dia mencintai Irgi. Ketika ada yang berani menginjak-injak anak panahnya, sama artinya dengan merendahkannya.


Raeka membalas dengan merebut busur panah Shuwan. Ia langsung mematahkan busur panah itu dengan satu kali gerakan tangan. Tak sampai di situ, ia mengambil semua anak panah Shuwan dan mematahkannya. Shuwan hanya menganga melihat perbuatan Raeka.


"Orang sepertimu tidak pantas berada di lapangan panahan. Kalau mau menggaet lelaki, pergi ke klub malam, bukan di sini!"


"Wanita sialan!" Shuwan langsung menjambak rambut Raeka.


"Hentikan... stop.... stop.... " pelatih berusaha memisahkan keduanya dibantu oleh beberapa orang anggota lainnya.


Kondisi Shuwan dan Raeka sama-sama kacau. Rambut mereka berdua berantakan.


"Kak, dia mematahkan busur dan anak panahku.... sepertinya dia tidak suka aku bergabung di klub ini." Shuwan berkata seolah ia korban. Nada bicaranya sangat meyakinkan sebagai orang yang teraniaya dan patut dikasihani.


Raeka tidak percaya wanita seperti itu sangat pandai berakting. Padahal Shuwan yang lebih dulu mencari gara-gara tapi dia mencari alasan agar terlepas dari kesalahannya.


"Raeka... kamu tidak boleh seperti itu. Kita semua disini adalah keluarga, tak ada bedanya antara anggota baru dan anggota lama."


"Dia yang lebih dulu memulai, Coach."


"Aku tidak sengaja menjatuhkan quiver miliknya, Kak. Tapi dia malah mematahkan peralatan memanahku."


Raeka semakin muak melihat akting wanita itu yang sampai pura-pura menangis untuk mendapatkan perhatian semua orang.

__ADS_1


"Raeka, minta maaf pada Shuwan!"


"Raeka.... cepat minta maaf pada Shuwan!" Pelatih mengulangi kata-katanya karena Raeka hanya diam.


"Coach... aku sudah bertahun-tahun bergabung dengan klub ini. Aku rasa kamu sudah tahu seperti apa kepribadianku. Aku tidak akan meminta maaf jika aku tidak merasa bersalah."


"Tapi mematahkan peralatan memanah orang lain adalah perbuatan yang salah."


"Ada apa ini?" sahut Irgi.


Irgi sebenarnya berniat menjemput Raeka. Tapi, dia malah menyaksikan keributan di lapangan. Dan Raeka ada di tengah-tengah keributan itu. Raeka termasuk tipe wanita yang cuek, tidak peduli dengan orang lain jika tidak diganggu oleh orang lain. Dia hampir tak pernah terlibat masalah jika pihak lain tidak lebih dahulu membuat masalah.


"Raeka mematahkan peralatan memanah orang lain." ucap pelatih.


Raeka merasa dipermalukan di depan banyak orang. Shuwan pasti tertawa puas melihatnya seperti itu.


Irgi mengambil quiver Raeka yang tergeletak di tanah. Ia memunguti satu persatu anak panah dan memasukkannya ke dalam quiver. Debu yang mengotori ia singkirkan dengan tangannya.


"Aku mewakili Raeka meminta maaf telah mematahkan peralatan memanahmu, Nona. Tapi, kamu juga harus meminta maaf pada pacarku karena sudah menginjak-injak quivernya. Ini quiver hadiah dariku, pacarku tidak akan murka kalau kamu tidak menginjak-injak benda ini."


Shuwan menunduk, bagaimana bisa lelaki itu tahu kalau dia sudah menginjak-injak quiver itu.


"Aku tidak menginjaknya. Aku hanya tidak sengaja menjatuhkannya." kilah Shuwan.


Irgi tersenyum sinis, "Sepertinya kamu wanita yang licik juga, ya." lirih Irgi.


Segera Irgi menarik tangan Raeka ke sisinya. "Aku jemput Raeka lebih awal, Coach. Terima kasih untuk hari ini." pamit Irgi. Dia membawa Raeka pergi meninggalkan lapangan memanah.


Shuwan terkesima dengan Irgi. Dia tampak sadis dan cool. Kata-katanya tegas menusuk. Parasnya sangat tampan seperti artis. Satu yang ia sayangkan, kenapa Irgi sudah menjadi pacar wanita yang bernama Raeka itu. Karena Irgi juga masuk dalam kriterianya.


"Kamu tidak apa-apa, Shu?" tanya pelatih.


"Ya, Kak. Terima kasih sudah membelaku."


"Nanti aku akan mengganti peralatan memanahmu yang rusak."

__ADS_1


"Kakak tidak perlu sampai sejauh itu. Sudah membelaku saja sudah sangat cukup. Mohon bantuannya, aku orang baru mungkin masih banyak perlu beradaptasi agar tidak ada senior yang membenciku."


__ADS_2